NovelToon NovelToon
LAUTAN YANG TIDAK PERNAH TIDUR

LAUTAN YANG TIDAK PERNAH TIDUR

Status: tamat
Genre:Spiritual / Mata Batin / Roh Supernatural / Fantasi / Tamat
Popularitas:29
Nilai: 5
Nama Author: Skyler Austin

Poseidon merasa terhina karena ada satu lautan di dunia fana yang tidak mau tunduk pada perintahnya: Pantai Selatan Jawa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyler Austin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Capit yang Meremukkan Batu

Lorong gua itu sempit, licin, dan berbau seperti pasar ikan yang ditinggalkan selama sebulan. Dinding batu andesit yang biasanya kering kini tertutup lendir tebal yang menetes pelan. Setiap kali Sekar melangkah, kakinya menimbulkan bunyi cepak-cepek yang menggema terlalu keras di keheningan bawah tanah.

Sekar berhenti. Di depannya, lorong bercabang dua. Cahaya hijau dari cincinnya hanya menerangi sekitar dua meter ke depan, sisanya ditelan kegelapan pekat.

Krak.

Suara itu datang dari langit-langit, tepat di atas kepalanya.

Sekar mendongak perlahan, menahan napas.

Di sela-sela stalaktit yang runcing, sepasang mata merah menyala itu berkedip. Mata itu bertangkai, bergerak independen satu sama lain. Dan di bawah mata itu, deretan kaki-kaki runcing mencengkeram batu dengan kekuatan yang mengerikan.

Kepiting raksasa itu tidak berwarna merah masak seperti di piring hidangan laut. Warnanya hitam kelam dengan bercak-bercak biru neon yang berpendar—bioluminesensi makhluk laut dalam. Cangkangnya terlihat sekeras baja tank tempur, dipenuhi teritip tajam.

SCREEECH!

Makhluk itu menjerit, suara gesekan antar pelat kitin yang memekakkan telinga. Ia melepaskan cengkeramannya dari langit-langit dan jatuh menghantam lantai gua, tepat di depan Sekar, menutup jalan.

Tanah bergetar akibat berat tubuhnya. Lebar makhluk itu setidaknya tiga meter, hampir memenuhi lebar lorong. Capit kanannya jauh lebih besar dari yang kiri—capit penghancur yang bisa memotong batang pohon jati sekali jepit.

Sekar mundur teratur, tapi ia terpeleset lendir di lantai. Ia jatuh terduduk.

Kepiting itu maju selangkah. Kaki-kakinya mengetuk lantai batu dengan irama tak-tak-tak yang cepat. Mulutnya mengeluarkan buih beracun yang mendesis saat menetes ke tanah.

"Mundur!" teriak Sekar, mengacungkan tangannya yang memakai cincin.

Cincin itu berdenyut, tapi sinarnya redup. Sekar sadar, di dalam tanah yang jauh dari sumber air permukaan atau benda pusaka (selendangnya tertinggal di luar karena sobek saat lari tadi), kekuatan cincin itu terbatas. Ia sendirian.

Kepiting itu tidak peduli. Ia mengayunkan capit besarnya.

BRAAK!

Sekar berguling ke samping tepat waktu. Capit itu menghantam dinding gua tempat ia tadi duduk. Batu andesit keras itu hancur berkeping-keping seperti kerupuk. Pecahan batu tajam menggores pipi Sekar.

Ia merangkak panik menjauh, masuk ke celah sempit di antara dua batu besar yang menonjol dari dinding. Tubuh kepiting itu terlalu besar untuk masuk ke celah itu, tapi capitnya yang panjang mencoba merogoh masuk, klik-klak-klik, mencari daging lunak untuk diremas.

Sekar menekan tubuhnya ke dinding belakang celah sempit itu. Ia terjebak. Ujung capit kepiting itu hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajahnya, bau amisnya membuat Sekar ingin muntah.

"Gusti... tolong..." bisiknya.

Matanya liar mencari jalan keluar atau senjata. Tapi di sini hanya ada batu, lendir, dan kegelapan.

Tunggu. Lendir?

Sekar melihat ke lantai celah tempat ia bersembunyi. Ada aliran air kecil yang merembes dari dinding belakang. Air itu panas. Uap tipis mengepul darinya. Ini jalur air panas alami Merapi, kapiler-kapiler kecil yang terhubung langsung dengan sistem geotermal gunung.

Otaknya bekerja cepat. Kyai Rajawali bilang gunung ini sedang "demam". Artinya, tekanan di dalam pipa-pipa alami ini sedang tinggi sekali.

Sekar melihat sebuah retakan kecil di dinding batu di dekat kakinya, tempat air panas itu menyembur keluar pelan.

Kalau ia bisa memperlebar retakan itu...

Capit kepiting itu menyambar lagi, kali ini berhasil menjepit ujung kebaya Sekar. Kain itu robek dengan suara krrrk yang menyakitkan. Kepiting itu menarik, mencoba menyeret Sekar keluar dari lubang persembunyiannya.

"Lepaskan!" jerit Sekar. Ia menendang capit keras itu dengan kaki telanjangnya, tapi rasanya seperti menendang tembok besi.

Sekar terseret. Tubuhnya mulai keluar dari celah aman. Wajah monster itu sudah terlihat jelas di depannya, mata merahnya menatap lapar.

Dalam keputusasaan, Sekar melihat batu runcing seukuran lengan orang dewasa tergeletak di dekat retakan pipa air panas tadi.

