NovelToon NovelToon
DICERAIKAN SUAMI DINIKAHI SULTAN

DICERAIKAN SUAMI DINIKAHI SULTAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Mertua Kejam / Slice of Life / Pelakor jahat / Penyesalan Suami / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Romantis
Popularitas:323
Nilai: 5
Nama Author: niadatin tiasmami

Alya menikah dengan Arga bukan karena harta, melainkan cinta dan harapan akan keluarga yang hangat. Namun sejak hari pertama menjadi menantu, Alya tak pernah benar-benar dianggap sebagai istri. Di mata keluarga suaminya, ia hanyalah perempuan biasa yang pantas diperintah—memasak, membersihkan rumah, melayani tanpa suara. Bukan menantu, apalagi keluarga. Ia diperlakukan layaknya pembantu yang kebetulan menyandang status istri.
Takdir mempertemukan Alya dengan seorang pria yang tak pernah menilainya dari latar belakang—Sultan Rahman, pengusaha besar yang disegani, berwibawa, dan memiliki kekuasaan yang mampu mengubah hidup

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon niadatin tiasmami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12 Ngidam Yang Menggoda dan Cinta Yang Melindungi

Matahari pagi mulai menyinari ruang tamu rumah Sultan dan Alya yang terletak di kawasan pegunungan Batu, memberikan sentuhan hangat pada dinding-dinding yang dihiasi dengan karya seni dan foto-foto perjalanan mereka berdua. Udara segar dari lereng Gunung Banyak masuk melalui jendela yang terbuka, membawa aroma bunga kamboja dari taman belakang rumah. Alya sedang duduk di sofa empuk sambil melihat buku tentang nutrisi untuk ibu hamil, tangan kanannya secara tidak sengaja selalu berada di perutnya yang mulai sedikit membuncak – tanda bahwa kandungan yang berusia tiga bulan semakin tumbuh dengan sehat.

Sultan masuk ke ruangan dengan membawa cangkir teh hangat dan sebuah piring buah potong yang segar. Namun sebelum dia bisa memberikan makanan pada istrinya, Alya mendadak mengernyitkan dahi dan menarik napas dalam-dalam.

“Sayang, apa kamu tidak enak badan?” tanya Sultan dengan suara penuh kekhawatiran, segera menjemput Alya dan duduk di sebelahnya. Tangannya dengan lembut menyentuh dahi istrinya, memastikan bahwa suhu tubuhnya tidak naik.

Alya menggelengkan kepalanya dengan ekspresi yang sedikit bingung namun juga lucu. “Tidak, aku tidak sakit,” jawabnya dengan suara yang lembut. “Tapi aku tiba-tiba merindukan sesuatu yang sangat aneh, Sayang.”

Sultan mengangkat alisnya dengan rasa penasaran. Sejak dua minggu terakhir, Alya sering mengalami ngidam yang tak terduga – mulai dari kombinasi aneh antara buah durian dengan es krim vanilla hingga makanan pedas khas Jawa Timur yang biasanya tidak bisa dia konsumsi dalam jumlah banyak. Setiap kali ngidam itu datang, Sultan selalu berusaha sekuat tenaga untuk memenuhinya, meskipun terkadang harus melakukan perjalanan jauh hanya untuk mendapatkan makanan yang diinginkan istrinya.

“Apa yang kamu inginkan kali ini, cintaku?” tanya Sultan dengan senyum yang penuh perhatian, menggenggam tangan Alya dengan lembut. “Apakah kamu ingin makanan pedas lagi? Atau mungkin buah-buahan tertentu?”

Alya melihat ke arah suaminya dengan mata yang sedikit malu namun tetap tegas. “Aku ingin makan sate kambing muda yang dibakar dengan arang kelapa, dengan bumbu kacang yang diberi tambahan irisan mangga muda dan jeruk nipis,” ujarnya dengan suara yang semakin pelan seiring dengan menyampaikan permintaannya. “Dan yang paling penting – sate itu harus berasal dari pedagang yang berjualan di pinggir jalan dekat pasar tradisional Pasuruan, tepatnya di sudut jalan yang ada pohon jambu bijinya yang besar di sana.”

Sultan sedikit terkejut mendengarnya. Jarak dari rumah mereka di Batu ke Pasuruan sekitar lima puluh kilometer, dan biasanya pedagang sate itu hanya berjualan mulai dari jam delapan malam hingga tengah malam. Namun tanpa ragu sama sekali, dia berdiri dan mulai mengambil jasnya. “Baiklah, cintaku,” ujarnya dengan senyum yang hangat. “Aku akan pergi sekarang dan mencoba mencari sate itu untukmu. Kamu tinggal diam dan istirahat ya. Aku akan segera kembali.”

