NovelToon NovelToon
IQ 278: Jejak Yang Disembunyikan

IQ 278: Jejak Yang Disembunyikan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat / Karir / Kehidupan alternatif / Persaingan Mafia / Trauma masa lalu
Popularitas:429
Nilai: 5
Nama Author: woonii

Hani Ravenna Arclight memiliki IQ 278 dan hidup dengan dua wajah. Di balik layar dunia digital, ia dikenal sebagai The Velvet Phantom, hacker profesional yang bergerak tanpa jejak. Di dunia nyata, ia menyembunyikan identitasnya dan menjalani hidup sederhana di sebuah kampung, menutupi masa lalu dan nama besar keluarganya.

Pertemuannya dengan Darren Maximilian Vireaux mengguncang ketenangan yang ia bangun. Darren memaksanya kembali menghadapi dirinya sendiri bukan sebagai bayangan, melainkan sebagai Hani Ravenna Arclight yang sesungguhnya.

Di antara rahasia dan pilihan, Hani harus menentukan: tetap bersembunyi, atau berani kembali ke cahaya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon woonii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rumah duka

Pagi menyelimuti rumah duka dengan kabut tipis yang perlahan menembus halaman. Suara ayam berkokok terdengar sayup-sayup, bercampur dengan bisikan angin di antara pepohonan. Bau tanah basah dan harum bunga kampung menyapa, namun tak mampu mengusir rasa hampa yang mengisi setiap sudut rumah. Wajah-wajah tetangga tampak muram, langkah mereka pelan, seakan pagi pun ikut berduka.

Hani duduk memandangi jasad kedua orang tua nya, ia menggunakan baju hitam dengan diapit Sinta dan Mutia.

Teman-teman kantor termasuk pak Dika pun tutut hadir dalam kediaman Hani untuk mengucapkan bela sungkawa dan juga memberikan semangat.

Setibanya dilokasi pemakaman jasad kedua orang tua Hani dimakamkan bersebelahan di ilang lahat. Para tetangga dan juga kerabat yang ikut ke lokasi pemakaman pamit untuk pulang setelah prosesi pemakaman selesai.

Sinta menghampiri Hani yang sedang duduk termenung memandangi makam kedua orang tua nya. "Hani kita pulang yuk, ga baik terlalu lama disini. Ikhlas kan kedua orang tua mu, mereka sudah tenang dialam sana. " ujar Sinta.

"Tidak Sin, kalian pulang dulu, aku akan tetap disini" jawab Hani.

"Sebaiknya kamu juga ikut kami pulang Hani, kami tidak akan membiarkan mu berada disini sendirian" titah pak Dika sang atasan Hani.

Hani menoleh ke arah pak Dika, kemudian menatap kembali batu nisan makam kedua orang tuanya. 'Aku berjanji tidak akan membiarkan orang yang sudah menabrak kalian hidup dengan tenang yah, bu' ucap Hani dalam hati. kemudian ia menurut untuk pergi pulang bersama pak Dika, Sinta dan Mutia.

Setelah tiba dirumah Hani mereka semua berkumpul diruang tamu untuk membicarakan mengenai keputusan Hani dalam mencari pelaku tabrak lari kecelakaan kedua orang tua nya.

Pak Dika membuka awal percakapan. "Jadi bagaimana keputusan mu setelah ini Hani? apakah saya bisa membantu dalam pencarian pelaku? " ujar pak Dika dengan tatapan tulus, pertanyaan tersebut membuat semua orang yang ikut membicarakan hal tersebut menoleh kepada Hani yang tampak lebih tenang namun kilatan mata nya masih terdapat dendam.

Hani membalas tatapan pak Dika, ia menarik sudut bibir nya membentuk senyuman sangat tipis dengan mata yang menatap tajam. "Saya akan menangani masalah ini sendiri, tanpa bantuan siapapun" ucap Hani dengan penekanan diakhir kalimat, kata kata yang dulu lembut kini berubah menjadi dingin.

