Jovan adalah pewaris mafia paling berbahaya di kota. Luka tembak dan pengkhianatan memaksanya melarikan diri ke sebuah desa terpencil, tempat seorang gadis sederhana bernama Mika menyelamatkan nyawanya.
Dengan identitas palsu sebagai petani buah, Jovan hidup di dunia yang tak pernah ia kenal—tenang, jujur, dan penuh kehangatan.
Di sanalah ia jatuh cinta pada Mika, tanpa ia sadari bahwa cintanya adalah ancaman.
Karena saat masa lalu mengejarnya, Mika bukan hanya gadis desa…dia adalah sandera paling berharga di dunia mafia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah yuni rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perasaan Jovan
Jovan mengangkat ikatan daun pisang itu sebelum Mika sempat melakukannya.
“Biar aku saja,” katanya.
Mika refleks meraih lengannya. “Jovan !”
“Tidak berat,” potongnya pelan. “Aku masih bisa.”
Ia berjalan lebih dulu, langkahnya mantap meski bahunya terasa berdenyut. Daun-daun pisang itu lebar dan segar, ujungnya menyentuh dadanya setiap kali angin berembus. Mika mengikutinya dari belakang, awalnya diam, lalu menyadari sesuatu yang membuat langkahnya melambat.
Ada noda gelap di punggung kaos Jovan.
Awalnya kecil. Lalu melebar.
“Jovan,” panggilnya, suaranya menegang. “Tunggu !”
Jovan berhenti.
Mika mendekat, tangannya gemetar saat menyentuh kain itu. “Lukamu… berdarah.”
Jovan menunduk sedikit, menghela napas pendek. “Hanya terbuka sedikit.”
“Sedikit?” Mika menatapnya tajam. “Kau mengangkat terlalu banyak.”
“Aku baik-baik saja.”
“Kau keras kepala,” gumamnya, lebih pada dirinya sendiri.
Ia mengambil ikatan daun pisang dari tangan Jovan, nyaris memaksa. “Kita pulang. Sekarang.”
Jovan tidak membantah.
Perjalanan pulang terasa lebih sunyi. Jovan menahan setiap tarikan napas agar langkahnya tetap stabil. Ia sudah terbiasa dengan luka yang lebih parah, peluru, pisau, patah tulang. Tapi kali ini berbeda.
Karena untuk pertama kalinya, ada seseorang yang panik bukan karena kelemahannya… tapi karena keselamatannya.
Setibanya di rumah, Mika langsung menyuruhnya duduk.
“Jangan bergerak,” katanya sambil mengambil kotak P3K dari lemari. “Ini salahku. Aku seharusnya tidak membiarkanmu membantu.”
Jovan melepas kaosnya perlahan. Perban di bahunya memang bergeser, tepinya basah oleh darah segar.
“Bukan salahmu,” ucapnya tenang. “Aku yang memaksa.”
Mika berlutut di depannya, tangannya sedikit gemetar saat membuka perban lama. “Aku kurang rapi membungkusnya kemarin. Sehingga lukamu terbuka.”
“Lukaku terbuka karena aku mengangkat beban,” koreksi Jovan.
Ia hendak meraih perban baru, tapi Mika menahan tangannya.
“Kali ini… biar aku.”
Jovan menatapnya.
Biasanya, ia akan menolak. Luka adalah wilayah privat. Di dunia Jovan, tidak ada yang menyentuhnya saat ia terluka, itu kelemahan.
Tapi sekarang…
Ia membiarkan tangannya turun.
Mika membersihkan darah dengan kain basah, gerakannya pelan, nyaris takut menyakitinya. Setiap sentuhan membuat otot Jovan menegang, bukan karena nyeri, melainkan karena kesadaran akan jarak yang kian menyempit.
“Kau tidak perlu terlalu hati-hati,” katanya pelan.
“Aku perlu,” jawab Mika lirih. “Kau manusia, bukan batu.”
Kalimat itu sederhana.
Namun bagi Jovan, rasanya seperti sesuatu yang lama terkubur akhirnya disebutkan.
Mika membalut lukanya kembali, kali ini lebih rapat. Ujung jarinya sempat menyentuh kulit Jovan yang hangat. Mereka sama-sama terdiam.
