NovelToon NovelToon
Tabib Dari Masa Depan

Tabib Dari Masa Depan

Status: sedang berlangsung
Genre:Dokter Ajaib / Penyelamat / Anak Lelaki/Pria Miskin / Era Kolonial / Mengubah Takdir / Time Travel
Popularitas:9.9k
Nilai: 5
Nama Author: Mardonii

Dr. Doni, seorang dokter bedah modern dari tahun 2020-an, terbangun dalam tubuh anak yatim piatu berusia 15 tahun bernama Doni Wira di masa kolonial Belanda tahun 1908. Dengan pengetahuan medis 100+ tahun lebih maju, ia berjuang menyelamatkan nyawa di tengah keterbatasan absolut, tanpa alat modern, tanpa obat, tanpa sistem kesehatan sambil menghadapi konflik berlapis: takhayul lokal, kekuasaan kolonial, dan keterbatasan moral sebagai manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mardonii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 29. TARUHAN TERAKHIR

..."Dalam dua minggu, takdir akan memutuskan: apakah kau penyelamat atau pembohong yang pantas mati."...

...---•---...

Doni dibawa ke ruang tunggu di lantai bawah sementara pelayan pergi mengatur pengiriman bahan yang dia minta. Ruangan itu kecil tapi mewah, kursi beludru merah, meja kayu dengan vas bunga segar, dan jendela besar yang menghadap taman. Van der Berg duduk di sampingnya, wajahnya serius, garis-garis di dahinya semakin dalam.

"Kau yakin dengan ini?" tanya Van der Berg pelan, suaranya nyaris berbisik.

"Tidak," jawab Doni jujur, tangannya terkepal di pangkuan. "Tapi ini satu-satunya cara."

"Jika kau gagal, Van den Bosch akan hancurkan kau. Dan aku tidak bisa lindungi."

"Aku tahu."

Van der Berg terdiam, menatap lantai marmer yang mengkilap seperti cermin. "Kenapa kau lakukan ini? Kau bisa terima tawaran Tuan Kasim. Hidup aman. Kenapa ambil risiko sebesar ini?"

Doni menatap tangannya sendiri. Tangan yang sudah menyentuh ratusan pasien. Tangan yang bergetar dari takut tapi tetap bekerja. Tangan yang menyelamatkan dan gagal menyelamatkan.

"Karena jika aku tidak lakukan ini, aku akan jadi budak sistem selamanya," jawabnya pelan tapi tegas. "Aku harus ikut aturan mereka. Melayani kepentingan mereka. Tapi jika aku berhasil, aku punya kekuatan untuk ubah aturan main."

Van der Berg tersenyum tipis, ada kekaguman di matanya. "Kau berani. Bodoh, tapi berani."

Pelayan kembali dengan nampan berisi segelas air jeruk dan sepiring kue kecil yang berbau mentega dan gula. "Silakan menunggu. Bahan-bahan akan tiba besok pagi."

Doni tidak menyentuh kue itu. Perutnya terlalu mual untuk makan. Air jeruk dia minum sedikit, hanya untuk membasahi tenggorokan yang kering.

...---•---...

Perjalanan pulang terasa panjang. Kereta kuda melaju pelan melewati jalan kota yang mulai sepi, melewati rumah-rumah besar pedagang kaya dengan pagar tinggi dan taman terawat, lalu perlahan memasuki wilayah kampung dengan jalan tanah berlumpur dan gubuk-gubuk sederhana yang atapnya bocor. Kontras yang menyakitkan mata. Dua dunia yang berbeda, dipisahkan hanya oleh beberapa kilometer tapi terasa seperti jurang yang tidak akan pernah terjembatani.

Ketika Doni turun di balai kampung, Karyo sudah menunggu dengan wajah cemas. Bambang dan Slamet duduk di teras, mata mereka menatap penuh tanya, menahan napas menunggu kabar.

"Bagaimana?" tanya Karyo cepat, melangkah maju.

"Aku dapat kesempatan," jawab Doni, suaranya lelah. "Dua minggu untuk buktikan aku bisa sembuhkan istri Residen."

"Dan jika gagal?"

Doni tidak menjawab. Karyo sudah tahu jawabannya. Mereka semua tahu.

"Ada pasien menunggu," kata Bambang, menunjuk ke dalam balai. "Tiga orang. Salah satunya anak yang kemarin kau tangani. Dia kembali lagi."

Anak gabag. Doni langsung masuk, jantungnya berdebar antara harap dan takut. Di dalam, duduk ibu yang sama dengan anak kecil di pangkuannya. Anak itu masih lemah, tubuhnya kurus, tapi matanya terbuka, napasnya lebih teratur dari kemarin.