Mutia yaitu sahabat Hani yang berada di kampung sontak terkejut akan perubahan dan juga kata kata Hani. 'Apakah ia berniat kembali ke dunia nya dulu? ' pertanyaan dalam benak Mutia.

Pasalnya Mutia tahu bahwa semasa Hani berkuliah di Amerika Serikat ia telah bekerja dibalik bayangan sistem, yang orang-orang kenal dengan hacker no 1 didunia dengan nama samaran The Velvet Phantom (Datang tanpa suara, Pergi tanpa jejak). Berkat pekerjaan nya Hani dapat membangun beberapa bisnis diluar negeri yang bahkan Mutia sendiri tidak tahu bisnis apa yang dibangun oleh sahabatnya itu. Mutia juga mengetahui kecerdasan luar biasa yang dimiliki Hani, walaupun Hani sudah mencoba menyembunyikan kecerdasan nya tersebut pada orang-orang tetapi ia tidak bisa menyembunyikan nya dengan sempurna, karena terlalu menonjol. Semenjak Hani pulang ke Indonesia ia memutuskan untuk berhenti bekerja dibalik bayangan, walaupun nama The Velvet Phantom sampai sekarang masih berada diurutan pertama hacker paling handal didunia.

"Tetapi CCTV jalan tempat kejadian kecelakaan orang tua mu dikabarkan telah rusak 2 bulan lalu Hani, apakah kamu yakin akan menangani masalah ini sendiri? " tanya pak Dika yang ragu jika Hani dapat menyelesaikan masalah ini. Pertanyaan tersebut membuat Mutia tersadar akan pikiran nya.

"Tidak perlu memikirkan CCTV jalanan pak Dika, saya bahkan bisa menemukan pelakunya tanpa menggunakan CCTV jalanan, terimakasih atas niat baik anda untuk membantu saya, tapi saya harap anda tidak ikut campur dalam menangani ini." ucap Hani tegas dan dingin, membuat orang orang yang berada diruangan tersebut merasakan atmosfer udara menjadi dingin.

'Berarti dia benar benar akan kembali ke dunia bayangan yang ia jalani dulu, aku harap caramu tidak salah Hani, aku akan selalu mendukung mu, kita sudah seperti saudara.' Ucap Mutia dalam hati yang selalu mendukung Hani layaknya seorang saudara karena hubungan antar keduanya sangat dekat.

"Yasudah kalau itu memang keputusan mu Hani, saya tidak bisa memaksa,. Tapi kalau kamu membutuhkan bantuan, kamu bisa menghubungi saya. Dan untuk pekerjaan, kamu bisa berlibur untuk beberapa hari dan bisa masuk kembali ketika keadaan dirimu sudah lebih baik." Ucap pak Dika.

"Baiklah terimakasih atas pengertian nya pak, sayang usahakan akan segera kembali berangkat bekerja." Ucap Hani tetap dengan nada yang dingin, bukan seperti Hani yang selalu berbicara dengan nada yang lembut dan penuh perhatian.

Sinta yang sedari tadi hanya mendengarkan percakapan pun mulai merasakan perbedaan dari diri Hani. 'Apa karena kehilangan kedua orang tua Hani menjadi lebih tegas dan dingin seperti itu? tapi tatapan nya pun bukan seperti Hani yang ku kenal, tatapannya lebih tajam bukan lembut seperti biasanya.' Sinta bertanya tanya dalam hati pada dirinya sendiri.

Pak Dika hanya tersenyum mendengar jawaban dari Hani, meskipun ia juga merasakan perbedaan akan cara bicara dan pembawaan diri Hani. "Hmm kalau begitu saya dan Sinta pamit untuk kembali ke perusahaan dulu, karena ada beberapa hal yang harus dikerjakan." ucap pak Dika.

Hani kemudian bangkit dari duduknya lalu mengantarkan pak Dika dan juga Sinta sampai ke depan rumah. "Terimakasih atas kehadiran pak Dika dan juga Sinta dalam pemakaman kedua orang tua saya. " ucap Hani sembari tersenyum meskipun masih bersikap dingin.

