Spion Off "Tuan Muda Amnesia"
Di hari yang seharusnya menjadi momen terindah, kabar buruk menyergap kediaman Alexander. Calon mempelai putra sulung mereka menghilang, tanpa jejak, tanpa pesan.
Namun, upacara tetap disiapkan, tamu tetap berdatangan, akan tetapi kursi di samping Liam Alexander kosong. Liam bersikeras menunggu, meski semua orang mendesaknya untuk menerima kenyataan.
Semakin lama Liam bertahan, semakin jelas bahwa ada sesuatu yang tak beres, dan hilangnya calon istrinya bukanlah kejadian kebetulan
Follow instagram @Tantye untuk informasi seputar novel
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Susanti 31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Konflik batin
Malam semakin larut, suara-suara di sekitar pun hampir menghilang akan tetapi seorang pria masih fokus memandangi layar laptop dengan ekspresi yang tidak bisa didefinisikan seperti apa. Sesekali pria itu mengusap wajahnya kasar.
Pria itu tampak gelisah kadang pula memalingkan wajahnya karena tidak kuasa melihat hal-hal yang menurutnya menjijikkan. Padahal jika dilihat dari sisi orang lain, foto tersebut tidak aneh. Hanya foto yang diabadikan seorang teman untuk menjadikannya kenang-kenangan.
Foto saat dia belajar, tidur, makan dan aktivitas biasa lainnya sebagai seorang remaja dan pelajar di negara orang. Ia sama sekali tidak menyangka pertemanan tulus yang selama ini dia anggap baik malah disalahpahami oleh seseorang.
Liam berulang kali mengusap wajahnya kasar sampai rambutnya tidak lagi rapi seperti biasa. Ia rasanya hampir gila memikirkan plot twist dalam hidupnya. Mencari pembunuh sang kekasih ia malah dihadapkan dengan fakta lain.
Pria itu beralih pada ponsel kekasihnya yang tidak di kunci. Tidak ada yang istimewa di dalamnya. Hanya foto-foto gabut Arumi atau foto mereka berdua setelah bertemu beberapa bulan lalu.
Mas Seaven nggak capek pura-pura terus?
Aku yakin mas paham posisi aku sekarang.
Aku menghargai persahabatan kalian, tapi sebagai calon istrinya, aku perlu batas yang jelas di antara kalian ke depannya.
Aku harap mas bisa menjaga jarak dengan sadar dan dewasa.
Belum nikah saja kamu udah ngatur hidupnya Liam. Lagian kenapa sih kayak nggak suka banget sama aku.
Bukan nggak suka Mas, tapi aku nggak mau mas Seaven terlalu dekat dengan mas Liam.
Kamu cemburu?
Kenapa aku harus cemburu, lagian mas kan laki-laki.
Kamu tahu sesuatu?
Tahu apa?
Nggak deh
Kalau nggak suka aku dekat sama Liam, tanya Liamnya langsung bukan ke aku.
Iya
Dan setelah membaca room chat Arumi dan Seaven ia baru sadar akan satu hal. Aruminya selalu mempertanyakan sebuah kepercayaan padanya, tapi jawaban yang ia berikan semakin membuat wanita itu sulit mengungkapkan yang sebenarnya.
Mas sangat percaya dengan Seaven?
Hm, aku mempercayainya lebih dari diriku sendiri.
Bukankah jawabannya saat itu bisa membuat siapa saja urung memberitahukan kebenaran?
"Aku memang bodoh." Liam memukul kepalanya berulang kali, menyesali perbuatannya selama ini.
Dia terlalu percaya pada Seaven sehingga menitipkan Arumi pada pria itu padahal kekasihnya selalu tidak nyaman dengan Seaven.
"Perasaanmu pasti sangat hancur setiap kali aku mengirim Seaven padamu, maaf Sayang. Aku terlalu bodoh untuk menyadari semuanya."
Penyesalan demi penyesalan terus menghantui Liam, apalagi selama ini Arumi selalu mengatakan tidak nyaman tetapi ia hiraukan begitu saja.
....
"Seseorang ingin bertemu dengan anda, Tuan," ujar asisten Liam ketika melihat pria itu baru saja keluar dari ruang meeting bersama beberapa klien.
"Siapa?" Liam terus berjalan sambil melepas kancing jasnya karena terlalu lelah. Berusaha menutupi sekeras apapun, kantung matanya tidak bisa berbohong bahwa semalaman dia tidak tidur karena banyak hal.
"Tuan Rocky."
Langkah Liam berhenti, menoleh untuk menatap asistennya.
"Benar tuan Rocky sekarang ada di ruangan Anda."
