Gavin adalah seorang playboy yang tak bisa hidup tanpa wanita, entah sudah berapa banyak wanita yang berakhir di ranjangnya, hingga akhirnya ia bertemu dengan Kanaya, seorang gadis suci yang menggetarkan hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Swan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rangga
"Nay... Sekarang kamu keluar dari mobil itu kita bicara, kalo nggak...."ucapan pria itu terjeda ketika Kanaya akhirnya keluar dari mobil Gavin, begitu pun Gavin yang ikut turun dan berdiri di samping Kanaya.
"Kalo ngga, kenapa?"tanya Kanaya, sementara pemuda itu masih terpaku melihat gadis cantik yang sudah beberapa minggu ini ia rindukan itu kini ada di hadapannya, pemuda itu tampak berkaca-kaca melihat kehadiran Kanaya.
"Apa lagi yang kamu mau sih Ga?"
"Buat apa lagi kamu cari aku, setelah semua yang udah kamu lakuin ke aku?"
"Bisa kan kamu biarin aku bahagia, bukanya kamu juga sekarang udah ada silvya?"
"Kenapa kamu sampai ada di sini sekarang, untuk apa?"tanya Kanaya beruntun, yang tak mendapat jawaban apapun dari pria di hadapannya.
Pemuda itu masih setia memandang Kanaya dalam diam, tanpa menjawab Kanaya pria itu tiba-tiba melangkah mendekat, dan langsung memeluk Kanaya, membuat Kanaya memberontak.
"Nay, aku kangen banget sama kamu, maafkan aku Nay, percaya sama aku Nay, aku sayang banget sama kamu, aku cinta sama kamu."ucap pria itu. Sementara Kanaya tak menggubris ucapannya dan terus memberontak dalam pelukannya.
Gavin yang berada di samping Kanaya baru saja akan menarik paksa Kanaya dan memukul pria yang kini sedang memeluk Kanaya, sebelum pria itu tiba-tiba melepaskan pelukan nya, lalu berluntut dan memeluk erat kaki Kanaya .
Kanaya tampak terpaku dengan sikap pria itu, dan tak lagi menggebu-gebu seperti sebelumnya.
"Maaf Nay,,,,"ucap pria itu lalu terdengar isakan yang membuat Gavin shock melihat tindakannya, pasalnya sebagai seorang laki-laki, sefatal apapun kesalahannya Gavin tak pernah merendahkan diri di hadapan wanita seperti yang di lakukan oleh pria di hadapan Kanaya.
"Aku memang salah Nay, aku akui aku salah Nay, aku khilaf...hiks.Tapi aku bersumpah aku gak pernah mencintai dia seperti aku mencintai kamu, semua itu aku lakukan murni karna nafsu bejat aku Nay!"lanjut pria itu dalam tangisnya.
"Sylvia murni cuma temen aku Nay, aku gak pernah cinta sama dia."Lirihnya, lalu tangan yang tadi memeluk kaki Kanaya itu terlepas, dan berusaha menggapai tangan Kanaya kemudian menggenggamnya.
"Berapa lama?"tanya Kanaya yang Tiba-tiba bersuara dengan suara bergetar menahan tangis.
"Berapa lama kamu kayak gitu sama dia?" Lanjut kanaya, membuat pria itu terdiam.
"S-Sekitar satu tahun Nay... Maaf."jawab pria itu dengan suara pelan dan gagap, namun masih di dengar oleh Kanaya maupun Gavin.
"Nay, kamu ingat kan, aku pernah ngajakin kamu ngelakuin itu pas aniv ke dua kita, dan kamu nolak, saat itu aku sempat kecewa sama kamu Nay, terus aku cerita ke silvya karna dia satu-satunya teman yang aku anggap dekat, dan silvya tiba-tiba ngajak aku ngelakuin itu sama dia, tapi kita gak pake perasaan Nay, aku tau ini kesalahan terbesar aku Nay, aku benar-benar minta maaf, aku akan berubah Nay."
Sementara Kanaya tak lagi dapat bersuara mendengar kejujuran Rangga, pria itu adalah Rangga, mantan pacar Kanaya yang telah menyelingkuhi Kanaya dulu.
