Airi tidak pernah benar-benar percaya pada cinta. Bukan karena ia tak ingin, tapi karena cinta pertamanya justru meninggalkan luka yang tak pernah sembuh. Kini, di bangku kuliah, hidupnya hanya berputar pada musik, rutinitas, dan tembok yang ia bangun sendiri agar tak ada lagi yang bisa menyentuh hatinya.
Namun segalanya berubah ketika musik mempertemukannya dengan dunia yang berisik, penuh nada, dan tiga laki-laki dengan caranya masing-masing memasuki hidup Airi. Bersama band, tawa, konflik, dan malam-malam panjang di balik panggung, Airi mulai mempertanyakan satu hal: apakah melodi yang ia ciptakan mampu menyembuhkan luka yang selama ini ia sembunyikan?
Di antara cinta yang datang perlahan, masa lalu yang terus menghantui, dan perasaan yang tak pernah ia pahami sepenuhnya, Airi harus memilih—bertahan dalam sunyi yang aman, atau berani menyentuh nada yang bisa saja kembali melukainya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yumine Yupina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 2 – Resonansi yang Dikumpulkan Diam-Diam
Dua hari setelah Airi pertama kali berdiri lama di depan poster Silent Echo, waktu bergerak dengan cara yang terasa berbeda—tidak cepat, tapi juga tidak berhenti. Seolah kota Aozora sedang mengatur napasnya sendiri, memberi jarak agar keputusan kecil bisa tumbuh menjadi sesuatu yang nyata.
Selama dua hari itu, Airi pulang kampus tidak pernah sendirian.
“Ren,” katanya pada sore pertama, tepat setelah kelas terakhir berakhir. “Temani aku pulang.”
Ren menoleh, satu alisnya terangkat. “Bukannya kamu biasanya langsung ke perpustakaan?”
“Hari ini tidak,” jawab Airi cepat. “Aku capek.”
Ren menghela napas pendek—bukan tanda menolak, lebih seperti menerima takdir yang sudah ia duga. Mereka berjalan berdampingan menyusuri trotoar yang dipenuhi bayangan pepohonan. Angin laut membawa aroma asin yang samar, membuat rambut Airi bergerak pelan di bahunya.
Sejak hari itu, kebiasaan baru terbentuk tanpa kesepakatan resmi. Setiap pulang kampus, mereka berjalan bersama. Kadang Airi yang banyak bicara, kadang Ren yang diam terlalu lama. Mereka mampir ke rumah Ren hampir setiap hari—rumahnya memang lebih dekat ke jalur pulang Airi. Ibu Ren jarang di rumah, studio seni orang tuanya lebih sering kosong daripada ramai, dan ruang tamu selalu dipenuhi aroma cat minyak dan kayu tua.
Airi duduk di lantai, bersandar ke sofa, sementara Ren menyetel gitar dan memetik nada pelan. Tidak ada lagu lengkap. Hanya potongan, hanya bunyi yang tidak dimaksudkan untuk siapa pun.
“Ren,” Airi berkata pada hari kedua, memeluk lututnya. “Kamu ikut audisi.”
Ren berhenti memetik senar. “Tidak.”
“Ren.”
“Tidak.”
Airi mendengus, lalu berdiri. “Aku sudah isi formulir. Atas namamu juga.”
Ren menoleh lambat. “Kamu apa?”
“Anggap saja paksaan yang penuh cinta.”
Ren menatapnya lama. Terlalu lama. Lalu ia menghela napas dan menutup kotak gitarnya.
“Kamu ini,” katanya pelan, “nggak pernah berubah.”
Airi tersenyum kecil. “Syukurlah.”
Audisi Silent Echo dibuka seminggu penuh. Gedung musik kampus mendadak ramai oleh mahasiswa yang membawa alat musik, map partitur, dan harapan yang belum diuji. Airi berdiri di lorong, memegang map lagu dengan tangan sedikit gemetar.
Ia tidak sendirian.
“Airi?”
Suara itu membuatnya menoleh. Seorang perempuan berdiri beberapa langkah darinya—rambut panjang tergerai rapi, wajah feminin dengan senyum yang ditahan, seolah tidak ingin terlalu mencolok.
