Kalimat 'Mantan Adalah Maut' rasanya tepat jika disematkan pada rumah tangga Reya Albert dan suaminya Reyhan Syahputra
Reyhan merasa jika dirinya yang hanya seorang staff keuangan tidaklah sebanding dengan Reya yang seorang designer ternama, setidaknya kata-kata itu yang kerap ia dengar dari orang-orang disekitarnya
Hingga pertemuannya dengan Rani yang merupakan mantan kekasihnya saat sekolah menengah menjadi awal dari kehancuran bahtera rumah tangga yang telah dibangun selama tujuh tahun itu
Apa yang akan terjadi pada pernikahan ini pada akhirnya? Dapatkah Reya mempertahankan rumah tangga yang ia bina walaupun tanpa restu dari orang tuanya? Atau pada akhirnya semua akan berakhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon e_Saftri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CTPS 32
"Ada temen yang nawarin aku pekerjaan diluar kota, gajinya lumayan. Biar uang bulanan Arlo gak berkurang lagi"
Reya terharu mendengarnya, sesulit apapun Reyhan, kebutuhan Arlo tetap menjadi prioritasnya
Sebenarnya Reya bisa menghidupi Arlo sendiri tanpa bantuan Reyhan, tapi dirinya tak ingin membuat pria itu merasa rendah
"Ya udah kamu masuk! Arlo adalah ada dikamarnya" Ujar Reya dan Reyhan mengangguk
Sambil menunduk pria itu berjalan melewati sepasang kekasih itu. Ia ikut bahagia jika Reya menemukan lagi cintanya
Terlebih pria ini sangat jauh jika dibandingkan dengan dirinya dari semua sisi
"Kamu gak jadi pulangnya?" Tanya Reya karena melihat Darren yang diam saja
"Aku disini sampai laki-laki itu pulang!" Darren duduk di sofa, ia cemburu melihat interaksi antara Reya dan mantan suaminya
Darren tak ingin jika keduanya kembali bicara dan menumbuhkan lagi rasa yang sempat terpendam
Bagaimanapun Reya pernah begitu sangat mencintai Reyhan
Tak lama Reyhan turun, Reya dan Darren yang tengah mengobrol ikut berdiri
"Udah ketemu Arlo nya?" Tanya Reya ramah
Reya bersikap baik karena ia telah berdamai dengan pengkhianatan Reyhan. Reya telah melupakan semuanya dan melanjutkan hidup
"Udah, dia sempet ngerengek, tapi sekarang udah tenang kok"
"Syukurlah"
Reyhan membawa pandangannya kearah pria yang setia berdiri disamping mantan istrinya itu
"Saya titip Reya dan Arlo sama kamu! Tolong jaga mereka dengan baik!" Ujar Reyhan pada Darren
"Tanpa kamu minta pun saya akan menjaga mereka, jadi kamu tenang saja!" Jawab Darren terdengar begitu dingin
"Aku pamit yaa Reya!"
Reya tersenyum dan mengangguk "Ayo! Aku anterin sampe depan!"
Baru saja ketiganya tiba di beranda rumah Reya, tiba-tiba saja sebuah mobil berhenti dihalaman
Revan keluar, matanya membulat melihat seorang pria yang beberapa bulan terakhir begitu ingin ia temui
Revan mendekat, tanpa banyak bicara pria itu melayangkan tinjunya tepat didepan wajah Reyhan
Bugh
"Breng___"
Reya hendak mendekat, mencoba memisahkan dua pria dewasa yang tengah saling adu jotos di halamannya
Sebenarnya hanya Revan yang memukul, karena Reyhan diam saja, pasrah menerimanya setiap pukulan yang Revan berikan
Reyhan sadar betul apa kesalahannya, siapapun pasti akan marah jika calon istrinya dihamili oleh pria lain
"Revan cukup!" Reya hendak maju namun Darren mencegah dengan memegang pergelangan tangannya
"Kamu mau kemana?"
"Mau misahin mereka, kamu gak liat itu!" Reya kesal pada kekasihnya itu
"Kamu bisa kena pukul Reya!"
"Nanti aku kena tegur pak RT!"
Darren hanya menghela napasnya begitu kekasihnya berlari menghampiri kedua pria yang tengah bertengkar itu
"Revan cukup Revan!" Reya menarik tangan sahabatnya namun emosi mulai menguasai pria itu
"Dia!" Revan menunjuk kearah wajah Reyhan "Dia yang sudah menghancurkan rencana pernikahan aku Reya!"