"Dia lebih baik," kata sang ibu, suaranya bergetar dengan air mata yang menggenang. "Demamnya turun. Dia mulai mau minum. Tadi pagi dia bahkan tersenyum."

Doni berlutut, memeriksa anak itu dengan hati-hati. Jari-jarinya menyentuh kulit yang masih hangat tapi tidak sepanas sebelumnya. Bercak merah di kulit mulai pudar, warnanya tidak lagi mencolok. Bengkak di mata berkurang, kelopaknya bisa terbuka lebih lebar. Napasnya masih cepat tapi tidak lagi tersendat seperti orang yang hampir tenggelam. Otak sepertinya tidak rusak permanen. Dia akan hidup.

"Terus kasih ramuan," kata Doni, merasakan kehangatan kecil di dadanya. "Jangan berhenti. Dan jaga dia tetap tenang, jangan banyak gerak dulu. Biarkan tubuhnya istirahat."

Sang ibu mengangguk patuh, matanya berkaca-kaca, air mata jatuh membasahi pipinya. "Terima kasih. Terima kasih banyak."

Doni merasakan kehangatan kecil di dadanya yang sempat membeku. Satu nyawa terselamatkan. Di tengah semua tekanan, semua ancaman, satu nyawa kecil ini masih bisa aku selamatkan.

Pasien berikutnya adalah lelaki tua dengan batuk keras yang membuatnya hampir tidak bisa tidur, dadanya bunyi seperti ada sesuatu yang bergesekan di dalam. Doni memeriksa, mendengar napasnya yang tersumbat, memberi ramuan jahe dan madu yang kental, memberi instruksi tentang posisi tidur agar dahak bisa keluar.

Lalu seorang perempuan dengan luka di kaki yang mulai membusuk, dagingnya berubah hitam di bagian tepi, berbau seperti ikan mati. Doni membersihkan dengan air garam yang membuatnya meringis kesakitan, memotong bagian daging yang sudah mati dengan pisau yang sudah direbus, mengoleskan madu dan daun sirih yang dihaluskan, membalutnya dengan kain bersih yang sudah dicuci berkali-kali.

Satu per satu, dia tangani dengan fokus penuh, tangannya bergerak otomatis seperti mesin yang sudah diprogram, meski pikirannya kadang melayang ke istri Residen, ke rumput laut, ke dua minggu yang akan menentukan hidupnya.

Empat belas hari. Itu tidak banyak waktu untuk melihat perubahan signifikan. Tapi harus cukup.

Malam tiba ketika pasien terakhir pergi, langkah kakinya menjauh dengan bunyi derap yang perlahan menghilang. Doni duduk di teras balai, menatap langit gelap tanpa bintang, hanya kegelapan yang pekat seperti kain hitam tebal. Lelah menggerogoti setiap otot di tubuhnya, setiap sendi terasa seperti karat yang tidak mau bergerak. Tapi ada sesuatu yang berbeda malam ini. Ada rasa beban yang lebih berat, tapi juga rasa tujuan yang lebih jelas.

"Kau belum makan," kata Karyo, membawa sepiring nasi dan sayur sederhana, aroma tempe goreng yang harum.

Doni menerima tapi tidak langsung makan. "Karyo, besok aku butuh bantuanmu."

"Apa?"

"Aku butuh kau pergi ke pantai. Cari rumput laut segar, sebanyak mungkin. Yang masih basah, baru dipetik. Dan garam laut yang kasar, yang masih basah, bukan yang sudah kering."

Karyo mengerutkan kening. "Untuk apa?"

"Untuk selamatkan nyawa istri Residen. Dan selamatkan semua yang sudah kita bangun di sini."

Karyo menatapnya lama, matanya mencari keraguan di wajah Doni. Tapi yang dia lihat hanya kelelahan dan tekad yang tidak mau patah. Lalu dia mengangguk. "Baik. Aku pergi besok pagi. Sebelum matahari terbit."

Doni akhirnya makan, meski setiap suap terasa berat, seperti menelan batu kerikil. Nasi yang lembut terasa seperti pasir. Sayur yang segar terasa hambar. Pikirannya terus berputar, merencanakan langkah berikutnya, menghitung kemungkinan, mengukur risiko.

Dua minggu. Empat belas hari. Itu tidak banyak waktu untuk melihat perubahan signifikan dari terapi yodium. Tapi cukup untuk melihat tanda-tanda perbaikan. Nafsu makan yang kembali. Energi yang meningkat. Jantung yang lebih stabil.

Itu harus cukup.