“Mei?” Airi menyebut namanya, kaget sekaligus lega.
Fujisawa Mei mengangguk, senyumnya melebar sedikit. “Kupikir aku salah orang.”
Airi tertawa kecil. “Kita ketemu lagi di tempat yang… pas.”
“Silent Echo?” Mei melirik poster audisi di dinding. “Aku ikut sebagai keyboardist.”
“Aku vokal,” kata Airi, hampir berbisik.
Mereka saling pandang sebentar, lalu tersenyum bersamaan—senyum yang tidak lahir dari euforia, tapi dari rasa saling mengenal. Mei adalah sahabat SMA Airi, seseorang yang tahu bagaimana Airi bisa menjadi sangat pendiam di satu waktu, dan terlalu sensitif di waktu lain. Mereka tidak selalu bicara tentang hal penting, tapi selalu tahu kapan harus diam.
Ren berdiri sedikit menjauh, bersandar ke dinding, gitar di punggungnya. Tatapannya menyapu ruangan—tenang, mengamati. Ketika Mei menyadarinya, ia mengangguk sopan.
“Ini Hayasaka Ren,” kata Airi. “Gitar, dan dia teman masa kecilku.”
Mei tersenyum. “Senang bertemu denganmu.”
Ren membalas anggukan singkat. “Begitu juga.”
Audisi berlangsung bergiliran. Setiap orang masuk ruangan satu per satu, meninggalkan lorong dengan wajah beragam—tegang, kecewa, atau lega. Ketika nama Airi dipanggil, dadanya mengencang. Ren berdiri sedikit lebih dekat.
“Kamu bisa,” katanya singkat.
Airi mengangguk, lalu masuk.
Ruangan itu sederhana. Beberapa orang duduk di balik meja—panitia band kampus, sebagian mahasiswa tingkat atas. Di sudut ruangan, sebuah gitar bass bersandar. Dan di sana, berdiri seseorang yang membuat Airi berhenti sepersekian detik.
Kurose Haruto.
Ia memegang clipboard, mengenakan kemeja hitam sederhana. Tatapannya bertemu Airi—tidak lama, tapi cukup untuk membuat udara terasa lebih berat.
“Silakan,” kata salah satu panitia.
Airi menarik napas. Musik diputar. Ia mulai bernyanyi.
Suaranya tidak berusaha keras. Tidak tinggi. Tidak dramatis. Tapi jujur. Setiap nada mengalir dengan perasaan yang tidak ia sembunyikan. Ketika lagu berakhir, ruangan hening sejenak—hening yang tidak kosong.
“Terima kasih,” kata panitia.
Airi membungkuk kecil, lalu keluar.
Di lorong, Ren sudah menunggu. “Gimana?”
Airi mengangkat bahu. “Aku nyanyi.”
Ren tersenyum tipis. “Itu cukup.”
Mei keluar beberapa saat kemudian, wajahnya terlihat lega. “Keyboardnya… rusak satu tuts,” katanya pelan. “Tapi aku bisa improvisasi.”
Airi menggenggam tangannya sebentar. “Kamu selalu bisa.”
Hari-hari audisi berlalu cepat. Ren tampil dengan permainan gitar yang rapi, tanpa pamer. Mei dengan sentuhan keyboard yang lembut. Haruto tidak mengikuti audisi—ia ada di balik layar, mengatur jadwal, mengurus teknis. Dan di sanalah drama kecil mulai terasa.
“Aku baru tahu,” bisik seseorang di lorong, “yang bikin poster Silent Echo itu Kurose Haruto.”
“Serius?”
“Iya. Dia yang ngotot bikin band ini.”
Airi mendengarnya tanpa sengaja. Dadanya bergetar kecil. Ia teringat tatapan Haruto di hari pertama, cara ia berkata sayang kalau berhenti. Tiba-tiba semuanya terasa terhubung.
Pengumuman hasil audisi ditempel pada hari terakhir. Kertas putih itu dikerumuni mahasiswa. Airi berdiri agak jauh, jantungnya berdetak terlalu keras.
