NovelToon NovelToon
BEHIND THE SPOTLIGHT

BEHIND THE SPOTLIGHT

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Kehidupan di Sekolah/Kampus / BTS / Romantis
Popularitas:610
Nilai: 5
Nama Author: Kde_Noirsz

"Menjadi adik dari 7 megabintang dunia adalah satu hal, tapi menjadi penulis misterius yang diperebutkan oleh 4 pangeran kampus sambil menyamar jadi siswi biasa adalah tantangan yang sesungguhnya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kde_Noirsz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25 : Peluh, Disiplin, dan Janji Sang Petarung

Masa hukuman Aira yang dipenuhi aroma mentega dan tepung akhirnya harus ditutup dengan realita yang jauh lebih keras. Sore itu, begitu Aira melangkah masuk ke dalam Mansion Kim setelah hari yang panjang di sekolah, ia tidak disambut oleh aroma masakan Jin, melainkan oleh suara dentuman musik heavy bass yang berasal dari arah gym pribadi keluarga di lantai bawah.

Jungkook sudah berdiri di sana, mengenakan setelan olahraga hitam ketat yang menonjolkan setiap garis ototnya yang terlatih. Ia sedang melakukan pull-up dengan kecepatan yang luar biasa, keringat membasahi tubuhnya, menciptakan kilauan maskulin di bawah lampu gym yang terang.

"Ganti bajumu, Aira. Sepuluh menit dari sekarang, atau aku akan menambah beban latihanmu dua kali lipat," suara Jungkook terdengar tegas, tanpa ada nada bercanda sedikit pun.

Aira merengek, ia langsung menjatuhkan tas sekolahnya ke lantai. "Kak Kookie... Aira capek banget! Hari ini di sekolah Aira udah lari-lari gara-gara dikejar Kak Guanlin sama yang lain! Masa harus latihan lagi?"

Jungkook turun dari bar pull-up dengan gerakan yang sangat lincah. Ia menghampiri Aira dan berdiri tepat di depan adiknya, membuat Aira yang bertubuh mungil harus mendongak jauh. "Dikejar mereka itu kardio yang bagus, tapi tidak cukup untuk melindungimu dari bahaya yang sebenarnya. Miss KA harus punya stamina. Sekarang, cepat ganti baju atau aku sendiri yang akan menyeretmu ke ruang ganti."

Aira mengerucutkan bibirnya, ia menghentakkan kakinya ke lantai dengan manja. "Kak Kookie jahat! Kak Jin sama Kak Yoongi aja lembut sama Aira!"

"Karena mereka bagian dari divisi 'pemanis'. Aku bagian dari divisi 'pertahanan'. Cepat!" gertak Jungkook sambil memberikan tatapan tajam yang pura-pura galak.

Aira akhirnya lari ke kamarnya sambil mengomel pelan, sementara Jungkook hanya bisa tersenyum tipis saat Aira sudah tidak melihatnya. Ia melakukannya karena ia tahu dunia hiburan yang mulai dimasuki Aira sangatlah keras, dan ia ingin adiknya memiliki fisik yang sekuat mentalnya.

Sepuluh menit kemudian, Aira kembali dengan mengenakan setelan olahraga ungu lavender yang diberikan Jungkook tempo hari. Rambut panjangnya diikat kuncir kuda yang tinggi, menampakkan wajahnya yang kecil namun penuh tekad yang dipaksakan.

"Oke, kita mulai dengan skipping lima menit tanpa henti," perintah Jungkook sambil menyodorkan tali skipping.

Aira mencoba melakukannya, namun baru dua menit, kakinya sudah tersangkut tali berkali-kali. "Aduh! Kak, sakit tahu! Kak Kookie lihat nih, kaki Aira merah!" rengek Aira sambil menunjukkan pergelangan kakinya yang terkena tali.

Jungkook mendekat, ia berlutut di depan Aira. Bukan untuk memanjakan, melainkan untuk membenarkan posisi berdiri Aira. "Jangan gunakan tumitmu, gunakan ujung kakimu. Dan jangan lihat ke bawah, lihat aku."

