NovelToon NovelToon
Kesayangan Tuan Muda Mafia

Kesayangan Tuan Muda Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Selingkuh / Obsesi / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Identitas Tersembunyi / Roman-Angst Mafia
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Julia And'Marian

Zivaniel Maxton de Luca adalah sosok yang ditakuti dunia bawah. Di balik wajah tampannya, ia menyimpan darah dingin dan tangan yang tak pernah ragu menumpahkan nyawa. Dengan topeng penyamaran, ia membantai musuh-musuhnya tanpa ampun, menegakkan hukum versinya sendiri dalam lingkaran mafia kelas kakap yang diwariskan padanya sejak lahir.
Tak seorang pun mengetahui identitas aslinya. Bagi dunia luar, Zivaniel hanyalah pria biasa dengan aura dingin yang sulit ditembus. Namun bagi mereka yang mengenalnya di dunia gelap, namanya adalah teror—legenda yang hidup, bengis, dan tak pernah gagal.
Hingga satu nama mampu meretakkan kekokohan hatinya.
Cherrin.
Gadis yatim piatu yang tumbuh dalam kesederhanaan setelah diadopsi oleh sang nenek. Lembut, polos, dan jauh dari dunia hitam yang melingkupi hidup Zivaniel. Sejak kecil, Cherrin adalah satu-satunya cahaya dalam hidupnya—alasan mengapa ia masih mengenal rasa ragu, takut dan cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Julia And'Marian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 26

Zivaniel tidak melepas genggaman itu sampai mereka benar-benar menjauh dari lorong kelas.

Langkahnya panjang, tenang, tapi jelas tegas. Cherrin hampir terseret beberapa kali karena ia masih memegang kantong plastik hitam berisi sampah, jemarinya kotor, dan pikirannya tertinggal di tatapan Zella yang menusuk punggung mereka.

Baru setelah mereka sampai di sudut taman sekolah—area yang jarang dilewati murid saat jam istirahat—Zivaniel berhenti.

Ia menurunkan tangan Cherrin perlahan.

Tidak kasar. Tidak juga terburu-buru.

Cherrin menatap tangannya sendiri lebih dulu. Kotor. Ada noda abu-abu di punggung tangan, sisa debu sapu. Lalu ia menatap Zivaniel.

“Apa sih?” tanyanya, setengah kesal, setengah bingung.

Zivaniel tidak langsung menjawab. Ia mengeluarkan tisu dari saku celana, lalu—tanpa permisi—mengambil tangan Cherrin lagi. Kali ini lebih pelan. Lebih hati-hati.

Ia membersihkan jari-jarinya satu per satu.

Cherrin membeku.

Bukan karena malu saja.

Tapi karena cara Zivaniel melakukannya terlalu… biasa. Seolah itu sudah jadi kebiasaan lama. Seolah tangan Cherrin memang layak diperlakukan seperti itu.

“Kamu lagi dihukum?” tanya Zivaniel akhirnya, suaranya datar.

“Iya,” jawab Cherrin pendek. “Melamun.”

“Kenapa?”

Cherrin mendengus kecil. “Banyak hal.”

Zivaniel meliriknya sekilas, lalu kembali fokus membersihkan tangan itu. Ia tidak memaksa. Tidak mendesak. Tapi keheningannya justru membuat Cherrin ingin bicara.

“Cewek baru itu,” kata Cherrin akhirnya, nadanya dibuat biasa. “Zella.”

“Hm.”

“Kamu kenal dia?”

“Enggak.”

“Dia berani juga, ya.”

Zivaniel berhenti sejenak. “Berani kenapa?”

Cherrin mengangkat bahu. “Langsung nyamperin kamu.”

“Itu salah?”

Pertanyaan itu membuat Cherrin terdiam.

Ia ingin menjawab iya. Tapi itu akan terdengar kekanak-kanakan. Ingin menjawab enggak, tapi dadanya tidak setuju.

“Enggak,” katanya akhirnya. “Cuma… kurang kerjaan aja.”

Zivaniel menatapnya sekarang. Tatapan yang lurus, tenang, dan terlalu jujur untuk disembunyikan.