"Aku akan berubah Nay, aku gak akan melakukan kebodohan lagi, kamu satu-satunya gadis yang aku cintai Nay, aku gak mau kehilangan kamu."jelas Rangga.
"Tapi kamu udah kehilangan aku, bahkan di saat pertama kali kamu melakukan itu sama silvya Ga."
"Aku pernah bilang kan, satu-satunya kesalahan yang gak akan aku maafkan kalo kamu melakukannya adalah, kalo kamu... Selingkuh dari aku."
"Aku minta maaf Ga, aku pun salah di sini, aku gak bisa memberikan apa yang kamu minta, karna itulah kamu melakukannya sama orang lain, tapi itu prinsip yang gak akan aku ubah sekalipun aku sangat mencintai kamu, aku hanya akan melakukan itu dengan pria yang udah sah jadi suami aku."
"Kita udah selesai Ga... Aku gak bisa lagi kembali sama kamu, maaf..."ucap Kanaya, lalu menunduk dan menatap Rangga sendu.
"Kita jalani hidup kita masing-masing tanpa ada lagi yang perlu di sesali ya Ga, mungkin tuhan belum mengizinkan kita bersama, apapun alasan perpisahan kita, ini memang udah jalannya."
"Kamu gak perlu lagi merasa bersalah sama aku Ga, aku akan baik-baik aja, aku udah ikhlasin semua nya, termasuk hubungan kita."lanjut Kanaya sambil tersenyum lembut, tak ada lagi airmata yang membasahi pipinya, Kanaya benar-benar sudah mengikhlaskan kisah cintanya yang telah berakhir.
"Ngga Nay, aku gak mau... Aku gak mau pisah sama kamu," Ucap Rangga, lalu berdiri dan berusaha untuk menarik kembali Kanaya ke dalam pelukannya, namun kali ini Gavin sigap menghalangi gerakan Rangga. Sementara Kanaya berjalan mundur dan bersembunyi di balik tubuh Gavin.
"Lo siapa, jangan ikut campur!"teriak Rangga pada Gavin.
"Dia udah gak mau sama lo, lo gak usah maksa men!"jawab Gavin lalu mendorong Rangga yang berusaha menyingkirkannya.
"Lo siapa anjing, gue bilang jangan ikut campur!"Teriak Rangga semakin murka.
"Gue orang yang akan selalu melindungi dia, jadi sekarang lo pergi, sebelum gue panggil polisi."Ucap Gavin.
"Nay... Kamu gak bisa kaya gini, kita gak bisa putus Nay, kamu selamanya punya aku, Nay."teriak Rangga, Kanaya yang melihat Rangga terlihat semakin menggila akhirnya masuk kembali ke dalam mobil Gavin.
Kanaya langsung duduk di bangku kemudi, dan menjalankan mobil Gavin, memarkir mobil untuk bisa keluar ke arah gerbang rumahnya, lalu memanggil Gavin." Gav... Ayo!"teriaknya.
Gavin yang mengerti situasi, langsung masuk kedalam mobil nya, setelah itu mereka pun meninggalkan Rangga yang masih mematung menatap kepergian mantan kekasihnya, yang begitu cepat, membuatnya tak bisa langsung mengejarnya.
"Nay....! Kanaya...! kamu pasti bakal kembali lagi sama aku Nay...!"teriak Rangga sambil berusaha mengejar mobil Gavin dengan berlari namun akhirnya mobil itu hilang dari pandangannya.
Rangga terduduk sambil terisak menangisi kepergian Kanaya, Rangga menyadari bahwa kesalahannya pada Kanaya sangat lah besar, namun Rangga pun tak bisa mengikhlaskan begitu saja hubungan mereka selama ini, di saat hanya Kanaya lah gadis yang benar benar dia cintai, sekali pun harus terus mengemis di hadapan Kanaya untuk bisa mengembalikan hubungannya, maka Rangga akan terus melakukannya sampai Kanaya sudi kembali ke pelukannya.
