Tasya Prameswari hanya ingin Dicky, putranya bisa kembali ceria seperti dulu, namun sebuah kecelakaan merenggut kesehatan anak itu dan menghancurkan keharmonisan rumah tangganya bersama Setyo Wirayudha.
Sang mertua hanya mau membiayai pengobatan Setyo, namun tidak dengan Dicky. Tak ada yang mau menolong Tasya namun di tengah keputusasaan, Radit Kusumadewa datang membawa solusi. Pria kaya dan berkuasa itu menuntut imbalan: Tasya harus mau melayaninya.
Pilihan yang sulit, Tasya harus melacurkan diri dan mengkhianati janji sucinya demi nyawa seorang anak.
Bagaimana jika hubungan yang dimulai dari transaksi kotor itu berubah menjadi candu? Bagaimana jika Tasya merasakan kenyamanan dari hubungan terlarangnya?
Note: tidak untuk bocil ya. Baca sampai habis untuk mendukung author ya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mizzly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sya, Aku Mencintaimu
Tangan Setyo bergetar hebat saat melihat foto yang dikirimkan temannya. Di dalam foto tersebut, nampak Tasya sedang makan malam dengan seorang pria. Tasya tertawa bahagia, tawa yang sejak lama menghilang dari wajah cantiknya kini kembali lagi namun bukan Setyo yang membuat Tasya tertawa melainkan orang lain. "Ini yang kamu bilang bekerja, Sya?"
Setyo memperbesar foto tersebut. Pria tersebut memunggungi kamera, memiliki bahu yang lebar dan potongan rambut yang rapi. Setyo menebak pria tersebut masih muda. Ia tidak kenal pria tersebut namun hati kecilnya memiliki firasat buruk.
Amarah menyelimuti hati Setyo. Ada rasa tak rela saat melihat istrinya tertawa bahagia dengan lelaki lain sementara saat bersamanya selalu saja terlihat murung. Setyo mencoba menelepon Tasya kembali namun lagi-lagi Tasya enggan menjawab teleponnya.
"Bahkan kamu tak mau mengangkat telepon dariku, Sya. Oke. Aku akan tunggu kamu pulang dan menjelaskan semua ini." Setyo menyimpan bara api di dalam hatinya. Ia akan melihat dengan mata kepalanya sendiri, kebohongan apa yang akan keluar dari mulut wanita yang amat ia cintai tersebut.
.
.
.
Berbeda dengan Setyo yang uring-uringan, Tasya malah menikmati hari-harinya bekerja di luar kota, jauh dari suami yang suka putus asa dan mertua yang selalu nyinyir.
Pagi ini, Tasya dan Radit berangkat ke Yogyakarta dengan mobil kantor. Baik Tasya maupun Radit nampak berwajah cerah. Semalaman mereka tidur sambil berpelukan, menikmati malam terakhir di Semarang.
Ya, Radit memutuskan pindah kamar lagi. Ia tak mau kehilangan waktu untuk bersama Tasya. Mereka tidak melakukan malam panas seperti sebelumnya, hanya tidur sambil berpelukan dan mengobrol sampai mata mereka terpejam karena rasa kantuk.
Di dalam mobil, keduanya sengaja menjaga jarak. Mereka duduk berjauhan dan hanya membahas pekerjaan. Radit dan Tasya sepakat, tak mau isu perselingkuhan mereka tersebar. Bukan karena Radit takut nama baiknya tercoreng, ia hanya tak mau Tasya semakin terluka.
Tasya mengeluarkan ponselnya, menatap panggilan dari Setyo yang terus ia acuhkan. Entah sudah berapa banyak Setyo menghubungi, Tasya tak mau tahu.
"Dia masih meneleponmu, Sya?" tanya Radit.
Tasya menganggukkan kepalanya. "Ya. Tak ada bosannya."
"Kamu tak ingin menjawab panggilannya?" tanya Radit penasaran. Ia tahu hubungan Tasya tidak baik-baik saja dengan suaminya. Jika hubungan mereka harmonis, mana mungkin Tasya mau berselingkuh dengannya.
"Tidak. Untuk apa? Hanya pertengkaran yang akan terjadi kalau aku mengangkat teleponnya. Aku ingin fokus bekerja, bukan memikirkan kecurigaannya terus." Tasya menatap Radit lalu tersenyum hangat. "Lebih baik aku menikmati perjalanan luar kota ini. Anggap saja liburan."
"Aku setuju." Radit balas tersenyum.
Sesampainya di Yogyakarta, Radit dan Tasya langsung menuju kantor cabang salah satu perusahaan milik Kusumadewa. Inspeksi dadakan yang Radit lakukan membuat karyawan nampak panik. Radit mungkin sangat lembut dan hangat pada Tasya, namun tidak saat bekerja. Ia begitu tegas, sama seperti Papinya, Richard Kusumadewa.