Aira menatap mata Jungkook yang sangat fokus. Entah kenapa, ketegasan Jungkook membuat Aira merasa tertantang. Ia mulai melompat lagi, kali ini lebih stabil. Jungkook terus memberikan instruksi, suaranya yang berat memandu setiap napas Aira.

"Bagus... pertahankan ritmenya, Aira. Kau adalah adikku, kau punya darah pejuang yang sama denganku," bisik Jungkook saat Aira mulai terlihat kelelahan di menit keempat.

Setelah sesi pemanasan selesai, Jungkook membawa Aira ke atas matras untuk latihan bela diri dasar. Ia memegang bantalan tinju (mitts) di kedua tangannya. "Pukul sekuat tenaga. Bayangkan aku adalah orang yang mencoba mencuri naskahmu."

Aira mulai melayangkan pukulan. Jab, jab, hook! Meskipun tenaganya kecil, Jungkook bisa merasakan ada semangat yang membara dalam setiap gerakan Aira.

"Kurang kuat! Lebih bertenaga lagi!" teriak Jungkook.

Aira yang merasa dipojokkan akhirnya mengeluarkan seluruh energinya. Ia memukul bantalan itu dengan teriakan kesal. "INI BUAT KAKAK YANG JAHAT!"

Pukulan terakhir Aira begitu keras hingga ia kehilangan keseimbangan dan jatuh menimpa tubuh Jungkook. Mereka berdua terguling di atas matras dengan Jungkook yang berada di posisi bawah untuk melindungi kepala Aira agar tidak terbentur.

Napas Aira tersenggal-senggal, wajahnya merah padam karena kelelahan dan rasa panas di dalam gym. Ia masih berada di atas dada Jungkook, menghirup aroma maskulin kakaknya yang bercampur keringat—aroma yang anehnya membuat Aira merasa sangat aman.

Jungkook menatap wajah Aira dari jarak yang sangat dekat. Ia mengusap tetesan keringat di pelipis Aira dengan tangannya yang besar dan kasar. "Sudah cukup untuk hari ini. Kau melakukannya dengan sangat baik, Tuan Putri."

Aira yang tadi marah langsung meleleh. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Jungkook, masih di atas matras. "Kak Kookie... Aira capek banget... Aira benci olahraga tapi Aira seneng kalau Kakak yang ngajarin."

"Kenapa?" tanya Jungkook pelan sambil mengelus punggung Aira yang naik-turun karena napas yang belum stabil.

"Karena Kakak nggak pernah bohong sama Aira. Kakak tegas karena Kakak mau Aira kuat. Aira tahu itu," bisik Aira manja. Ia memeluk leher Jungkook erat-erat. "Tapi besok Aira nggak mau lari sepuluh putaran ya? Pliss?"

Jungkook tertawa, suara tawanya bergema di ruangan gym yang sunyi. Ia mengangkat tubuh Aira dan mendudukkannya di atas meja konter air minum. Jungkook mengambil botol air dan meminumkannya kepada Aira dengan sangat telaten, seolah Aira adalah anak kecil.

"Dengar, Aira. Di luar sana, orang mungkin melihatmu sebagai Miss KA yang hebat atau Brand Ambassador yang cantik. Tapi bagiku, kau adalah tanggung jawab terbesarku. Aku tidak ingin kau hanya dilindungi oleh kami, aku ingin kau punya kekuatan untuk berdiri di atas kakimu sendiri saat kami sedang tidak ada."

Jungkook mengeluarkan peluit perak yang pernah ia berikan pada Aira. "Kau masih menyimpannya?"

Aira mengeluarkan peluit itu dari kantong celana olahraganya. "Selalu."

"Bagus. Ingat janjiku, satu tiupan dan aku akan ada di sana. Tapi selama kau berlatih denganku, aku ingin kau tahu bahwa senjata terbaikmu adalah keberanianmu sendiri," Jungkook mencium kening Aira yang masih berkeringat dengan sangat lama dan penuh perasaan.