Ren mendekat, membaca cepat. Lalu ia menoleh.
“Kita lolos.”
Airi menatapnya, seolah tidak yakin. “Semua?”
Ren mengangguk. “Vokal: Kirishima Airi. Gitar: Hayasaka Ren. Keyboard: Fujisawa Mei. Bass: Kurose Haruto.”
Airi menoleh ke papan lagi. Namanya benar-benar ada di sana.
Dan satu lagi.
“Drum: Nakamura Sora.”
“Aku nggak kenal,” gumam Airi.
“Mahasiswa tingkat dua,” jawab Mei. “Katanya jago.”
Latihan pertama dilakukan di studio kampus yang sempit, tapi cukup. Sora datang dengan perban tipis di pergelangan tangan—katanya cedera lama, tidak masalah. Permainannya cepat, energik, dan cocok dengan tempo lagu yang mereka pilih.
Nama band Silent Echo terasa semakin nyata.
Minggu-minggu berikutnya diisi latihan intens. Festival tahunan kampus akan digelar di peralihan musim—sebelum musim panas benar-benar tiba. Debut mereka dijadwalkan di panggung sore, tepat saat matahari mulai turun.
Namun tiga hari sebelum festival, kabar buruk datang.
Sora mengalami cedera tangan yang lebih parah saat latihan tambahan. Dokter melarangnya bermain drum untuk sementara waktu. Ia datang ke studio dengan wajah menyesal, perban kini lebih tebal.
“Aku minta maaf,” katanya. “Aku nggak bisa lanjut.”
Ruangan itu jatuh dalam keheningan.
“Acaranya tinggal tiga hari,” kata Mei pelan.
Haruto mengepalkan tangan. “Cari pengganti.”
“Siapa?” Ren bertanya, nada suaranya tenang tapi tegas. “Kita butuh yang bisa hafal lagu cepat.”
Airi duduk diam, tangannya dingin. Debut yang baru saja terasa dekat kini seperti menjauh.
Mei menunduk, lalu mendongak. “Aku… mungkin kenal seseorang.”
Mereka menoleh padanya.
“Teman masa kecilku,” lanjut Mei. “Mizuhara Yukito. Dia drummer. Sangat cepat belajar.”
“Dia mau?” tanya Haruto.
Mei mengangguk ragu. “Aku bisa tanya.”
Pesan dikirim malam itu juga. Jawaban datang tidak lama kemudian.
Kalau kalian butuh, aku bisa coba.
Yukito datang keesokan harinya. Ia berdiri di depan studio dengan tas drum di punggung, wajahnya sedikit tegang. Ketika pintu dibuka, tatapannya bertemu Airi—sekilas terkejut, lalu tersenyum kecil.
"halo,” katanya pelan.
“Halo,” jawab Airi, juga pelan.
Mei memperkenalkan semuanya dengan singkat. Yukito langsung duduk di belakang drum set, membuka partitur. Ia membaca cepat, jarinya mengetuk udara mengikuti tempo.
“Bisa kita coba dari lagu pertama?” tanyanya sopan.
Mereka mulai.
Dan dalam satu kali putaran lagu, kekalutan itu perlahan menghilang.
Yukito menangkap tempo dengan akurat. Pukulan drumnya tidak berlebihan—tepat, bersih, menyatu. Ren melirik Haruto. Haruto mengangguk kecil. Mei tersenyum, lega. Airi bernyanyi, dan untuk pertama kalinya sejak audisi, suaranya terasa… ringan.
Lagu berakhir.
Yukito mengangkat kepala. “Ada bagian yang perlu aku perbaiki?”
Hening sepersekian detik.
“Tidak,” kata Haruto akhirnya. “Kamu cocok.”
Airi tersenyum kecil, dadanya hangat.
Di luar studio, matahari mulai tenggelam. Festival tinggal dua hari lagi.
Dan Silent Echo, yang lahir dari kebetulan dan paksaan kecil, kini berdiri utuh—siap menggema di kota yang membiarkan orang datang, dan mungkin… tinggal.