Mentari Jingga atau yang biasa di panggil MJ, merupakan anak broken home yang mempunyai tekanan besar di hidupnya. Selepas ibunya meninggal, ayahnya menikah lagi dengan ibu dari mantan kekasihnya.
Hari-harinya bertambah buruk karena harus bertemu setiap hari dengan sang mantan yang telah ia lupakan mati-matian. Hingga pada akhirnya ia menjadi rajin melepas stress dengan berjalan-jalan di taman setiap malam.
Ia cukup akrab dengan beberapa penjual ditaman, berada ditengah-tengah mereka membuatnya lupa akan permasalahan hidup. Hingga pada akhirnya ia bertemu dengan Mas Purnama, seorang pedagang jagung bakar yang baru saja mangkal di area taman.
Mas Pur berusia 5 tahun diatas MJ, tapi dia bisa menjadi teman curhat yang menyenangkan. Mereka sering menghabiskan waktu berdua sambil memandangi langit malam itu.
Hingga setelah 3 bulan bersahabat, malam itu MJ tak pernah menemukan sosok Mas Pur lagi berdiri di tempat ia biasa berjualan. Kemana Mas Pur menghilang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Attalla Faza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembali ke Rumah
Malam hari yang begitu berangin, MJ memutuskan pergi ke taman dekat perumahan masa kecil nya dulu. Ia kangen sama suasana taman, rindu mengabsen apa saja dagangan yang baru, kangen Mr Stephen dan Bro Day.... dan yang pasti ia masih merindukan Purnama.
Suasana taman kini lebih tertata, ada angkringan yang menjual aneka sate-satean dan wedang jahe. Dan sudut yang dulu kosong itu sudah berganti dengan pedagang yang lain.
MJ tersenyum getir, nyatanya ia gagal menemukan sosok itu lagi di manapun. Mas Pur menghilang tanpa kabar, ia tak pernah kembali selepas hari itu. Gerobaknya ditinggal begitu saja di kontrakan, dan tak ada satu orang pun yang tau dia dimana.
Apa yang terjadi sama kamu, Mas? sehat-sehat kah di sana? aku lagi ditempat biasa kita membahas masalah hidup. Sambil memandangi rembulan yang malu-malu keluar, apa kamu juga lagi melihat pemandangan yang sama denganku?
Malam ini bukan bulan purnama, tapi aku harap kamu sedang memandang langit yang sama. Aku selalu ingat semua nasihatmu, tapi maaf hari ini aku sedikit emosional.
Kamu tau Mas? Aku datang ke rumah kakek Toha dan membongkar semuanya, kalau kamu lihat aku marah-marah tadi, pasti kamu cuma senyum sambil geleng-geleng. Aku kangen ketika kamu bilang " Sabar Mary Jane! jangan pake emosi"
Kalimat itu nggak pernah aku dengar di sosok manapun, Mas. Kamu pasti udah menjalankan kehidupan yang bahagia ya disana? tanpa kebisingan karena curhatan aku lagi.
Mas, tempatmu sudah di isi sama pedagang kebab yang masih muda. Tapi aku nggak suka dia, terlalu narsis dan tebar pesona. Tau nggak Mas, aku kangen aroma jagung bakar yang kamu buat, kangen bawelin kamu kalau lagi melayani pembeli. Dan aku kangen sama penasehat ku yang bijak.
Kalau kita ketemu suatu saat nanti, apa kamu masih kenal aku? Entahlah Mas, aku selalu berdoa agar diizinkan sekali saja bertemu sama kamu. Bukan untuk menahan mu, tapi untuk mengucapkan selamat tinggal paling ikhlas.
Sebuah panggilan telpon dari ayah membuatnya terhenyak. Ia pasti mau menanyakan masalah video yang MJ kirim tadi.
[MJ: Aku di taman Yah, kalau mau bertemu kesini aja]
[Ayah : Neng, ayah nggak bisa meninggalkan ibumu. Selepas kepergian Kenzo, dia jadi banyak diam. Bisakah kamu kesini? tidak ada Damar ataupun orang yang tidak membuatmu nyaman]
[Ayah : Tolong dengan sangat ya neng, ada banyak hal yang mau ayah bicarakan sama kamu]
MJ menghela nafas panjang, ia menurunkan egonya untuk datang ke rumah kenangan itu. Rumah yang sampai sekarang belum tergadai karena Wak Lilis masih sanggup bayar cicilan.
" Permisi akang, mas, aa, bapak dan om om sekalian. Mau numpang lewat yaaa" ujar MJ saat melewati warung Bu Oyoh
" Hei EmJeeeee! Mampir lah sini! Kita cerita-cerita dulu" ajak Mas Windu
" cieeee yang baru pulang dari Bali, gimana disana udah freelance jadi tukang kepang belum?"
MJ tertawa lepas, mereka hanya tau jika MJ kuliah di Universitas Udayana Bali. Hanya Jake Sully atau Mas Sultan yang tau. Ekh sama satu lagi, Mas Gilang sang donatur tetap yang sudah wisuda semester lalu.
" Maaf ya, aku mau setor muka dulu kerumah ayah. Nanti aku balik kesini kalau sempat" ujar MJ pamitan
Rumah ayah sangat sepi, bunga-bunga yang ditanam almarhum ibu sebagian mati. Mungkin nggak cocok sama penghuni baru di sini, jadinya mereka memilih menyerah.
Cat rumah sekarang udah beda, perpaduan warna ungu terong dan ungu lavender. Sepertinya kanjeng ratu suka sama warna ungu, jadinya rumah ini di sulap serba ungu.
