Dimas, pria berusia 42 tahun yang hidupnya hancur dan berakhir sebagai gelandangan setelah dikhianati. Saat segalanya tampak berakhir, ia terbangun kembali di tubuhnya yang berusia 18 tahun, ketika masih menjadi mahasiswa.
Di titik balik hidup itu, Dimas memperoleh anugerah misterius sebuah sistem yang memberinya kekuatan dan peluang finansial luar biasa. Berbekal ingatan pahit masa depan dan kekuatan baru, ia bertekad mengubah takdir, membalas para pengkhianat, serta membangun kembali kekayaan dan kekuasaannya dari nol.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34 (21+)
Dimas, setelah selesai mandi, menuju lemari untuk berganti pakaian. Sayangnya, semua pakaian terbaiknya sedang dicuci hari ini, dan karena kesibukan, ia belum sempat mengurus cucian itu.
“Huh… aku benar-benar butuh pakaian baru. Tapi kondisiku masih pas-pasan,” gumam Dimas sambil mengenakan pakaian lamanya satu-satunya yang masih bisa dipakai saat ini.
Ia memasukkan dompet ke saku, mengambil kunci mobil, lalu meninggalkan kamar dengan niat menemui Anin dan mungkin minum kopi bersama.
Saat baru keluar dari asrama, teleponnya berdering. Melihat nama Anin di layar, senyum pun terbit di wajahnya. Mereka sepakat bertemu di depan Margo Hotel.
Dimas berjalan santai menuju area parkir. Suasana hatinya sedang sangat baik karena banyak hal positif terjadi hari ini.
[Ding!!] Misi: Memiliki Hubungan Intim. Hadiah Minimum: Rp10.000.000
Sistem? Serius?
Dimas terkejut membaca misi yang tiba-tiba muncul dari sistem. Ia tidak yakin apakah ia siap mengambil jalan itu, meski godaan itu cukup kuat.
Aku tidak akan memaksakan apa pun. Kalau memang terjadi, biarlah terjadi dengan sendirinya, pikirnya sambil menarik napas panjang.
Ia bukan tipe pria yang rela pergi ke wanita bayaran demi uang, apalagi memaksakan hubungan yang tidak tulus.
Dimas mengemudi menuju tempat Anin menunggu. Begitu melihatnya berdiri di pinggir jalan, ia langsung merasa ada sesuatu yang salah. Wajah Anin tampak pucat dan murung.
Saat Dimas mendekat, sebelum sempat bertanya, Anin memeluknya erat seolah sedang mencari perlindungan dari tekanan besar yang baru saja menimpanya.
Dimas sempat tertegun, bingung harus bagaimana, tapi ketika merasakan tubuh Anin bergetar, ia refleks membalas pelukan itu dengan lembut.
“Itu… mereka… aku menolak film itu…” ujar Anin terbata-bata sambil menahan tangis.
“Kamu menolaknya?” tanya Dimas, bingung mengapa Anin menolak proyek film besar seperti itu.
“Iya. P-produsernya… tidak sopan. Aku tidak mau bekerja untuk orang yang bejat,” suara Anin bergetar dan semakin pecah.
“Aku mengerti. Memang ada orang-orang seperti itu… dan mereka mengerikan,” jawab Dimas sambil menepuk pelan punggungnya, mencoba menenangkannya.
“Aku juga sangat lapar… boleh kita makan dulu?” tanya Anin dengan wajah yang berusaha tersenyum meski matanya masih basah.
“Tentu. Mau makan di sini?” Dimas menunjuk ke arah Resto dekat Hotel, meski ia sendiri tidak begitu lapar. Ia hanya ingin memastikan Anin merasa lebih baik.
“Tidak… bisakah kamu antar aku pulang saja? Di rumah ada kue… aku benar-benar ingin makan itu,” kata Anin mencoba tersenyum.
“Tentu. Aku antar,” jawab Dimas cepat. Ia membuka pintu mobil untuk Anin, lalu ikut masuk ke sisi pengemudi.
