NovelToon NovelToon
Kesayangan Tuan Muda Mafia

Kesayangan Tuan Muda Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Selingkuh / Obsesi / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Identitas Tersembunyi / Roman-Angst Mafia
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Julia And'Marian

Zivaniel Maxton de Luca adalah sosok yang ditakuti dunia bawah. Di balik wajah tampannya, ia menyimpan darah dingin dan tangan yang tak pernah ragu menumpahkan nyawa. Dengan topeng penyamaran, ia membantai musuh-musuhnya tanpa ampun, menegakkan hukum versinya sendiri dalam lingkaran mafia kelas kakap yang diwariskan padanya sejak lahir.
Tak seorang pun mengetahui identitas aslinya. Bagi dunia luar, Zivaniel hanyalah pria biasa dengan aura dingin yang sulit ditembus. Namun bagi mereka yang mengenalnya di dunia gelap, namanya adalah teror—legenda yang hidup, bengis, dan tak pernah gagal.
Hingga satu nama mampu meretakkan kekokohan hatinya.
Cherrin.
Gadis yatim piatu yang tumbuh dalam kesederhanaan setelah diadopsi oleh sang nenek. Lembut, polos, dan jauh dari dunia hitam yang melingkupi hidup Zivaniel. Sejak kecil, Cherrin adalah satu-satunya cahaya dalam hidupnya—alasan mengapa ia masih mengenal rasa ragu, takut dan cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Julia And'Marian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 32

Malam tidak langsung melepaskan Zivaniel.

Pelabuhan masih bernafas di belakangnya saat kendaraan hitam tanpa tanda berhenti di titik buta terakhir kamera. Pintu terbuka tanpa suara. Dua sosok muncul dari bayangan—bukan musuh, bukan pula tim yang tadi ia panggil.

Orang-orang Kakeknya.

Mereka tidak bertanya. Tidak bereaksi berlebihan. Tidak menunjukkan kaget saat melihat darah yang menghitam di rompinya. Hanya gerakan cepat, efisien, seperti semua ini sudah diperhitungkan.

“Pegangan tuan muda,” ujar salah satu dengan suara rendah dan punggung penuh hormat.

Zivaniel mengangguk tipis. Ia mematikan alat komunikasinya sendiri, melepaskan topeng Black Wolf lalu membuangnya ke sembarang arah. Udara malam menyentuh wajahnya yang tampan—dingin, asin, dan terasa lebih berat dari biasanya. Luka di sisi perutnya berdenyut pelan, ritmis, seperti jam yang menghitung mundur.

Ia naik ke dalam kendaraan tanpa suara.

Begitu pintu tertutup, dunia mengecil menjadi ruang sempit berlapis kulit dan logam. Mesin menyala. Mobil melaju sangat kencang meninggalkan pelabuhan itu.

Lampu-lampu pelabuhan menjauh, berubah menjadi garis-garis cahaya yang bergetar di jendela. Zivaniel menyandarkan kepalanya menutup mata sejenak—bukan untuk istirahat, hanya untuk mengatur napas.

Setiap tarikan terasa seperti menarik kawat berduri dari paru-parunya.

“Tekanan darah stabil tuan muda,” kata suara di depannya. “Tapi anda kehilangan cukup banyak darah tuan muda”

“Aku masih sadar,” jawab Zivaniel pendek.

Ia menekan perutnya lebih kuat. Sarung tangannya basah. Bau besi mengisi hidungnya, bercampur dengan aroma antiseptik dari kotak P3K yang sudah dibuka.

Tidak ada rasa panik.

Hanya kejengkelan yang dingin.

Kesalahan pertama: komunikasi yang tiba-tiba terputus.

Kesalahan kedua: membiarkan mereka mendekat cukup jauh untuk menyentuh kulitnya.

Dan di atas semua itu— yaitu sebuah pengkhianatan. Padahal sebelumnya ia sudah memperhitungkannya, namun tetap saja hari ini menjadi hari tersialnya.

