Persahabatan yang solid dari masa sekolah akhirnya harus berkumpul pada satu Batalyon di sebuah daerah perbatasan karena suatu hal. Situasi semakin kompleks karena mereka harus membawa calon istri masing-masing karena permasalahan yang mereka buat sebelumnya.
Parah semakin parah karena mereka membawa gadis mereka yang sebenarnya jauh dari harapan dan tak pernah ada dalam kriteria pasangan impian. Nona manja, bidadari terdepak dari surga + putri sok tau semakin mengisi warna hidup para Letnan muda.
KONFLIK TINGKAT TINGGI. Harap SKIP bila tidak mampu masuk ke dalam cerita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bojone_Batman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7. Berusaha percaya.
Dira dan Fia baru paham permasalahan yang terjadi pada Dinda. Pantas saja kejadian tadi membuat Bang Rama sangat marah.
"Bang, kita kan tidak ada hubungan. Tapi bagaimana kalau Dira yang mengalami hal seperti Dinda? Apakah Abang akan ngamuk juga? Aneh nggak sih??"
Bang Arben melirik calon istrinya. Ia menghisap rokok dalam-dalam lalu membuangnya asal.
"Kamu pikir pengajuan nikah hanya sekedar formalitas saja??? Mungkin benar apa katamu, kita tidak ada hubungan bahkan mungkin tidak ada rasa. Tapi.. Abang, Sanca dan juga Rama memutuskan untuk mengakhiri masa lajang bukan sekedar tindakan gegabah semata. Tuhan telah tunjukan jawaban dari pertanyaan dalam sepertiga malam yang Abang relakan, hanya untuk bertanya apakah kamu mampu mengisi separuh hati Abang. Hal itu pasti sama dengan yang di lakukan Sanca dan Rama. Terutama Rama, dia mungkin kelihatan paling 'buruk' di mata orang tapi nyatanya dialah salah satu sahabat terbaik yang Abang punya. " Jawab Bang Arben.
"Jadi.. Abang bakalan ngamuk juga??" Tanya Dira masih tidak paham.
Bang Arben membuang nafas berat. "Intinya sama seperti Rama."
"Abang suka sama Dira????"
"Suka sih nggak, apa itu suka?? Kalau sayaaang............."
"Abang kembali saja ke mess..!!! Fia nggak mau Abang disini..!!! Besok Fia pulang, nggak mau lanjut pengajuan nikah lagi..!!!!!!" Kata Fia.
Bang Arben langsung terdiam, ternyata bukan dirinya saja yang mengalami problematika rumit. Bang Sanca pun mengalami hal yang sama dalam membujuk calon istrinya.
"Nggak bisa begitu, dek. Kita sudah masuk sampai tahap pengajuan nikah, Abang nggak main-main..!!!" Ujar Bang Sanca.
"Apa Abang tau.. Setelah menikah, wanita akan menjadi makhluk yang terjebak. Kalau dia tidak di cintai, dia akan menjadi barang bekas yang di campakan, mentalnya bisa rusak."
"Duda juga menjadi status yang menyakitkan dan membekas. Kita ini belum menikah, kenapa kamu bahas soal perpisahan????" Tegur Bang Sanca.
Terdengar pintu kamar depan terbuka lebar, Bang Rama menatap seluruh sahabatnya yang sedang berada di ruang tamu seraya beristighfar.
"Astaghfirullah hal adzim. Ngelus dada bener saya dengar keributan kalian..!!!!" Tegur Bang Rama. "Dira, Fia dan terutama kamu, dek. 'Abang-abangmu' ini juga tidak asal pengen lepas lajang. Kami paham tanggung jawabnya sangat besar, menanggung dunia akhirat istri juga memberi nafkah lahir dan batin kalian sebagai seorang istri. Apakah yang seperti itu masih kalian anggap tidak serius??? Tidak ada jebakan dalam kisah kita, yang benar adalah Allah sudah menentukan takdirNya. Ikhlas, jalani bersama..!!!"
Para gadis menunduk terdiam seakan menyadari apa yang seharusnya mereka sadari.
"Tidur siang lah kalian..!! Besok lanjut lagi pengajuan nikahnya, pikiran kalian tidak fresh, daripada kita ribut lagi..!!" Saran Bang Arben.
***
Setelah semalam menenangkan pikiran, pagi ini para calon suami menjemput calon ratu masing-masing.
Bang Sanca tersenyum tipis melihat Fia anggun dan tenang, nampaknya calon istri Letnan Sanca itu sudah siap dengan segala yang akan terjadi nanti.