“Aku akan antar kamu kembali ke sini untuk makan malam kalau kamu senggang,” ujar Dimas sebelum menyalakan mesin.
Rumah Anin ternyata tidak jauh. Ia tinggal sendirian di sebuah kompleks apartemen, dan ia bercerita bahwa ia menggunakan uang pemberian Dimas untuk membayar sewa dan hidup dengan layak.
“Itu bagus. Gunakan untuk memperbaiki hidupmu. Kamu akan bisa menghasilkan uang sendiri,” ujar Dimas ringan.
Biaya sewanya cukup tinggi Rp15.000.000 per bulan. Dimas terkejut, tetapi bangunan itu memang terlihat berkualitas.
Anin membawa Dimas ke lantai 12. Sesaat, Dimas sempat tergoda untuk pindah dari asrama dan menyewa tempat serupa, namun ia buru-buru menahan pikiran itu.
“Oh iya, aku hampir lupa. Aku dapat peran di film baru berjudul Jodoh Sang Ceo. Bayarannya memang tidak sebesar Samudra Merah, tapi aku tetap akan ambil,” kata Anin santai sambil membuka pintu apartemennya.
Dimas mendengar judul filmnya langsung terkejut, karena itu adalah film favoritnya sepanjang masa, sekaligus film yang kemungkinan besar akan membuat calon pacar barunya ikut serta dalam produksinya.
Dalam hati dia mengumpat kecil: Sialan! Aku benar-benar naksir berat sama dia.
“Karakter apa yang kamu peranin?” tanya Dimas cepat. Dia hafal luar kepala semua karakter di film itu, walaupun sebenarnya dia lebih maniak novelnya.
“Ini karakter namanya Elsa. Untungnya produser di film ini baik banget, mereka nggak nyuruh aku telanjang sama sekali,” jawab Anin sambil terkekeh kecil. Mereka lalu masuk ke apartemen.
Apakah aku sudah mengubah masa depan? Kalau iya, bagus lah.
Apartemennya luas dan mewah. Dimas cuma selonjoran di sofa sambil makan kue bareng Anin, yang melahap makanannya kayak orang nggak pernah makan seumur hidup.
Dimas entah kenapa merasa ada yang aneh saat melihat Anin yang duduk di depannya.
Wajahnya datar seperti biasa, tapi perasaan Dimas bilang ada sesuatu yang nggak beres, cuma dia nggak bisa menjelaskan apa.
Sementara itu, jantungan Anin berdegup kencang, rasanya mau loncat keluar dari dadanya.
Dia agak grogi, tapi terus menguatkan hati setelah teringat kejadian siang tadi saat Dimas memeluknya erat-erat. Nggak boleh mundur sekarang. Setelah tarik napas panjang, dia bangkit menuju dapur.
Begitu selesai di dapur, dia berbalik… hampir saja teriak kayak cewek kecil.
Dimas kaget setengah mati karena tiba-tiba Anin sudah berdiri tepat di belakangnya. Belum sempat ngomong apa-apa…
Bibir Anin sudah menabrak bibirnya.
Seluruh tubuh Dimas membeku, otaknya blank total.
Anin menariknya ke dalam ciuman yang dalam sambil mengusap-usap rambutnya, berusaha menempelkan tubuh mereka semakin rapat, sementara Dimas cuma bengong kayak patung.
Beberapa menit kemudian, Anin melepaskan ciuman itu. Wajahnya merona, tapi tangannya masih melingkar di leher Dimas. Jarak wajah mereka cuma beberapa senti, Dimas bisa merasakan napas panas Anin mengelus pipinya.
“Aku cinta kamu.”
Anin kaget sesaat, lalu langsung sumringah luar biasa. Dia memeluk kepala Dimas dari belakang dan menempelkan tubuhnya erat-erat, menggesek-gesekkan pinggulnya ke tubuh Dimas.
