NovelToon NovelToon
Mau Bahagia Denganku? Sayang?

Mau Bahagia Denganku? Sayang?

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Pernikahan Kilat / Menjual Anak Perempuan untuk Melunasi Hutang / Kontras Takdir / Slice of Life
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: apelcantik

Novel mau bahagia denganku? sayang? Izin masuk ya, hallo kembali ke apel cantik!

Ayahnya berinvestasi hingga berhutang sampai 10 milliar, karena tak sanggup membayar pria itu malah menjual Aluna ke anak buah penagih hutang. Malam harinya pintu tanpa diketok, masuk nyelonong begitu saja, seorang pria melemparkan koper didepan meja yang berisi uang 10 milliar.

Kontrak pernikahan tak boleh dilanggar.


1. Tak ada kontak fisik
2. Dilarang jatuh cinta
3. Dilarang mengintip kehidupan pribadi masing-masing.

Durasi kontrak: 1 Tahun
Setelah masa kontrak selesai akan dibayar 1 Triliun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon apelcantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20. Mancing perkoro?

Akhirnya bab 20 Teman-teman, apakah kalian tidak kasih Vera bunga... ehem... psst! pssst...

Ayah Aluna terus memaksa wanita itu untuk memberikannya uang, Aluna di sini panik sendiri napasnya terengah-engah. Arkan melihat raut wajah panik dari wanita itu segera mendorong Keldo menjauh dari istrinya.

"Apa yang kau lakukan—"

Kini tatapan Keldo berganti pada anak menantunya, dia sampai menggenggam tangan pria itu cepat. "Arkan... dengarkan, uang kemarin masih kurang Arkan... "

Kakek Seo menghardik keras, "SIAPA KAU APA KAU BENAR AYAHNYA ALUNA! BERANINYA KAU MEMINTA-MINTA UANG—AKH—" saat Kakek Seo berteriak, jantungnya juga kumat mendadak. Dion segera memegang Kakek Seo, dan menyuruh beberapa pengawal untuk membawakan kursi roda. Arkan menghampiri sang kakek dengan nada khawatir, "Kakek ayo kita pulang saja... "

"Tunggu Arkan jelaskan, apa dia ayahnya Aluna? Benarkah? "

"Em... "

Arkan masih belum menjawab, tangan pria itu memberikan isyarat pada Dion agar kakeknya segera dibawa pergi. Dion angguk kepala memahami, dengan beberapa bodyguard, mereka pun pergi membawa Kakek Seo untuk sesi pengobatan lebih lanjut.

Jantung Aluna sudah berdebar kencang, matanya tergoncang, seolah ia akan pergi ke mana pun terasa dikekang di dalam sini. Ia meremas sweaternya, berharap sang ayah segera pergi karena malu ditatap orang-orang.

"Aluna dengar Ayah, kau masih sayang sama Ayah kan?! Ayah... Ayah juga mau hidup di rumah mewah yang kau tinggali itu, Ayah juga mau makan makanan enak yang biasanya kamu santap itu Aluna... tolong berikan Ayah kehidupan yang layak, Ayah ingin hidup tenang... Ayah mohon tolong minta pada suamimu itu... "

Ia diam saja, kedua lengannya digoyang-goyangkan kencang. Wanita itu terus melamun, perlahan setetes air mata jatuh. 'Ayah cuma pengen enaknya aja... kenapa Yah, Ayah pikir aku ini barangmu? Kau mengira aku hidup mewah dengan begitu Ayah menganggap diriku bahagia? Ayah tak pernah melihat hatiku... Ayah seperti ini, terus menerus... kenapa Ayah tak mati saja—' Aluna awalnya takut bila harus mengejek ayahnya sendiri, tapi kini matanya sudah seperti di dalam kegelapan, tak ada kepastian di sana—ia mencoba mencari lampu, tapi di mana? Di mana lampu yang bisa menyinari gundah gulananya?

Tak dijawab sama sekali, Keldo menggeram kesal, dia langsung menampar pipi Aluna sampai wanita itu jatuh terduduk ke lantai.

PLAK!

