Ia ditemukan di tengah hujan, hampir mati, dan seharusnya hanya menjadi satu keputusan singkat dalam hidup seorang pria berkuasa.
Namun Wang Hao Yu tidak pernah benar-benar melepaskan Yun Qi.
Diadopsi secara diam-diam, dibesarkan dalam kemewahan yang dingin, Yun Qi tumbuh dengan satu keyakinan: pria itu hanyalah pelindungnya. Kakaknya. Penyelamatnya.
Sampai ia dewasa… dan tatapan itu berubah.
Kebebasan yang Yun Qi rasakan di dunia luar ternyata selalu berada dalam jangkauan pengawasan. Setiap langkahnya tercatat. Setiap pilihannya diamati. Dan ketika ia mulai jatuh cinta pada orang lain, sesuatu dalam diri Hao Yu perlahan retak.
Ini bukan kisah cinta yang bersih.
Ini tentang perlindungan yang terlalu dalam, perhatian yang berubah menjadi obsesi, dan perasaan terlarang yang tumbuh tanpa izin.
Karena bagi Hao Yu, Yun Qi bukan hanya masa lalu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon frj_nyt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31
Apartemen itu terlalu sunyi untuk ukuran malam. Lampu kota memantul di dinding kaca ruang tamu, menciptakan bayangan panjang yang bergerak pelan setiap kali tirai tipis tertiup angin dari ventilasi. Yun Qi duduk di sofa, lututnya dipeluk, punggungnya sedikit membungkuk. Ia sudah mandi, mengenakan piyama sederhana warna krem—terlalu sederhana untuk apartemen semewah ini, terlalu kecil untuk ruang yang selalu terasa kebesaran baginya.
Jam dinding berdetak pelan.
Tok.
Tok.
Tok.
Biasanya, suara itu tidak pernah ia perhatikan. Tapi malam ini, setiap detik terasa seperti ada yang menghitung mundur sesuatu yang tidak ia mengerti.
Hao Yu belum pulang.
Itu hal biasa. Sejak kembali ke hidupnya, pria itu tetap sama—sibuk, terjadwal, dan nyaris selalu datang saat hari sudah terlalu lelah untuk disapa. Namun entah kenapa, malam ini Yun Qi merasa gelisah. Bukan karena takut sendirian. Ia sudah terbiasa sendiri sejak usia lima belas. Yang membuat dadanya terasa sempit adalah perasaan… diperhatikan.
Seperti ada mata yang selalu tahu di mana ia berdiri.
Ponselnya bergetar di meja.
Pesan masuk.
Hao Yu: Sudah makan?
Yun Qi menatap layar itu lebih lama dari yang seharusnya.
Pertanyaan sederhana. Terlalu sederhana untuk seorang CEO yang mengatur hidup ribuan orang. Tapi justru itu yang membuatnya terasa berat.
Ia mengetik pelan.
Yun Qi: Sudah. Masak sendiri.
Tiga titik muncul. Menghilang. Muncul lagi.
Hao Yu: Apa?
Yun Qi menghela napas kecil, jari-jarinya sedikit dingin.
Yun Qi: Sup. Sama telur.
Balasan itu datang cepat.
Hao Yu: Besok jangan masak. Aku sudah atur katering.
Kata atur membuat bahunya menegang tanpa sadar.
Ia menekan layar, lalu berhenti. Ada dorongan kecil di dadanya—bukan marah, bukan takut, lebih seperti… tidak nyaman yang belum punya nama.
Yun Qi: Aku bisa urus sendiri, Ge.
Beberapa detik berlalu. Tidak ada balasan.
Yun Qi menaruh ponsel di sofa, lalu berdiri. Ia berjalan ke dapur, menuangkan air ke gelas hanya untuk melakukan sesuatu. Pantulan wajahnya di kaca lemari terlihat pucat, matanya tampak lebih besar dari biasanya. Ia menyentuh pipinya, memastikan dirinya benar-benar ada di sana.
Suara pintu terbuka membuatnya tersentak.
