NovelToon NovelToon
Project Fate Breaker: Bangkitnya Putri Terbuang

Project Fate Breaker: Bangkitnya Putri Terbuang

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Sistem / Komedi
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Lil Miyu

Ding! [Sistem Fate Breaker Aktif: Mengubah skenario dunia!]
​Dibuang dan difitnah sebagai putri sampah? Itu bukan gaya Aruna. Masuk ke tubuh Auristela Vanya von Vance, ia justru asyik mengacaukan alur game VR ini dengan sistem yang hobi error di saat kritis.
​Tapi, kenapa Ksatria Agung Asher de Volland yang sedingin es malah terobsesi melindunginya?
​Ding! [Kedekatan dengan Asher: 1%. Kesan ML: "Putri ini... sangat aneh tapi menarik."]

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lil Miyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31: Detik-Detik Takdir

​"Kucing bodoh, tiarap!"

​Plup! Si Catkin langsung membenamkan wajahnya ke tanah lembap yang berlumut tebal. Di depan mereka, sekelompok Elf yang berpatroli melintasi akar raksasa. Mata para Elf itu memindai setiap jengkal semak dengan busur yang sudah terisi anak panah perak. Mereka terdiam sejenak, dengan telinga panjang yang berkedut, sebelum akhirnya kembali menghilang ke rimbunnya dahan Hutan Primordial Aethelgard.

​"Fiuh... Hampir saja," desis si Catkin setelah rombongan itu menjauh. Ia mengangkat wajahnya, memperlihatkan butiran tanah yang menempel di topengnya. Jemarinya mencengkeram tanah dengan gusar, membiarkan kuku tajamnya menusuk akar pohon. "S!al! Tingkat patroli mereka semakin tinggi tiap jamnya. Cih! Aku benci bekerja di wilayah terbuka seperti ini. Sungguh merepotkan!"

​"Berhenti mengeluh. Gunakan telingamu untuk mendeteksi lawan, bukan mulutmu. Dari tadi bisanya cuma mengoceh seperti pantat bebek," sahut anggota Viper's Fang dengan nada rendah yang tajam. Ia meraba jubah hitam pekat pemberian sosok itu dengan penuh kebanggaan. Jubah itu seolah menelan cahaya di sekitarnya. "Tanpa jubah penyerap mana dari grup kami, kalian para Hama Berjalan sudah lama jadi daging sate."

​"Apa?!" Si Catkin dari Night-Claw Shadows itu mendesis, taringnya mencuat sedikit di balik kain penutup wajahnya. Matanya yang vertikal berkilat penuh amarah. "Jangan terlalu sombong, ular sialan! Kelompok kami menghabisi lebih banyak target daripada kalian dalam setahun terakhir. Kalau bukan karena 'Tuan Besar' yang memaksa kita bekerja sama, aku sudah menyayat lehermu sejak kita menginjakkan kaki di perbatasan tadi."

​Mendengar sebutan 'Tuan Besar', rahang si Viper mengeras di balik topengnya. Pikirannya terseret kembali ke pertemuan rahasia di sebuah kedai kumuh di ujung Downtown beberapa malam lalu. Sebuah tempat di mana d4rah dan kesepakatan gelap biasanya menyatu.

​Bam!

​"Kau bercanda? Kerja sama dengan para ular yang gak becus ini?" Si Catkin saat itu berdiri dengan sentakan kasar, menggebrak meja hingga cangkir kayu berisi bir murah di sana terguling, membasahi meja yang sudah kusam. "Night-Claw Shadows tidak pernah berbagi mangsa dengan siapa pun, apalagi dengan kelompok manusia yang terus-terusan kehilangan jejak target!"