"Kau hanya... hanya anak yang hoki saja Aluna! Kalau suamimu tak ada untuk membelimu pasti kau sampai mati terus bekerja untukku!! Bersyukurlah kau punya suamimu itu! Kau kurang mengerti seberapa Ayah sayang padamu sejak dirimu kecil! Tanya ibumu, tanya dia! Apa ibumu pernah aku sakiti hah! "

Seketika pikiran Aluna teracak, ada benang serabutan yang tak bisa dipisahkan. Aluna geleng kepala, dia merasa sedang dikerubungi lalat, dalam memori yang coba ia ingat. 'Aku tidak tahu Ayah... kenapa kau tanya aku... aku tidak ingat masa kecilku, kenapa kau... selalu terus bertanya, '

"DASAR ANAK BAJINGAN! KAU—"

"Sudah! " seru Arkan tak mau menimbulkan keributan di tempat ini, mencegah pria itu yang sekali lagi akan menampar pipi putrinya untuk kedua kalinya. Untung saja Arkan segera mencegah, kekuatannya lebih besar daripada Keldo yang kurus cungkring.

"Arkan! Kau mau kan memberi saya uang! Hah? Saya kan ayahmu, perlakukan saya seperti ayah kandungmu Arkan... ya ya? "

Arkan berdecak, bahkan ayahnya lebih baik daripada pria di depannya. Dia menyindir terang-terangan. "Ayah? Tidak masuk akal, siapa yang menganggapmu ayah saya? Ayah saya itu tidak sepertimu, jangan bandingkan dia dengan kecoa sepertimu itu... bikin muntah saja. " ucap Arkan tak sopan, berhasil membuat Keldo langsung memberikan urat-urat amarah sampai menjalar ke telinganya.

"KAU! KAU JUGA—"

Segera para pengawal di belakang Arkan membekap kedua tangan Keldo, dibuat sujud di depan Arkan yang kini lebih mendominasi. Arkan terkekeh melihat Keldo dalam sekali kuasa saja langsung berkeringat panik.

"Le—lepaskan aku! Lepaskan! Arkan kamu tidak tahu berterima kasih ya—" kepala Keldo dihantamkan ke lantai bandara sekali lagi, karena tak memanggil awalan nama Arkan dengan Tuan.

"Panggil Tuan Arkan! "

"Ap—"

Arkan menginjak kepala pria itu berkali-kali, dia memutar ujung sepatunya di atas kepala pria itu—tak peduli pipi, hidung, bahkan mulutnya bonyok semua. Kini pria arogan itu sangat puas dengan sikapnya.

"Bawa dia keluar, "

"Baik Tuan. " segera para pengawal menggeret Keldo yang lemas tak berdaya, dibuang di rerumputan tengah jalan tol. Arkan menghampiri Aluna yang gemetar hebat, tangan wanita itu sedingin es.

Pria itu berdecak, dia menarik tangan yang jadi tumpuan wanita itu untuk berlindung. Dalam tangan hangatnya, Arkan tak menoleh sama sekali—menggeret wanita itu pergi dari bandara secepatnya.

Ia masuk ke dalam dengan bantuan pria itu, pintu ditutup kencang. BRAK! Aluna terkejut, tapi jantungnya berdegup lebih kencang saat pria itu ikut masuk, duduk di sampingnya. "Ck, kau sangat menginginkan orang-orang membuat berita tentangmu hah? Kau mau sosok istri dari keluarga Seo harus tercoreng karena hanya takut pada gelandangan? "

"Gelandangan? " Aluna mengulangi perkataan terakhir yang dikatakan pria itu, entah mengapa bibir Aluna terangkat sedikit dia tak merasa marah sama sekali setelah ayahnya diejek, malahan dia justru sedikit tenang saat ini.

"Kenapa senyum-senyum sendiri? Gila? "

Aluna geleng kepala, dia mengusap sisa air matanya. "Tidak Mas, kamu yang sebaik ini denganku bagaimana aku bisa membalasnya... aku tahu terlalu naif berkali-kali membela ayahku di depan para rentenir bahkan ibu kos-kosan, tapi aku merasa kalau dengan dirimu berbeda Mas.. gak tahu kenapa, kau seolah menyelamatkanku sekali lagi. "

"Hah gila... ingat ini Aluna kita hanya menikah kontrak, jangan ungkapkan suara hatimu itu keras-keras. Pendam lagi, saya muak mendengarnya, cuih... "

Aluna terdiam, tangannya melemas, pelan-pelan setiap kedipan mata dari wanita itu seolah membuka kenangan lama yang dia lupakan.