Namun MJ lega, karena foto keluarga dimana ada almarhum ibu masih terpajang di dinding. Mungkin ayah tidak mengizinkan siapapun menurunkan nyonya rumah ini.
" Neng" panggil ayah yang baru keluar dari kamar utama
" Assalamualaikum ayah" ucap MJ langsung cium tangan
" waalaikumsalam anak ayah"
Pak Abdul langsung memeluk anak bungsunya dengan kerinduan yang mendalam. MJ merasakan kerapuhan ayah yang terbalut dalam tangisan. Kali ini hanya iba yang timbul di hatinya.
Ayah berada di titik terapuh nya. Ia hancur dan penuh luka, setahun penuh ia menanggungnya seorang diri. Tanpa dukungan siapapun, dan ia masih harus terpukul karena kehilangan bayinya.
Kini mereka duduk tenang di sofa, ayah sudah lebih baik sekarang. Tak terlihat sosok Bu Nia dimanapun, mungkin benar ia sedang terpuruk. Ibu mana yang tak hancur anaknya diambil Allah, dia telah kehilangan anak perempuannya yang dibawa mantan suami. Dan kini harus patah lagi karena kehilangan bayi yang baru dilahirkan beberapa bulan lalu.
" Sejak kapan kamu tau, Neng?" tanya ayah dengan suara yang lirih
" Beberapa hari sebelum aku pergi ke Bali, Yah. Aku dengar percakapan Kakek dengan Bu Lina di kantin RS, itu sebabnya aku memilih pulang dan menjauh dari A Rama.
Atas nama ibu aku kecewa Yah. Kakek dan nenek mamang berjasa sama ayah, tapi tidak seharusnya itu di jadikan alat untuk menutupi kebusukan dan aib-aibnya.
Kalau ayah menghabiskan uang untuk Bu Nia dan bayi kalian, aku masih jauh lebih ikhlas karena mereka tanggungan ayah, tapi A Rama itu orang lain.
Aku tau Kakek menggunakan alasan Mas Gilang untuk mengancam ayah, dia jahat sekali Yah. Aku tidak menduga kakek bisa berbuat sedzalim ini pada ayah" ujar MJ
" Jadi... Kamu juga sudah tau tentang Gilang?" tanya Pak Abdul kaget
MJ mengangguk pelan,
" Selain ayah, dia yang selama ini mengirimkan aku uang bulanan. Dia benar-benar anggap aku adiknya dan kami sepakat untuk menerima satu sama lain"
"Ya Allah Nak..." mata ayah berkaca-kaca
" Tapi dia ingin aku merahasiakannya sebab Mas Gilang menjaga perasaan ibu Emma dan pak Hasan, jadi sejauh ini hanya kita berdua yang tau "
" Apa dia marah pada ayah?"
" Enggak sama sekali, dia tau kesalahan ada pada Bu Sarah yang minggat sama pacarnya. Jadi dia ada di posisi yang serba salah, mau mengakui ayah tapi takut Bu Emma terluka. Makanya dia bertanggung jawab terhadapku karena kita saudara satu nasab"
" Alhamdulillah ya Allah, akhirnya sebuah kebenaran terungkap tanpa aku perlu mengingkari janji "
" Apa ayah tau kalau sertifikat rumah ini di gadai Wak Lilis dan Wak Asrul ke koperasi?"
Malam itu menjadi malam yang panjang, sebab MJ dan ayahnya banyak bercerita tentang masa lalu. Pak Abdul lebih banyak menangis karena penyesalan. MJ sangat kasihan karena sebenarnya mental ayahnya hancur dalam rasa bersalah terhadap mendiang ibu.
" Lepaskan beban itu Yah! Jangan menanggung apa yang seharusnya tidak ayah tanggung. Biarlah jika rumah ini hilang, anggap itu adalah harga dari sebuah kebebasan.
Kakek dan semua uwak-uwak nggak ada yang tulus menyayangi ayah, buktinya mereka nggak membiarkan ayah hidup dengan layak. Ayah cuma punya aku dan Mas Gilang, jadi aku mohon berhentilah bersikap iba pada mereka" ujar MJ menasehati
" Tapi ayah harus memperjuangkan sertifikat ini agar kembali, neng! Itu adalah perjuangan ibumu semasa hidup, ayah tidak rela jika rumah ini sampai hilang karena ulah Kang Asrul!"
" Lalu ayah mau gimana? Mau nyusulin uwak ke rumahnya? Sendirian? gimana kalau kenapa-kenapa? Aku cuma punya ayah, aku nggak pengen mereka lukain ayah lagi. Aku ikhlas Yah, sudah cukup ayah diperbudak sama mereka. Ayah butuh tenang sekarang, jalani hidup tanpa bayang-bayang mereka lagi. Aku sudah mencobanya selama setahun ini, alhmdulillah aku merasakan kedamaian itu ayah" nasihat MJ
Suara teriakan dan tangisan terdengar dari kamar utama, Pak Abdul langsung berlari menyusuli istrinya yang mimpi buruk.
" Kenzo anakku .. Hiks hiks"
MJ menyaksikan diambang pintu kamar, terlihat wajah Bu Nia yang kurus, sayu dan depresi. Ia benar-benar hancur kehilangan bayinya, dan ayah hanya memeluk tubuh rapuh itu sambil menenangkan.
Kalau gini caranya, nggak mungkin gue minta ayah cerein kanjeng ratu. Gue bisa di cap jin Dasyim jalur anak sambung! Kasian juga lihatnya, semua ibu pasti akan hancur kehilangan anak.
Kalo boleh minta di doubel Up donk🤭😍😍😍