NovelToon NovelToon
Legenda Penguasa Langit Dan Bumi

Legenda Penguasa Langit Dan Bumi

Status: sedang berlangsung
Genre:Ilmu Kanuragan / Kelahiran kembali menjadi kuat / Perperangan
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: JUNG KARYA

Di dunia di mana silat menentukan nasib alam semesta, Yuda adalah anak biasa dari pinggiran dunia fana tanpa sadar terseret ke konflik besar yang melibatkan klan kuno, kerajaan, hingga Alam Dewa.
Di balik kekacauan itu tersembunyi konspirasi Iblis Dewa yang ingin memicu perang demi merebut tahta langit.

Dalam perjalanan penuh pertarungan, tawa, dan kehilangan, Yuda ditemani sekutu tak terduga, termasuk siluman kucing putih kecil bernama Tara yang menyimpan kekuatan mengguncang langit.

Inilah kisah manusia biasa yang melangkah menuju puncak yang bahkan para dewa takuti.

***

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JUNG KARYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3 - Memulai Perjalanan

Pagi harinya, terlihat Guru Mahendra memanggil Yuda untuk datang ke halaman rumahnya.

Udara di sekitar masih dingin, tanah lembap oleh embun, dan asap tipis mengepul dari dapur-dapur rumah penduduk desa.

“Kau akan pergi hari ini Yuda,” kata Guru Mahendra tanpa basa-basi.

Yuda yang mendengar itu seketika terdiam sesaat.

Ia sudah menduga hal itu akan datang, tetapi mendengarnya secara langsung tetap membuat dadanya terasa berat.

“Berapa lama Guru?” tanya Yuda.

“Entahlah,” jawab Guru Mahendra.

“Bisa bertahun-tahun atau bisa juga kau tidak kembali.” lanjutnya dengan datar.

Yuda pun hanya mengangguk pelan dan patuh.

Guru Mahendra melanjutkan,

“Klan Giri tidak akan berhenti disini, mengingat mereka sering mengintai kita sejak hari itu, Klan Wasesa juga pasti akan segera bergerak, karena tubuhmu itu menarik perhatian mereka. Jika kau tetap di desa, orang tuamu yang akan mati lebih dulu daripada kau.” ucap Guru Mahendra dengan jujur.

Kata-kata itu tidak disampaikan dengan nada ancaman, melainkan sebagai pernyataan sederhana.

Mendengar perkataan gurunya, Yuda pun hanya menunduk. “Aku mengerti Guru.” jawabnya lirih.

Setelah itu, ia akhirnya berpamitan untuk segera pulang kerumah.

Yuda melakukan persiapan dengan cepat dan ringkas.

Yuda pulang ke rumah membawa kabar itu. Ibunya, Ratri hanya terdiam lama setelah mendengarnya.

Sedangkan Wira berdiri mematung di samping istrinya, lalu duduk perlahan di bangku kayu yang sudah lusuh.

“Kapan kau akan berangkat putraku?” tanya Ratri dengan nada yang sedikit gemetar.

“Sekarang Ibu, saat ini juga,” jawab Yuda dengan jujur.

Mendengar itu, tatapan mata ibunya terlihat mulai berkaca-kaca, namun Ratri tidak menangis.

Ia hanya langsung melangkah masuk ke kamar, mengeluarkan kain lusuh yang dibungkus rapi, lalu menyerahkannya pada Yuda.

“Ini pakaian ayahmu waktu muda,” katanya. “Tidak bagus, tapi ini cukup kuat.” lanjutnya sembari menyerahkan bungkusan kain.

Wira yang sedang duduk dengan pikiran yang campur aduk, akhirnya berdiri dan menepuk bahu Yuda.

“Jangan menganggap dirimu sebagai pahlawan,” katanya singkat.

"Tapi jadilah orang hidup, dan berguna untuk orang lain, terutama untuk orang yang lebih lemah dan membutuhkan bantuan.” lanjutnya dengan suara yang terdengar sedih namun tegas

Yuda mengangguk paham, karena Ia tidak tahu harus berkata apa lagi.

Akhirnya, Ia berpamitan tanpa banyak kata.

Desa Batu Tua akan ia tinggalkan saat matahari baru naik setinggi tombak.

Di sisi lain, Guru Mahendra terlihat sudah menunggu di luar desa.

“Kau tidak ikut Guru?” tanya Yuda setelah sampai di depan gurunya.

“Tidak,” jawab Guru Mahendra.

“Langkah pertama ini harus kau ambil sendiri.” lanjutnya

Lalu Ia melemparkan sebuah kantong kecil yang sedikit berat.

“Di dalamnya ada uang, obat dasar, dan peta kasar, tapi jangan percaya pada peta itu sepenuhnya.” ucapnya menjelaskan.

Guru Mahendra lalu menepuk dada Yuda sekali.

Bukk...

Tepukan itu tidak keras, tapi cukup membuat napas Yuda tersendat.

“Aliran tenagamu saat ini sudah benar-benar terbuka” kata Guru Mahendra setelahnya.

“Tapi ini masih sangat liar, kau juga terlalu bodoh untuk mengendalikannya, sudah lima tahun tapi masih belum bisa mengendalikan tenaga dari tubuh sendiri, Hmmm... Yang terpenting jangan kau gunakan ini saat sedang marah.” lanjutnya memperingati.

Yuda pun menunduk dengan hormat, dengan senyuman yang terlihat bodoh.

“Terima kasih, Guru.” ucapnya dengan dalam dan serius.