---
Sementara itu, Kanaya dan Gavin kini tengah berada di dalam mobil menuju ke tempat tujuan yang di putuskan oleh Gavin, Gavin sudah kembali mengemudikan mobilnya, dengan Kanaya yang menatap kosong ke arah jendela si sampingnya.
"Lo yakin, mau gue bawa ke pantai?"Tanya Gavin. Tadi saat mereka berganti tempat duduk Gavin memang sempat menanyakan tujuan Kanaya, dan Kanaya memintanya membawanya ke tempat yang bisa membuatnya lebih tenang,bkarna itu lah Gavin memutuskan akan membawa Kanaya ke pantai dan berharap Kanaya bisa merasa lebih baik disana.
"Hmmm...."jawab Kanaya yang hanya memberikan deheman singkat untuk menjawab pertanyaan Gavin.
Gavin dan Kanaya sama sama terdiam kembali tanpa ada yang berniat membuka percakapan, sampai suara dering telpon Kanaya terdengar. Tanpa melihat si penelpon Kanaya menjawab telfon nya.
"Hallo..."ucap Kanaya.
"Nay... gimana, nanti jadikan?"Tanya Raihan di sebrang sana. Kanaya menepuk keningnya, mengingat dia tadi memiliki janji dengan Raihan.
"Mmmm, maaf Rai, kayaknya gue gak bisa, tiba-tiba gue ada masalah sedikit, gue sekarang harus pergi ke suatu tempat sama temen gue."jawab Kanaya, Kanaya meringis merasa bersalah karna lagi-lagi harus berbohong pada Raihan.
"Apa? Lo ada masalah, tapi lo gak apa-apa kan, Nay?"tanya Raihan suaranya terdengar panik.
"Ngga kok Rai, gue baik-baik aja kok, nanti gue cerita sama lo, gue tutup dulu ya."jawab Kanaya.
"Ok Nay hati hati, kalo ada apa-apa kabarin gue."ucap Raihan. Kanaya pun mengangguk seolah Raihan dapat melihatnya kemudian memutuskan panggilan mereka.
Kanaya menghela nafas, merasa bersalah, menapa lagi-lagi dia ada di posisi yang membuatnya sulit mengatakan kejujuran pada Raihan sekarang, kenapa lagi-lagi dia harus terjebak dalam kondisi yang cukup rumit bersama Gavin, entahlah memikirkannya membuat Kanaya semakin pusing.
---
Mobil terus melaju membawa Kanaya dan Gavin ke sebuah pantai yang cukup indah, tak banyak orang disana membuat Kanaya bisa mendapatkan ketenangan yang di carinya.
Kanaya dan Gavin kini duduk di sebuah kursi yang berada di bawah sebuah pohon besar yang rindang, sepertinya kursi itu memang sengaja di buat agar orang yang duduk di sana lebih merasa nyaman.
"Jadi tadi itu mantan lo, yang namanya Rangga?"tanya Gavin, sedari tadi dia sudah ingin menanyakan pada Kanaya. Kanaya mengangguk, tanpa menjawab pertanyaan Gavin.
"Lo nyesel gak, sama keputusan yang lo ambil sekarang?"tanya Gavin lagi, Kanaya pun hanya menggelengkan kepalanya, sebagai jawaban membuat Gavin menghela napas.
"Kalo lo gak menyesali keputusan lo, lo harus baik-baik aja sekarang, jangan menangisi apalagi terpuruk karna orang yang udah nyakitin lo."ucap Gavin, yang membuat Kanaya akhirnya menatapnya.
"Hati gue sakit Ga...."ucap Kanaya ,matanya tiba-tiba kembali berkaca kaca.
"Dia adalah orang yang selama tiga tahun ini menemani gue, dia orang yang paling tau siapa gue, dia orang yang gue pikir, akan jadi malaikat pelindung gue, pendamping hidup gue ,dan sekarang.... Tiba tiba gue tau selama setahun ini ternyata dia bohongin gue, hati gue sakit Gav."Lirih Kanaya, air matanya tiba-tiba terjatuh lagi untuk kesekian kalinya.
"Nay... Seperti yang lo bilang tadi sama dia, mungkin ini adalah cara tuhan misahin kalian, karna dia bukan yang terbaik buat lo, begitu pun lo buat dia."