Namun Alya menarik tangan Sultan dengan cepat, membuatnya berhenti dan kembali duduk di sebelahnya. “Tidak usah sekarang juga, Sayang,” ujarnya dengan suara yang penuh rasa sayang. “Sudah larut malam nanti kamu bisa pergi saja. Aku tidak ingin kamu capek berpergian jauh hanya untuk memenuhi ngidamku yang tidak masuk akal ini.”

Sultan tersenyum dan mencium dahi Alya dengan lembut. “Tidak ada yang tidak masuk akal tentang keinginanmu saat hamil, cintaku,” jawabnya dengan suara yang penuh cinta. “Aku akan selalu melakukan apa saja untukmu dan untuk buah hati kita yang sedang tumbuh di dalam kandunganmu. Kamu dan dia adalah segalanya bagiku.”

Alya merasa matanya sedikit berkaca-kaca karena kehangatan kata-kata suaminya. Sejak mereka mengetahui bahwa akan menjadi orang tua, Sultan semakin memperhatikan dirinya – mulai dari mengatur jadwal istirahatnya hingga selalu memastikan bahwa makanan yang dikonsumsinya cukup sehat dan sesuai dengan kebutuhan tubuhnya. Bahkan ketika dia mengalami ngidam yang sangat aneh dan kadang-kadang tidak masuk akal, Sultan tidak pernah mengeluh atau menunjukkan ekspresi tidak senang.

“Kamu terlalu baik padaku, Sayang,” ujar Alya dengan suara yang lembut, menyandarkan kepalanya di bahu Sultan. “Aku tidak tahu apa yang akan kulakukan tanpa kamu.”

Sultan mengelilingi pinggang Alya dengan erat, merasa sangat bersyukur memiliki istri yang luar biasa seperti Alya. “Kamu juga telah memberikan banyak hal bagiku, cintaku,” jawabnya dengan suara yang penuh penghargaan. “Sebelum kamu datang ke dalam hidupku, aku merasa hidupku hanya berputar pada pekerjaan dan kesibukan sehari-hari. Namun sejak kamu ada, hidupku menjadi lebih berwarna dan memiliki makna yang lebih dalam.”

Mereka berdiam sebentar menikmati kedekatan mereka, dengan hanya suara jam dinding yang berdetak dan kipas angin yang berputar perlahan mengisi kesunyian di ruangan. Setelah beberapa saat, Alya tiba-tiba bangkit dengan ekspresi yang semakin jelas menunjukkan bahwa ngidamnya semakin kuat. “Sayang, aku tidak tahan lagi,” ujarnya dengan suara yang sedikit terengah-engah. “Rasanya aku benar-benar harus makan sate itu sekarang juga.”

Sultan tidak berlama-lama lagi. Dia segera mengambil kunci mobil dan memeriksa keadaan mobilnya yang sudah siap digunakan. Sebelum pergi, dia memanggil ibu mertuanya yang tinggal di rumah sebelah untuk menjaga Alya sementara dia pergi berbelanja. Ibu Rini – ibu dari Sultan – datang dengan senyum yang hangat dan segera memasak teh hangat untuk Alya sambil cerita-cerita tentang pengalaman ngidamnya sendiri ketika sedang hamil dengan Sultan dan kakaknya.

“Jangan khawatir ya, Nak,” ujar Ibu Rini dengan suara yang penuh kasih sayang, menyetrika rambut Alya dengan lembut. “Pada masa hamil, keinginan seperti itu adalah hal yang wajar. Sultan pasti akan dengan senang hati memenuhi keinginanmu. Dia sangat mencintaimu, kamu tahu kan?”

Alya tersenyum dan mengangguk dengan rasa terima kasih yang dalam. “Ya, Bu. Aku tahu itu dengan sangat jelas,” jawabnya dengan suara yang lembut. “Aku merasa sangat beruntung memiliki keluarga yang penuh cinta seperti ini.”

Sementara itu, Sultan sudah berada di jalan menuju Pasuruan dengan mobilnya yang melaju dengan aman di jalan raya yang sedikit sepi pada malam hari itu. Dia menyetir dengan hati-hati, namun juga dengan kecepatan yang cukup untuk sampai ke tujuan secepat mungkin. Sepanjang jalan, dia memikirkan tentang masa depan yang akan datang – tentang bagaimana dia akan menjadi ayah yang baik bagi anaknya, tentang bagaimana dia akan mengajarkan anaknya untuk menjadi orang yang baik hati dan penuh kasih sayang, serta tentang bagaimana dia akan selalu melindungi keluarga kecilnya dengan segenap kekuatannya.

