Pernikahan bisnis yang sudah di rancang sedemikian rupa terancam batal hanya karna mempelai wanita kabur di hari pernikahan. Bintang, selaku kakak yang selama ini selalu di sembunyikan terpaksa harus menggantikan Lidya.
"Yang ku inginkan adalah Lidya! Kenapa malah dia yang menjadi mempelainya?!" Pekik Damian pagi itu.
"Kita tidak punya pilihan, hanya ada dia."Jawab sang ayah.
Damian menatap Bintang dingin, "Baiklah, akan ku perlihatkan padanya apa yang namanya pernikahan itu."Balasnya dingin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kasur Palembang
"Bu, udah selesai kamarnya."Ujar Bintang, kehadiran gadis itu membuat Inah dan Damian otomatis langsung terdiam membisu. Seolah tidak pernah membicarakan apapun tentang keduanya yang masih sibuk membahas masalah orang tua Bintang.
"Oh iya? Yaudah kalian ke sana duluan, istirahat dulu."Ujar Inah, dia menarik kembali album yang tadi dia ambil sementara kalung itu dia biarkan bersama dengan Damian.
"Itu kalung apa, bu?"Tanya Bintang, kalung yang nampak mencolok itu menarik perhatian Bintang.
"Bukan apa apa, cuma hadiah buat suamimu."Ujar Inah dengan nada yang terdengar sedikit ragu ragu.
"Oh gitu, yaudah kalo gitu Bintang duluan ke kamar ya bu. Mau bersih bersih dulu."Ujarnya lagi, setelah mengatakan itu dia pun langsung meninggalkan ruangan dimana Damian dan Inah berada.
"Nggak usah cerita apa apa dulu sama Bintang ya, takutnya dia berharap lebih dan ibu nggak mau liat dia sedih. Nanti, kalau udah ada hilalnya baru kasih tau dia."Ujar Inah dengan nada pelan, dia nampak sangat berharap jika Damian bisa menemukan orang tua Bintang untuknya.
"Iya bu, Damian akan berusaha semaksimal mungkin."Ujar Damian dengan nada pelan, berusaha untuk meyakinkan Inah jika dia akan menemukan kedua orang tua Bintang.
"Terimakasih banyak, nak. Selain tampan ternyata kamu juga baik hati."Ujar Inah, pujiannya membuat Damian benar benar merasa sangat senang. Kata kata wanita paruh baya ini terdengar sangat tulus di telinga Damian.
"Nggak usah sungkan bu, lagian Bintang juga istri Damian. Sudah sewajarnya Damian membantu Bintang."Ujar Damian dengan nada pelan dan terdengar sangat meyakinkan di telinga Inah saat itu.
"Kalau begitu kamu istirahat dulu, Bintang pasti udah nungguin kamu."Ucapnya dengan nada yang sedikit menggoda, dia juga pernah muda jadi dia tahu pasti tentang apa yang sering kali di rasakan oleh pengantin baru seperti Bintang dan juga Damian. Mereka susah berpisah dan ingin berdekatan terus menerus, jadi Inah putuskan untuk tidak memisahkan mereka terlalu lama lagi.
"Haha iya bu, kalau begitu Damian pergi dulu."Balasnya dengan sopan, setelah mendapatkan persetujuan dari Inah, Damian pun langsung meninggalkan ruangan itu dan pergi ke kamar Bintang.
"Tu- Sayang!"Panggil Bintang saat dia melihat Damian yang sedang kebingungan dalam mencari kamarnya. Gadis itu melambaikan tangannya tepat ketika Damian menoleh kepadanya.
'Sayang?' Batin Damian, seingatnya ini adalah pertama kali Bintang memanggilnya dengan panggilan seperti itu dan rasanya sangat menenangkan bagi Damian.
Pria itu melangkahkan kakinya dengan ringan menuju ke arah Bintang yang nampaknya sudah menunggunya sejak lama.
"Sayang? Siapa yang mengatakan kepadamu jika kamu bisa memanggilku dengan panggilan seperti itu?"Tanya Damian saat dia sudah sampai di samping Bintang.
"Kan nggak mungkin kalo aku panggil tuan atau kamu. Ini panti asuhan dan ada ibu, aku nggak mau ibu khawatir."Ujar Bintang dengan nadanya yang acuh tak acuh.
"Ck, bilang saja kalau kamu memang yang mau memanggilku seperti itu. Toh aku tahu aku terlalu tampan untuk kamu panggil dengan panggilan tuan itu."Ujar Damian dengan nada bangganya. Pria itu masuk melewati Bintang yang hanya bisa menggeleng gelengkan kepalanya saat mendengar perkataan Damian.
