"Aku hamil" Tiara akhirnya mengatakan rahasia yang di tutupinya selama beberapa minggu ini pada atasan sekaligus kekasihnya, Rex Hamilton, setelah kegiatan panas Mereka berdua yang baru selesai beberapa menit lalu.
Rex yang tengah mengenakan kembali pakaian dalamnya, terdiam sejenak.
"Gugurkan" Ucap Pria itu datar, tanpa melirik Tiara sama sekali.
Rex memang seperti itu, sikapnya dingin dan datar pada siapapun, termasuk pada Tiara yang telah menjadi sekretaris sekaligus teman tidurnya selama 3 tahun terakhir.
"Aku ingin melahirkan anak ini"
Rex menatapnya tajam. Pria itu kemudian menghampiri Tiara dengan langkah pelan tapi penuh ancaman.
"Hanya karena Kamu bisa naik ke ranjangku, bukan berarti Kamu bisa menjadi Nyonya Hamilton. Sadarlah dengan posisimu. Kamu hanyalah simpananku"
"Jika Kamu mau mempertahankan janin sialan itu, maka enyahlah dari hidupku. Tentukan pilihanmu"
"Aku akan mempertahankannya"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maufy Izha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bukan Begini Caranya
Keesokan paginya, Tiara bangun tidur seperti biasanya. Suasana hatinya sangat buruk sejak perbincangan terakhirnya dengan Rex. Ia bahkan melewatkan makan malamnya karena tertidur setelah kelelahan menangis.
Pukul setengah 5 lagi, Tiara memutuskan untuk mandi dan kemudian sholat subuh. Jayden masih tertidur pulas. Tiara memutuskan untuk turun kebawah dan membuat kopi.
Tak disangka Dia malah melihat Rex tertidur di sofa dengan sebotol wine dan gelas bekas minumnya di meja.
Rex memang terkadang minum. Dulu, Tiara memang jauh dari Tuhan, sesekali Dia juga ikut minum. Tapi, justru semenjak pindah dan tinggal bersama Budhe nya, Tiara merasa perubahan hidupnya jauh lebih baik. Meski hidupnya sederhana dan jauh dari kata mewah, Tiara merasa damai dan tenang.
Tiara ingin mengabaikan Rex dan berjalan lurus ke dapur untuk membuat kopi dan langsung naik ke atas sesuai dengan rencananya, tapi samar-samar, Tiara mendengar Rex mengigau dengan tidak jelas, lama kelamaan suara Rex terdengar seperti erangan kesakitan.
Otak Tiara terus mengatakan untuk tidak memperdulikan Rex, tapi kakinya justru melangkah mendekati Pria yang terbaring di sofa dengan lemah itu.
Wajah Pri itu tampak sangat merah, kontras dengan warna kulitnya yang putih.
Apa Dia demam? Tiara membatin. Ia perlahan mengulurkan tangannya untuk menyentuh dahi Pria itu.
Sangat panas. Tiara merasa terkejut, tapi Dia berfikir dua kali untuk bertindak sendiri dan pada akhirnya menimbulkan salah paham baik dari Rex maupun Viona. Jadi, Dia segera berlari menuju ke kamar Bi Surti.
"Bi... Bi Surti... "
"Yaa, sebentar" Sahut Bi Surti dari dalam. Sepertinya beliau juga akan bersiap untuk bekerja karena waktu sudah hampir jam 6 pagi.
"Loh, Tiara? Ada apa nduk?"
"Itu... Pak Rex kayaknya abis minum-minum deh, sekarang demam, tadi Aku takut jadi Aku periksa suhunya, badannya panas banget"
"Ck! Oalah kebiasaan lama itu, bos muda semenjak nikah itu minum terus tiap malem, pernah sampai dibawa ke rumah sakit karena hampir-" Bi Surti menggerakkan tangannya ke arah leher, memberi isyarat bahwa Rex pernah hampir mati karena minum-minuman keras.
Tiara terdiam. Setelah menikah? Tiara pikir Rex bahagia setelah menikah dengan Eveline yang saat itu sangat di sukainya, ternyata...
Ah, itu bukan urusannya sekarang.
"Ya sudah Bi, jadi ini gimana mau dipanggilkan dokter atau Bi Surti yang mau ngerawat?"
"Di kompres aja dulu kali ya, Saya coba telepon pak Desmon, suruh anter ke rumah sakit kali ya"
"Begitu juga boleh Bi"
"Ya sudah..."
