Sejak kecil, Shen Yuhan, sang putri mahkota, telah ditinggalkan orang tuanya. Ketiadaan kasih sayang dan pendidikan yang layak membuatnya tumbuh menjadi gadis yang polos, naif, dan mudah dibodohi. Ia hanya tahu bersenang-senang dan menghabiskan waktunya dengan para pria. Alhasil, saat ia diangkat menjadi Maharani, ia tak lebih dari boneka yang dikendalikan oleh para menteri dan pejabat licik yang haus kekuasaan.
Satu-satunya orang yang tulus mencintainya adalah suaminya, Mu Liu. Namun, sang pangeran kelima ini harus hidup dalam bayang-bayang luka perang besar yang membuat tubuhnya cacat dan lumpuh. Penampilannya yang buruk membuat Yuhan tak pernah meliriknya, apalagi membalas cintanya.
Semua berubah ketika seorang pembunuh bayaran dari abad ke-21, yang dikenal kejam dan tak kenal ampun, tiba-tiba terbangun di dalam tubuh Shen Yuhan. Roh aslinya telah tiada, digantikan oleh jiwa yang dingin dan mematikan.
Kini, dengan kecerdasan dan kekuatan barunya, sang Maharani boneka itu bangkit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MAHARANI 31
Aula Keharmonisan yang baru saja menyaksikan kemurkaan sang Phoenix mendadak sunyi senyap. Kemenangan Yuhan atas para pengkhianat harus dibayar mahal. Tubuh tegaknya tiba-tiba limbung.
"Uhuk! Uhuk!"
Darah kental kehitaman sisa-sisa racun dan energi negatif yang mengendap, menyembur dari bibirnya, mengotori lantai marmer putih. Dalam sekejap, mata Yuhan berputar ke atas dan tubuhnya ambruk.
"KAKAK!" Shen Lan berteriak histeris, melompati barisan meja menteri untuk menangkap tubuh kakaknya. Jenderal Shue segera menghunus pedang, menjaga perimeter agar tidak ada menteri yang memanfaatkan kesempatan ini untuk menyerang balik.
Yuhan dilarikan kembali ke Istana Chiangnang. Begitu tubuhnya menyentuh ranjang naga, kesadarannya pulih sesaat, namun matanya memerah menahan sakit yang tak terbayangkan. Ia merasakan aliran tenaga dalam Tetua Mo dan energinya sendiri saling bertabrakan, seperti dua naga yang bertarung memperebutkan wilayah di dalam pembuluh darahnya.
"Keluar... semuanya keluar!" perintah Yuhan, suaranya parau namun penuh otoritas.
"Tapi Kakak, kondisi Kakak—"
"KELUAR, SHEN LAN! Itu perintah!" raung Yuhan.
Begitu pintu ditutup rapat dan istana dikosongkan, Yuhan mencengkeram gelang giok di pergelangan tangannya. Dengan sisa tenaga yang ada, ia memejamkan mata. Dalam sekejap, udara dingin istana berganti menjadi aroma manis yang menyegarkan dan energi spiritual yang murni. Ia telah berada di Ruang Dimensi Ajaib.
Yuhan merangkak menuju sebuah gua kecil di sudut dimensi, tempat di mana Tambang Batu Suci tersembunyi. Di sana, energi terkonsentrasi sejuta kali lebih kuat daripada dunia luar. Ia meminum seteguk Air Dewa dari mata air abadi, lalu tangannya meraih tiga buah batu suci: Biru (Es), Merah (Api), dan Hijau (Kehidupan).
"Jika aku tidak bisa mengendalikan energi ini, aku akan hancur dari dalam," bisiknya pada diri sendiri.
Yuhan duduk bersila. Batu-batu itu melayang di sekelilingnya. Panas luar biasa dari elemen api mulai membakar jalur meridiannya, disusul rasa dingin membeku dari elemen es. Di tengah-tengahnya, elemen hijau mencoba menjahit kembali sel-sel yang rusak.
"AAAGGHHH!"
Tubuh Yuhan terangkat dari tanah, terbungkus pusaran cahaya tiga warna. Energi spiritual dari dimensi itu tersedot masuk ke pori-pori kulitnya seperti pusaran air. Rasa sakitnya begitu hebat hingga ia kembali memuntahkan darah segar.
"Aku... tidak boleh mati konyol di sini. Mu Lian... aku harus mencarinya!"
Yuhan menelan Pil Penguat Tubuh dari apotek dimensinya. Ia sadar, energi yang ia serap terlalu besar untuk hanya didiamkan. Ia harus mengeluarkannya. Yuhan bangkit, gerakannya liar. Ia mulai meluncurkan serangan ke arah tebing-tebing batu di dalam dimensinya.