Dimas akhirnya “bangun”. Tangannya mulai berkeliaran, mengelus lekuk tubuh Anin dengan lembut, semakin lama semakin turun.
Akhirnya telapak tangannya mendarat di bokong Anin yang empuk itu. Tanpa sadar dia meremas kuat, jari-jarinya tenggelam ke dalam daging kenyal yang bikin orang gila.
“Hmmh…” Anin nggak bisa menahan erangan kecil saat merasakan Dimas mencengkeram pantatnya. Kepalanya agak pusing karena sensasi itu.
Keduanya berhenti sejenak buat ngatur napas. Dimas menyandarkan dahinya ke dahi Anin, menatap wajahnya yang memerah dan mata yang berkaca-kaca karena nafsu.
Mereka sama-sama terengah-engah, saling rangkul erat, hanya terdengar suara napas memburu di ruangan yang sunyi.
“Aku udah pengen kamu banget sejak pertama kali ngeliat kamu,” kata Dimas pelan. Telinganya panas, malu setengah mati, tapi dia benar-benar pengen ngomong gitu. Dia sudah suka sama Anin bahkan sebelum “kemunduran waktu” ini, dan perasaan itu makin menjadi-jadi tiap hari.
Entah ini cinta atau nafsu atau apa, yang jelas saat ini Dimas cuma tahu satu hal: dia pengen banget sama Anin.
Mendengar itu, jantung Anin berdegup lebih kencang lagi. Ada sensasi hangat dan bergetar hebat di dadanya.
Jadi ini cinta, gumam suara kecil di kepala Dimas, setengah mengejek, setengah bahagia.
Anin tersenyum, senyum paling manis yang pernah Dimas lihat seumur hidupnya.
“Ayo ke kamar aku,” bisiknya lembut.
Lalu dia mendekat, bibirnya hampir menyentuh telinga Dimas, suaranya malu-malu tapi penuh godaan,
“Bawa aku, Mas…”
Dimas nggak bisa nahan lagi. Dia langsung mendekap pinggang Anin, mendorongnya pelan sampai punggung Anin menempel dinding koridor menuju kamar.
Mereka saling berciuman ganas, tangan Dimas merayap ke mana-mana, napas mereka campur aduk.
“Balik badan,” perintah Dimas, suaranya serak banget, beda dari biasanya yang selalu kalem.
Anin langsung basah hanya gara-gara nada itu. Dia suka banget sisi Dimas yang tiba-tiba dominan ini.
Dengan patuh, Anin berbalik, tangannya menempel di dinding, pinggulnya didorong ke belakang, bokongnya terangkat menggoda.
Dimas mundur selangkah, matanya membara sambil menikmati pemandangan di depannya. Celana pendek ketat yang superketat itu membungkus bokong Anin dengan sempurna, seperti kado yang siap dibuka.
Dia berlutut perlahan sampai wajahnya tepat sejajar dengan bokong Anin. Beberapa detik dia cuma menatap, napasnya berat.
Lalu tangannya mulai bergerak.
Awalnya cuma belaian ringan di pipi bokong yang masih tertutup kain, seperti lagi mengelus kucing. Tapi nggak lama, gerakannya berubah jadi lebih rakus. Satu tangan, dua tangan, meremas, mencubit, menarik.
“Hmmh~” Anin mendesah pelan, badannya merinding semua saat merasakan tatapan Dimas yang liar banget.
Dia bisa merasakan napas panas Dimas di dekat bokongnya, kulitnya seperti terbakar.
Tangan Dimas makin nakal. Dari luar celana pendek, dia menangkup kedua belah bokong Anin erat-erat, meremas-remas seperti lagi mengulen adonan, bikin Anin tambah panas dan basah.
Jari-jarinya menyelinap ke pinggir celana pendek itu… pelan-pelan menariknya ke bawah.
Napas Anin tersengal-sengal saat merasakan jari Dimas menyentuh pinggiran celana dalamnya, siap menurunkan semuanya…
btw kenapa kolom komentarnya sepi yah