'Dirimu tetap sama ya... '

'Apa maksudku? Tidak, apa yang kupikirkan ini... '

...****************...

Tengah malam, kebetulan saat itu tak ada yang menjaga sama sekali. Aluna memakai masker secepatnya, dan membawa jaket hitam yang dapat menutupi dirinya di balik kegelapan. Ia menyaku handphonenya, memegang kalung di lehernya pelan. "Bagaimana melepaskan ini... aku harus melepaskan ini dari leherku... " pikirnya mencari cutter yang dia simpan di laci beberapa minggu lalu, namun sama sekali tak ia dapati berada di sana.

Ia panik sendiri, perlahan pergi ke dapur dengan langkah kaki ringan tak mengeluarkan suara sama sekali.

Ia merogoh seluruh rak, termasuk laci meja. Ia meneguk ludah, mengarahkan pisau tajam tersebut ke lehernya. 'Kumohon bisa... aku mohon bisa lepas... ' pikirnya, ia memasukkan pisau ke dalam sela kalung lalu menariknya sampai biji-biji kalung terlepas dari lehernya, terhambur ke mana-mana. Kini ia bisa lega, tapi ia tambah panik saat darah menetes dari tulang lehernya, ia segera menutup lukanya tersebut dengan tisu.

'Ah—sakit... '

...****************...

Aluna menatap pantulan dirinya dari mobil taksi, dia mengembuskan napasnya ke kaca yang memantulkan uap oksigen.

"Sekarang aku sudah kabur kan? Jadi—ah tidak, pasti pria itu bisa menemukanku dalam semalam... dia memiliki banyak koneksi, orang sekitar pasti akan menangkapku bila aku sampai kedapatan... apa yang kau pikirkan Aluna, apa dengan begitu hidupmu akan nyaman lagi kalau kau melanggar kontrak? " pikirnya pelan, dia mengedip kecil setelah sampai di depan gang sempit yang akan menjadi jalannya pulang ke rumah lama.Ia melewati rumahnya, masuk lewat pintu belakang.

Seperti biasa kuncinya selalu ditaruh di bawah pot. "Ayah... Ayah... "

Ia masuk ke dalam, mencari keberadaan pria itu tapi sama sekali tak ada. Aluna keluar rumah, mulai mencari di mana biasanya ayahnya berada. Di samping jembatan, Keldo berkali-kali mengumpat saat ia main mahjong di handphonenya selalu tak membuahkan hasil. Aluna mengusap keringatnya, ia menghampiri sang ayah yang terus bermain tanpa bosan di gubuk kecil.

"AH SIALAN GAGAL LAGI! DUH MANA TINGGAL 100 RIBU! BANGKE.. "

"Ayah... "

Mata Keldo menatap ke atas, pria itu kaget putrinya menghampirinya, segera dia mendatangi anaknya yang mengarah kemari. "Berani sekali kau Aluna datang ke sini. Sama siapa?! Aku tebak dengan suamimu kan! Ada apa! Kau mau aku tersiksa di sini? "

"Ayah... aku mohon tolong hentikan kegiatan Ayah tersebut... itu tidak baik Ayah, "

"Apa kau bilang! " mata pria itu melotot kencang, Aluna angguk kepala dia bilang yang sebenarnya bahwa efek berjudi itu sangat jelek bahkan ada yang kasusnya sampai bunuh diri karena stres.