“Kamu juga nyamperin aku ”

Cherrin tersedak udara. “Itu beda!”

“Bedanya?”

Cherrin membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Ia tidak tahu harus menjelaskan apa. Bahwa ia tidak datang dengan niat apa-apa. Bahwa semuanya mengalir begitu saja. Bahwa perasaan itu tumbuh tanpa izin.

Zivaniel menghela napas kecil.

"Aku sama sekali enggak tertarik sama dia.”

Kalimat itu jatuh begitu saja. Tidak dramatis. Tidak juga meyakinkan dengan cara berlebihan. Tapi cukup untuk membuat jantung Cherrin berdetak tidak karuan.

“Oh,” jawab Cherrin. Terlalu cepat.

Zivaniel menyipitkan mata. “Oh doang?”

“Mau jawab apa lagi?” Cherrin balas menantang, meski pipinya terasa panas.

Zivaniel menyingkirkan tisu bekas ke tempat sampah terdekat. “Aku manggil nama kamu tadi.”

Cherrin menegang.

“Iya,” katanya pelan. “Aku dengar.”

“Kenapa kamu langsung berdiri?”

“Refleks.”

“Bohong.”

Cherrin menoleh tajam. “Kamu kenapa sih nanyain gitu? Nggak penting!” Cetus Cherrin kesal.

Zivaniel mendekat setengah langkah. Tidak sampai masuk ke ruang pribadi sepenuhnya, tapi cukup untuk membuat Cherrin sadar akan jarak di antara mereka—yang belakangan terasa makin kabur.

“Karena aku enggak suka kamu dilihatin kayak gitu.”

“Kayak gimana?”

“Kayak barang.”

Cherrin terdiam.

Ia teringat cara mata Zella menyapunya. Cepat. Tajam. Mengukur.

“Dia cuma penasaran,” kata Cherrin, berusaha terdengar santai.

“Mungkin.”

“Dan kamu nggak bisa ngatur siapa yang penasaran sama kamu.”

“Aku bisa ngatur siapa yang aku bawa pergi.”

Kalimat itu membuat Cherrin kehilangan kata-kata.

Bel istirahat kedua berbunyi dari kejauhan. Suaranya menggema di antara pepohonan.

“Kamu masih dihukum,” kata Zivaniel akhirnya.

“Iya.”

“Balik.”

Cherrin mengangguk. Ia berbalik lebih dulu, tapi baru beberapa langkah, suara Zivaniel menahannya.

“Cherrin.”

Ia menoleh.

“Jangan mikir aneh-aneh.”

Cherrin mengernyit. “Aku mikir apa emangnya?”

Zivaniel tidak menjawab. Ia hanya menatapnya lama, lalu berkata pelan, “Nanti pulang bareng.”

Itu bukan pertanyaan. Tapi sebuah pernyataan.

"Aku bawa motor!" Ucap Cherrin tegas.

"Motornya biar di ambil pak Dayat." Ucap Zivaniel menyebut salah satu pengawal di Mensionnya.

Cherrin mendengus, ia tidak merespon lagi dan berlalu pergi, membuat Zivaniel tersenyum tipis.

Zella berdiri di depan papan pengumuman kelas saat Cherrin kembali. Tangannya memegang kertas jadwal, tapi matanya jelas tidak membaca apa pun.

Ia menoleh saat Cherrin lewat.

“Oh,” katanya ringan. “Lo yang tadi.”

Cherrin berhenti. “Iya.”

“Lo dekat sama Zivaniel?”

Nada suaranya sopan. Terlalu sopan.

“Teman,” jawab Cherrin.

Zella tersenyum kecil. “Oh. Teman.”

Ada jeda singkat sebelum ia melanjutkan, “Kalian udah lama kenal?”

“Cukup.”

“Dari SMP?”

“Lebih lama.”

Alis Zella terangkat sedikit. “Berarti lo tahu banyak soal dia.”

Cherrin menatapnya balik. “Kenapa?”

“Enggak. Cuma penasaran aja.”

Cherrin mengangguk pelan. “Hati-hati sama rasa penasaran.”

Zella terkekeh kecil. “Gue suka tantangan.”