Liam mengangguk pelan dan melanjutkan langkahnya menuju ruangan untuk menemui mantan calon ayah mertuanya. Pria paruh baya yang dengan kejam menutup kasus Arumi. Jujur saja Liam masih kesal pada tangan kanan papanya tersebut.
"Sudah lama, Om?" Duduk di hadapan Rocky setelah menyampirkan jaz nya di sandaran sofa.
"Baru tiba beberapa menit lalu."
Hening, baik Rocky atau pun Liam tidak ada lagi yang bersuara. Terlebih sejak pertengkaran mereka dimana Rocky menutup kasus kecelakaan Arumi, keduanya tidak pernah bertemu lagi.
"Saya masih ada pekerjaan Om." Melirik arloji di pergelangan tangannya.
"Saya datang untuk meminta maaf kepada Tuan muda karena kekeraskepalaan saya terhadap ...."
"Aku nggak menerima maaf Om, tapi aku mengerti kenapa om menutup kasus Arumi."
Kening Rocky mengerut, seolah bingung dengan ucapan Liam.
"Om menutup kasus Arumi sangat cepat sebab mengira pembunuhnya adalah Leon. Om nggak mau aku dan Leon berselisih kan? Dan dengan kejamnya om mengorbakan Arumi."
"Maaf Tuan Muda."
"Andai Arumi masih hidup bagaimana dia akan bereaksi melihat sikap om? Ayah yang sangat dia banggakan mengabaikannya karena kepentingan orang lain!"
"Kalian bukan orang lain Tuan Muda," sela Rocky. "Bahkan jika keturunan Alexander menginginkan nyawa saya, saya tidak keberatan," jawab Rocky tegas. "Maafkan saya karena membuat Tuan muda kecewa," ujar Rocky.
Pria paruh baya itu menundukkan kepalanya sebelum meninggalkan ruangan wakil direktur. Dia baru saja mendapatkan kabar bahwa bukan Leon pembunuhnya melainkan orang lain. Andai tahu sejak awal dia mungkin akan mengerahkan seluruh kekuasaannya untuk mencari tahu siapa pelaku sebenarnya.
Dia berbalik sebelum menutup pintu dan melihat Liam menundukkan kepalanya dengan tangan terkepal. Amarah mungkin saja menyelimuti pikiran dan hati Liam saat ini.
Setetes keringat dingin terjatuh di pangkuan Liam akibat berusaha menahan emosinya di tengah rasa kalut. Sampai saat ini pria itu belum memutuskan akan menghukum Seaven seperti apa.
Langsung melaporkannya kepada polisi seperti keinginan Leon dengan bukti yang ada, atau membunuh dengan tangannya sendiri agar dendamnya terbalaskan. Bisa saja ia mengambil resiko membunuh Seaven akan tetapi banyak hal yang harus dia pertimbangkan. Bukan perihal nyawa atau terluka.
Tapi tanggung jawab yang harus ia pikul. "Putra sulung Alexander membunuh sahabatnya sendiri" hanya sepenggal kalimat itu kerajaan Alexander akan goyah.
Tak
Suara cangkir yang diletakkan secara hati-hati berhasil mengambil perhatian Liam. Ia menatap tajam sang pelaku.
"Maaf Tuan, tapi sudah waktunya untuk minum obat. Ini perintah dari nyonya besar," ujar sang asisten.
"Letakkan saja," sahut Liam.
"Tuan."
"Hm." Pura-pura sibuk dengan laptopnya.
"Semua pekerjaan sudah selesai, kalau pun ada bisa saya tangani Tuan."
"Saya tidak bertanya."
"Ada baiknya Tuan Liam menemui Tuan Seaven agar tidak kepikiran terus menerus. Tanyakan alasan kenapa merencanakan pembunuhan bu Arumi," ucap sang asisten hati-hati.
"Tanpa bertanya aku sudah tahu alasannya. Dan saat ini aku tidak ingin melihat wajahnya, aku takut membunuhnya," batin Liam yang tatapannya menghunus tajam pada sang asisten, padahal pria di hadapannya tidak punya salah sama sekali.
"Saya akan bertemu seseorang, tapi kamu harus ikut!"
"Saya bersedia Tuan." sang asisten mengangguk cepat.
Keduanya pun meninggalkan kantor dan menuju rumah baru Seaven setelah menikah. Bukan bertemu Seaven, ia ingin bertemu seseorang yang sudah beberapa minggu ini hidup satu atap dengan pria itu. Dia ingin memastikan sesuatu.
Sampai saat ini egonya masih terluka setelah tahu fakta bahwa Seaven menyukainya. Dia berharap semuanya hanyalah mimpi. Liam sudah menganggap Seaven adalah saudaranya, tidak ada rahasia yang ia simpan pada pria itu termasuk Aruminya.
....
jijik