NovelToon NovelToon
Asisten Kesayangan Pak Manager

Asisten Kesayangan Pak Manager

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Kantor / Cinta pada Pandangan Pertama / Office Romance
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Seribu Bulan

Felicia datang ke kantor itu hanya untuk bekerja.
Bukan untuk jatuh cinta pada manajer yang usianya lima belas tahun lebih tua—dan seharusnya terlalu jauh untuk didekati.
James Han tahu batas. Jabatan, usia, etika—semuanya berdiri di antara mereka.
Tapi semakin ia menjaga jarak, semakin ia menyadari satu hal: ada perasaan yang tumbuh justru karena tidak pernah disentuh.
Ketika sistem memisahkan mereka, dan Felicia hampir memilih hidup yang lain, James Han memilih menunggu—tanpa janji, tanpa paksaan.
Karena ada cinta yang tidak datang untuk dimiliki, melainkan untuk dipilih di waktu yang benar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seribu Bulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bagian Tiga

​"Gimana, Fel? Day one jadi asisten manajer galak langsung dapet tiket ke surga karena sabar, atau langsung mau resign?" tanya Maria sambil mengaduk mie ayamnya dengan semangat 45. Kuah cokelatnya sedikit menciprat ke meja kantin yang berminyak.

​Felicia menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi plastik, lalu membuang napas kasar sampai poni depannya terbang. "Capek banget, Mbak. Si Bapak beneran nggak kasih aku napas dari pagi. Ada aja yang dikerjain, udah kayak lagi simulasi jadi lari maraton tiap jam kerja."

​"Maafin aku ya, Fel. Gara-gara aku protes ke HRD, kamu jadi tumbal yang harus pindah ke sana," Maria meringis, menyodorkan segelas es teh manis sebagai tanda perdamaian.

​Felicia buru-buru menggeleng sambil menyeruput es tehnya. "Nggak ih. Gapapa, Mbak. Aku cuman belum nemu ritmenya aja. Nanti juga kalau telinga udah tebel sama omelan, nggak bakal kerasa capeknya."

​Maria mencondongkan badan, matanya menyipit penuh selidik. "Tapi ya Fel, dilihat-lihat itu Pak Han caper banget deh sama kamu. Asli."

​"Hah, caper gimana?" Felicia mengerutkan kening, tangannya sibuk memisahkan sayur sawi dari mangkuknya.

​"Ya gitu! Sering manggil buat kerjaan yang nggak jelas, dikit-dikit 'Felicia, ini gimana?', sering mondar-mandir keluar ruangan cuma buat numpang lewat depan meja kamu. Caper maksimal itu! Jangan-jangan dia naksir kamu?!"

​Uhuk!

​Felicia tersedak, pipinya langsung memerah karena kaget sekaligus malu. Ia menepuk-nepuk dadanya sambil melotot ke arah Maria. "Ngaco! Umur kita itu beda jauh banget, Mbak. Dia seumuran Om aku kayaknya, atau malah lebih!"

​"Umur itu cuma angka, Fel! Lagian mukanya nggak kelihatan udah masuk kepala empat, masih oke lah buat diajak kondangan," Maria terkekeh sambil menaik-turunkan alisnya.

​Felicia memutar bola matanya malas, lalu mendorong gelas es tehnya ke tengah meja. "Mbak, kamu kayaknya kurang minum deh, jadi mulai halusinasi. Nggak mungkinlah Pak Han suka sama aku. Yang ada dia suka... suka nyiksa aku pakai revisi laporan!"

Baru saja Maria membuka mulut hendak mengeluarkan jurus godaan mautnya lagi, ponsel Felicia di atas meja bergetar hebat. Nama "PAK HAN" muncul di layar dengan font yang seolah-olah berteriak.

​Felicia langsung mengeluh seketika, bahunya merosot lemas. "Astaga, ini jam makan siang loh! Benar-benar nggak ada celah buat tenang sedikit."

​Dengan gerakan malas, Felicia menggeser tombol hijau. Belum sempat ia mengucap halo, suara berat di seberang sana sudah memutus duluan. "Felicia, masih di kantin? Bisa tolong belikan saya nasi ayam hainan? Oh, sama es kopi susu gula aren yang di depan kantor."

​Felicia melotot, menjauhkan ponselnya sejenak untuk memastikan dia tidak salah dengar. "Tapi Pak, bukannya Bapak hari ini sudah dapat katering premium dari kantor? Saya sudah antar ke meja Bapak, tadi."

​"Iya, tapi tiba-tiba saya ingin nasi hainan. Kateringnya nanti buat kamu saja kalau kurang kenyang," jawab Pak Han santai, terdengar suara ketikan keyboard yang sibuk di latar belakang. "Kopi susunya jangan lupa, ya. Pakai uang kamu dulu, nanti saya ganti."

​Klik. Sambungan terputus sepihak.

​Felicia menatap layar ponselnya yang sudah gelap dengan tatapan kosong, lalu beralih menatap Maria yang sedari tadi menahan tawa sampai mukanya memerah.

​"Tuh kan, apa aku bilang!" Maria memukul meja pelan. "Bos macam apa yang minta asistennya beliin nasi padang padahal ada katering gratis di depan mata? Itu bukan lapar, Fel. Itu namanya modus minta diperhatiin!"