Bang Arben memasang wajah datar saja namun matanya terus menatap Dira, jantungnya serasa lepas dari raga tak beralih dari sana.
Bang Rama pun diam, wajahnya mengekspresikan kekaguman yang terbaca oleh alam sekitar. Rokok masih terjepit di antara bibirnya, dia bernafas namun seolah kembali tertelan ke paru-paru.
Kedua sahabat sudah berjalan mengulurkan tangan untuk menjemput pasangan masing-masing, hanya Bang Rama saja yang masih terpaku hingga membuat pipi Dinda memerah dan menunduk malu.
"Ayo lhoo.. Mau kau pandangi Dinda sampai kapan??? Sudah siang ini." Tegur Bang Sanca.
Bang Rama tersadar hingga terbatuk, mungkin asap rokok benar-benar tertelan menembus paru-paru hingga jantungnya. Ia pun kemudian melangkahkan kakinya dan mengulurkan tangan pada Dinda.
...
Pasiepers meneliti dokumen milik Dinda. Kebetulan pasiepers hari ini di wakili oleh Bang Garin.
Bang Ardi sudah lebih dulu menghadap, mungkin karena tidak ingin bergabung dengan lettingnya. Ia pun langsung pergi tanpa kata.
Ketiga calon suami sudah ketar ketir tapi mereka mencoba mempositifkan pikiran. Dan akhirnya menjelang siang, giliran Dinda yang masuk menghadap bersama Bang Rama.
"Silakan duduk..!!" Bang Garin masih menyapa sahabat dan calon istrinya secara formal.
Awalnya situasi baik-baik saja, namun tiba-tiba Bang Garin melontarkan pertanyaan yang tidak terduga yang bahkan Bang Rama belum sempat memberikan 'kisi-kisi' pada Dinda.
"Sudah tau mantannya Letnan Rama??" Tanya Bang Garin.
Seketika mata Bang Rama membulat besar, pertanyaan ini adalah pertanyaan keramat yang paling sensitif untuk wanita.
"Belum." Jawab Dinda.
"Waahh.. kau belum cerita, Ram??"
"Hhsttt.. Sudah, Gar..!!! Jangan begitu, aku bisa geger perkara candaanmu ini." Kata Bang Rama memberikan warning pertamanya.
Bang Garin memasang wajah serius, ia menatap Dinda, membuat gadis itu jadi gelisah. "Dinda harus tau, Ram."
"Apa, Bang??" Dinda mulai terpancing, wajahnya tegang dan meremang.
"Rama ini ceweknya banyak, hampir nikah. Abang pun heran kenapa namamu yang naik, nama Dinda, seharusnya namanya Dini."
Sontak saja Dinda menoleh menatap Bang Rama menunggu kejelasan kepastian.
"Ng_gak, dek. Itu.. Anu.. Bukan Din............."
"Kalau memang ada perempuan lain kenapa Abang ajak Dinda??? Dinda juga nggak pernah ngemis untuk di nikahi." Dinda yang kesal langsung berdiri dari duduknya. "Permisi, Bang." Pamitnya pada Bang Garin.
"Dindaaa, dek..!!!!!!!!" Bang Rama mencoba meraih tangan Dinda namun tak sampai. Ia pun langsung mengarahkan pandangan pada Bang Garin yang terkikik geli sambil berjalan cepat menyusul Dinda. "Kau ini memang kawan bed***h, b*****t, senang kau lihat aku ribut???"
"Masa gitu aja marah." Ujar Bang Garin tanpa rasa bersalah sedikitpun apalagi ekspresi tawanya begitu menyebalkan.
"Terserah, pokoknya jangan Dinda..!!!!!"
jjddrrrr..
Pintu terbanting dengan keras.
"Hahaha.. Ngamuk dia." Gumam Bang Garin.
~
"Dindaaa.. Abang nggak pernah pacaran sama perempuan manapun. Coba kamu tanya Sanca dan Arben..!!"
"Ya nggak mungkin donk sesama sahabat saling bongkar aib. Lihat saja apa yang Abang gembar gemborkan??? Jiwa korsa dan setia kawan sesama prajurit." Omel Dinda.
"Iyaa.. Tapi kalau soal perempuan ya beda donk, dek."
"Nggak percaya, semua laki-laki memang sama." Pekik Dinda kesal.
"Idiih.. Nggak sama. Kalau Abang sama seperti Arben, kamu dan Dira bisa jambak-jambakan rebutan Abang." Jawab Bang Rama semakin membuat Dinda jengkel.
.
.
.
.
tetap💪💪🙏
Aduuh...piye to bang Ric....🥹
lanjut mba Nara