Kenan tahu diri. Dengan badan yang "lebar" dan jerawat yang lagi subur-suburnya, dia sadar bahwa mencintai Kala—sang primadona sekolah—adalah misi bunuh diri. Namun, lewat petikan gitar dan humor recehnya, Kenan berhasil masuk ke ruang paling nyaman di hidup Kala.
Magang menyatukan mereka, melodi lagu mengikat perasaan mereka. Saat Kenan mulai bertransformasi menjadi idola baru yang dipuja-puja, dia justru menemukan fakta pahit: Kala sedang menjaga hati untuk seorang lelaki manipulatif yang bahkan tak pernah menganggapnya ada.
Bertahun-tahun berlalu, jarak Yogyakarta - Padang menjadi saksi bagaimana rasa yang tak pernah terucap itu perlahan mendingin. Sebuah lagu lama yang tiba-tiba viral menjadi jembatan rindu yang terlambat. Saat Kenan akhirnya menemukan "kembaran" Kala pada wanita lain, dan Kala dipaksa menyerah pada perjodohan, apakah melodi mereka masih punya tempat untuk didengarkan?
"Kita dulu sedekat nadi, sebelum akhirnya kau memilih menjadi asing yang paling aku kenali."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asry Ulfa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sapu Keberuntungan
Pukul dua siang, gedung sekolah sudah mulai sepi. Tapi di ruang OSIS yang ber-AC itu, suasana justru lagi serius-seriusnya. Faris sedang membimbing Kala dan beberapa anak OSIS lainnya belajar persiapan masuk perguruan tinggi.
Di luar ruangan, tepatnya di koridor yang sunyi, muncul sesosok makhluk aneh. Kenan memakai topi sekolah yang diputar ke belakang, masker yang menutupi setengah wajahnya, dan membawa sapu lidi serta pengki.
"Nan, kau serius mau begini? Kau lebih mirip maling jemuran daripada petugas kebersihan, tahu tak?" bisik Jovan yang bersembunyi di balik pilar sambil memegang ember air kosong.
"Diam kau, Van! Ini namanya taktik undercover. Kalau aku pakai baju biasa, si Faris pasti curiga kenapa aku mondar-mandir di depan ruangan dia. Dengan sapu ini, aku punya alasan logis buat berada di sini," balas Kenan sambil mulai menyapu lantai dengan gerakan yang sangat tidak meyakinkan.
Kenan mendekat ke arah pintu ruang OSIS yang terbuka sedikit. Dari celah itu, dia bisa melihat Kala sedang serius memperhatikan penjelasan Faris di depan papan tulis putih.
"Jadi, Kal, untuk soal limit fungsi ini, kita harus pakai metode L'Hopital kalau hasilnya nol per nol. Kamu paham?" suara Faris terdengar lembut tapi sok pintar di telinga Kenan.
"Oh, gitu ya Ris? Paham-paham. Wah, kamu jelasinnya enak banget, lebih cepet daripada cara di buku," puji Kala.
Kenan yang mendengar pujian itu langsung menyapu lantai dengan tenaga ekstra. Srek! Srek! Srek! Debu berterbangan ke mana-mana.
"Woiii, Paak! Pelan-pelan nyapunya! Debunya masuk ke ruangan nih!" tegur salah satu anak OSIS dari dalam.
Kenan kaget, langsung merendahkan suaranya (dibuat jadi suara bapak-bapak serak). "Eh, maaf Dek. Ini lantainya kotor sekali, macam masa lalu saya. Saya bersihkan dulu ya."
Kala menoleh ke arah pintu. Dia menyipitkan mata, merasa tidak asing dengan postur tubuh "petugas kebersihan" yang tingginya nggak masuk akal itu.
"Nan?" gumam Kala pelan, hampir tak terdengar.
Tak lama, Faris keluar dari ruangan mau mengambil air minum di dispenser koridor. Dia melihat Kenan yang lagi asyik menyapu pilar (padahal pilar nggak perlu disapu).
"Pak, permisi," panggil Faris.