"Berani kau menegur Ayah Aluna! Kau tak tahu kalau dulu biaya sekolah kuliahmu itu karena hasil uang dari sini! " seru Keldo

menggoyang-goyangkan HP-nya, memamerkan hasil 5 tahun lalu yang pernah memenangkan 100 juta di sana, Aluna memejam mata erat. "Kata siapa Ayah yang membiayai uang Aluna? Justru Aluna sendiri, aku juga melakukan pekerjaan sampingan Ayah, Ayah yang menuduhku mencuri dulu... "

"Kapan?! " hardik Keldo tak terima dituduh oleh putrinya. Aluna mengepal tangan kesal, "Pokoknya aku mohon Yah jangan memohon meminta uang lagi di depan aku dan suamiku, cobalah Ayah bekerja atau apa agar Ayah tidak jadi seperti ini... "

"Oh... kau mengira kalau Ayah seperti penjudi lain yang kecanduan?! Kau mengejek Ayah Aluna! Dasar anak tak tahu diri! Kau mati saja sana!! " seru Keldo, dia mendorong Aluna sampai hampir akan terpleset dari jembatan, Aluna terkejut dia menatap ke bawah was-was karena kalau telat sadar sedikit saja mungkin dia sudah jatuh. "

"Akan kubunuh saja anak tak berguna sepertimu! —"

"Pak Keldo hentikan! —" seru seorang wanita segera mencegah Keldo berbuat macam-macam pada anaknya, Aluna mengedip tak percaya bahwa itu adalah senior perempuannya di kafe.

"Kak Pharita? "

"Sialan! Ada apa dengan ayahmu ini! Selalu saja ya?!"

Keldo akan menoleh tapi sandal Pharita sudah mengenai wajah pria itu dan menghantam keras ke wajah Keldo sampai pria itu jatuh pingsan, Pharita memang wanita kuat. Dia sampai mengos-mengos sendiri dengan apa yang ia lakukan. Pharita mengulurkan tangan, "Aluna... jelaskan padaku kenapa kau tak lagi kerja? "

"Kak... Kak Pharita gak tahu... "

"Gak tahu apa?! "

"Aku... aku sudah menikah Kak. "

"Oh." Pharita langsung terdiam, dia tutup bibir cepat.

...****************...

"Apa suamimu tak mencarimu malam-malam begini? "

"Em... " jawab Aluna seadanya, dia ingin tenang untuk sebentar saja karena rasanya usahanya sia-sia saja yang terus mencoba menyadarkan ayahnya ke jalan yang benar. "Sudahlah, ini minum dulu agar tenang... "

Aluna angguk kepala, dia meminum cokelat hangat yang Pharita buatkan untuknya, wanita tomboi itu juga baru membereskan barang-barangnya yang berantakan. "Sorry ya kayaknya tempat ini kotor buat dirimu... "

"Em, tidak kok. "

Setelah membereskan barang-barangnya yang berantakan, wanita itu mengambil duduk sila, di depan Aluna yang telah menghabiskan setengah minumannya. "Oh jadi kau sudah menikah Aluna... kenapa aku gak diundang! Kau itu ya, aku ini seniormu lho ya?! Walau aku sering bentak-bentak gak jelas, tapi pikirlah perasaan teman-temanmu itu... "

Aluna diam membeku, alasan dia tak bisa mengundang mereka karena sesuai kontrak yang datang hanya pihak keluarga Arkan atau teman dekat pria itu saja, sedangkan dia tak berhak menentukan siapa tamu yang datang. Pharita elus dada saat wanita itu malah diam saja, "Sudahlah... setelah ini mau kuantarkan pulang? " tanya Pharita, sudah bersiap berdiri.

Aluna memegang tangan wanita itu, dia tak mau pulang sekarang—rasanya ia ingin tetap berada di sini, di rumah besar itu rasanya tak nyaman bahkan hawanya mencekam. "Kak Pharita, boleh aku menginap di sini... satu malam aja, "

Pharita kaget, tiba-tiba? pikirnya, ia kembali duduk bersila di depan Aluna yang matanya terus tertunduk.

"Benar kau mau menginap di sini? Ga gratis lho ya? Satu malam, satu juta. "

"Iya gak papa Kak, aku bisa bayar. "

"Oh benarkah... ga yakin deh... " ucap Pharita, Aluna meremas bajunya dia berdiri, membuat wanita itu kembali kebingungan. "Mau ke mana? Katanya mau menginap? "

"Aku... mending pulang aja deh, kayaknya Kak Pharita ga ikhlas gitu. "

"Loh heh cuma bercanda... ga kok aku izinin... tenang aja, kayaknya kau terlihat capek gitu setelah kejadian tadi, kau harus istirahat... "

Aluna angguk kepala.