Sepatunya masih di tangan ketika Hao Yu masuk. Jas hitamnya masih rapi, dasinya sudah dilepas dan dimasukkan ke saku. Rambutnya sedikit berantakan—tanda hari yang panjang. Namun matanya… matanya terlalu tajam untuk seseorang yang baru pulang larut.
Tatapan itu langsung menemukan Yun Qi.
Bukan sekadar melihat.
Mengukur.
Menilai.
Yun Qi berdiri kaku di dekat dapur, gelas air masih di tangannya.
“Kamu belum tidur,” kata Hao Yu. Suaranya rendah, datar, seperti biasa.
Yun Qi mengangguk kecil. “Belum ngantuk.”
Hao Yu meletakkan sepatunya dengan rapi, lalu berjalan masuk. Setiap langkahnya tenang, pasti. Tapi jarak antara mereka terasa menyempit terlalu cepat.
“Aku lihat dari CCTV,” lanjutnya, seolah membicarakan cuaca. “Kamu keluar apartemen sore tadi.”
Gelas di tangan Yun Qi hampir terlepas.
Ia menahan napas. “Aku cuma ke minimarket. Beli sabun.”
Hao Yu berhenti sekitar dua langkah di depannya.
“Kenapa tidak minta supir?”
Nada itu tidak keras. Tidak marah. Tapi ada tekanan yang membuat Yun Qi ingin mundur selangkah.
“Jaraknya dekat,” jawabnya pelan. “Aku jalan kaki.”
Mata Hao Yu turun sebentar—ke rambut Yun Qi yang masih sedikit lembap, ke lehernya yang terbuka, ke jari-jarinya yang menggenggam gelas terlalu erat. Lalu kembali ke wajahnya.
“Kamu tidak perlu keluar sendirian,” katanya.
Itu bukan saran.
Yun Qi menelan ludah. “Ge… ini cuma minimarket.”
“Aku tahu.”
“Kalau begitu—”
“Aku tahu,” ulang Hao Yu, kali ini lebih pelan. Lebih dalam. “Tapi aku tidak suka.”
Kalimat itu menggantung di udara, berat dan tidak wajar.
Yun Qi merasakan sesuatu bergetar di dadanya. Bukan karena marah, tapi karena ketidakseimbangan. Sejak kapan tidak suka menjadi alasan yang cukup untuk mengatur langkah kakinya?
Ia menunduk, memalingkan wajah. “Aku bukan anak kecil.”
Hao Yu tidak langsung menjawab.
Ia melangkah satu langkah lebih dekat.
“Justru karena kamu bukan anak kecil,” katanya. “Aku harus lebih hati-hati.”
Yun Qi mengangkat kepala. Matanya bertemu dengan mata Hao Yu—dan untuk pertama kalinya sejak pria itu kembali, ia melihat sesuatu yang berbeda di sana.
Bukan dingin.
Bukan sekadar protektif.
Ada… sesuatu yang lebih gelap. Lebih dalam. Seperti api yang ditahan terlalu lama di balik kaca tebal.
Hao Yu menyadari perubahan ekspresinya sendiri dan segera memalingkan wajah. Ia menghela napas pendek, seolah menarik dirinya kembali ke garis yang seharusnya.
“Kamu kelihatan capek,” katanya, suaranya kembali netral. “Tidur. Besok kamu ada kelas pagi.”
Ia berbalik menuju kamarnya, meninggalkan Yun Qi berdiri dengan perasaan yang tidak utuh.
Malam itu, Yun Qi sulit tidur.
Ia berbaring menyamping, memeluk bantal, mendengarkan suara langkah kaki Hao Yu di kamar sebelah. Setiap bunyi pintu, setiap desiran air dari kamar mandi, terasa terlalu jelas. Ia memejamkan mata, mencoba mengingat wajah Hao Yu tadi—tatapan itu.
Bukan tatapan seorang kakak.
Bukan tatapan seorang wali.
Ada sesuatu yang berubah.