Setelah sekitar satu jam berkendara, Sultan akhirnya tiba di lokasi yang disebutkan Alya. Di sudut jalan yang ada pohon jambu biji besar di sana, memang berdiri sebuah gerobak sate kecil dengan lampu neon yang menyala terang. Seorang pria tua dengan wajah penuh kedalaman usia sedang memasak sate di atas bara api yang merah menyala, sementara istrinya melayani pembeli yang tidak terlalu banyak pada malam hari itu.

“Pak, satu porsi sate kambing muda ya,” ujar Sultan dengan suara yang ramah saat mendekati gerobak sate. “Dengan bumbu kacang yang banyak dan tambahkan irisan mangga muda serta jeruk nipis ya, Pak.”

Pedagang sate tersebut tersenyum dan segera menyajikan sate sesuai dengan permintaan Sultan. Saat menunggu sate matang, Sultan berbincang sebentar dengan pedagang tersebut dan mengetahui bahwa dia telah berjualan sate di tempat yang sama selama lebih dari dua puluh tahun. Nama pedagang tersebut adalah Pak Suroso, dan dia menjual sate yang dibuat dari kambing yang dipelihara sendiri di desa dekat lereng Gunung Bromo.

“Bumbu kacangnya aku buat sendiri dari resep nenek moyang, Pak,” ujar Pak Suroso dengan suara yang penuh kebanggaan. “Banyak orang yang datang dari jauh hanya untuk mencicipi sate dan bumbu kacangku yang khas ini.”

Setelah sate matang dan siap dibungkus, Sultan membayar dengan jumlah yang lebih banyak dari harga sebenarnya dan menolak kembalian yang ditawarkan Pak Suroso. “Ini untukmu, Pak,” ujarnya dengan senyum yang hangat. “Terima kasih telah membuat makanan yang lezat ini. Istriku yang sedang hamil sangat merindukannya.”

Pak Suroso merasa sangat terhormat dan memberikan tambahan beberapa tusuk sate serta potongan mangga muda yang lebih banyak. “Semoga istri dan anaknya sehat selalu ya, Pak,” ujarnya dengan doa yang tulus. “Makanan yang dibuat dengan cinta akan selalu memberikan berkah bagi yang memakannya.”

Sultan mengucapkan terima kasih dan segera bergegas kembali ke mobilnya untuk pulang ke Batu. Perjalanan pulang terasa lebih cepat karena dia merasa senang telah mendapatkan makanan yang diinginkan Alya. Sepanjang jalan pulang, aroma sate yang harum memenuhi dalam mobilnya, membuatnya semakin tidak sabar untuk segera sampai di rumah dan melihat senyum bahagia di wajah istrinya.

Ketika dia tiba di rumah sekitar jam dua pagi, Alya dan Ibu Rini masih sedang duduk di ruang tamu sambil menunggu dia datang. Alya langsung berdiri dengan mata yang bersinar ketika melihat Sultan masuk membawa bungkusan sate yang masih hangat. Tanpa berlama-lama lagi, mereka segera memasak nasi hangat dan menyajikan sate tersebut di atas meja makan yang telah disiapkan dengan baik.

Alya mengambil satu tusuk sate dan memasukkannya ke dalam mulutnya dengan penuh harapan. Ketika rasa sate yang lezat dan bumbu kacang yang khas menyentuh lidahnya, wajahnya langsung menunjukkan ekspresi kepuasan yang luar biasa. “Ini memang rasanya yang aku cari, Sayang,” ujarnya dengan suara yang penuh kegembiraan. “Sangat lezat sekali!”

Sultan tersenyum dengan senang hati melihat ekspresi bahagia di wajah istrinya. Dia juga mengambil beberapa tusuk sate dan menikmatinya bersama Alya, sementara Ibu Rini memilih untuk hanya makan sedikit dan kemudian kembali ke rumahnya untuk istirahat. Mereka makan dengan santai, berbincang tentang berbagai hal – mulai dari bagaimana rasanya akan menjadi orang tua hingga rencana mereka untuk merenovasi kamar yang akan digunakan sebagai kamar anak nanti.

Setelah selesai makan dan membersihkan meja makan, mereka pergi ke kamar tidur untuk istirahat. Alya merasa sangat lelah namun juga sangat puas setelah mendapatkan makanan yang dia inginkan. Sultan membantu dia membersihkan wajah dan mengoleskan losion pada perutnya yang mulai tumbuh, sebuah rutinitas yang mereka lakukan setiap malam untuk merawat kesehatan dan keamanan kandungannya.