Kenan membeku. Dia makin menunduk, maskernya ditarik sampai ke mata. "Iya Dek? Ada yang bisa dibantu? Mau saya sapu sepatunya?"
Faris mengernyitkan dahi. "Pak, suara Bapak kok kayak teman saya ya? Dan... itu sepatu Bapak merk-nya mahal ya buat ukuran tukang kebun sekolah?"
Kenan melihat ke bawah. Sial! Dia lupa ganti sepatu sneakers kerennya yang biasa dipakai manggung.
"Inii... ini sepatu pemberian dari mantan majikan saya di Yogyakarta, Dek. Katanya biar saya semangat nyapunya," jawab Kenan asal ceplos.
"Oh... ya sudah. Tapi tolong ya Pak, jangan berisik. Kami lagi fokus belajar," ujar Faris sambil berlalu kembali ke dalam ruangan.
Jovan yang melihat kejadian itu dari jauh hampir pingsan menahan tawa. Begitu Faris masuk, Jovan langsung menghampiri Kenan. "Nan, sumpah! Kau itu intel paling gagal dalam sejarah! Sepatu kau itu lebih mencolok daripada sapu kau!"
"Dah lah! Aku nggak tahan dengar Faris sok pinter gitu di depan Kala. 'L'Hopital' lah, 'Limit' lah. Aku cuma tahu 'Limit saldo ATM'!" keluh Kenan sambil melepas topinya.
Tiba-tiba, Kala keluar dari ruangan. Dia langsung berkacak pinggang di depan Kenan. "Kenan Abimanyu! Kamu ngapain sih pakai baju ginian? Pakai nyamar jadi OB segala lagi!"
Kenan nyengir tanpa dosa. "Eh, Kal. Kamu kok tahu ini aku?"
"Ya iyalah! Sepatu kamu, parfum kamu yang baunya kayak toko bunga satu kecamatan itu, terus tinggi kamu yang kayak tiang listrik. Mana ada OB sekolah kita setinggi kamu!" Kala tertawa geli tapi matanya melotot.
"Aku cuma mau pastiin kamu belajar beneran, bukan malah bahas 'desain jembatan masa depan' sama si kacamata itu," bela Kenan.
"Ih, kamu cemburu ya?" goda Kala sambil menoel pipi Kenan.
"Dikit. Skala 1 sampai 10, cemburunya di angka 11," jawab Kenan jujur yang bikin Kala makin tertawa.
Momen lucu itu berakhir saat mereka mendengar suara raungan motor RX-King dari arah lapangan belakang sekolah. Suaranya sangat bising, seperti sengaja dimainkan untuk menarik perhatian.
Mereka bertiga (Kenan, Kala, Jovan) langsung berlari ke arah pagar belakang. Di sana, Revan berdiri di atas motornya. Dia membawa sebuah botol berisi cat semprot merah. Dengan gerakan cepat, dia menyemprotkan tulisan besar di tembok belakang sekolah: "PENGKHIANAT!"
Setelah itu, Revan menatap ke arah Kenan dengan tatapan penuh kebencian. Dia melepas helmnya sebentar, menunjukkan wajahnya yang makin kacau. "Ini baru permulaan, Nan! Kau ambil semuanya dari aku, aku bakal ambil semuanya dari sekolah ini!"
Revan langsung memacu motornya pergi tepat saat guru piket datang berlarian.
"Woooiiii! Siapa yang corat-coret itu?!" teriak Pak Satpam.
Kenan menahan Kala yang mau mengejar. "Jangan, Kal. Dia sudah gila. Satu jam dia ke sini cuma buat corat-coret tembok? Dia bener-bener sudah kehilangan arah."
"Nan... aku takut dia makin nekat," bisik Kala sambil memegang lengan baju Kenan.
Kenan melepas masker spionasenya, wajahnya kini terlihat serius. "Tenang, Kal. Biar dia corat-coret tembok, asal jangan dia corat-coret rencana masa depan kita. Besok, aku bakal bicara sama Faris. Kita butuh pengamanan lebih buat event kolaborasi nanti. Sepertinya si pangeran Korea KW itu mau jadi tamu tak diundang yang merusak pesta."