Namanya Sutarjo, biasa dipanggil Arjo.
Dulu tukang urus kuda di kadipaten. Hidupnya sederhana, damai, dan yang paling penting, tidak ada yang ingin membunuhnya.
Sekarang?
Karena wajahnya yang mirip dengan sang Bupati, ia diangkat menjadi bayangan resmi bupati muda yang tampan, idealis, dan punya daftar musuh lebih panjang dari silsilah keluarganya sendiri.
Tugasnya sederhana: berpura-pura menjadi Bupati ketika sang Bupati asli sibuk dengan urusan yang "lebih penting."
Urusan penting itu biasanya bernama perempuan.
Imbalannya? Hidup mewah. Makan enak. Cerutu mahal. Tidur di kasur empuk. Perempuan ningrat melirik kagum setiap keretanya lewat.
Risikonya? Hampir mati setiap hari.
Akankah Arjo bertahan?
Atau mati konyol demi tuan yang sedang bersenang-senang di pelukan perempuan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hayisa Aaroon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
3. Kuda Tejo
Usai dengan tugasnya, Arjo berganti pakaian di ruang belakang bengkel kadipaten, kembali ke mode rakyat jelata.
Pakaian bupati ditanggalkan, dilipat rapi, diserahkan kepada Jupri yang akan membawanya kembali ke ndalem.
Sebagai gantinya, ia mengenakan pakaian yang lebih akrab di tubuhnya; kemeja lusuh berwarna cokelat dengan tambalan di siku, celana kain sebetis yang sudah memudar warnanya, pinggang sampai paha dibalut kain batik kawung sederhana, sebuah golok murahan terselip di sabuk kulit tua. Caping anyaman bambu bertengger di kepala, menyembunyikan sebagian wajah.
Kuda yang menunggunya di belakang bengkel juga bukan kuda gagah penarik kereta bupati.
Seekor kuda tua berbulu kusam, langkahnya lambat, tulang rusuknya samar terlihat di balik kulit. Wajahnya cemberut ketika hendak ditunggangi.
Kuda yang tidak akan dilirik siapa pun dua kali, bahkan begal yang kepepet. Sempurna untuk tidak menarik perhatian.
“Jo-Tejo … raimu iku hlo!” Dengan gemas Arjo menepuk moncong kuda yang manyun. “Rak nyenengke blas nek ketemu aku. Dadi jaranku seng akeh-akeh syukur, sih untung rak tak dol. Nek tak dol, dibeleh kowe nggo hajatan.”
(Jo-Tejo … wajahmu itu hlo! Tidak menyenangkan sama sekali kalau ketemu aku. Jadi kudaku itu harus banyak-banyak bersyukur, masih untung tidak kujual. Kalau dijual, dipotong kamu buat hajatan.)
Tejo meringkik sinis, mendengus malas, membuang muka, dengan wajah masam. Keangkuhannya tidak pudar meski tubuh sudah renta. Karena dulunya, dia pernah menjadi kuda kesayangan Ayah Soedarsono.
“Ehh … ehh … ehh … si Tejo, lagak e.”
Arjo menaiki kuda, menepuk bokong kuda dengan keras. Kuda berjalan menghentak-hentak, kadang miring ke kanan-kadang ke kiri.
“Seng nggenah sitik nek dadi jaran! Diserempet jaran liyo, modar kowe.”
(Yang benar kalau jadi kuda! Diserempet kuda lain, mati kamu.)
Kuda akhirnya berjalan lebih benar, tapi langkahnya masih lambat, malas, menyusuri jalan utama kota. Senja mulai turun, mewarnai langit dengan semburat jingga kemerahan.
Justru di jam seperti inilah jalanan paling ramai; para nyonya selesai berbelanja, para pejabat kolonial pulang dari kantor, para gadis Eropa keluar untuk sekadar jalan-jalan menikmati angin sore.
Di sepanjang deretan pertokoan bergaya khas Tionghoa, beberapa rombongan raden ayu berjalan anggun.
Kebaya sutra halus dalam warna-warna pastel, kain batik bermotif parang atau kawung yang harganya selangit, sanggul dihiasi melati dan tusuk konde permata.
Di belakang setiap raden ayu, seorang pelayan memayungi majikannya dengan payung tinggi berhias rumbai.
Mereka menoleh ketika sebuah kereta mewah melintas, kereta hitam mengkilap dengan lambang keluarga ningrat kaya raya di pintunya.
Tatapan kagum. Senyum malu-malu. Bisik-bisik di balik kipas.
Lalu Arjo melintas dengan kuda tuanya.
Tidak ada yang menoleh. Bahkan lirikan pun tidak. Seolah ia hanya daun gugur yang kebetulan lewat.
Arjo mendengkus kesal. Matanya menghapal wajah-wajah raden ayu itu satu per satu; yang berkebaya hijau daun dengan lesung pipi, yang berkebaya merah jambu dengan mata sipit, yang tertawa di balik kipasnya dengan gigi putih bersih.
‘Aku ingat-ingat wajah kalian. Suatu saat, kalau bertemu lagi saat aku jadi bupati, akan kuabaikan kalian seperti kalian mengabaikanku sekarang.’
Di sisi jalan yang lain, rombongan berbeda menarik perhatiannya.