​"Jaga mulutmu, Hama Berjalan!" balas si Viper sambil berdiri tak kalah cepat. Tangannya sudah mencengkeram hulu pedang pendeknya, siap membelahnya pada detik itu juga. "Misi kami terhambat karena kelompok sialanmu muncul di saat yang salah dan mengacaukan jebakan kami! Aku tidak akan membiarkan kelompok ras buangan seperti kalian menghalangi jalan kami lagi!"

Whuush... ​Suasana kedai mendadak beku. Para pelanggan lain menunduk, tidak berani bernapas. Keduanya hampir saja saling terjang, tidak terima karena nama besar kelompok mereka dihina. Namun, pria agung yang duduk di ujung meja gelap itu tiba-tiba mengetukkan jemarinya yang mengenakan cincin zamrud dengan keras ke atas meja.

SPLASH!!

​Pria itu menyiramkan sisa minumannya ke wajah kedua assasin, dengan gerakan yang sangat merendahkan.

​"Cukup!" Suara pria itu tidak keras, tapi mengandung otoritas yang sanggup membekukan napas siapa pun yang mendengarnya. Ia menatap mereka satu per satu dengan tatapan menghina yang amat dalam. "Kalian masih berani bicara soal kehormatan? Setelah semua kegagalan memalukan yang kalian lakukan? Kalian ini sebenarnya kelompok asasin tingkat tinggi atau cuma sekumpulan amatiran yang tidak becus?! Bahkan satu gadis kecil pun tidak bisa diurus!!!"

​"Yang satu seperti buta, dan yang satu lagi malah lari dengan ekor terjepit," desis pria itu, suaranya kini setajam silet yang menyayat kulit. "Di mataku, kalian bukan lagi predator. Kalian hanya sekumpulan sampah yang saling menggonggong untuk menutupi ketidakbecusan kalian sendiri!"

​Pria itu mencondongkan tubuh ke depan, auranya mendadak terasa mencekik seolah oksigen di ruangan itu telah habis. "Pilihan kalian ada dua. Kerja sama untuk membersihkan nama kalian, atau besok pagi seluruh Xyloseria akan tahu bahwa kalian hanyalah pecundang yang bahkan tidak sanggup mengurus satu gadis kecil yang tidak berguna. Aku tidak butuh amatiran, yang aku butuh itu tim profesional. Jadi, bereskan... atau kalian yang akan aku bereskan."

​Penghinaan telak yang menusuk harga diri itu akhirnya memaksa mereka untuk menelan ludah dan harga diri mereka bulat-bulat demi memulihkan reputasi grup masing-masing.

​"Simpan bualanmu," balas si Viper dingin, kembali ke realita di tengah hutan yang lembap. "Bonus dari misi ini memang besar, Tapi aku lebih butuh nama kelompokku bersih. Jadi, tutup mulutmu dan—"

​"Diam."

​Si Catkin tiba-tiba memotong kalimat Viper. Tubuhnya mendadak kaku, merendah hingga perutnya hampir menyentuh tanah. Telinganya yang berbulu bergerak-gerak kecil ke arah gubuk suci yang tersembunyi di balik kabut.

​"Ada yang tidak beres," bisik si Catkin, suaranya kini berubah total—murni insting predator yang mencium bahaya. "Jangan hanya mengandalkan jubahmu. Aliran mana di sekitar gubuk berubah drastis. Anginnya tidak lagi membawa aroma kayu tua atau embun, tapi aroma... logam panas."

​Viper tertegun sejenak. Ia mencoba menajamkan inderanya, namun ia tetap tidak merasakan getaran apa pun. Ia baru menyadari bahwa insting hewan liar si Catkin jauh lebih peka terhadap perubahan atmosfer di hutan purba yang penuh sihir ini.

​"Fokus pada pintu itu," lanjut si Catkin sambil mencabut belatinya dengan gerakan yang sangat halus, nyaris tanpa suara gesekan logam. "Aku bisa merasakan detak jantung yang tidak stabil dari dalam sana. Sesuatu sedang terjadi."