Guru Mahendra hanya mengangguk, tapi saat ini juga terlihat setetes air keluar dan terjatuh turun melewati pipinya, namun Yuda tak menyadari itu.

Mulai saat ini, untuk pertama kalinya, Yuda berjalan sendirian ke dunia luar.

Tanpa terasa ia sudah tinggal di Desa Batu Tua lebih dari 12 tahun.

Setiap hari berlatih dengan Guru Mahendra pun tanpa terasa sudah mereka lewati selama lima tahun.

Dalam awal langkahnya, itulah hal pertama yang muncul dalam pikirannya.

__

Dunia di luar Desa Batu Tua tidaklah ramah.

Jalan tanah berubah menjadi jalan berbatu. Desa kecil berganti pos jaga klan. Simbol-simbol klan terukir di tiang dan gerbang, menandai wilayah kekuasaan masing-masing.

Pada hari ketiga perjalanan, Yuda melihat langsung akibat perselisihan antar klan, yang menyebabkan sebuah desa terbakar.

Banyak mayat-mayat yang belum sempat dikubur.

Sedangkan rumah-rumah runtuh, dan bau besi bercampur asap memenuhi udara disekitar.

Yuda berdiri lama di tempatnya, lalu melanjutkan perjalanan tanpa berkata apa-apa.

Hingga akhirnya sebuah masalah datang saat ia memasuki wilayah Klan Wasesa.

Di sebuah pos penjagaan, lima pria bersenjata menghentikannya.

“Nama?” tanya salah satu dari mereka.

“Yuda.” jawabnya tegas dan cepat.

Mendengar itu, membuat pandangan para penjaga itu terlihat mulai berubah.

“Anak desa,” kata yang lain. “Tanda di perut?” lanjutnya.

Mendengar perkataan lawan bicara, Yuda pun reflek mundur selangkah.

Tanpa sebuah aba-aba, seorang penjaga klan langsung menyerang.

Yuda bereaksi refleknya, Ia menghindar, lalu memukul balik.

Tenaga dalamnya mengalir tanpa ia sadari dan membuat pria penjaga itu terlempar hingga menghantam tanah.

Melihat itu, semua penjaga yang ada disana pun langsung terdiam.

“Tangkap dia!” teriak seseorang menyadarkan Yuda.

Yuda pun langsung berlari menjauh, karena menyadari ini bukan lagi hal yang baik.

Kejar-kejaran mereka pun berlangsung sampai senja tiba.

Yuda berlari menembus hutan, dengan napas yang teratur seperti yang diajarkan Guru Mahendra.

Tiba-tiba terlihat sebuah anak panah melesat, dan menggores lengannya, namun meski begitu, Ia tidak berhenti berlari.

Hingga saat malam turun, dan karena gelapnya malam juga, ia tak sengaja menginjak batu yang licin dan terjatuh ke lereng berbatu dengan tubuh terguling ke bawah.

Membuat tubuhnya menghantam tanah dengan keras hingga tak sadarkan diri.

Brukkk...

Kegelapan malam seketika mengelilinginya.

Di pagi harinya, Yuda sudah terbangun dengan rasa sakit di sekujur tubuhnya.

Ia melihat sekeliling dalam kegelapan, dan menyadari sedang berada di sebuah gua kecil dengan api unggun menyala redup, ia melihat ke kanan dan kiri dan mendapati bahwa tasnya masih ada.

Perlahan Yuda mencoba untuk bangkit berdiri, dengan tubuh yang masih terasa sakit.

“Kalau kau bergerak lagi, tulang rusukmu bisa saja patah beneran, Bocah,” terdengar suara kecil entah dari mana.

Mendengar itu Yuda langsung membeku di tempat.

Ia menoleh kesana kemari hingga akhirnya melihat ada sesuatu di dekat api unggun yang redup.

Ada seekor kucing putih kecil buntal dan lucu duduk sambil menjilati kaki depannya.

Namun mata kucing itu menatap Yuda dengan mata tajam yang terlalu sadar untuk seekor hewan biasa.

“Akhirnya bangun juga,” kata kucing itu datar.

Seketika Yuda langsung terdiam sangat lama, karena menyadari ada yang aneh dengan hewan di depannya.

“Baiklah,” katanya akhirnya.

“Sepertinya aku semalam terbentur cukup keras, hingga membuatku jadi bingung membedakan mana mimpi dan mana dunia nyata, ini pasti mimpi saja." lanjut ucapnya lalu kembali menyenderkan tubuhnya di dinding gua.

Mendengar perkataan Yuda, kucing putih kecil itu hanya mendengus.

Sedangkan Yuda yang telah bersender di dinding gua akhirnya merasakan sesuatu yang akhirnya membuat ia sadar.

"Tidak!!!.." teriaknya lalu bangkit berdiri setelah merasakan tetesan air jatuh di tangannya.

"Ini..ini pasti hanya mimpi." lanjut teriaknya.

Ia akhirnya berjalan kesana kemari, lalu sesekali menampar wajahnya sendiri, dan tetap saja merasakan kesakitan.

Hingga pada akhirnya ia berhenti berjalan dan menatap tajam ke arah kucing kecil putih itu.

Kucing yang merasakan tatapan aneh dari Yuda, akhirnya mendengus lagi dengan pelan, namun kembali mengabaikannya dengan melanjutkan menjilati kaki depannya.

......................

1
JUNG KARYA
/Coffee/
JUNG KARYA
mohon dukungannya teman-teman🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!