“Terima kasih banyak telah pergi jauh-jauh hanya untuk memenuhi ngidamku yang aneh ini, Sayang,” ujar Alya dengan suara yang lembut, sedang terlentang di atas tempat tidur yang empuk. “Aku sangat mencintaimu.”

Sultan membungkuk dan mencium bibir Alya dengan lembut. “Aku juga sangat mencintaimu, cintaku,” jawabnya dengan suara yang penuh cinta. “Dan aku akan selalu melakukan apa saja untukmu dan untuk buah hati kita. Kamu adalah segalanya bagiku.”

Mereka saling memeluk erat, merasa sangat bahagia dan penuh rasa syukur atas semua hal yang telah mereka miliki. Sebelum tertidur, Alya mengangkat kepalanya dan melihat ke arah suaminya dengan ekspresi yang penuh kasih sayang. “Sayang,” ujarnya dengan suara yang lembut. “Besok aku ingin makan lontong balap yang dijual di pasar tradisional Malang, yang ada di dekat gerobak tahu isi yang selalu kamu belikan aku saat kita masih pacaran dulu.”

Sultan tersenyum dan mencium dahinya dengan lembut. “Baiklah, cintaku,” jawabnya dengan suara yang penuh kesediaan. “Besok pagi kita akan pergi ke sana bersama-sama. Aku juga sudah merindukan rasa lontong balap itu.”

Alya tersenyum bahagia dan kembali menyandarkan kepalanya di dada Sultan, merasa sangat aman dan nyaman di pelukan suaminya. Dalam hati, dia berdoa bahwa anak mereka akan memiliki hati yang baik dan penuh kasih sayang seperti Sultan, serta semangat kreatif dan tekun seperti dirinya sendiri. Dia juga berdoa bahwa mereka akan selalu bisa menjalani hidup dengan penuh cinta dan kebahagiaan, tanpa pernah melupakan arti pentingnya keluarga dan persahabatan yang tulus.

Di luar jendela kamar tidur, bulan mulai muncul dari balik awan yang tebal, menyinari taman belakang rumah dengan cahaya yang lembut dan romantis. Udara segar dari pegunungan membawa aroma bunga yang harum, menciptakan suasana yang sangat damai dan nyaman. Sultan dan Alya saling memeluk erat, tertidur dengan penuh kedamaian dan harapan akan masa depan yang lebih baik.

Beberapa hari kemudian, ketika mereka sedang berjalan-jalan di pasar tradisional Malang untuk membeli lontong balap yang diinginkan Alya, mereka bertemu dengan Arga yang sedang bersama beberapa siswa dari sekolah seni Batu untuk membeli bahan-bahan kerajinan tangan. Arga langsung menyapa mereka dengan senyum yang hangat dan menunjukkan kegembiraannya saat mengetahui bahwa Alya sedang hamil.

“Semoga kamu selalu sehat ya, Alya,” ujar Arga dengan suara yang penuh penghargaan. “Dan semoga kamu mendapatkan semua yang kamu inginkan selama masa hamilmu ini.”

Alya tersenyum dan mengangguk dengan rasa terima kasih yang dalam. “Terima kasih banyak, Arga,” jawabnya dengan suara yang lembut. “Kamu juga harus segera menemukan kebahagiaanmu sendiri ya.”

Arga tersenyum dan mengangguk dengan penuh keyakinan. “Aku yakin saatnya akan tiba juga untukku,” ujarnya dengan suara yang penuh semangat. “Untuk saat ini, aku cukup bahagia bisa melihat kamu dan Sultan begitu bahagia bersama-sama.”

Mereka berbincang sebentar lagi sebelum akhirnya berpisah untuk melanjutkan aktivitas masing-masing. Saat Sultan dan Alya berjalan menjauh dengan tangan yang saling memegang erat, Arga melihat mereka dengan hati yang penuh rasa syukur dan kebahagiaan. Dia merasa sangat bersyukur telah mengambil keputusan yang tepat untuk melepaskan Alya dengan tulus, sehingga wanita yang dia cintai bisa menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya bersama orang yang benar untuknya.

Untuk Sultan dan Alya, perjalanan mereka sebagai pasangan suami istri yang akan segera menjadi orang tua baru saja dimulai. Meskipun mereka tahu bahwa akan ada banyak tantangan dan kesulitan yang harus dihadapi di masa depan, mereka juga tahu bahwa dengan cinta dan dukungan yang mereka miliki satu sama lain, serta dengan dukungan dari keluarga dan teman-teman mereka yang terkasih, mereka akan mampu mengatasi segala hal dan menjalani hidup dengan penuh kebahagiaan dan makna yang mendalam.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!