Momen emosional itu tiba-tiba terhenti saat V (Taehyung) muncul di pintu gym dengan membawa nampan berisi potongan semangka dingin. "Wah, wah! Lihat si dua atlet kita ini. Cepat naik ke atas, Kak Jin sudah menyiapkan mandi air hangat dan makan malam. Dan Aira... kau berhutang padaku untuk melihat sketsa desain baruku nanti malam!"

Aira tertawa dan melompat dari konter, berlari menuju Taehyung sambil berteriak, "SEMANGKAAAA!" meninggalkan Jungkook yang hanya bisa menggelengkan kepala melihat betapa cepatnya mood adiknya itu berubah. Latihan fisik sore itu tidak hanya membakar kalori, tapi juga memperkuat ikatan batin antara sang pelindung dan sang inspirasi.

Dua hari setelah latihan keras di gym bersama Jungkook, Aira melangkah di koridor Hanlim dengan postur yang sedikit lebih tegak. Meskipun otot-otot pahanya masih terasa sedikit pegal, ia merasa memiliki energi baru yang mengalir di tubuhnya. Namun, ketenangan itu terusik saat ia hendak menuju perpustakaan untuk riset naskah barunya.

Seorang siswi dari klub drama yang merasa iri dengan kesuksesan film 'The Silent Muse', bersama dua orang temannya, sengaja menghadang jalan Aira di lorong yang cukup sepi. Siswi itu, yang dikenal sebagai ketua geng perundung kelas dua bernama Hyeri, menatap Aira dengan sinis.

"Wah, si bintang kecil kita sedang jalan-jalan tanpa pengawalnya," ejek Hyeri sambil melipat tangan di dada. "Aira, kudengar naskah barumu itu hanya sampah yang ditulis ulang oleh orang lain. Apa benar kau hanya menjual wajah cantikmu?"

Aira menarik napas dalam, ia teringat kata-kata Jungkook 'Jangan biarkan mereka masuk ke kepalamu. Fokus pada kekuatanmu.' "Hyeri-ssi, tolong beri aku jalan. Aku punya urusan penting," jawab Aira dengan suara yang tenang namun tegas, sebuah nada bicara yang tidak pernah ia gunakan sebelumnya.

Hyeri yang merasa tertantang mencoba mendorong bahu Aira dengan kasar. Namun, refleks Aira bekerja lebih cepat. Berkat latihan agility dari Jungkook, Aira sedikit menggeser tubuhnya ke samping, membuat Hyeri hampir tersungkur karena dorongan anginnya sendiri.

"Kau berani menghindar?!" bentak Hyeri yang mulai emosi. Ia mencoba meraih rambut Aira.

Sesuai dengan teknik yang diajarkan Jungkook, Aira menepis tangan Hyeri dengan gerakan parry yang bersih dan mendorong pergelangan tangan Hyeri menjauh. "Jangan sentuh aku," ucap Aira dengan tatapan mata yang tajam, membuat Hyeri dan teman-temannya membeku sejenak karena aura Aira yang tiba-tiba berubah sangat intimidatif.

Sebelum situasi di lorong itu semakin memanas, suara langkah sepatu yang mantap bergema di koridor. Guanlin muncul dari balik tikungan, diikuti oleh dua asisten pribadinya. Wajah Guanlin tampak seperti es yang tidak tersentuh saat ia melihat Aira sedang dipojokkan.

"Apa ada masalah di sini?" suara Guanlin yang rendah namun penuh otoritas membuat Hyeri dan kawan-kawannya langsung pucat pasi.

Aira, yang tadi tampak kuat, seketika kembali ke mode manjanya begitu melihat Guanlin. Ia langsung berlari kecil dan bersembunyi di balik punggung Guanlin, memegang lengan jas pria itu dengan erat. "Kak Guanlin... mereka jahat, nggak mau kasih Aira lewat..." rengek Aira dengan nada yang sangat berbanding terbalik dengan kekuatannya beberapa detik yang lalu.

Guanlin menatap Hyeri dengan pandangan yang sangat menusuk. "Kudengar klub dramamu sedang membutuhkan sponsor untuk festival akhir tahun. Sayang sekali, aku baru saja terpikir untuk mencabut semua dukungan dana jika ada satu saja anggotanya yang melakukan tindakan tidak terpuji di sekolah ini."