"Jadi dimana tempat tidurnya?"Tanya Damian dengan antusias, dia benar benar sudah sangat lelah dan merindukan kasur empuk yang akan mengantarkannya ke alam mimpi.
"Dimana? Kok nggak ada? Kok kamarnya cuma sepetak?"Tanya Damian lagi, dia bingung karna hanya ada kasur tipis di ruangan yang tidak lebih besar dari kamar mandinya.
"Ya di sini."Ujar Bintang, dia mengarahkan tangannya pada sebuah kasur palembang yang nampak sangat keras dan tipis.
"APA?! YANG BENAR SAJA!"Ujar Damian tak terima, dia menatap kasur berwarna ungu itu dengan tatapan tak percaya.
"Ya gimana, anak anak di sini semuanya tidur di kasur ini. Lagian kenapa tadi bilang mau nginap, udah tau kamu ribet sendiri."Ujar Bintang tak kalah kesal. Bukannya dia tidak ingin menginap di sini, tapi dia tahu jika Damian sangatlah ribet dan banyak pilih. Makanya dia khawatir pria itu tidak akan nyaman dan akan menyusahkannya.
"Ya ku pikir setidaknya ada kasur yang layak di sini. Ini apa? Bagaimana orang orang bisa tidur di kasur yang amat sangat tipis dan kasar ini."Ujar Damian, seleranya untuk tidur langsung hilang saat dia melihat kasur ini.
"Ya gimana lag, kami tidak punya cukup uang untuk membeli yang bagus. Ini saja seharusnya kamu bersyukur bisa tidur di kamar terpisah, bahkan kak Satria saja tidur bersama dengan anak anak di ruangan yang penuh sesak."Ujar Bintang panjang lebar.
Damian menatap Bintang tajam, dia tidak suka ketika mendengar gadis itu yang membanding bandingkannya dengan pria lain.
"Aku juga bisa, lagian apa susahnya tidur di sini?"Ujar Damian sekali lagi, dia akhirnya melepaskan baju kerjanya dan menggantinya dengan baju yang sudah di siapkan oleh Bintang sebelumnya.
"Ini apa?"Tanya Damian dengan jengah. Dia menatap celana bunga bunganya yang di padukan dengan baju berwarna hijau norak.
Bintang terkekeh, melihat Damian dengan balutan baju itu membuatnya ingin mengambil foto dan membagikannya ke media social.
"Kenapa kamu malah ketawa? Cari baju yang lain, aku nggak mau pake baju norak ini."Sungut Damian dengan nada tak terima.
"Nggak apa apa." Ujar Bintang, dia langsung mengatupkan bibirnya berharap jika hal itu bisa membuatnya menahan tawa atas apa yang dia lihat pada penampilan Damian.
"Carikan aku baju yang lain."Titah Damian dengan nada yang kesal.
"Nggak ada, cuma ini baju yang berukuran besar. Seperti yang kamu lihat anak anak di sini masih kecil dan nggak ada yang seukuran kamu."Balas Bintang.
"Terus ini baju siapa?"Damian mengerutkan alisnya.
"Nggak tahu, kan biasanya ada sumbangan pakaian. Jadi mungkin baju dari salah satu dari banyaknya yang menyumbangkan pakaian."Jawab Bintang dengan nada tenangnya.
"Jadi maksud kamu, baju ini bekas orang lain?"Damian mencoba untuk memastikan apa yang baru saja dia dengar.
Bintang menganggukkan kepalanya pelan.
"Kamu! Kenapa kamu kasih aku baju bekas? Gimana kalo nanti ada yang punya kurap, kudis kutu? Penyakit menular dan penyakit kulit lainnya? Aku nggak mau ter- inveksi."Ujar Damian, tatapanya pasrah seolah olah setengah jiwanya sudah pergi meninggalkan tubuhnya.
"Ya mau gimana lagi, cuma ada ini. Kalo kamu nggak suka kamu bisa pinjam dari kak Satria. Mau?"Tawar Bintang.
"Nggak usah, nggak perlu."Ujar Damian, dia menghembuskan nafasnya pelan kemudian dengan pasrah merebahkan dirinya di atas kasur tipis itu.
'Cuma satu malam, aku harus menahan diriku.'Gumam Damian, sejak memutuskan untuk tidur di sini Damian menyuruh asistennya untuk pulang sendirian. Jika dia tahu di sini tidak ada kasur dan baju yang layak mungkin dia bisa menyuruhnya membeli beberapa barang.
"Selamat tidur."Ujar Bintang, gadis itu ikut berbaring di sebelah Damian dan mati matian menahan tawanya saat mendengar keluhan keluhan Damian.