Ketika usia tujuh tahun, Qinara kehilangan segalanya. Ayahnya, pengusaha pertambangan yang penuh cinta, meninggal dalam kecelakaan yang mencurigakan. Tak lama setelah itu, ibunya yang sudah lama dia curigai berselingkuh, dengan terang-terangan membawa pria cinta pertamanya dan anak hasil hubungan lama ke rumah—dan menguasai semua harta ayahnya.
Perlakuan tidak adil menjadi bagian sehari-hari. Ibunya lebih membela anak tiri daripada dia, dan ketika Qinara mencoba membicarakan kecurigaan bahwa ayahnya dibunuh, dia diusir dengan kasar. Hanya membawa pakaian di tubuh dan kotak kecil yang diberikan ayahnya, dia meninggalkan rumah dengan hati hancur dan janji terukir dalam benak: aku akan mengambil kembali hak ayah dan aku.
Melalui perjalanan yang penuh kesusahan, Qinara bertahan di panti asuhan, menemukan bakatnya di bidang hukum, dan berjuang untuk pendidikan. Setiap langkahnya dipacu oleh dendam—butuh waktu bertahun-tahun untuk mengumpulkan bukti, menghadapi ancaman.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon E'Ngador Together, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BENCANA YANG DATANG TANPA PERINGATAN
Mentari pagi menyinari kompleks Universitas Hadian Jakarta seperti biasa, tapi suasana di dalam gedung kepemimpinan terasa berbeda—tegang dan penuh ketidakpastian. Qinara, yang sekarang berusia dua puluh delapan tahun, duduk di meja kerjanya yang penuh dengan berkas-berkas dan dokumen yang dia kumpulkan selama beberapa minggu terakhir. Di depannya, ada laporan keuangan yang mencurigakan, bukti transfer dana yang tidak tercatat, dan surat-surat rahasia yang mengungkapkan hubungan antara beberapa pejabat yayasan dengan perusahaan konstruksi yang telah menangani pembangunan sekolah-sekolah baru.
Hari sebelumnya, saat membersihkan ruang arsip lama yang tak terpakai di bawah gedung utama, dia menemukan sebuah kotak besi terkunci yang tertinggal di balik rak buku tua. Setelah berhasil membukanya dengan bantuan tukang kunci, dia menemukan berkas-berkas rahasia yang membuatnya pucat wajah—bukti kecurangan skala besar yang telah berlangsung selama beberapa tahun, termasuk manipulasi anggaran, pencurian dana yayasan, dan yang paling mengerikan—catatan rahasia yang menyiratkan bahwa kematian ayahnya bukanlah kebetulan seperti yang mereka yakini selama ini.
"Kak Qinara, ada rapat darurat dengan dewan pengawas dalam lima menit," ucap seorang staf dengan suara tergesa-gesa, mengetuk pintu dan segera pergi tanpa menunggu jawaban.
Qinara menyimpan berkas-berkas penting ke dalam tasnya dan mengambil kotak pemberian ayahnya yang selalu ada di sudut kamar. Hatinya berdebar kencang saat dia berjalan menuju ruang rapat—dia merasa seperti sedang menghadapi badai yang akan menghancurkan semua yang telah dia bangun selama bertahun-tahun.
Di ruang rapat, wajah-wajah dewan pengawas tampak serius dan beberapa di antaranya bahkan tampak marah. Bu Laras duduk di kursi kepala dengan ekspresi yang tidak bisa ditebak, sementara Pak Rio berdiri di dekatnya dengan wajah pucat.
"Qinara, kita menerima laporan bahwa kamu telah menyebarkan tuduhan tidak berdasar tentang kecurangan di dalam yayasan," ucap salah satu anggota dewan dengan suara keras. "Kamu juga dituduh mencuri berkas rahasia dan menyebarkan kebohongan tentang kematian mantan pendiri."
Qinara terkejut dan berdiri dengan cepat. "Tidak, itu tidak benar! Aku menemukan bukti yang jelas—dana milyaran rupiah telah hilang, dan ada catatan yang menyiratkan bahwa ayahku dibunuh karena dia mulai menyelidiki hal yang sama sebelum kematiannya!"
