“Aku ingin kita kembali seperti dulu lagi, Alisha. Jangan berpikir untuk meninggalkan aku lagi.” Albiru Danzel berkata dengan sangat lembut ketika memohon pada Alisha.
“Bukannya kamu membenciku, Albi?”
“Mungkin dulu aku benci karena ditinggalkan olehmu, tapi sekarang, aku sadar kalau kehadiranmu jauh lebih aku inginkan.” Alisha Malaika menunduk dengan tangan yang masih digenggam oleh Albiru.
Akankah mereka bisa bersama kembali setelah perpisahan di masa lalu yang sempat merebut kebahagiaan itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Renjanaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 6
Albi mengetuk pelan pintu rumah kayu yang terletak terpencil dari rumah penduduk lainnya. Beberapa kali dia mengetuk, tak ada jawaban sama sekali. Albiru tak bisa mengintip ke dalam karena rumah tersebut tidak memiliki jendela kaca.
“Kau yakin kalau dia tinggal di sini?” tanya Albi pada Aksa.
“Yakin Bos, tidak mungkin anak buahku memberikan informasi yang salah dan aku juga sudah memastikan sendiri dan mengambil beberapa fotonya.” Albiru mengangguk karena memang dia sendiri yang melihat foto Alisha tinggal di rumah ini.
Albiru kembali mengetuk pintu tapi tidak ada yang membuka, dia berinisiatif untuk mengitari rumah tersebut untuk mengintip apakah ada orang atau tidak? Ternyata di pintu bagian belakang ada celah yang bisa dia gunakan untuk melihat ke dalam rumah. Albiru memeriksanya dan ternyata rumah itu kosong, tak ada siapapun di sana bahkan rumah itu tidak ada isinya.
“Rumah ini kosong, Aksa. Tidak ada siapapun bahkan barang-barang pun tidak ada.” Albiru memberitahu dan Aksa juga ikut mengintip ke dalam. Benar, tak ada apapun di sana dan tidak mungkin juga Alisha akan tinggal di rumah ini.
“Tidak mungkin. Aku sangat yakin kalau dia ada di sini.”
Aksa dan Albiru larut dalam kebingungannya, kepada siapa dia akan bertanya? Di dekat sini tidak ada siapa pun. Rumah warga lain juga cukup jauh dari sana.
Albiru dan Aksa memilih untuk menginap di desa itu malam ini, dia mencari rumah yang bisa mereka tempati. Beberapa menit perjalanan, akhirnya mereka sampai di dekat pos ronda dan rumah warga begitu rapat di sana.
“Saya mau menginap di sini, apa ada rumah yang bisa kami tumpangi, Bang?” tanya Albiru dengan sangat sopan pada salah seorang pria yang beronda malam ini.
“Abang berdua ini dari mana dan tujuan ke desa ini untuk apa?” Albiru menceritakan mengenai tujuannya untuk bertemu dengan Alisha. Tapi para pria di pos ronda tersebut mengeluarkan ekspresi tidak tahu kalau rumah yang dimaksud Albi berpenghuni.
“Rumah itu sudah lama kosong dan kami tidak pernah melihat perempuan ini,” aku pria tersebut yang tentunya membuat Albiru dan Aksa heran.
Aksa bersikeras kalau dia tidak mungkin salah tapi mereka tetap bersikukuh kalau Alisha memang tidak pernah ada di desa tersebut.
Dengan keputusasaannya, Aksa dan Albiru memilih untuk ke kota saja ketimbang menginap di desa tersebut karena tidak ada juga rumah yang bisa mereka tumpangi.
Di dalam mobil, Aksa tetap berkata pada Albiru kalau dia tidak salah dan Albiru meyakini apa yang Aksa katakan.
Sepanjang perjalanan ke kota, Albi tetap memikirkan apa yang terjadi pada Alisha sebenarnya? Kenapa dia sesulit ini dicari? Kedua orang tua Alisha pun tidak bisa ditemukan di mana-mana padahal mereka adalah seorang pengusaha juga. Tak ada seorang pun bahkan keluarganya yang mengetahui keberadaan keluarga kecil ini.
Albiru menghubungi salah seorang kerabat Alisha dan jawabannya sungguh membuat Albiru semakin putus asa.
“Bagaimana Bos? Ada informasi mengenai mereka?” tanya Aksa penasaran.
“Paman Alisha bilang kalau mereka sudah melaporkan kehilangan Alisha dan keluarganya setahun yang lalu tapi mereka semua dinyatakan menghilangkan diri. Lebih tepatnya memang pergi tanpa ingin diketahui oleh siapapun.” Albiru memberikan jawaban dengan nada lemah seakan tak memiliki harapan lagi.