DUAR! DUAR! BLAAAR!
Ledakan tenaga dalam menghancurkan bebatuan besar menjadi debu. Yuhan melompat dari satu dahan pohon raksasa ke dahan lainnya, melepaskan gelombang energi dari telapak tangannya. Setiap ledakan membuat dadanya terasa lebih ringan. Keringat hitam keluar dari tubuhnya, membawa sisa racun yang membelenggunya.
Ia kembali duduk bersila, memusatkan sisa energi ke titik Dantian.
"Sekarang... naiklah!"
BOOOM!
Gelombang kejut dahsyat menyapu seluruh dimensi, menggugurkan daun-daun di pepohonan. Yuhan membuka mata. Pupilnya berkilat dengan cahaya keemasan yang tajam. Ia telah berhasil menembus Tingkat Keempat: Pemurnian Qi, setara dengan Shen Lan.
"Hebat... tapi tubuh ini masih terlalu manja," gumam Yuhan sambil menatap tangannya. Ia berdiri, merasa luka dalamnya telah menutup sepenuhnya. Namun, hatinya mendadak perih. Keberhasilannya terasa hambar tanpa sosok pria yang biasanya duduk diam di kursi roda memperhatikannya. "Lian... tunggu aku."
...**********...
Tiga hari telah berlalu di dunia luar sejak tragedi di jurang. Di sebuah kuil tua yang tersembunyi di balik lebatnya hutan dasar jurang, suasana sangat sunyi. Bau hio dan kayu bakar memenuhi ruangan kecil tersebut.
Xiao Qingmei, seorang gadis bangsawan yang mengasingkan diri untuk bersembahyang, sedang mengganti kain basah di dahi seorang pria yang ia temukan tersangkut di akar pohon raksasa di pinggir sungai.
Pria itu adalah Mu Lian. Zirah perangnya telah dilepas, menyisakan jubah dalam yang koyak. Luka-lukanya telah dibersihkan oleh Qingmei dengan ramuan hutan sederhana. Anehnya, luka luar Mu Lian sembuh dengan kecepatan yang tidak masuk akal, kemungkinan besar karena sisa-sisa energi spiritual yang pernah diberikan Yuhan melalui pengobatan jarum perak sebelumnya.
"Siapa sebenarnya kau, Tuan?" bisik Qingmei. Ia terpesona oleh garis wajah Mu Lian yang tegas namun tampak rapuh dalam tidurnya.
Tiba-tiba, jemari Mu Lian bergerak. Kelopak matanya bergetar hebat. Nafasnya yang tadi tenang berubah menjadi memburu.
"Yu... Yu... Han..." gumam Mu Lian, suaranya sangat serak. "Yuhan... lari..."
Qingmei mendekatkan telinganya. "Yuhan? Siapa itu? Apakah dia istrimu?"
Mu Lian tidak menjawab. Ia masih terjebak dalam mimpi buruk malam itu, saat ia melihat Yuhan menangis di bibir jurang. Dalam ketidaksadarannya, energi Qi di dalam tubuh Mu Lian mulai bergejolak. Meskipun ia belum bisa bangun, aura dominan seorang Jenderal Besar mulai terpancar, membuat Qingmei merasa merinding ketakutan.
Qingmei tidak menyadari bahwa pria yang ia selamatkan adalah kunci dari stabilitas seluruh kekaisaran. Ia juga tidak tahu bahwa di atas sana, seorang Maharani yang baru saja bangkit dari kematian sedang memobilisasi ribuan pasukan untuk meratakan hutan ini demi menemukannya.
Yuhan kembali ke dunia nyata, muncul di tengah kamarnya yang sunyi. Ia berganti pakaian dengan jubah tempur ringkas berwarna hitam perak. Begitu ia membuka pintu istana, Shen Lan yang sedang tertidur di lantai depan pintu langsung tersentak bangun.
"Kakak! Kau... kau sudah sembuh? Dan aura ini... kau naik tingkat!" Shen Lan terbelalak, nyaris bola matanya melompat keluar
"Tidak ada waktu untuk penjelasan, Lan," jawab Yuhan tegas. "Siapkan pasukan elit. Bawa anjing istana terbaik. Kita akan turun ke dasar jurang hari ini juga. Dan beri tahu Wu Sheng, jika kita tidak menemukan Mu Lian sebelum matahari terbenam, aku akan membakar seluruh hutan ini hingga tak tersisa satu pohon pun!"
"Laksanakan, Yang Mulia!"
Yuhan menatap ke arah cakrawala. Lian, jika kau masih hidup, berikan aku tanda. Jika kau mati... maka dunia ini akan ikut mati bersamamu.
lama2 bakalan bucin...