Selepas kepergian pak Dika dan juga Sinta dari rumahnya kini Hani bersama Mutia berbincang lagi diruang tamu.

"Jadi kau mau kembali lagi ke dunia bayangan? " tanya Mutia setelah Hani menjelaskan rencana rencana nya.

Hani hanya mengangguk pelan sebagai jawaban. "Aku rasa dunia bayangan memang merindukan ku, sudah saat nya aku kembali bukan untuk bermain main." ucap Hani.

"T-tapi kau yakin akan keputusan mu? " tanya Mutia ragu.

"Aku tidak pernah bermain main akan keputusan ku Mutia, apalagi ini mengenai orang tua ku." jawab Hani.

Mutia menghela nafas berat, "Hmm baiklah apapun itu keputusan mu aku akan selalu mendukung, aku akan membantu mu jika kau butuh bantuan."

Hani tersenyum, ia tahu bahwa selalu di sekelilingi orang-orang yang peduli padanya, termasuk Mutia sang sahabat. "Sekarang kau harus ikut aku ke ruang bawah tanah" ucap Hani.

Mutia tampak syok, sejak kapan rumah sahabat nya ini terdapat ruang bawah tanah, ia tidak pernah diberi tahu akan hal itu. "APA RUANG BAWAH TANAH? " ucap Mutia dengan nada sedikit berteriak.

Hani menempelkan telunjuk nya pada bibir. "Stttt, pelankan nada bicaramu, jangan sampai tetangga tetangga ku tau akan hal ini. Ruangan ini memang dirahasiakan oleh ayah ku, dan isinya hanya koleksi-koleksi ku dan juga ayahku." ucap Hani lalu menarik tangan Mutia agar ikut dengan nya.

Hani melangkah ke ruangan tempat koleksi piagam-piagam, piala dan juga medali yang ia peroleh, ia menggeser sebuah lemari piala dan menampilkan sebuah lantai yang berbeda dari lantai lainya lalu membuka lantai tersebut dan menunjukkan jalan ke ruang bawah tanah. Mutia yang melihat itu tampak lebih syok, ia memang sering masuk ke ruang penghargaan tersebut untuk melihat lihat hasil penghargaan yang diperoleh Hani, tapi ia tidak pernah menyangka bahwa ada akses ke ruang bawah tanah di bawah lemari piala.

Hani dan Mutia masuk ke ruang bawah tanah, yang menampilkan nuansa klasik tradisional dengan lampu pencahayaan redup bewarna kuning. Tampak beberapa inovasi teknologi ciptaan Hani semasa kuliah dan juga sepasang baju dinas kepolisian yang digantung disebuah lemari kaca milik mendiang ayah Hani, dulunya sang ayah merupakan polisi yang tegas dan juga sangat adil, membuat orang-orang menjadi terkesima akan sang ayah Hani. Tetapi sewaktu dinas diluar kota, ayah Hani mencoba menggagalkan pendaratan kapal bermuatan narkoba dipelabuhan mengakibatkan sang ayah difitnah hingga di pecat secara tidak terhormat.

Flashback on

Suatu hari ketika ayah Hani sedang dinas diluar kota, ia ditugaskan untuk mengawasi pelayaran dan pendaratan kapal disebuah pelabuhan, karena insting nya yang kuat ia menduga adanya penyelundupan narkoba pada pelayaran tersebut. Ia akhirnya mengecek semua barang bawaan para penumpang kapal, tetapi ia malah difitnah oleh sekelompok orang bahwasan nya ia mencuri segenap uang tunai yang dibawa oleh sekelompok orang tersebut.

Awalnya sang ayah Hani mencoba melawan tentang fitnah tersebut sehingga terjadinya perkelahian yang mengakibatkan ayah Hani dihajar oleh sekelompok orang tersebut, hingga akhirnya ayah Hani dipecat oleh sang atasan karena telah mengganggu ketidaknyamanan penumpang kapal.