"Biasakan efisiensi, pergunakan kertas bekas agar tidak boros dalam pemakaian kertas baru. Ingat, banyak pohon yang ditebang dan membuat kerusakan lingkungan karena sikap boros kita!" nasehat Radit.
"Waktu istirahat hanya satu jam. Pergunakan dengan baik. Jangan ada yang telat kembali ke ruangan, biasakan disiplin!" Radit pergi meninjau pantry dan mendapati pantry dalam keadaan berantakan. "Kalian yang istirahat di pantry, jaga kebersihan! Kalian mau, istirahat di tempat yang kotor? Ingat, kebersihan itu sebagian dari iman. Mulai sekarang, kalian jaga pantry seperti kalian menjaga rumah kalian sendiri, oke?"
Selesai berkeliling melakukan inspeksi dadakan dan membuat para karyawan tertekan, Radit lalu melakukan sesuatu yang tidak Tasya sangka. "Sya, pesankan 50 box pizza. Aku yang bayar semua tagihannya."
"50 box? Apa tidak terlalu banyak, Pak?" tanya balik Tasya.
"Aku rasa tidak. Kalau lebih, biar mereka bawa pulang dan makan dengan keluarga. Pesan dari beberapa cabang agar cepat!" perintah Radit.
"Baik, Pak." Tasya pun mulai sibuk. Ia memesan pizza dari beberapa outlet. Ia tak menyangka, dibalik sikap tegas Radit ternyata ada sisi tidak tegaan pada bawahan. Sehabis ia marahi, ia akan mentraktir mereka dengan makanan. Dalam hati Tasya kembali timbul rasa kagum. Perasaannya semakin dalam pada Radit. Kini, bukan hanya rasa nyaman melainkan rasa kagum yang besar, memercik api cinta dalam hatinya.
Tasya dan Radit menyelesaikan pekerjaan mereka di Yogyakarta. Mereka mengambil penerbangan malam dan pulang ke Jakarta. Sepanjang perjalanan, Tasya lebih banyak berdiam diri. Kebahagiaan yang ia rasakan beberapa hari ini, sebentar lagi akan berganti dengan permasalahan demi permasalahan. Rasanya, Tasya tak ingin semua ini berlalu begitu saja.
"Kenapa, Sya?" tanya Radit dengan penuh perhatian.
"Sebentar lagi, kita sampai, Dit." Tasya menatap Radit dengan tatapan sedih. "Kebahagiaan yang kurasakan beberapa hari ini, akan segera usai. Aku-"
"Sst!" Radit menaruh jari telunjuknya di bibir Tasya. "Semua ini belum usai, Sya. Kita akan tetap bertemu di kantor. Aku akan selalu bersamamu."
Tasya tersenyum. Perkataan ini yang ia ingin dengar dari Setyo, bahwa Setyo akan selalu bersamanya menghadapi setiap masalah, bukan hanya selalu menyalahkannya atas semua yang terjadi.
"Sya, aku mencintaimu," ucap Radit dengan tulus.
"Aku... juga mencintaimu, Dit." Tasya mengusap lembut wajah Radit.
"Sayangnya, kita tidak ditakdirkan untuk bersama," batin Tasya.
Radit hendak mencium bibir Tasya ketika pilot menyampaikan kalau mereka akan segera mendarat. Radit mengurungkan niatnya. Mereka berpegangan erat saat burung besi raksasa itu mendarat dengan mulus di Bandara Soekarno Hatta.
Tak ingin kebersamaan mereka segera usai, Radit sengaja mengantar Tasya sampai depan gapura komplek rumah mewah mertuanya. "Sampai ketemu di kantor, Sya. Kabari aku jika terjadi sesuatu, aku akan selalu ada untukmu."
Tasya turun dari mobil dengan berat hati. Andai ia bisa ikut terus dengan mobil Radit dan tak perlu harus kembali lagi ke rumah mertuanya yang penuh penderitaan. Tasya melambaikan tangan lalu mendorong koper miliknya, masuk ke dalam rumah megah Ibu Welas yang terletak tak jauh dari gapura.
Tasya membuka kunci lalu masuk ke dalam rumah yang nampak gelap dengan hati-hati dan tidak menimbulkan suara. "Semoga semua sudah tidur," batin Tasya penuh harap.
Tasya mengunci pintu kembali. Ia memegang kopernya dan hendak membawanya ke dalam kamar namun....
Klik!
Lampu ruang keluarga tiba-tiba menyala. Tasya terkejut ketika mendapati Setyo tengah duduk di atas kursi roda, menatap tajam pada dirinya tanpa senyum di wajah.
Dengan suara dingin yang mampu membuat bulu kuduk Tasya meremang, Setyo bertanya dengan nada penuh penekanan, "Bagaimana, sudah puas liburannya, Tasya Prameswari?"
****
huhhh emaknya setyo pngen tak jitak
dari dulu keluarga Kusumadewa anggota keluarganya pada sengklek 🤣 tapi aku suka, keliatan nya jadi hangat ..antara anak dan ortu gak ada jaim nya 🤣