“Terima kasih,” ucap Jovan akhirnya.
Mika mendongak. “Untuk apa?”
“Karena tidak memandangku seperti masalah.”
Mika tersenyum kecil. “Di Sumberjati, orang dinilai dari apa yang ia lakukan hari ini. Bukan dari siapa dia kemarin.”
Jovan menatapnya lama.
Dan untuk pertama kalinya, ia merasa, jika ia tinggal terlalu lama di desa ini, bukan musuhnya yang akan menemukan kelemahannya lebih dulu.
Melainkan hatinya sendiri.
Malam turun perlahan di Desa Sumberjati.
Tidak ada suara bising kota. Tidak ada klakson, tidak ada sirene. Hanya dengung serangga, gesek dedaunan, dan sesekali suara anjing menggonggong jauh di balik kebun.
Jovan berbaring di dipan kayu, menatap langit-langit rumah Pak Raka.
Matanya terbuka.
Sudah lama ia tidak terjaga seperti ini, bukan karena rasa sakit, bukan karena ancaman, melainkan karena ketenangan yang terlalu asing.
Perban di bahunya terasa kencang, rapi. Lebih rapi dari biasanya. Jari-jarinya masih bisa mengingat sentuhan Mika saat membalut luka tadi sore. Lembut, berhati-hati, seolah tubuhnya bukan milik seorang pria berbahaya… melainkan seseorang yang perlu dijaga.
Itu yang mengganggunya.
Di dunia Jovan, luka adalah bukti.
Bukti keberanian. Bukti kekuasaan.
Bukan sesuatu yang dibersihkan dengan tangan gemetar dan tatapan cemas.
Ia memejamkan mata, mencoba tidur.
Namun setiap kali ia hampir terlelap, bayangan Mika muncul, cara alisnya mengerut saat melihat darah, caranya menahan napas saat membersihkan luka, caranya berkata kau manusia, bukan batu.
Kalimat itu terus berulang.
Manusia.
Ia tertawa kecil, tanpa suara.
Kalau Mika tahu berapa banyak nyawa yang pernah ia ambil… apakah ia masih akan mengucapkannya dengan nada yang sama?
Di ruang sebelah, terdengar suara kain dilipat.
Mika belum tidur.
Jovan bisa mengenali langkahnya sekarang, ringan, teratur. Tidak tergesa, tidak ragu. Ia mendengar laci dibuka, lalu ditutup kembali. Bau sabun lembut tercium samar, terbawa angin malam.
Ia menarik napas dalam-dalam.
Itu kesalahan.
Karena napas itu terasa terlalu penuh dengan hal-hal yang tidak seharusnya ia rasakan.
Ia bangkit perlahan, duduk di tepi dipan. Bahunya berdenyut pelan, tapi pikirannya lebih nyeri. Di luar jendela, cahaya lampu rumah tetangga membentuk bayangan di tanah. Desa ini tidak tidur sepenuhnya, ia hanya beristirahat. Seperti ia seharusnya. Namun Jovan tahu, ia tidak bisa. Karena setiap detik ia tinggal di sini, setiap tatapan Mika, setiap kepedulian kecil… adalah celah. Dan celah adalah sesuatu yang selalu dicari musuh.
Mika akhirnya selesai melipat baju.
Ia berdiri sejenak, menatap tumpukan pakaian bersih, termasuk kaos Jovan yang tadi ia cuci. Ukurannya pas. Terlalu pas untuk kebetulan.
Dadanya terasa aneh.
Ia menggeleng pelan, menepis pikiran itu. “Hanya tamu,” gumamnya pada diri sendiri. “Dan masih terluka.”
Namun saat ia melangkah menuju kamar, pandangannya tanpa sadar tertuju ke ruang tempat Jovan tidur.
Lampunya masih menyala redup.
Ia ragu sejenak.
Lalu, dengan langkah pelan, ia mendekat. Tidak masuk. Hanya berdiri di ambang pintu.
Jovan duduk membelakanginya.
“Lukamu sakit?” tanya Mika akhirnya.
Jovan menoleh, sedikit terkejut. “Tidak. Aku hanya… sulit tidur.”
Mika mengangguk. “Biasanya memang begitu di tempat baru.”