Hyeri gemetar hebat. "M-maaf, Guanlin-ssi! Kami hanya bercanda!" Mereka langsung lari terbirit-birit meninggalkan lorong tersebut.

Guanlin berbalik dan memegang kedua bahu Aira. Ia menatap wajah Aira dengan cemas. "Kau tidak apa-apa? Aku melihat gerakanmu tadi, kau melakukan pertahanan diri yang bagus. Apakah Jungkook yang mengajarinya?"

Aira mengangguk sambil tersenyum lebar. "Iya! Kak Kookie bilang Aira harus kuat! Tapi tadi Aira takut banget, Kak..."

Guanlin menarik Aira ke dalam pelukannya sebentar. "Jangan takut. Bahkan jika kau bisa memukul sepuluh orang sekalipun, tugasku adalah memastikan kau tidak perlu melakukan itu. Ayo, aku antar ke perpustakaan. Aku akan berdiri di depan pintu sampai urusanmu selesai."

Malam harinya di Mansion Kim, Aira menceritakan kejadian di sekolah tadi kepada Jungkook saat mereka sedang melakukan sesi peregangan di gym. Aira bercerita dengan penuh semangat tentang bagaimana ia berhasil menepis tangan Hyeri.

Jungkook mendengarkan sambil melakukan push-up satu tangan, sebuah senyuman bangga terukir di wajahnya. "Bagus, Tuan Putri. Itulah tujuanku. Aku ingin kau tahu bahwa kau bukan mangsa yang mudah."

"Tapi Kak Guanlin tadi dateng, trus dia marah banget sama mereka," tambah Aira sambil memijat lengannya sendiri.

Jungkook berhenti melakukan latihan dan menatap Aira dengan serius. "Guanlin mungkin melindungimu dengan kekuasaannya, dan itu bagus. Tapi ingat, Aira... suatu saat nanti mungkin ada situasi di mana aku, dia, atau abangmu yang lain tidak ada di dekatmu. Itulah alasan kenapa kau harus tetap berlatih."

Jungkook bangkit dan mengambil sebuah kotak kecil dari lokernya. Di dalamnya terdapat sebuah jam tangan pintar yang telah dimodifikasi. "Pakai ini. Ini terhubung langsung dengan ponselku dan sistem keamanan mansion. Jika kau menekan tombol di samping ini dua kali, sinyal darurat akan terkirim padaku. Aku akan tahu lokasimu secara real-time."

Aira memakai jam tangan itu, merasa seperti agen rahasia. "Wah, Kak Kookie keren banget! Kayak di film aksi!"

"Ini bukan mainan, Aira. Ini adalah janji proteksiku padamu," Jungkook mengacak rambut Aira gemas. "Sekarang, karena kau sudah berhasil mempraktekkan bela diri di sekolah, besok aku akan memberimu hadiah. Kita akan pergi ke tempat latihan memanah pribadiku. Kau bilang ingin belajar fokus, kan?"

Aira melompat kegirangan dan memeluk leher Jungkook. "Horeee! Memanah bareng Kak Kookie!"

Di balik kebahagiaan itu, Jungkook bersumpah dalam hati. Ia akan terus melatih Aira, bukan karena ia ingin Aira menjadi petarung, tapi karena ia ingin memberikan "sayap" bagi Aira untuk bisa terbang dengan aman di dunia yang penuh serigala. Persaingan antar pria di sekitar Aira semakin panas, namun Jungkook tahu, di saat kritis, dialah yang akan menjadi benteng fisik terdepan bagi adiknya.

Sesuai janjinya, Jungkook membawa Aira ke area latihan memanah pribadi milik keluarga Kim yang terletak di pinggiran Seoul, tepat di kaki bukit yang asri. Tempat itu sangat tenang, hanya ada suara kicauan burung dan desis angin di antara pepohonan pinus. Area ini steril dari media dan jangkauan publik, tempat di mana Jungkook biasanya menghabiskan waktu untuk menenangkan pikiran.

"Wah... udaranya segar banget, Kak Kookie!" seru Aira sambil merentangkan tangannya, menghirup aroma tanah basah dan pinus.