Suara teriak dan kebingungan memenuhi ruangan. Bu Laras berdiri dengan wajah kemerah-merahan marah. "Qinara, cukup! Kamu telah terlalu jauh. Kamu tidak punya bukti apa-apa selain berkas-berkas lama yang mungkin telah dimanipulasi. Apakah kamu benar-benar berpikir bahwa kita semua akan percaya bahwa orang-orang yang telah bekerja keras bersama kita selama bertahun-tahun bisa melakukan hal seperti itu?"
"Aku tidak menganggap semua orang bersalah, Bu Laras. Tapi buktinya jelas—ada yang salah di sini, dan kita harus menyelidikinya dengan benar!" kata Qinara dengan suara yang penuh tekad, menunjukkan berkas yang dia bawa.
Namun, bukannya diperiksa, berkas itu diambil dari tangannya oleh salah satu staf dan dilemparkan ke atas meja. "Ini semua bohongan dan manipulasi!" ucap anggota dewan lainnya. "Kamu telah memalukan yayasan yang kita bangun bersama!"
Setelah rapat berakhir dengan tidak jelas, Qinara segera pergi menemui Pak Rio di kantornya. Dia mengetuk pintu dan masuk tanpa izin, menemukan Pak Rio sedang duduk dengan wajah pucat dan tangan gemetar.
"Pak Rio, kamu harus percaya padaku! Aku menemukan bukti yang sahih—ayahku tidak mati karena kecelakaan. Dan ada orang di dalam yayasan yang telah mencuri uang yang seharusnya digunakan untuk anak-anak!" kata Qinara dengan suara penuh harapan.
Pak Rio melihat ke arahnya dengan mata yang penuh kesedihan. "Qinara, aku ingin bisa percaya padamu. Tapi apa yang kamu katakan terlalu besar dan berbahaya. Jika kita menyebarkan hal ini, seluruh yayasan akan runtuh. Semua yang kita bangun selama bertahun-tahun akan hancur. Mungkin lebih baik jika kita tidak mengganggu masa lalu dan fokus pada masa depan anak-anak."
"Bagaimana bisa kita fokus pada masa depan jika orang yang salah masih berada di dalam yayasan dan terus mencuri uang untuk anak-anak?" tanya Qinara dengan suara bergetar. "Pak Rio, tolong bantulah aku mengumpulkan lebih banyak bukti. Kita tidak bisa membiarkan hal ini terus berlanjut!"
Tetapi Pak Rio hanya menggelengkan kepalanya dan mengangkat tangan. "Aku tidak bisa membantu kamu, Qinara. Aku sudah terlalu tua untuk menghadapi masalah seperti ini. Mungkin kamu harus berhenti menyelidiki hal ini sebelum kamu menyakiti dirimu sendiri dan orang-orang terkasihmu."
Hati Qinara retak saat dia keluar dari kantor Pak Rio. Dia kemudian pergi menemui Siti, yang kini menjabat sebagai direktur akademik. Tapi Siti juga memberikan tanggapan yang sama—dia tidak mau terlibat dan mengatakan bahwa tuduhan Qinara akan merusak reputasi yayasan yang telah dibangun dengan susah payah.
Malangnya, upaya Qinara untuk memberitahu orang terdekat lainnya juga sama saja gagal. Kabelo dari Afrika Selatan yang baru saja datang ke Jakarta untuk rapat juga tidak bisa membantu—dia mengatakan bahwa dia harus fokus pada operasi di Afrika dan tidak bisa terlibat dalam masalah internal yang kompleks seperti ini. Bahkan Aisha yang sekarang berusia enam belas tahun dan telah menjadi anak angkat Qinara, meskipun mencoba mendukungnya, tidak bisa memberikan bantuan nyata karena dia tidak memiliki akses ke informasi yang dibutuhkan.
Saat malam tiba, Qinara duduk sendirian di kamarnya, melihat berkas-berkas yang dia kumpulkan dan kotak pemberian ayahnya yang selalu ada di sisinya. Dia merasa sangat sendirian dan ditinggalkan oleh orang-orang yang dia yakini akan selalu ada di sisinya. Tapi tekadnya untuk menemukan kebenaran tentang ayahnya dan menyelamatkan yayasan tidak pernah padam. Dia memutuskan untuk terus menyelidiki sendiri, meskipun dia tahu bahwa jalan yang akan ditempuh akan sangat sulit dan penuh bahaya.