Mobil melaju tanpa sirene, tanpa kecepatan mencolok. Seperti kendaraan yang pulang dari makan malam, bukan membawa seseorang yang baru saja nyaris dibunuh.

Perjalanan terasa panjang.

Setiap menit berlalu lambat, seperti cairan kental yang mengalir malas. Jalanan kota perlahan berubah—bangunan tinggi menyingkir, lampu-lampu menjadi lebih jarang, sampai akhirnya hanya ada gerbang besi besar dengan lambang keluarga De Luca yang nyaris tak terlihat di balik dedaunan gelap.

Mansion itu berdiri seperti biasa—sunyi, megah, dan terlalu tenang.

Gerbang terbuka sebelum mobil berhenti sepenuhnya.

Di beranda, lampu menyala redup. Bayangan seseorang berdiri di sana.

Cherrin.

Ia tidak mengenakan mantel atau sepatu luar. Rambutnya tergerai, sedikit berantakan, seolah ia berlari keluar tanpa berpikir panjang. Saat matanya menangkap mobil itu, tubuhnya menegang.

Zivaniel melihatnya dari balik kaca jendela mobil.

Dadanya terasa lebih sesak dibanding luka di perutnya.

Mobil berhenti. Pintu terbuka.

“Niel—”

Cherrin menghentikan langkahnya saat melihat darah.

Wajahnya pucat dalam satu detik.

“Ya Tuhan…” suaranya nyaris tak keluar. “Apa yang terjadi?”

Zivaniel turun dengan hati-hati. Kakinya sempat goyah, tapi ia segera menegakkan diri. Ia tahu tatapan itu—campuran ketakutan, marah, dan kecemasan yang tidak bisa ditutup rapat.

“Kecelakaan,” katanya cepat, datar. “Aku jatuh.”

Cherrin menatapnya seperti ingin menolak kata itu mentah-mentah.

“Jatuh…?” ia mengulang pelan. Matanya turun ke rompi hitam yang sobek di sisi, ke darah yang sudah mengering sebagian. “Kamu jatuh dimana?”

"Aku –"

“Dia jatuh di jurang, dia tidak hati-hati,” sela suara lain dari balik pintu.

Kakek De Luca muncul, tongkatnya mengetuk lantai marmer pelan. Wajahnya tenang, terlalu tenang untuk seseorang yang cucunya berdarah.

“Rem blong,” lanjutnya dengan nada yang sama sekali tidak goyah. “Ia mencoba menghindar. Mobil terguling sedikit.”

Maxtin berdiri di belakangnya, tangan terlipat, ekspresi datar. Ia tidak menatap luka Zivaniel terlalu lama—cukup untuk memahami, tidak cukup untuk menunjukkan apa pun.

Cherrin menoleh ke Kakek, lalu kembali ke Zivaniel, ia sangat khawatir dengan pemuda itu.

“Kamu terluka Niel..,” katanya akhirnya, suaranya bergetar. “Kita harus ke rumah sakit" ucap Cherrin panik bukan main, apalagi saat melihat wajah pucat Zivaniel.

“Tidak perlu, karena dokter keluarga sudah dalam perjalanan,” jawab Maxtin menatap Cherrin, membuat Cherrin terdiam.

Zivaniel melangkah masuk di bantu oleh ajudan sang kakek ke dalam Mension. Setiap langkah terasa seperti menyeret tubuh orang lain. Lantai marmer dingin di bawah sepatunya, lampu gantung memantulkan cahaya ke dinding tinggi—semua terasa terlalu jauh, terlalu besar.

Dan Cherrin mengekorinya.

Ia duduk di sofa ruang medis pribadi sebelum ada yang menyuruh.

Begitu ia bersandar, tubuhnya akhirnya mengakui kelelahan. Bahunya turun sedikit. Napasnya lebih berat.

Cherrin berdiri di depannya, tidak tahu harus mendekat atau tidak.

“Lepas rompinya,” katanya akhirnya, lebih tegas dari yang ia rasakan. “Pelan.”