"Mau sebanyak apapun air mata yang lo buang, gak akan mengubah apapun, Nay."
"Yang bisa lo lakuin sekarang cuma dua hal, pertama lo memaafkan dia dan melupakan semua kesalahan dia dulu sama lo, dan memulai kembali hubungan kalian.
"Atau lo maafkan dia, dan lupakan dia... Mulai hidup lo tanpa dia mulai sekarang, sudahi sesi nangis lo, karna gue yakin lo udah cukup lama nangisin dia."tutur Gavin, yang entah dari mana kata-kata itu berasal, karna tiba-tiba keluar dari mulutnya begitu saja, karna Gavin bukanlah penasehat yang baik, dia tak pernah menasihati orang sebelumnya. Mungkin kanaya adalah orang pertama untuknya.
Bukanya isakan itu berhenti, Kanaya justru semakin menjadi, membuat Gavin akhirnya menarik tubuh itu kepelukannya, tak ada lagi yang dapat Gavin lakukan, karna Gavin tak pernah memenangkan seorang perempuan sebelumnya.
Kanaya memeluk Gavin erat menyalurkan rasa sakit di hatinya selama ini, Gavin pun membalas pelukan itu tak kalah erat, entah kenapa ada rasa sesak di hatinya, melihat Kanaya dengan tangisnya.
---
Senja sudah berlalu, jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam, Gavin dan Kanaya akhirnya memutuskan untuk meninggalkan pantai, namun mereka belum memutuskan akan kembali kemana, karna yang sekarang mereka tuju terlebih dahulu adalah sebuah resto cepat saji untuk makan malam.
"Gav... Makasih ya."ucap Kanaya, di sela makan malam mereka, Gavin menganggukan kepalanya.
"Sama sama, jangan nangis lagi, karna gue gak suka liatnya."jawab Gavin yang membuat Kanaya tersenyum.
"Oke, Makasih yaa."ucap Kanaya, Gavin ikut tersenyum kemudian mengacak rambut Kanaya, membuat debaran aneh di jantung Kanaya.
"Jadi ,sekarang lo mau gue anter kemana?"tanya Gavin. Membuat Kanaya merenung, dia tak tau harus pulang kemana, karna dia cukup takut ,bila kembali ke rumahnya saat ini, dia takut akan bertemu lagi dengan Rangga disana.
Rangga adalah type pria yang akan berjuang untuk sesuatu yang benar-benar di inginkannya, karna itulah dulu Kanaya luluh dan jatuh kepelukannya.
Dulu Rangga rela setiap hari datang ke rumahnya untuk bisa berangkat bersamanya, walaupun berkali-kali di tolak oleh Kanaya sampai Kanaya akhirnya menerimanya, begitu pun perasaannya yang berkali-kali di tolak namun akhirnya Kanaya pun membalas perasaannya. Dan sekarang pun Kanaya yakin Rangga akan melakukan hal sama untuk membawa Kanaya kembali padanya.
"Gue gak tau, masih bingung juga."jawab Kanaya.
"Lo gak ada saudara disini?"tanya Gavin yang mengerti ke khawatiran Kanaya untuk kembali kerumah nya. Kanaya menggeleng, dia tak memiliki siapapun di kota ini.
"Teman?"tanya Gavin lagi.
"Karina."jawab Kanaya,
"Karina masih di apartemen Alex."Ucap Gavin, sejak kejadian malam itu Karina memang masih betah di apartemen Alex entah apa alasannya, dari mana Gavin tau, jawabannya tentu saja Alex yang mengabarinya.
"Raihan..."ucap Kanaya, yang tiba-tiba mengingat Raihan, haruskah Kanaya meminta bantuan pria itu, untuk memberinya tumpangan.
"Jangan Raihan,."ucap Gavin cepat. Entah kenapa Gavin merasa tak rela bila Kanaya harus berlama -lama dengan sahabatnya itu, sebenarnya bukan hanya Raihan, Gavin rasanya tak rela bila Kanaya bersama pria lain selain dirinya.
"Kalo nginep di apartemen lo, semalam lagi boleh...?" Tanya Kanaya.
-Bersambung