Revan berteriak, pria itu maju lagi lalu kembali melayangkan tangannya
Darren yang melihat keadaan makin tak terkendali memutuskan untuk maju, ia khawatir begitu melihat kekasihnya berada ditengah dua pria itu
Bugh
"REYA!" Darren terkejut, langkahnya cepat menuju sang kekasih yang sudah jatuh pingsan karena pukulan Revan
Revan terkejut, Reya jatuh tak sadarkan diri karena pukulannya yang salah sasaran. Itu karena Reya berdiri ditengah dan menghalangi pukulan yang sebenarnya ia tujukan pada Reyhan
"Reya!" Reyhan seketika melupakan rasa sakitnya, ia angkat kepala mantan istrinya itu keatas pangkuannya sambil ia tepuk pipinya "Reya bangun Reya!"
"Reya maafkan aku Reya!" Revan ikut bersimpuh, pria itu khawatir melihat sahabatnya yang sudah tak sadarkan diri
"Reya!" Wajah Darren terlihat khawatir, ia mendekat lalu mengambil alih kekasihnya dari pangkuan Reyhan
"Menjauh dari Reya!" Teriaknya pada dua pria itu "Sayang bangun sayang! Reya"
"Reya maaf!"
"Singkirkan tanganmu!" Darren menatap tajam pada Revan yang mencoba mendekati kekasihnya
Darren menggendong tubuh Reya ala bridal style, membawanya masuk kedalam rumah dan kedua pria yang tengah bertengkar itu mengikuti dari belakang
Darren membaringkan kekasihnya diatas sofa panjang sementara dirinya bersimpuh didepannya
"Sayang, bangun sayang!" Darren mengusap telapak tangan Reya agar wanita itu bangun
"Ini kenapa? Astaga Bu Reya!" Pekik bi Siti yang datang keruang tamu setelah mendengar suara bising
"Tolong ambilkan minyak kayu putih bik!" Titah Reyhan pada asisten rumah tangganya itu
"Iya pak!" Bi Siti masuk, tak lama wanita paruh baya itu datang dengan nampan berisi segelas air serta wadah berisi es batu dan handuk kecil
"Ini minyak kayu putih nya pak!" Bi Siti reflek memberikan minyak kayu putih itu pada Reyhan
"Berikan!" Dengan cepat Darren mengambil botol tersebut dari tangan Reyhan
Setelah beberapa saat dibalur kan dengan minyak kayu putih, perlahan wanita cantik itu mengerjap
Manik hitam nan indah itu terbuka, membuat semua orang merasa lega
"Sayang?" Darren naik, duduk disamping sang kekasih yang telah mengubah posisinya menjadi duduk
"Aww" Reya memegangi kepalanya yang terasa pusing, terlebih terdapat lebam di pelipisnya
"Mana yang sakit? Kita kerumah sakit yaa!" Darren terlihat begitu khawatir
"Aku gak pa-pa, cuma pusing aja!" Keluhnya sembari memijat keningnya
"Bu, sebaiknya lebamnya dikompres! Biar gak bengkak!" Ujar bi Siti
"Iya bi"
"Maafin gue Reya, tadi gue beneran gak sengaja!" Ujar Revan, ia merasa bersalah begitu melihat kondisi dari sahabatnya itu
"Mending kalian pergi deh! Gue gak mau sampe gue dapet masalah karena kalian berantem disini!"
Reya kesal, terlebih pukulan Revan benar-benar menyakitkan. Reyhan saja kesakitan apalagi dirinya yang hanya seorang wanita
"Maafkan aku Reya! Semua ini terjadi karena aku!" Ujar Reyhan penuh sesal
Bagaimanapun ia merasa pantas mendapatkan pukulan dari Revan, tapi karena hal itu Reya kesakitan seperti ini
"Sudahlah Rey, sebaiknya kalian pergi dari sini!" Usir Reya
"Tapi lo udah gak pa-pa kan?" Tanya Revan khawatir
"Gue gak pa-pa, udah sana!"
"Sebaiknya kalian pergi dari sini! Reya harus istirahat!" Ujar Darren, ia juga merasa kesal pada kedua pria itu
Pertengkaran mereka malah membuat kekasihnya terluka seperti ini
"Kalau gitu aku pamit yaa! Kamu sebaiknya istirahat dulu!" Ujar Reyhan lembut sebelum akhirnya ia meninggalkan rumah tersebut
"Re, lo beneran gak pa-pa kan?" Revan bersimpuh didepan sahabatnya itu membuat Darren kesal
"Kamu tuli yaa? Reya udah bilang pergi dari sini!" Ujar Darren dengan nada kesal
"Gue gak ngomong sama lo!" Revan kesal, menurutnya Darren menyebalkan karena terus memanggil Reya dengan panggilan sayang
"Lo pergi deh Van! Gue lagi kesel sama lo!" Ujar Reya kesal
"Ya udah gue balik dulu! Kalau ada apa-apa langsung telepon gue yaa!" Revan berdiri "Gue beneran minta maaf"
"Hmm" Reya membalas dengan gumaman