Ia hendak pergi, tapi Jovan berbicara lebih dulu. “Terima kasih… untuk lukanya.”
Mika berhenti. “Aku senang kau tidak menolakku kali ini.”
Jovan menatapnya, sorot matanya gelap tapi jujur. “Aku tidak selalu bisa sendiri.”
Kalimat itu keluar begitu saja.
Mika terdiam.
Untuk sesaat, udara di antara mereka terasa lebih padat.
“Kalau begitu,” katanya pelan, “cobalah tidur. Besok pagi aku ke kebun lagi.”
“Kau berangkat pagi sekali.”
“Desa hidup dari pagi.”
Jovan mengangguk.
Mika melangkah pergi, mematikan lampu setelahnya. Kegelapan menyelimuti ruangan, tapi justru itu membuat Jovan merasa… lebih terjaga.
Ia berbaring kembali.
Dan untuk pertama kalinya, yang membuatnya sulit tidur bukan rasa sakit. melainkan ketakutan sederhana: jika ia mulai merasa nyaman di sini, apakah ia masih sanggup meninggalkan Mika, saat masa lalu akhirnya datang menagih?
Kegelapan tidak menghapus bayangannya.
Justru di dalam gelap, paras Mika muncul lebih jelas.
Jovan memejamkan mata, tapi wajah itu hadir tanpa diundang, garis alisnya yang lembut namun tegas, sorot matanya yang jernih, bibirnya yang sering terkatup seolah menyimpan terlalu banyak hal yang tidak ia ucapkan.
Ia mengingat caranya menunduk saat menghitung uang hasil pasar. Jari-jarinya bergerak cepat, cekatan, tapi ada kehati-hatian di setiap gerakan seolah ia tahu setiap lembar itu adalah hasil dari kerja keras, bukan angka yang bisa disia-siakan.
Ia mengingat caranya mengikat rambut sebelum ke kebun. Tidak rapi, tapi fungsional. Ada beberapa helai yang selalu lepas dan jatuh di sisi wajahnya.
Jovan tidak tahu sejak kapan detail sekecil itu tertanam di kepalanya.
Ia menghela napas pelan.
Ini berbahaya.
Di dunia yang ia tinggalkan, mengingat wajah seseorang berarti memberi musuh titik bidik.
Namun Mika terus muncul, saat ia menutup mata, saat ia membuka mata, bahkan saat ia mencoba fokus pada rasa sakit di bahunya.
Paras itu tidak dramatis.
Tidak cantik dengan cara yang mencolok.
Tapi ada sesuatu di sana, ketenangan yang tidak dibuat-buat, kekuatan yang tidak perlu diumumkan. Paras seseorang yang tidak tahu bahwa kehadirannya cukup untuk mengacaukan hidup orang lain.
Ia membalikkan badan, menatap dinding.
Tapi bayangan itu tetap ada.
Mika yang berdiri di dapur dengan celemek sederhana. Mika yang menegurnya saat ia mengangkat daun pisang. Mika yang berlutut membersihkan darahnya, menahan napas seolah takut melukai lebih dari sekadar kulitnya.
Ia menggertakkan gigi pelan.
“Berhenti,” gumamnya pada diri sendiri.
Namun wajah itu tidak pergi.
Karena Mika bukan hanya wajah.
Ia suara—tenang, tanpa tuntutan. Ia sentuhan—ringan, tidak memiliki. Ia kehadiran—yang tidak mencoba mengubahnya, tapi justru membuatnya ingin berubah.
Dan itu jauh lebih menakutkan.
Jovan De Luca telah menghadapi senjata, pengkhianatan, dan kematian tanpa ragu.
Tapi satu hal yang belum pernah ia pelajari adalah cara melawan perasaan yang tumbuh diam-diam—tanpa ancaman, tanpa paksaan.
Hanya karena seseorang memilih untuk peduli.
Ia menatap langit-langit lagi.
Malam semakin larut.
Dan paras Mika masih ada di sana.
Seolah menetap.
Seolah menunggu.
Seolah tidak berniat pergi, bahkan ketika pagi nanti datang dan mengingatkannya bahwa ia tidak seharusnya jatuh cinta di tempat yang salah, pada waktu yang lebih salah lagi.