Para nyai.
Perempuan-perempuan muda pribumi yang menjadi simpanan para meneer Belanda. Wajah mereka lumayan manis, bukan kecantikan ningrat yang mewah sejak lahir, tapi kecantikan yang diasah dengan bedak dan gincu.
Kebaya mereka bagus, meski tidak sebagus para ningrat. Tapi perhiasan mereka? Berkelip-kelip menantang matahari senja. Gelang emas, kalung berlian, anting-anting yang pasti harganya lebih mahal dari kuda yang ditunggangi Arjo.
Hadiah dari para meneer, tentu saja.
Mereka berbisik-bisik sesama nyai, sesekali tertawa centil.
Arjo melintas.
Tidak ada yang menoleh.
Pandangan mereka tertuju pada seorang meneer tua berperut buncit yang baru memasuki toko perhiasan. Rambut memutih, kumis tebal, jas putih yang tampak kepanasan di iklim tropis. Tapi di mata para nyai, yang terlihat hanyalah dompet tebal dan janji kemewahan.
Arjo menghela napas panjang. ‘Dua puluh lima tahun umurku. Belum pernah sekalipun dekat dengan perempuan.’
Bukan karena ia tidak ingin. Bukan karena wajahnya jelek, justru sebaliknya, ia tahu wajahnya tampan. Mirip bupati, bahkan.
Masalahnya adalah stok.
Tidak ada stok perempuan yang tersedia untuknya.
Gadis-gadis desa? Sudah dikapling lelaki yang punya sawah atau ternak.
Janda muda? Lebih memilih meneer kaya atau pejabat pribumi yang bisa menjamin hidup dan anak-anak mereka yang masih kecil-kecil.
Gadis ningrat? Jangan bermimpi—perbedaan kasta membentang seperti jurang yang mustahil dilompati, kalau memaksa melompat, matilah dia.
Dan kalaupun ada yang tersisa, persaingannya terlalu ketat. Asal-usulnya yang tak jelas seperti kesialan yang tak berujung, orangtua mana yang mau mempunyai menantu yang tak punya keluarga jelas?
Tak jauh dari rombongan nyai, sekelompok gadis Eropa berjalan beriringan.
Rambut mereka beragam warna yang eksotis di mata Arjo—pirang keemasan, cokelat bergelombang, kemerahan seperti tembaga dipanaskan.
Kulit putih pucat yang tampak rapuh di bawah terik matahari tropis. Mereka berjalan dengan payung-payung berenda dalam warna-warna pastel, gaun panjang yang tampak menyiksa di cuaca sepanas ini, tapi tetap mereka pakai demi mode terbaru dari Prancis.
Arjo melintas.
Tidak ada yang menganggapnya ada.
Mata mereka—biru, hijau, cokelat muda—tertuju pada sekelompok pemuda Belanda yang berdiri di depan toko arloji. Para pemuda itu tertawa-tawa, menghisap cerutu, sesekali mengangkat topi dan menyapa ramah saat para gadis melintas.
‘Sudahlah. Memang bukan kelasku.’ Arjo menghela napas lagi.
Di kelompok lain, gadis-gadis Indo berjalan dengan gaya yang berusaha meniru nona-nona Eropa. Setengah darah campuran pribumi dan Belanda dengan kulit yang lebih gelap dari totok tapi lebih terang dari pribumi murni. Mata cokelat dengan hidung lebih mancung, rambut hitam bergelombang.
Mereka melirik ke arah para pemuda.
Sebagian besar melirik pemuda Eropa totok. Beberapa, yang mungkin lebih realistis, melirik pemuda ningrat yang kebetulan lewat dengan pakaian rapi.
Tidak ada yang melirik Arjo.
‘Tentu saja.’ Arjo mendengkus semakin kesal.
Arjo sudah hendak memacu kudanya lebih cepat ketika jalanan mendadak padat. Sebuah kereta besar berbelok, memaksanya berhenti dan menunggu.
Dan di situlah ia merasakannya.
Tatapan.
Seseorang sedang memerhatikannya.
Arjo menoleh.
Di sisi jalan, sebuah sado baru saja berhenti menurunkan penumpangnya. Nyonya Belanda berumur, mungkin kisaran lima puluhan, turun dengan bantuan kusir. Tubuhnya tambun, wajah memerah karena panas, kipas bergerak cepat mengusir gerah.
Salah satu dari mereka sedang menatap Arjo.
Nyonya berambut pirang keabu-abuan yang ditata rumit, gaun sutra biru yang tampak terlalu ketat untuk tubuhnya yang melar. Korset ketat membuat dadanya yang besar seperti hampir tumpah.
Matanya, biru pucat, memandang Arjo dari atas ke bawah. Lambat. Menilai. Seperti seorang tukang jagal yang sedang menilai kambing di pasar hewan.
Lalu tersenyum.
Senyum yang tidak ada hubungannya dengan keramahan. Senyum yang …. seperti ingin mengajak ehem dan uhuy.
Arjo bergidik.
deg" sir ya Jo, kui persembahan nggo bupati yo
kira" bsk kalau udah tau soedarsono ini kakak'y dr ayah yg sama kira" gmn ya reaksi arjo