Saat itu Hani masih duduk dibangku SMP, ia melihat sang ayah pulang dari dinas diluar kota dalam kondisi babak belur. Setelah kejadian tersebut sang ayah memilih untuk mejadi peternak dan juga petani dikampung, sementara sang ibu menjalankan bisnis toko sembako dipasar.

Setelah sang ayah dipecat, Hani menghabiskan banyak waktu bersama ayahnya, sang ayah bahkan mengajarkan ilmu bela diri terhadap Hani dengan harapan sang anak bisa menjaga dirinya sendiri sewaktu tidak bersamanya, ia bahkan mengajarkan cara menggunakan pistol dengan lihai kepada Hani, bahkan Hani sering diajak untuk berburu anjing anjing liar yang memakan hewan ternak para warga dihutan kampung nya.

Hingga akhirnya Hani dapat menggunakan pistol dengan lihai, dan juga insting dan cara berfikir nya yang handal seperti sang ayah. Ia juga menguasai ilmu bela diri yang diajarkan oleh sang ayah. Dengan itu ayah Hani percaya bahwa putri tunggal nya itu kelak lebih hebat daripada dirinya.

Flashback off

Hani menurunkan sebuah kotak besar dari atas lemari. Dalam kotak tersebut terdapat beberapa alat yang ia gunakan selama bekerja menjadi hacker bayangan. Diantaranya, sebuah laptop custom rakitan pribadi, yang dibuat sendiri oleh Hani yang ia beri nama Raven-01, sebuah kacamata buatan nya yang bernama Aether Spectra berfungsi untuk mengakses kunci kunci sandi pintu atau berbagai fasilitas, serta bisa menerawang benda benda yang disembunyikan dibalik baju seseorang ketika ia menggunakan kacamata tersebut. Dan sebuah pistol bertenaga tinggi berukuran kecil dengan sebuah simbol HR yang dirancang khusus bernama Null Vector, yang Hani gunakan untuk berjaga jaga semasa ia bekerja.

Ia mengeluarkan semua isi dari kotak tersebut. Mutia yang melihat semua benda benda tersebut tampak syok sekaligus kagum.

"Hani dimana kamu membeli semua benda ini? INI LUAR BIASA, DI LUAR DUGAAN KU" Ucap Mutia sedikit bingung namum antusias.

"Terlalu berlebihan tau nggak, sejak kapan kamu ngomong bahasa formal begitu kalo lagi berdua sama aku? biasanya juga bar-bar, lagian laptop sama kacamata ini buatan ku sendiri jadi aku ga beli dan pistol ini aku beli dari transaksi ilegal waktu masih di Amerika Serikat buat jaga jaga waktu kerja." ucap Hani sembari protes karena setelah beberapa kali bertemu sahabat nya kini berbicara menggunakan bahasa formal yang memberikan kesan sedikit kaku menurut nya, ia sendiri tidak terlalu suka menggunakan formal kecuali disaat jam kantor.

"Hehehe biar keliatan sedikit berkelas gitu lah, kaya orang-orang kota, lagian aku harus bersikap se formal mungkin buat memikat hati para CEO kaya" ucap Mutia sembari tertawa.

"CEO nya ga demen kali sama modelan kaya kamu mut" ucap Hani sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, ia merasa bersyukur akan sahabat yang selalu menghibur nya setiap saat itu.

"Ya kalo CEO nya ga demen, boleh lah asisten CEO nya ahaha" Sahut Mutia antusias, ia memang selalu memiliki banyak cara untuk menghibur sang sahabat.

"Sudah sudah ayo bantu aku bawain ini ke meja dipojok itu" jawab Hani.

Ia dan Mutia meletakkan barang-barang tersebut ke meja yang berada di pojok ruangan kemudian duduk di sebuah sofa panjang yang sedikit berdebu.

Saat Hani membuka laptop tersebut untuk mengecek apakah ada kerusakan setelah lama tak digunakan ia menemukan sebuah surat yang terselip dalam laptop tersebut.

Apakah isi suratnya?

1
ni.crypt
bantu dukungan guys
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!