Dengan sisa tenaga terakhir sebelum ia sepenuhnya ditarik keluar, Sekar menyambar batu itu. Tapi alih-alih memukul kepitingnya, ia memukulkan batu itu sekuat tenaga ke retakan di dinding gua.

DUG!

Sekali lagi.

DUG!

Retakan itu melebar.

PSSSSHHHHHHH!

Suara desisan nyaring terdengar. Bukan air yang keluar, tapi semburan uap panas bertekanan tinggi. Uap panas sulfur yang suhunya mungkin mencapai ratusan derajat celcius.

Sekar menjatuhkan tubuhnya rata dengan tanah. Semburan uap itu melesat lurus ke depan, melewati atas kepala Sekar, dan menghantam tepat ke arah wajah kepiting raksasa itu.

SKREEEEEEEEEEEEE!

Jeritan kepiting itu kali ini jauh lebih mengerikan. Jeritan kesakitan murni. Uap panas vulkanik itu merebus mata bertangkainya dalam hitungan detik. Cangkang keras mungkin bisa menahan pukulan fisik, tapi panas ekstrem yang langsung mengenai organ lunak di wajah adalah cerita lain.

Kepiting itu melepaskan cengkeramannya pada baju Sekar. Ia mundur sempoyongan, menabrak dinding kiri-kanan dengan brutal. Capit-capitnya menggapai-gapai udara buta, menghancurkan stalaktit di atasnya. Reruntuhan batu mulai jatuh.

Gua ini akan runtuh.

"Lari!" perintah Sekar pada dirinya sendiri.

Ia bangkit, mengabaikan rasa perih di lutut dan siku, lalu berlari melewati monster yang sedang mengamuk itu. Ia harus merunduk rendah karena kepiting buta itu mengayunkan capitnya sembarangan seperti mesin pemotong rumput yang rusak.

Sekar melihat celah di antara kaki-kaki kepiting itu. Itu satu-satunya jalan.

Ia meluncur (sliding) di atas lendir, melewati bawah perut kepiting yang lunak. Bau busuk di bawah sana tak tertahankan.

Tepat saat ia berhasil melewati kolong monster itu, ekor kepiting itu—yang ternyata punya duri beracun—menyabet ke bawah.

Sret!

Duri itu menggores betis kanan Sekar. Rasanya dingin, lalu kebas, lalu panas membara. Racun.

Sekar terhuyung, tapi ia memaksakan kakinya terus bergerak. Ia berlari menjauh, masuk ke lorong yang menuju Bunker Kaliadem. Di belakangnya, suara gemuruh runtuhan batu terdengar semakin keras, lalu hening. Kepiting itu tertimbun reruntuhan gua yang ia buat sendiri.

Sekar ambruk di lantai beton dingin begitu ia mencapai mulut bunker. Napasnya putus-putus. Kakinya yang tergores kini berwarna ungu tua, bengkak.

Ia menyandarkan punggungnya di pintu besi bunker yang tebal. Ia aman untuk sementara. Tapi racun ini... racun ini bergerak cepat. Pandangannya mulai kabur.

"Belum... belum boleh mati," gumam Sekar, menampar pipinya sendiri. "Jantungnya... harus matikan jantungnya..."

Ia menyeret tubuhnya masuk ke dalam bunker. Di tengah ruangan luas yang biasanya kosong itu, kini berdiri sebuah mesin aneh.

Mesin itu bukan terbuat dari logam, tapi dari tulang belulang paus raksasa yang disusun melingkar. Di tengahnya, ada sebuah kristal biru besar yang berdenyut, terhubung dengan pipa-pipa organik yang menancap ke lantai bunker—menembus langsung ke perut bumi.

Kristal itu berdetak. DUM... DUM... DUM...

Setiap detakan mengirimkan gelombang kejut yang membuat lantai bergetar. Kristal itu memompa esensi air laut ke dalam magma.

Dan di depan mesin itu, berdiri seseorang.

Bukan monster. Bukan dewa.

Seorang manusia. Pria paruh baya memakai jas lab putih yang kotor oleh debu vulkanik. Ia sedang mencatat sesuatu di papan jalan, seolah ini hanyalah eksperimen sains biasa.

Pria itu menoleh saat mendengar suara seretan kaki Sekar. Ia membetulkan letak kacamatanya yang retak. Wajahnya lelah, tapi matanya bersinar dengan fanatisme gila.

"Ah, subjek uji coba baru?" ucap pria itu datar. "Atau kau gangguan variabel yang disebutkan Tuan Poseidon?"

Sekar mencoba berdiri, tapi kakinya mati rasa. Ia jatuh lagi.

"Siapa... kau?"

Pria itu tersenyum tipis. "Namaku Dr. Hardi. Geolog yang dulu dipecat karena teori gila bahwa Merapi dan Laut Selatan terhubung. Sekarang... Tuan Besar memberiku dana riset yang tidak terbatas untuk membuktikannya."

Ia menepuk kristal biru itu dengan sayang.

"Tiga menit lagi, Nona. Tiga menit lagi tekanan akan mencapai titik kritis. Dan kita akan melihat letusan paling indah dalam sejarah umat manusia."

Pengkhianat. Musuh terberat bukan monster, tapi manusia yang menjual dunianya demi pembuktian diri.

Sekar menatap cincinnya. Redup. Hampir mati. Kakinya lumpuh. Waktunya tinggal tiga menit.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!