Mikhasa tidak pernah menyangka jika cinta bisa berakhir sekejam ini. Dikhianati oleh pacar yang ia cintai dan sahabat yang ia percaya, impian tentang pelaminan pun hancur tanpa sisa.
Namun Mikhasa menolak runtuh begitu saja. Demi menjaga harga diri dan datang dengan kepala tegak di pernikahan mantannya, ia nekat menyewa seorang pelayan untuk berpura-pura menjadi pacarnya, hanya sehari semalam.
Rencananya sederhana, tampil bahagia dinikahan mantan. Menyakiti balik tanpa air mata.
Sayangnya, takdir punya selera humor yang kejam. Pelayan yang ia sewa ternyata bukan pria biasa.
Ia adalah pewaris kaya raya.
Mikhasa tidak bisa membayar sewa pria itu, bahkan jika ia menjual ginjalnya sendiri.
Saat kepanikan mulai merayap, pria itu hanya tersenyum tipis.
“Aku punya satu cara agar kau bisa membayarku, Mikhasa.”
Dan sejak saat itu, hidup Mikhasa tak lagi tenang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon F.A queen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LIMA BELAS
Setelah selesai makan, mereka kembali menuju ruangan Axel. Begitu pintu tertutup, batas di antara mereka langsung berubah. Yang ada hanya boss dan karyawan.
Axel berjalan lebih dulu, langkahnya mantap menuju sisi kanan ruangan. Ia berhenti di depan sebuah meja kerja elegan yang berada tak jauh dari meja utamanya.
“Ini tempat kerja kamu, Mikha,” ucap Axel, menunjuk kursi di hadapannya.
Mikhasa mengerjap. “Tempat kerja saya?”
“Ya. Mulai hari ini, kamu bekerja di sini.”
“Dalam satu ruangan dengan Anda?” Suaranya meninggi sedikit tanpa sadar.
“Ya.”
Mikhasa menatap Axel dengan tatapan tak percaya. “Di perusahaan sebesar dan seluar biasa ini… apakah tidak ada ruangan lain?”
Axel memasukkan kedua tangan ke dalam saku celananya. Tenang, tegas, menyebalkan.
“Tidak ada. Untukmu tidak ada. Tempatmu di sini, bersamaku.”
Mikhasa menatap pria itu lama, separuh kesal, separuh tidak percaya. Menjawab pun rasanya percuma. Ia menarik napas panjang, menahan semua protes yang berputar di kepalanya.
“Baiklah, Tuan Axel," jawabnya patuh.
Axel tersenyum di sudut bibirnya. “Cepat sekali kau patuh,” gumamnya pelan, terdengar seperti pujian dan ejekan sekaligus.
Sebelum Mikhasa sempat bereaksi, Axel mencondongkan tubuhnya sedikit. Bibirnya mendaratkan kecupan singkat di kening Mikhasa.
“Sebagai hadiah atas kepatuhan yang mudah ini,” ucap Axel santai.
Mikhasa langsung mendelik. Wajahnya memanas. “Axel Mercier, berani-beraninya kau!” bentaknya murka. Tangannya mengepal, terangkat hendak menghantam dada pria itu dengan keras. Namun saat tinju itu mengayun, gerakannya melambat dan hanya mendarat sebagai pukulan pelan, nyaris tak berarti.
Mikhasa teringat, di balik sikap menyebalkan itu, tubuh Axel sedang tidak baik-baik saja. Dan entah kenapa, ia tak sanggup benar-benar melukainya.
Tinju kecil itu mendarat di dada Axel tanpa tenaga sama sekali. Axel bahkan tidak bergeser sedikit pun.
Axel menunduk, menatap tangan Mikhasa yang masih mengepal di dadanya. “Itu pukulan?” tanyanya datar.
Axel menangkap pergelangan tangan Mikhasa, mengenggamnya lembut. “Kalau mau marah, marahlah dengan sungguh-sungguh, sweetheart," lanjutnya pelan. “Atau... Jangan beri aku alasan untuk menganggapmu menikmati perhatianku.”
Mikhasa menarik napas dalam, memejamkan mata sejenak. Menarik napas lagi, lalu mengembuskannya perlahan, seolah menahan badai yang bergemuruh di dadanya.
'Sabar, Mikha. Sabar. Demi misi mulia, demi kesehatan Axel. Demi satu milyar.'
Mikhasa membuka mata. “Percuma ngomong sama kamu.” Tangannya ia tarik paksa dari genggaman Axel. “Dasar menyebalkan tingkat dewa,” hardiknya, sebelum akhirnya duduk di kursi dengan kasar.
Axel menatap Mikhasa yang duduk dengan wajah masam. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman puas, seolah baru saja menonton sesuatu yang menghibur.
Axel lantas melangkah ke mejanya, meja megah yang hanya dengan sekali lihat sudah menjelaskan betapa kuat pengaruh pria itu di perusahaan ini.
Sementara Mikhasa masih kesal. Masih tidak paham kenapa harus ada di sini, bekerja dibawah tatapan langsung seorang Axel yang setiap saat menguji kesabaran.
Mikhasa menyalakan komputer, berusaha terlihat profesional… meski ia bisa merasakan tatapan Axel mengarah padanya sekilas. Sangat tidak nyaman.
Tak lama, pintu ruangan terbuka setelah tiga ketukan pelan terdengar. Seorang pria paruh baya masuk dengan langkah teratur, tubuhnya sedikit membungkuk hormat saat berdiri di depan meja Axel.
“Saya membawa berkas-berkas yang Anda minta semalam, Tuan,” ucapnya dengan suara rendah dan sopan.