Jungkook mengeluarkan dua busur recurve dari bagasi mobil, satu busur hitam besar miliknya, dan satu busur berwarna putih mutiara yang ukurannya lebih kecil, khusus dipesan untuk Aira.

"Memanah itu bukan soal kekuatan tangan, Aira. Ini soal bagaimana kau menenangkan detak jantungmu dan menyatukan pikiranmu dengan target," ucap Jungkook sambil memasangkan pelindung lengan (arm guard) pada tangan kiri Aira.

Posisi Jungkook sangat dekat, ia berlutut di depan Aira untuk memastikan semua peralatan terpasang dengan aman. Aira menatap puncak kepala Jungkook yang tertunduk serius, merasa terharu dengan perhatian detail kakaknya.

"Pegang busurnya seperti ini. Jangan terlalu kencang, biarkan ia menjadi perpanjangan tanganmu," instruksi Jungkook. Ia berdiri di belakang Aira, melingkarkan tangannya untuk membantu Aira menarik tali busur. Dada bidang Jungkook menempel sempurna di punggung Aira, memberikan kehangatan yang mendebarkan di tengah udara bukit yang dingin.

"Tarik... tahan napasmu... fokus pada titik merah itu," bisik Jungkook tepat di telinga Aira. Suaranya yang rendah dan berat membuat Aira merinding, namun sekaligus memberinya fokus yang luar biasa.

Wush! Anak panah pertama Aira melesat dan menancap di pinggiran target. Bukan bullseye, tapi untuk pemula, itu adalah pencapaian besar.

"Aira bisa! Kak Kookie, lihat! Aira bisa!" teriak Aira kegirangan sambil melompat-lompat kecil.

Jungkook tertawa bangga, ia mengacak rambut Aira yang hari ini dikepang dua. "Bagus! Itu karena kau mendengarkan instruksiku dengan baik. Ingat, dalam menulis naskah atau menghadapi masalah di sekolah, kau harus sefokus saat kau membidik target ini."

Setelah satu jam berlatih, mereka beristirahat di sebuah bangku kayu di bawah pohon besar sambil menikmati cokelat panas yang dibawa Jungkook dalam termos. Matahari mulai condong ke barat, menciptakan semburat warna jingga di langit.

Aira menatap busur putihnya dengan pandangan melamun. "Kak Kookie... kenapa Kakak pengen banget Aira jadi kuat? Padahal kan Aira punya tujuh kakak hebat dan... ada Kak Guanlin juga."

Jungkook terdiam sejenak, ia menyesap cokelatnya sambil menatap lurus ke arah hutan. "Karena dunia ini tidak selalu adil, Aira. Kami melindungimu karena kami sayang padamu, tapi proteksi itu bisa jadi penjara kalau kau sendiri tidak punya kekuatan untuk memilih."

Jungkook menatap mata Aira dengan tatapan yang sangat dalam. "Aku ingin saat kau berada di puncak kesuksesanmu sebagai Miss KA nanti, kau tidak perlu merasa takut pada siapapun. Aku ingin kau bisa berkata 'tidak' pada apa yang tidak kau sukai, karena kau tahu kau cukup kuat untuk melindungi dirimu sendiri."

Aira terenyuh mendengarnya. Ia baru menyadari bahwa selama ini ketegasan Jungkook bukanlah untuk menekannya, melainkan untuk memberinya kemerdekaan.

"Tapi Kak... Aira tetep boleh manja kan sama Kak Kookie?" tanya Aira dengan nada suara yang sangat imut, ia menyandarkan kepalanya di bahu kekar Jungkook.

Jungkook merangkul pundak Aira, menariknya lebih rapat dalam pelukannya. "Kau akan selalu jadi adik kecilku yang manja, bahkan kalau kau sudah bisa mengalahkan seluruh dunia sekalipun. Tapi di depan orang lain, aku ingin kau jadi harimau betina yang disegani."