Cherrin tidak membalas senyum itu. Ia melangkah pergi tanpa pamit.

Di belakangnya, Zella menatap punggungnya lama.

Sisa jam pelajaran berjalan seperti kabut.

Sesekali ia melihat Zivaniel bersandar malas di kursinya, wajahnya datar seperti biasa.

Tapi ada perubahan kecil.

Setiap kali Zella mencoba memulai percakapan, Zivaniel selalu menjawab seperlunya. Terlalu dingin, tapi juga tidak membuka celah.

Seolah ada benang tipis yang menghubungkan mereka.

Tidak terlihat.

Tapi tegang.

Saat bel pulang berbunyi, suasana kelas langsung riuh. Kursi digeser, tas diangkat, suara tawa bercampur teriakan kecil.

Zella berdiri bersamaan dengan Zivaniel.

“Kamu pulang ke arah mana?” tanyanya santai.

Zivaniel menyampirkan tas ke bahu. “Lurus.”

“Wah, sama,” jawab Zella cepat. “Boleh bareng?”

Zivaniel menoleh ke arah Cherrin yang baru saja lewat dari kelasnya bersama dengan Icha.

“Enggak,” jawabnya singkat.

Zella tampak terkejut, tapi ia segera menutupinya dengan senyum. “Oh. Kenapa?”

Zivaniel tidak menjawab. Ia berjalan ke arah Cherrin.

“Udah?” tanyanya.

“Udah,” jawab Cherrin, menahan senyum yang nyaris lolos.

Mereka berjalan berdampingan sedangkan Icha di belakang di ganggu oleh Dimas.

Zella menatap punggung mereka, kali ini tanpa senyum.

Di parkiran, motor Cherrin berdiri di antara deretan kendaraan lain. Zivaniel berhenti di samping mobilnya.

“Kamu naik apa?” tanya Cherrin.

“Mobil.”

“Oh.”

“Kamu ikut.”

Cherrin menggeleng. “Aku bawa motor.”

“Nanti di ambil pak Dayat.”

“Aku nggak mau.”

Zivaniel menatapnya. “Kenapa?”

“Aku bisa pulang sendiri.”

“Aku tahu.”

“Terus?”

Zivaniel mendekat, suaranya diturunkan. “Aku mau ngobrol.”

Cherrin menelan ludah. “Soal apa?”

“Soal yang dari tadi yang aku tahan.”

Ia membuka pintu mobil.

Cherrin ragu sepersekian detik sebelum akhirnya mematikan motor dan menguncinya.

Ia masuk ke mobil Zivaniel dengan jantung berdebar.

Dan saat pintu tertutup, dunia di luar seakan meredam.

Mobil melaju perlahan keluar dari area sekolah.

Sunyi.

Bukan sunyi yang canggung.

Tapi sunyi yang penuh kemungkinan.

Cherrin menatap keluar jendela, sementara Zivaniel menyetir dengan satu tangan, yang lain bersandar di setir.

“Zella,” kata Zivaniel akhirnya.

Cherrin menoleh.

“Kamu ngerasa keganggu?”

Cherrin menghela napas. “Aku nggak tahu.”

“Jawaban bohong.”

“Jawaban jujur tapi belum rapi.”

Zivaniel meliriknya, lalu tersenyum tipis. Nyaris tak terlihat.

“Aku enggak suka orang yang terlalu pengen tahu hidup aku.”

Cherrin menatapnya. “Termasuk aku?”

“Kamu beda.”

“Bedanya?”

Zivaniel memarkir mobil di pinggir jalan, mesin masih menyala.

Ia menoleh sepenuhnya sekarang.

“Kamu enggak masuk hidup aku.”

“Terus?”

“Kamu udah ada di dalamnya.”

Cherrin merasa napasnya tertahan.

"Maksudnya?"

.

1
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Eva Karmita
Elran cemburu melihat kedekatan Niel dengan Cerrin ..
Julia and'Marian: 🤭🤭🤭,,
total 1 replies
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Eva Karmita
mampir otor 🙏😊
Julia and'Marian: amiin kak, makasih doanya🙏
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!