...****************...

Pharita garuk kepala saat harus mencampurkan topping dulu atau air dulu, ini pertama kalinya ada yang menginap di rumah wanita itu jadi dia yang kesehariannya makan mi dan sosis instan jadi harus terpaksa memasak agar dia dipandang tidak makan itu-itu saja. "Sudah bangun? Ke kamar mandi dulu. gih, " ucap Pharita memerintah, Aluna angguk kepala setelah dari kamar mandi dia merasa segar—seolah segarnya berbeda dari kamar mandi di rumah Arkan. "Kamu masak apa? "

"Ini, sup toge, terus juga nasi goreng—tunggu di sana, nonton TV atau apa kek... katanya ada berita hot lho, ga tahu apa... "

Aluna angguk kepala, dia tak dibolehkan membantu jadi dia menyalakan remot, duduk dengan santainya di depan meja. "Kak Pharita juga pernah nonton kartun gak? "

"Oh ya jelas dong, kita itu ga perlu sok dewasa kalau tontonannya masih Doraemon... hehe.. sana cepat, keraskan volumenya agar aku bisa denger juga Aluna... "

Aluna angguk kepala, dia melihat ada berita yang sepertinya sangat ingin diperhatikan. Volume di remot dikeraskan, "Kini berita terbaru, Tuan Arkan Seo Dirgantara dari perusahaan Seo Dirgantara—Atmadja sedang mencari keberadaan istrinya, yang sedang populer kemarin setelah mereka mengadakan pernikahan kini Tuan Arkan mencari keberadaan istrinya yang diduga kabur dari kamar. Bila kalian menemukan wujud dari istri Tuan Arkan langsung saja telepon nomor di bawah ini, "

Pharita memutar bola mata malas, ada-ada saja berita zaman sekarang. "Duh aneh-aneh banget sih beritanya, nyari orang hilang mah ya tinggal pasang poster... orang mahal mana yang sampai membayar pembawa berita buat nyariin istrinya. "

Masih belum selesai, ada lanjutannya. "Nama istri dari Tuan Arkan adalah Aluna Inatura Kaleo, secepatnya segera dicari... ah ada pesan juga dari narasumber, yang mengatakan KALAU KAU MELIHAT INI DI TELEVISI ALUNA, DI RUMAH LIHAT SAJA NANTI... "

"Ehm... wah romantis sekali, pasti Nyonya Aluna ini akan diberikan kecupan singkat pasangan suami istri bukan? Hahaha... "

Aluna menganga lebar, juga dengan Pharita sekarang yang di mana mereka saling memandang.

"I—itu kau Aluna... "

Bersambung...

WUJUD KAK PHARITA!!! 🙌

Pembaca:

Ih alay nyoo...

1
Fanchom
ih kok ngeri gitu ver? 🤣🤣
Fanchom
asik ada gambarnya🤭🤭
Fanchom
lengkap banget ver, biodata karakternya? 🤭
Fanchom
aduh mengerikannya...
Fanchom
wih ada gambarnya😌, langka nih
Fanchom
kak aku sebenarnya suka sama karakter Aluna ini, cuma menurut ku dia ini kek kebanyakan pasrah gitu
Gumobibi Gumob
kok bisa lupa ente😶
Gumobibi Gumob
wah mahal nih mas arkan...
Gumobibi Gumob
yng sbr ya mb Vera 🤭 sllu
verachipuuu
siapa yang berdebar disini gara-gara Arkan 🤣🤣🤣
verachipuuu
oh ya 🤣🤣
Gumobibi Gumob
knp sllu gambrny g muncul? kn jadi penasaran aQ 🤣
Gumobibi Gumob
😄
verachipuuu
guys apakah ada gambar yang tidak muncul di device kalian 🧐
verachipuuu: ya makasih 🙏
total 2 replies
verachipuuu
hallo guys dukung Vera agar cemangat🤭🤭🤭😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!