“Apa aku boleh berpendapat Bos?” Albiru melirik Aksa yang saat ini mengemudikan mobil. Jalanan sangat sepi karena lampu jalanan tidak ada. Cukup jauh juga mereka agar sampai di kota.
“Silakan.”
“Aku cukup lama bekerja pada keluarga anda dan mengenal Alisha dengan baik. Mendengar bahwa dia memutuskan anda begitu saja lalu menghilang dan ketika bertemu setelah sekian lama, aku sangat yakin kalau Alisha mengakhiri hubungan dengan anda karena suatu alasan. Ada yang menekannya atau dia hidup di bawah ancaman. Karena sangat mustahil Alisha mau putus dari anda begitu saja, Bos. Apalagi aku bisa melihat bagaimana dia mencintai anda sampai rela melakukan apapun untuk anda.” Albiru terdiam mendengar pendapat dari Aksa.
Memang selama ini Alisha begitu mencintainya, tidak pernah perempuan itu ingin jauh darinya dan sangat mustahil cinta itu hilang secara tiba-tiba kalau tidak ada alasan yang kuat yang mendasari perbuatan Alisha padanya.
“Kita harus mencari Alisha, kita harus temukan dia. Aku sangat takut kalau benar Alisha menjalani hidupnya di bawah ancaman,” sahut Albiru dengan wajah yang sedikit memucat. Perasaannya cukup terguncang mengingat kondisi Alisha terakhir kali dia jumpai saat itu.
...***...
Dua hari masa pencarian di kota itu, tetap tidak membuahkan hasil sama sekali. Alisha tidak diketahui di mana sekarang, dia seakan hilang dari bumi ini dan entah di mana berada. Albiru benar-benar kelimpungan mencari keberadaan gadis yang sangat dia cintai itu.
“Kamu di mana, Sha? Kamu kenapa sebenarnya?” lirih Albiru menatap foto Alisha yang masih dia simpan di dalam dompetnya.
Ponsel Albiru berdering, segera dia jawab karena memang sedang menunggu kabar dari anak buahnya yang lain.
Ketika nama Naya terpampang di layar, Albiru menghela nafas seakan malas untuk menjawab panggilan tersebut. Tapi, dua hari ini dia sudah mengabaikan Naya bahkan semua pesan Naya tidak ada yang dia jawab.
Dengan malas, Albiru menjawab panggilan tersebut dengan tangan yang terus mengusap pelipisnya.
“Kamu ke mana aja sih, Mas? Aku khawatir tau nggak sih sama kondisi kamu. Udah dua hari ini kamu gak kasih kabar sama aku,” kata Naya, nada bicaranya begitu cepat dan tersimpan kekhawatiran. Albiru menghela nafas dan menjawab dengan nada lemah dan pelan.
“Aku masih banyak urusan, Nay. Nanti akan aku hubungi kamu kalau urusanku selesai. Maaf ya.” Albiru memutuskan panggilan begitu saja.
...***...
Naya menatap layar ponselnya, dia kembali menghubungi calon suaminya itu tapi nomornya sudah tidak aktif lagi. Naya melemparkan ponselnya ke atas tempat tidur dan mengutuk perbuatan Albiru yang sudah mengabaikannya belakangan ini.
Naya menatap foto Alisha yang terpajang di kamarnya lalu menusuk-nusuk dengan pisau berkali-kali. Begitu benci dia dengan perempuan itu karena sudah mengambil Albiru darinya.
“Alisha. Kau tidak bisa dibiarkan ternyata. Sudah lama aku menyembunyikanmu dari Albiru tapi kau malah kembali bisa bertemu tanpa sengaja dengannya. Dasar brengsek.” Naya mengutuk pada foto Alisha itu lalu menusuknya kembali hingga foto tersebut rusak.
Tak lama, pintu kamarnya diketuk dan Naya membiarkan seseorang itu masuk. Pria berbadan tegap itu melangkah masuk lalu menutup pintu kamar Naya kembali.
“Bagaimana Kak? Apa dia sudah kamu pindahkan?” tanya Naya memastikan pada kakaknya itu.
“Kakak sudah memindahkannya ke tempat yang tidak bisa Albiru lacak. Tapi kamu harus terus mendesak Albiru untuk menikahi kamu, Nay. Kakak tidak bisa mengurung dan mengancam Alisha terus, karena Albiru tidak pernah berhenti untuk mencari gadisnya itu.”
“Aduh Kak Rafi. Aku udah berusaha dan meminta agar pernikahan dipercepat saja tapi Mas Albi gak mau. Dia yang awalnya mau pernikahan ini segera dilaksanakan dan sekarang malah menundanya karena dia melihat Alisha. Lagian si Kevin itu sangat bodoh, kenapa dia malah berbuat kasar pada Alisha di depan Albi?” cerca Naya pada Rafi—kakaknya itu.