Dan perubahan itu membuatnya merasa aman… sekaligus terancam.
Pagi datang terlalu cepat.
Yun Qi bangun dengan perasaan berat di kepala. Ia keluar kamar dan mendapati meja makan sudah tertata rapi. Sarapan dari katering mahal—semuanya terlihat sempurna, steril, seperti hidup yang sedang diatur rapi oleh tangan tak terlihat.
Hao Yu duduk di ujung meja, membaca laporan di tablet. Kemeja abu-abu terang membalut tubuhnya dengan pas. Kancing atas terbuka satu, cukup untuk membuatnya terlihat santai—terlalu santai untuk seseorang yang biasanya kaku.
“Pagi,” kata Yun Qi ragu.
Hao Yu mengangkat kepala. Tatapannya berhenti sepersekian detik lebih lama dari yang perlu.
“Pagi.”
Ia menunjuk kursi. Yun Qi duduk.
Mereka makan dalam diam. Tapi bukan diam yang nyaman. Setiap gerakan kecil terasa diperhatikan. Ketika Yun Qi mengangkat sendok, ia sadar Hao Yu melihat. Ketika ia meneguk air, ia merasa tatapan itu belum pergi.
“Kelasmu jam berapa?” tanya Hao Yu akhirnya.
“Delapan,” jawab Yun Qi. “Aku bisa naik bus.”
“Aku antar.”
Yun Qi refleks menggeleng. “Tidak perlu. Aku—”
“Aku antar,” ulang Hao Yu, tanpa emosi, tanpa nada tinggi.
Yun Qi menggigit bibir. Ia ingin menolak. Tapi ada sesuatu di mata Hao Yu yang membuat kata-kata itu tertelan sebelum sempat keluar.
“Baik,” katanya akhirnya.
Mobil hitam itu melaju tenang di jalan pagi. Yun Qi duduk di kursi penumpang, tas di pangkuan. Hao Yu menyetir sendiri—sesuatu yang jarang ia lakukan. Biasanya ada supir. Biasanya ada jarak.
Hari ini, jarak itu menghilang.
“Jangan pulang terlalu malam,” kata Hao Yu, matanya tetap ke depan.
“Aku bukan anak SMA,” jawab Yun Qi, sedikit lebih berani.
“Aku tahu.”
“Ge,” Yun Qi menoleh, “kenapa akhir-akhir ini… kamu seperti ini?”
Hao Yu tidak langsung menjawab. Lampu merah membuat mobil berhenti. Kota berdenyut di luar jendela.
“Seperti apa?” tanyanya akhirnya.
“Terlalu… memperhatikan,” kata Yun Qi, memilih kata dengan hati-hati. “Aku tahu kamu peduli. Tapi ini berbeda.”
Hao Yu menoleh padanya.
Tatapan itu kembali muncul.
Lebih jelas.
Lebih jujur.
“Kamu aman,” katanya pelan. “Itu saja yang penting.”
Yun Qi merasakan dadanya menghangat. Tapi di balik hangat itu, ada rasa sesak yang tidak bisa ia jelaskan.
Mobil kembali berjalan.
Ketika sampai di depan kampus, Yun Qi membuka pintu, lalu berhenti.
“Ge,” katanya, menoleh sekali lagi. “Aku berterima kasih. Tapi… tolong percayai aku juga.”
Hao Yu menatapnya lama.
Terlalu lama.
“Aku mempercayaimu,” katanya. “Yang tidak aku percayai… adalah dunia di sekitarmu.”
Yun Qi turun dari mobil dengan perasaan campur aduk. Saat ia berjalan menjauh, ia bisa merasakan tatapan Hao Yu masih melekat di punggungnya—seperti bayangan yang tidak akan pernah benar-benar pergi.
Di dalam mobil, Hao Yu menggenggam setir lebih erat dari yang ia sadari.
Ia tahu.
Ia tahu tatapannya telah berubah.
Dan ia tahu… tidak ada jalan kembali.
semoga novelnya seruuu