​"Bagus," bisik si Viper sambil mengeratkan pegangan pada senjatanya, bersiap melakukan serangan mendadak. "Begitu mereka melangkah keluar, kau ambil sisi kiri. Aku akan memastikan jantung mereka berhenti dari sisi buta. Kali ini, tidak boleh ada kata gagal."

​"Ingat," si Catkin menyeringai tipis di balik cadarnya, matanya berkilat haus d4rah. "Siapa pun yang memetik nyawa itu lebih dulu, dia yang berhak membawa bonus paling besar ke markas."

​Keduanya kembali membeku di balik bayangan akar raksasa yang melilit. Hutan Primordial Aethelgard itu terasa sangat sunyi, menyimpan rahasia mencekam di baliknya, menanti satu momen di mana pintu kayu itu akan berderit dan memutuskan takdir mereka semua.

Tik. Tik. Tik.

Waktu perlahan berlalu. ​Asap tipis berwarna keunguan merayap keluar dari celah pintu yang terbuka perlahan. Bau logam panas yang tadi dikatakan si Catkin kini tercium sangat menyengat.

​Sebuah bayangan tinggi mulai muncul dari balik kegelapan gubuk. Namun, bukannya sosok putri yang lemah atau ksatria agung yang mereka harapkan, atmosfir di tempat itu justru mendadak merosot hingga ke titik beku.

​"Tunggu," bisik si Catkin, pupil matanya mengecil hingga menjadi garis tipis yang tajam. Suaranya bergetar, sesuatu yang jarang terjadi pada seorang eksekutor Night-Claw. "Itu bukan mereka. Ada yang salah... kenapa mananya terasa begitu... amburadul?"

​Belum sempat Viper membalas, sebuah ledakan energi hitam tiba-tiba berdesis dari arah pintu, menghanguskan tanaman merambat di sekitarnya dalam sekejap.

​Pintu itu kini terbuka lebar, menampakkan sosok yang berdiri di sana. Mata si Viper membelalak. Target mereka ada di sana, tapi tidak seperti yang dilaporkan.

​"Siapkan senjatamu!"

1
ᵉᶠ ↷✦; 𝓔 𝓵 𝓵 𝓮 ❞
kapan segel kekuatan Auri terbuka nya ini?
ayo Aresh, musnahkan ikan² bau amis itu semuanya
Miyu: nanti ada waktunya... 🤭
total 1 replies
ᵉᶠ ↷✦; 𝓔 𝓵 𝓵 𝓮 ❞
musuh yang lain belum koid, udah muncul pulak ikan² ini
Miyu: 🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
Miyu
🤣🤣🤣🤣🤣
ᵉᶠ ↷✦; 𝓔 𝓵 𝓵 𝓮 ❞
seketika diriku bingung /Slight/
ᵉᶠ ↷✦; 𝓔 𝓵 𝓵 𝓮 ❞
gak habis pikir sama si sistem error tapi unik ini 😂
ᵉᶠ ↷✦; 𝓔 𝓵 𝓵 𝓮 ❞
koyo cabe buat ngilangin racun 🤣🤣
ᵉᶠ ↷✦; 𝓔 𝓵 𝓵 𝓮 ❞
gak ada habis habis nya itu para pembunuh durjana
ᵉᶠ ↷✦; 𝓔 𝓵 𝓵 𝓮 ❞
peninggalan dewa gak tuh 🤣
Miyu: sssttt 🤭
total 1 replies
ᵉᶠ ↷✦; 𝓔 𝓵 𝓵 𝓮 ❞
perasaan gak ada henti-hentinya pembunuh yang menyerang sang putri
echa purin
👍🏻
studibivalvia
asher ini tipe tsundere kah? haha lucu banget
Miyu: sedikit... 🤭
total 1 replies
studibivalvia
siap banget dah 😭
studibivalvia
lucu banget jirr 🤣 kucingnya lapar pengen minta makan tapi sombong mukanya 😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!