Saat Tiara hendak membantu Bi Surti, tiba-tiba terdengar suara tangisan Jayden.
"Udah Kamu urusin tuan muda Jayden ada, Bos muda biar Bibi yang urus, ini pak Desmon juga lagi otewe kesini"
"Ya udah Bi... Makasih ya"
"Makasih buat apa... udah sana buruan ke atas, nanti tuan muda Jayden jatuh Kamu malah dimarahin Nyonya Viona loh"
Tiara mengangguk kemudian bergegas naik ke atas, sebelum itu, Ia sempat melirik Rex yang masih tidak bergerak di sofa. Tatapannya sedikit rumit karena perasaannya yang campur aduk, tapi Ia segera menyingkirkan semua itu dan pergi menunaikan tugasnya sebagai baby sitter Jayden.
20 menit kemudian, Tiara turun ke bawah sambil menggendong Jayden dan saat itu Ia melihat Desmon sudah ada di ruang tamu. Pria itu tengah memapah Rex yang kondisinya tampak semakin parah. Sepertinya Desmon benar-benar akan membawa Pria itu ke rumah sakit.
Sebelum keluar dari pintu rumah, Desmon sempat menatap Tiara yang terdiam mematung di ujung tangga terakhir, namun hanya beberapa saat, asisten pribadi Rex itu pergi dengan membawa Rex keluar dari rumah dan masuk ke mobilnya. Tak sampai 1 menit, terdengar bunyi mesin mobil yang lambat laun mulai menjauh.
"Huuuuffft, kapan ya Bos muda itu kayak dulu lagi. Walaupun dulu beliau juga pendiam, tapi nggak kayak 2 tahun terakhir, kayaknya bos muda nggak pernah tidur. Tiap malem pasti pulang jam 3 pagi, mabuk-mabukan, terakhir sampe pingsan di rumah sampe kejatuhan vas bunga, aduuuhh lantai rumah sampe penuh darah loh!, untungnya masih bisa selamat. Sayang ya... dulu bos muda itu keliatan gagah, bersemangat, sehat walafiat. Sekarang malah keliatan makin kuyu dan nggak punya semangat hidup. Padahal udah punya anak, ck ck ck, kasian..." Ucap Bi Surti sambil menatap pintu dengan tatapan prihatin.
Dan lagi-lagi, Tiara merasa tidak karuan saat mendengar cerita itu. Apa benar Rex tidak bahagia? Kenapa?
"Tiara!"
"Astaghfirullah, kenapa Bi?"
"Lho, Kamu dari tadi tak panggil-panggil diem aja kok, ngelamunin apa Kamu? Hmn? Itu dengan Jayden udah kelojotan dari tadi loh"
"Oh... Iya... Kan Saya lagi dengerin cerita Bi Surti"
"Oalah..."
Tiara hanya tersenyum canggung, lalu membawa Jayden keluar rumah untuk bermain di taman, sebelum memandikannya jam 7.30 nanti.
Di dalam mobil, Rex akhirnya membuka mata. Hal pertama yang dirasakannya adalah sakit kepala yang hebat hingga membuatnya mengerang.
"Kita hampir sampai di rumah sakit bos"
'Rumah sakit?' Rex tiba-tiba menegakkan tubuhnya, sakit di kepalanya masih menyiksa, tapi Ia juga tidak bisa menghindari rasa keterkejutannya.
Bukankah tadinya Ia sedang menikmati kesendiriannya di sofa sambil minum?
"Bi Surti tadi pagi menelepon Saya, Bapak demam tinggi dan terlihat sangat mengkhawatirkan, jadi Bi Surti meminta saya membawa Anda ke rumah sakit"
"Putar balik, Kita kembali ke rumah"
Desmon tidak bergeming dan tetap menyetir mobilnya menuju ke rumah sakit.
"Desmon Bramasta!" Rex membentak, tapi Desmon tampak sangat tenang, Dia kemudian berkata,
"Anda berjuang di usia 18 tahun sampai bisa berdiri di puncak kekuasaan keluarga Hamilton, di puncak bisnis di kota ini, Anda kehilangan masa muda untuk mendapatkan semua ini. Saya tahu Anda terpukul atas kepergian Bu Mutiara, tapi bukan begini caranya jika Anda ingin mendapatkan Dia kembali, Rex Adrian Hamilton"
"Wah... Sekarang Kamu bahkan berani masuk ke ranah pribadi atasanmu?" Ucap Rex sambil tertawa sinis, matanya memerah karena tiba-tiba Desmon yang biasanya membuta dan menulikan telinganya atas semua urusan pribadi Rex kini berani mengatakan kata-kata yang ternyata berhasil melukai egonya. Ya, semua yang terjadi pada Rex karena Tiara, Dia tidak bisa menerima kepergian Tiara dulu, tapi gengsinya terlalu tinggi untuk mengakui. Sekarang, Tiara tidak menginginkannya lagi, bahkan ada seseorang yang mengaku sebagai calon suaminya. Rex merasa dirinya semakin hancur, tapi tidak ada tempat untuknya bercerita, hanya minuman yang bisa di jadikan pelampiasannya.
