Ditinggalkan oleh calon suami seminggu sebelum pernikahan nya membuat hati Alina hancur lebur. Belum mendapatkan jawaban akan maksud calon suaminya yang meninggalkan dirinya, Alina kembali dikejutkan beberapa bulan kemudian akan permintaan pria yang belum menghilang dari hatinya itu.
"Aku mohon padamu, tolong rawat bayi ini. Aku memohon padamu Alina. Jaga Rosa dengan baik." Setelah mengucapkan itu, Edwin menghembuskan nafas terakhirnya.
Bagaimanakah kelanjutan nya? Apakah Alina akan membesarkan nya? atau justru mengikuti egonya? Dan bayi siapa itu sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Nilam Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengambil keputusan
...Mumpung hari Senin, boleh berikan vote 🎟️, secangkir ☕ maupun setangkai mawar 🌹 nya, supaya author makin semangat. Terimakasih banyak 🥰 🙏 🙏 ...
...Happy Reading ...
Di tengah kesunyian malam, Alina memutuskan untuk menetap bersama bibi di kediaman sederhana milik Asep dan istrinya Lili.
"Tidak baik begadang nona." Alina menoleh sekilas, bibirnya masih membisu.
"Besok pagi, nona bisa kembali ke rumah." Lanjut bibi.
"Nona, apa terjadi sesuatu? Nona terlihat lelah." Bibi mendekat, memeriksa keadaan Alina. Dia merasa ada sesuatu yang terjadi.
"Nona....." Panggil bibi.
"Bi, aku sungguh lelah. Lelah sekali." Ujar Alina lirih.
"Rasanya, tidak ada kebahagiaan yang mendekat, hanya masalah saja. Seolah-olah, aku tidak boleh lagi bahagia ataupun merasa tenang. Kesalahan apa yang aku lakukan? Aku tidak pernah menyakiti orang lain. Kenapa bi? Kenapa semuanya terasa sulit? Aku rasanya lelah sekali, semuanya..... Tubuhku, hatiku dan pikiran ku."
"Nona, setiap manusia diberikan cobaan. Tapi, berapapun cobaan itu, tidak akan melampaui batas kemampuan nona. Setiap orang berhak bahagia, tapi mungkin..... Jalannya dan waktunya berbeda." Terang bibi.
"Kalau nona berpikir, masalah selalu menerpa nona. Itu berarti nona bisa melaluinya. Tapi nona, tidak ada masalah yang datang jika bukan ada hikmahnya. Kalau nona menganggap Rosa adalah masalah, itu salah nona." Alina menoleh, matanya yang lelah tampak menyala sejenak.
"Wajar, nona belum menerima nya. Karena semenjak kedatangan Rosa, nona melalui banyak masalah. Tapi, apakah nona pernah berpikir..... Kalau sebenarnya, masalah itu adalah kekasih nona?"
"Ed...." Ujar Alina pelan.
"Iya nona. Menurut bibi, semuanya berasal dari sana. Setelah pembatalan pernikahan dan meninggalkan nona, semuanya dimulai. Apa yang terjadi dengan tuan Ed, kematiannya dan juga rahasia yang ada dibalik itu.Rosa memang datang dengan nya, tapi itu bukan salah Rosa. Bahkan, tuan Ed sendiri menyelamatkan Rosa. Nona bisa melihat nya bukan?" Jelas bibi panjang lebar.
"Mungkin nona masih berpikir, kalau Rosa bisa saja adalah anak Tuan Ed. Ya, mungkin saja. Tapi melihat keadaan nya, bukankah Rosa ada prioritas?"
"Prioritas? Dia bahkan meninggalkan ku. Ya, itu benar....." Alina tertawa sumbang.
"Nona, kalau seandainya nona pun menikah. Bibi rasa itu jauh lebih berbahaya dan sulit. Melihat asal usul tuan Ed yang misterius. Pastinya apa yang dia katakan tentang jati dirinya adalah kebohongan." Setiap kata-kata yang keluar dari bibir bibi menghantam Alina, semuanya benar. Itu benar....
"Bibi....." Alina merebahkan tubuhnya, rasanya sakit sekali. Air mata nya langsung keluar, keheningan malam itu kembali ditemani isak tangis Alina.
"Menangis lah nona. Menangis lah, tapi janganlah menyerah.... Hidup tidak sesuram itu nona. Hidup terlalu berharga, nona juga berharga. Bibi bersama nona, nona tidak sendiri."
***********************
Tubuh Alina terasa lemas. Matanya terlihat sembab, telinganya mendengar suara yang terdengar manis. Dia masih bertahan di ranjang kecil itu. Tapi ekor matanya melihat tubuh gembul itu bergerak mengejar mainan nya.
Tawa dari wajah kecil itu begitu leluasa. Dengan sepasang kakinya perlahan mengambil langkah meskipun belum sepenuhnya kuat. "Dadadaada."
"Selamat pagi nona." Kehadiran bibi langsung memutuskan tatapan Alina.
"Pagi Bi."
"Ini ada bubur. Nona makan dulu."
"Terimakasih bi. Apa bibi sudah makan?"
"Sudah nona."
"Bi, aku berpikir untuk meninggalkan kota ini." Ucapan Alina langsung membuat senyum bibi memudar.
"Nona mau pergi kemana? Lalu, bagaimana dengan usaha nona?" Tanya bibi.
"Usaha? Aku tidak memperpanjang sewa disana. Pemiliknya menaikkan harga karena ada orang baru yang menempati nya. Aku berpikir, untuk kesembuhan ku dan menata ulang semuanya, aku harus mulai meninggalkan kota ini."
"Kalau nona pergi, apa nona akan melanjutkan usaha nona disana?"
"Mungkin saja, atau tidak."
"Nona, sebelum pergi nona harus memikirkan segalanya dengan mantap. Kemana nona akan pergi, tinggal dimana dan bekerja apa." Jelas bibi, Alina tersenyum tipis mendengar nya. Wanita-wanita dihadapannya sudah seperti ibu baginya.
"Aku akan pergi ke tempat dimana seharusnya aku disana."
"Maksud nona?"
"Asal kedua orang tua ku bi. Aku akan kesana, menetap dan menata ulang kembali semuanya."
"Bibi senang mendengarnya. Bibi berdoa nona menemukan kebahagiaan disana."
"Kenapa hanya berdoa?"
"Maksud nona?"
"Bibi ikut dengan ku. Apa bibi tidak mau?" Tanya Alina.
"Tapi, Rosa......"
"Dia juga pergi.... Dengan kita." Ujar Alina yang membuat bibi tersenyum kembali.
Bersambung......