​"Modus gimana sih, Mbak? Ini namanya perbudakan berkedok titipan!" Felicia menghentakkan kakinya kesal sambil berdiri. "Es kopi susu lagi... kantor kita kan punya mesin kopi paling canggih sejagat raya, kenapa harus beli di depan coba?"

​Maria hanya mengangkat bahu sambil nyengir lebar. "Mungkin kopi buatan mesin nggak ada rasa 'perjuangan' asisten manajernya. Semangat ya, Kurir Nasi Hainan kesayangan Pak Han!"

​Felicia mendengus, menyambar tasnya sambil mengomel pelan sepanjang jalan menuju pintu keluar kantin, sementara Maria masih asyik menertawakan penderitaan sahabatnya itu.

Dengan napas yang sedikit tersengal dan shopping bag berisi nasi hainan serta es kopi, Felicia mendorong pintu ruangan Pak Han menggunakan sikutnya. Di dalam, sang manajer tampak sangat santai—terlalu santai untuk orang yang tadi mengaku lapar darurat.

​"Ini, Pak, pesanannya. Nasi Ayam Hainan, plus es kopi susu gula aren," Felicia meletakkan titipan itu di meja dengan sisa-sisa tenaga sabarnya.

​Pak Han mendongak, menutup laptopnya perlahan. Ia mengambil es kopi susu itu, menyedotnya sekali, lalu mengernyitkan dahi. "Duh, kemanisan banget ternyata. Saya lagi nggak pengen yang manis-manis begini."

​Felicia melongo. "Loh, tapi tadi Bapak yang minta gula aren?"

​"Iya, tapi lidah saya berubah pikiran," Pak Han menyodorkan kembali cup kopi yang sudah berkeringat itu ke arah Felicia. "Buat kamu aja, Fel. Daripada gak diminum, kan? Kamu kelihatan butuh asupan gula setelah lari-lari tadi."

​Felicia ragu sejenak, tapi karena tenggorokannya memang kering kerontang, ia akhirnya menerima cup itu dan menyedotnya tanpa pikir panjang. Ia tidak menyadari bahwa Pak Han sedang bersandar di kursinya, memperhatikan Felicia yang meminum bekas sedotannya dengan senyum tipis yang sulit diartikan—setengah puas, setengah menggoda.

​"Oh iya, tadi habis berapa semuanya?" tanya Pak Han sambil meraih ponselnya.

​"Semuanya tujuh puluh ribu, Pak," jawab Felicia singkat.

​Detik berikutnya, ponsel Felicia di saku roknya bergetar panjang. Sebuah notifikasi m-banking muncul. Felicia hampir saja menyemburkan kopi di mulutnya saat melihat angka yang masuk: Rp7.000.000.

​"Pak, ini kebanyakan! Bapak salah pencet, nol-nya kelebihan dua." Felicia panik, menunjukkan layar ponselnya.

​Pak Han malah terkekeh pelan, suaranya terdengar rendah dan menyebalkan—tapi harus diakui, sedikit keren. "Nggak salah, kok. Itu uang ganti nasi hainan plus bonus karena kamu sudah kerja keras bantuin saya dari kemarin. Anggap saja uang tips biar asisten saya nggak cemberut terus hari ini."

​Felicia terdiam, menatap silih berganti antara saldo rekeningnya dan senyum penuh kemenangan di wajah bosnya itu.

Ini bonus atau uang tutup mulut karena sudah dikerjain ya?

"Sudah, jangan banyak pikiran. Pokoknya kamu kerja yang bagus, turutin semua mau saya. Saya orangnya royal, kamu nggak akan nyesel deh pindah kerja ke saya. Si Maria itu mana pernah kan kasih kamu bonus kaya gini?" tanya Pak Han penuh percaya diri.

Felicia hanya mengangguk, masih sedikit bingung. "Ya iyalah Pak, tujuh juta kan setengah gaji beliau. Masa mau dikasih ke saya?"

Pak Han malah tertawa menanggapi pertanyaan Felicia. "Muka kamu gemas sekali kalau lagi bingung seperti itu."

Sontak mata Felicia membulat, ada semburat hangat di pipinya saat Pak Han entah memuji, atau meledeknya barusan.

"Astaga." Pak Han mendecak sembari menutup wajahnya dengan sebelah tangannya. "Kamu keluar saja Fel. Kalau kelamaan ngelihat kamu saya takut diabetes."

Felicia semakin terkejut, kemudian tanpa menunggu apapun lagi, ia langsung berlari kearah pintu dan keluar dari sana. Bahaya, jantungnya sudah berdebar kencang.

Sementara Pak Han, pria itu hanya menggeleng pelan melihat kelakuan Felicia. Tangannya mengepal pelan, menahan diri untuk tidak melakukan sesuatu yang tidak boleh ia lakukan saat ini.

1
Seribu Bulan 🌙
siap kak makasih yaa😍
Andina Jahanara
lanjut sampe tamat kak 💪
Faidah Tondongseke
Ceritanya seru,Cinta bersemi di kantor,Asiik deh pokoknya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!