Zivaniel menuruti. Setiap gerakan membuat otot perutnya menjerit. Saat rompi terlepas, kain dalam yang gelap terlihat basah dan lengket. Darah telah menodai kulitnya, merah tua hampir hitam.

Cherrin menelan ludah.

“Itu kayak bukan luka jatuh,” katanya lirih.

Zivaniel menatapnya. Tidak membantah. Tidak mengiyakan.

Keheningan menggantung di antara mereka, tebal dan rapuh.

Tak lama kemudian, dokter pribadi keluarga De Luca datang—pria paruh baya dengan rambut abu-abu dan tangan yang terlalu tenang untuk situasi seperti ini. Ia bekerja cepat, efisien, seolah luka-luka seperti ini adalah bagian dari rutinitas malam.

“Pisau,” gumamnya pelan saat membersihkan luka di perut. “Sayatan presisi. Dangkal tapi disengaja.”

Cherrin mendengar itu. Ia sesenggukan di sana.

Dokter menoleh. "Pak ini kecelakaan?"

“Kau mau aku katakan apa?” tanya Kakek De Luca tenang. “Bahwa cucuku terlibat sesuatu yang tidak boleh diketahui siapa pun?”

Dokter diam ia hanya melirik sekilas, lalu kembali bekerja. Ia tidak mau ikut campur percakapan itu.

Zivaniel berbaring diam, menatap langit-langit. Cahaya lampu membuat matanya sedikit silau. Setiap sentuhan alkohol di lukanya membuat ototnya menegang, tapi ia tidak bersuara.

Cherrin mendekat, berdiri di samping kepalanya.

“Lihat aku,” katanya pelan.

Zivaniel menggeser pandangan.

"Niel..."

“Aku masih hidup,” jawabnya.

Cherrin menangis.

Zivaniel terdiam.

Dokter menjahit luka dengan gerakan rapi. Benang masuk, keluar, mengikat kulit yang terbelah. Luka di lengan atas dibersihkan, dibalut. Tidak ada yang fatal—tapi cukup untuk melemahkan.

“Beruntung,” kata dokter akhirnya. “Beberapa sentimeter lagi, dan hasilnya berbeda.”

Cherrin menghela napas panjang yang ia tahan sejak tadi.

“Berapa lama pemulihannya dokter?”

“Beberapa minggu. Tidak boleh aktivitas berat. Tidak boleh stres berlebihan.”

Kakek De Luca tersenyum tipis. “Kami akan mengaturnya.”

Dokter membereskan alat-alatnya. Setelah memastikan semuanya stabil, ia pergi, meninggalkan ruangan yang terasa lebih sunyi dari sebelumnya.

Zivaniel perlahan duduk, dibantu Maxtin. Dunia sedikit berputar, tapi ia menahannya.

“Kamar,” katanya singkat.

Maxtin mengangguk dan meminta ajudannya untuk mengantar anaknya ke dalam kamar Zivaniel.

Saat mereka berjalan menuju tangga, Cherrin mengikuti di belakang. Langkahnya pelan, seperti takut suara sepatunya akan melukai lebih jauh.

Di kamar, Zivaniel duduk di tepi ranjang. Sprei putih terasa kontras dengan darah yang masih menempel di kulitnya.

Cherrin mengambil kain bersih, membantu membersihkan sisa darah di tangannya.

Sentuhannya gemetar.

“Kamu tidak harus melakukan ini sendirian,” katanya tanpa menatapnya. “Apa pun itu.”

Zivaniel memperhatikan wajahnya—garis tegang di rahang, mata yang sedikit memerah.

"makasih"

Cherrin berhenti bergerak. Ia menubruk Zivaniel lalu menangis hebat di pelukan pemuda itu.

Dan Zivaniel mematung di tempatnya.

"Hiks hiks, kenapa harus jatuh dan luka parah seperti ini sih?"

1
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Eva Karmita
Elran cemburu melihat kedekatan Niel dengan Cerrin ..
Julia and'Marian: 🤭🤭🤭,,
total 1 replies
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Eva Karmita
mampir otor 🙏😊
Julia and'Marian: amiin kak, makasih doanya🙏
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!