Tiba-tiba, ponsel Jungkook bergetar. Sebuah notifikasi dari sistem keamanan sekolah Hanlim muncul. Jungkook mengernyitkan keningnya. "Sepertinya kabar tentang keberhasilanmu menepis tangan Hyeri kemarin mulai memicu rumor lain. Beberapa siswa mulai curiga kalau kau berlatih bela diri secara rahasia."

Aira tertawa kecil. "Biarin aja, Kak. Biar mereka tahu kalau Miss KA bukan cuma jago nulis, tapi juga jago bikin orang kapok!"

Sesi latihan hari itu ditutup dengan tantangan terakhir. Jungkook meminta Aira membidik satu botol air mineral dari jarak sepuluh meter. Jika berhasil, Jungkook akan mengabulkan satu permintaan Aira.

Aira bersiap dengan posisi yang sudah jauh lebih mantap. Ia menarik tali busurnya, memejamkan satu matanya, dan membuang napas perlahan. Di pikirannya, ia membayangkan semua orang yang pernah meremehkannya. Dengan satu gerakan mantap, ia melepaskan anak panahnya.

TAK!

Botol itu terpental jauh karena hantaman anak panah tepat di tengahnya.

"YEEESSS! Aira menang!" teriak Aira sambil memeluk busurnya.

Jungkook berdiri dan memberikan tepuk tangan meriah. "Hebat! Baiklah, apa permintaanmu, Tuan Putri?"

Aira tampak berpikir sejenak, lalu ia tersenyum nakal. "Aira mau... besok Kak Kookie anterin Aira ke sekolah pakai motor gede Kakak! Biar semua orang di Hanlim tahu kalau pelatih Aira itu Kakak paling keren sedunia!"

Jungkook terkekeh, ia tidak menyangka permintaannya akan sesederhana namun seberisik itu. "Hanya itu? Baiklah. Siapkan jaket kulitmu. Kita akan membuat pintu gerbang Hanlim heboh besok pagi."

Mereka membereskan peralatan dan berjalan menuju mobil. Saat Aira berjalan di depan, Jungkook menatap punggung adiknya dengan perasaan lega. Aira tumbuh lebih kuat dari yang ia bayangkan. Ia tahu, persaingan para pangeran di sekolah akan semakin gila, tapi setidaknya sekarang Aira bukan lagi sekadar bunga yang menunggu dipetik, melainkan mawar berduri yang mampu menjaga keindahannya sendiri.

"Ayo pulang, harimau kecil. Kak Jin pasti sudah mengomel kalau kita telat makan malam," seru Jungkook sambil membukakan pintu mobil untuk Aira.

Aira masuk ke mobil dengan senyum penuh kemenangan. Latihan fisik dan memanah minggu ini tidak hanya memberinya otot yang lebih kencang, tapi juga memberikan kepercayaan diri yang baru. Babak baru kehidupannya di Hanlim baru saja dimulai, dan kali ini, Kim Aira sudah siap bertarung.

📢 SO SWEET! 😭 Di balik latihan memanah yang keren, ternyata ada pesan haru dari Kak Jungkook buat Aira. Siapa yang ikutan baper denger alasan Kak Kookie pengen Aira kuat?

👇 VOTE [A] TEAM JUNGKOOK! (Abang paling pengertian) | [B] TEAM AIRA! (Harimau betina masa depan Hanlim) | [C] Nggak sabar lihat Aira diantar motor gede ke sekolah besok! 😂

💬 KOMEN Coba dong kasih selamat buat Aira yang udah dapet 'Bullseye' pertamanya! Kira-kira apa reaksi Guanlin pas lihat Aira dibonceng Jungkook besok? 😂

🔔 SUBSCRIBE & FAVORITE! Bab selanjutnya bakal makin seru karena Aira bakal 'pamer' keberanian barunya di depan seluruh sekolah!

⭐ KASIH RATING 5 STARS buat kedekatan kakak-adik yang luar biasa ini!

BehindTheSpotlight #MangaToonRomance #ArcheryPractice #GoldenMaknaeGift #AiraStrong #MotorcycleEntrance

1
Ayu Nur Indah Kusumastuti
Syuka banget sama FL nya, manja2 gitu deh
Noirsz: pembaca setia nih, mode lock on 🤭🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!