"Anda bisa memecat Saya setelah ini Pak, tapi untuk pertama dan terakhir kalinya Saya akan menasihati Anda. Jika Anda ingin mendapatkan Tiara kembali, maka Anda harus menunjukkan bahwa Anda bisa berubah menjadi orang yang lebih baik, bukan malah menjadi pecundang yang menenggelamkan diri dalam minuman. Saya mungkin terdengar sok tahu, tapi Saya melihat dari matanya, Dia... masih mencintai Anda. Hanya saja, mungkin kekecewaan dan sakit hatinya pada Anda juga sama besarnya. Dia kehilangan Anak kalian berdua, Rex. Anda menyiksa diri sampai mati tidak akan membuat lukanya tiba-tiba sembuh, tapi jika Anda bisa menunjukkan ketulusan Anda dengan. benar, meminta maaf dengan sungguh-sungguh, Saya yakin, masih ada kesempatan untuk membuatnya kembali pada Anda. Saya mengatakan ini bukan sebagai bawahan. Tapi, sebagai saudara yang telah menemani anda sejak 12 tahun yang lalu"
"Diam, jangan bicara lagi" Suara Rex terdengar bergetar, Pria itu langsung mengalihkan pandangannya ke arah luar jendela mobil, tiba-tiba bulir-bulir bening mengalir dari kedua matanya tanpa bisa di hentikan.
Desmon mengangkat tangan kirinya, menepuk pundak rex dan meremasnya dengan lembut, kemudian berkata,
"Ayo kerumah sakit dulu, Anda harus berobat dulu agar Anda kembali sehat dan punya tenaga untuk memukuli Saya nanti"
Rex masih diam, tapi isak tangisnya malah makin keras terdengar.
Desmon juga tidak bisa menghindari air matanya. Kedua pria itu menangis bersamaan. Yang satu menangis karena luka hati, yang satu menangis karena melihat bosnya yang malang, yang tidak pernah benar-benar bahagia bahkan sejak di usia yang sangat belia dan Dia menjadi saksinya.
𝐚𝐪 𝐛𝐧𝐲𝐤 𝐧𝐞𝐦𝐮 𝐧𝐨𝐯𝐞𝐥𝟐 𝐛𝐚𝐠𝐮𝐬 𝐭𝐩 𝐬𝐞𝐩𝐢 𝐩𝐞𝐦𝐛𝐚𝐜𝐚, 𝐠𝐢𝐥𝐢𝐫𝐚𝐧 𝐧𝐨𝐯𝐞𝐥𝟐 𝐲𝐠 𝐚𝐥𝐮𝐫 𝐜𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐧𝐲𝐚 𝐠𝐤 𝐧𝐲𝐚𝐦𝐛𝐮𝐧𝐠 𝐝𝐚𝐧 𝐚𝐜𝐚𝐤𝐚𝐝𝐮𝐭 𝐣𝐮𝐬𝐭𝐫𝐮 𝐥𝐢𝐤𝐞 𝐧𝐲𝐚 𝐛𝐧𝐲𝐤
𝐡𝐞𝐫𝐚𝐧 𝐢𝐧𝐢 𝐲𝐠 𝐛𝐞𝐠𝐨 𝐲𝐠 𝐛𝐚𝐜𝐚 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐚𝐮𝐭𝐡𝐨𝐫𝐧𝐲𝐚 𝐲𝐚 🤭🤭🤭
𝐜𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚𝐦𝐮 𝐤𝐞𝐫𝐞𝐧 𝐥𝐨 𝐭𝐡𝐨𝐫
klo Tiara berubah dan tak ingin mngulang msa lalu... jgn km merasa marah & tak terima....
salahkn saja sikap dan mulut jahatmu yg sll merendahkn tiara... bhkn km jga mnolak ank yg di kndung tiara...
dan salahkn jga mama mu.... yg sll mengagungkan kasta... smpe tak berperasaan mnghina Tiara...