Axel mengangguk tanpa menatap lama, hanya menggerakkan tangan sebagai isyarat agar pria itu melanjutkan menuju ke meja Mikhasa.
Mendengar langkah mendekat, Mikhasa spontan bangkit dari kursinya. Ia sempat merapikan bajunya sebelum memberikan sedikit anggukan sopan.
Pria itu membalasnya dengan senyum yang menenangkan. “Selamat pagi, Nona Mikhasa,” ucapnya ramah. “Jangan tegang. Di sini semua orang pernah menjadi baru.”
Mikhasa mengangguk sopan.
"Perkenalkan, nama saya Edo Geovani,” ucap pria paruh baya itu dengan suara lembut namun berwibawa. Wajahnya teduh, berkacamata tipis, rambutnya sebagian sudah memutih, dan cara bicaranya menunjukkan pengalaman panjang di dunia kerja.
“Saya adalah asisten pribadi Tuan Axel,” lanjutnya sambil menaruh setumpuk berkas di meja Mikhasa dengan sangat rapi. “Mulai hari ini, saya yang akan mengajari Anda apa saja pekerjaan sebagai asisten pribadi Tuan Axel yang baru.”
Mikhasa mengangguk cepat. “Baik, Pak Edo.”
Pak Edo tersenyum kecil. “Tidak perlu terlalu tegang, Nona Mikhasa. Tuan Axel memang… memiliki standar yang tinggi. Tapi selama Anda sigap dan mau belajar, Anda akan baik-baik saja.”
Dari meja kerjanya, Axel melirik sebentar, lalu sibuk dengan laptop di mejanya.
Pak Edo melanjutkan, pelan namun tegas, “Sebelum kita mulai, apakah Anda sudah menyiapkan buku catatan? Kita akan langsung masuk ke penjelasan tugas-tugas harian yang harus Anda pegang.”
Nada profesional Pak Edo berbeda jauh dari Axel, lebih menenangkan, lebih manusiawi dan membuat Mikhasa sedikit bisa bernapas.
Mikhasa langsung sigap. Ia membuka buku catatan, juga tablet yang telah disediakan, ia menuliskan poin-poin penting dengan tulisan cepat tapi rapi. Tablet di sisi kanan ia nyalakan, siap untuk mencatat hal-hal yang lebih detail dan teknis. Di depannya, pulpen, sticky notes, dan binder kecil tertata seperti prajurit yang siap perang.
Pak Edo duduk di sampingnya, bukan di depan, memberi kesan bahwa ia benar-benar membimbing, bukan menguji. Nada suaranya lembut dan stabil, penuh kesabaran khas orang berpengalaman.
“Dalam satu bulan ini, saya masih akan membantu Anda menyesuaikan diri dengan posisi ini, Nona,” ucap Pak Edo sambil menunjuk satu daftar prosedur di tablet.
Mikhasa mengangguk, senyumnya tulus. “Terima kasih banyak, Pak. Saya benar-benar butuh bantuan.”
Pak Edo terkekeh kecil. “Semua asisten Tuan Axel butuh bantuan di awal. Hanya saja… Tidak semuanya beruntung mendapat perhatian khusus seperti Anda.”
Mikhasa mengernyit. “Maksudnya?”
Pak Edo hanya tersenyum misterius. “Nanti Anda akan mengerti.”
Di meja Axel, pria itu melirik sejenak dari balik laptopnya, tatapannya tajam namun tidak berkata apa pun, seolah mengawasi dari jauh setiap interaksi Mikhasa.
Pak Edo kembali menatap Mikhasa dan mengangguk ramah. “Senang bisa membantu Anda.”
“Pak, bolehlah saya bertanya sesuatu di luar ini?” bisik Mikhasa, menunduk sedikit agar suaranya tak terdengar ke meja Axel.
Pak Edo mengangguk sopan. “Silakan, Nona.”
Mikhasa mendekatkan tubuhnya sedikit. “Posisi saya ini… apa artinya saya mengambil jabatan Bapak sebagai asisten pribadi Tuan Axel? Apakah Bapak diberhentikan setelah kedatangan saya?"
Suara Mikhasa pelan, tapi jelas mengandung kecemasan. Ia tahu betul bagaimana Axel bisa memutuskan sesuatu semaunya, tanpa mempertimbangkan orang lain. Bisa jadi Pak Edo jadi korban karenanya.
Pak Edo mengangkat kepalanya, lalu pelan membetulkan posisi kacamatanya.
“Anda terlalu berpikir berlebihan, Nona Mikhasa,” ucapnya lembut. “Tapi terima kasih karena sudah mengkhawatirkan saya.”
Mikhasa menelan ludah, masih menunggu jawaban yang sebenarnya.
Pak Edo akhirnya bicara lagi, “Saat posisi ini resmi jatuh ke tangan Anda, saya akan berpindah ke posisi baru sebagai penasehat pribadi Tuan Axel. Jadi, tidak ada yang ‘diambil’ dari saya.”
Wajah Mikhasa langsung melunak, lega luar biasa. “Syukurlah… saya kira—”
“Tidak perlu cemas, Nona,” potong Pak Edo halus. “Di perusahaan ini, semua sudah diatur. Termasuk apa yang terjadi pada saya dan apa yang terjadi pada Anda.”
Mikhasa mengangguk. Ya, pasti semua ini juga sudah diatur oleh Nyonya Besar Mercier. Ia hanya tinggal mengikuti alurnya, sebagai seseorang yang dibayar. Seorang gadis yang tiba-tiba terseret ke orbit Axel Mercier.