Malam semakin larut. Kampung sunyi. Hanya suara jangkrik yang bersahutan dengan irama monoton dan kadang anjing menggonggong di kejauhan, suara yang teredam oleh jarak. Doni berjalan kembali ke gubuk Pak Karso, langkahnya gontai, kaki hampir terseret di tanah. Mbok Wulan sudah tidur, napasnya teratur di sudut gubuk. Tari juga, tubuh kecilnya meringkuk di bawah selimut tipis. Hanya Pak Karso yang masih duduk di luar, merokok dengan pipa bambu kecil, asapnya naik tipis ke udara malam.

"Kau kelihatan lelah, Nak," katanya pelan, suaranya serak.

"Aku selalu lelah sekarang, Pak," jawab Doni, duduk di sampingnya, tubuhnya merosot seperti karung beras.

"Aku dengar kau bertemu Residen hari ini."

Berita memang cepat. Doni mengangguk.

"Itu dunia berbahaya," lanjut Pak Karso, matanya menatap jauh ke kegelapan. "Dunia orang-orang besar. Mereka bisa angkat kau tinggi seperti elang, tapi juga bisa remukkan kau jadi debu yang diinjak."

"Aku tidak punya pilihan lain."

"Selalu ada pilihan, Nak. Pertanyaannya, pilihan mana yang bisa kau hidupi tanpa menyesal."

Doni merenungkan kata-kata itu. Pak Karso benar. Aku bisa saja kabur. Tinggalkan semuanya. Pergi ke kota lain, mulai dari nol dengan identitas baru. Tapi itu berarti meninggalkan semua orang yang sudah percaya padaku. Meninggalkan anak-anak yang masih butuh diobati. Meninggalkan Karyo, Bambang, semua orang yang sudah jadi keluarga.

"Aku sudah pilih, Pak," kata Doni akhirnya. "Sekarang aku tinggal pastikan aku tidak menyesal."

Pak Karso mengangguk, menghembuskan asap tipis yang langsung dibawa angin. "Kalau begitu, lakukan yang terbaik. Sisanya, serahkan pada Yang Kuasa."

Doni tersenyum tipis. Nasihat sederhana, tapi entah kenapa menenangkan.

Dia masuk ke gubuk, berbaring di tikar anyaman yang sudah mulai usang, menatap atap bambu yang bocor di beberapa tempat. Cahaya bulan yang samar menembus celah-celah, membuat garis-garis cahaya tipis di lantai tanah. Besok, rumput laut akan tiba. Besok, dia akan mulai terapi yang mungkin menyelamatkannya atau menghancurkannya.

Tapi malam ini, untuk beberapa jam ke depan, dia hanya ingin tidur.

Menutup mata.

Dan berharap ketika bangun besok, dunia tidak akan terlalu kejam.

Empat belas hari.

Satu kesempatan.

Hidup atau mati.

Napasnya melambat. Tubuhnya rileks perlahan, meski pikirannya masih berputar seperti roda yang tidak mau berhenti.

Di luar, angin malam bertiup membawa bau tanah basah dan asap kayu.

Dan di suatu tempat, jam terus berdetak.

Menghitung mundur.

...---•---...

...BERSAMBUNG...

1
Chimpanzini Menolak Nepotisme
akhirnya tari berhasil juga melawan penyakitnya. good job Doni, good job thor/Determined//Determined/
Chimpanzini Menolak Nepotisme
vigil itu apa thor?
CACASTAR
kalau kataku ya, Doni itu ketitipan roh, jadi kuat saat menangani ratusan pasien...
Tulisan_nic
Betul, saat tubuh demam memang banyak sekali cairan yang hilang. Di sarankan untuk memperbanyak minum air putih. Namun harus perlahan-lahan. Sedikit demi sedikit.
Tulisan_nic
Tari ini ada kemungkinan dehidrasi juga, sebaiknya minum secara perlahan-lahan. Karna kalau sekaligus bisa berefek mual, muntah.
Wida_Ast Jcy
Wah... akhirnya ya Don. usaha gak ada yang dia sia
Mingyu gf😘
begitu ahli dan teliti
Three Flowers
jangan merasa bersalah,Doni. Meski kamu seharusnya bisa mengobati, tapi di jaman ini semua serba terbatas. Lagipula, ada yang sakit nya sudah parah banget, meski hidup di dunia modern pun belum tentu bisa selamat. Serahkan pada takdir.
Three Flowers
Lebih baik jujur daripada memberi harapan palsu. Tapi penyampaiannya bagus, jadi di balik harapan juga ada peluang tidak selamat, tergantung kondisi si anak. Jadi tinggal menunggu takdir, yang penting sudah berusaha sebaik mungkin.
Jing_Jing22
Ki Darmo ini bener-bener ya, pinter banget memutarbalikkan fakta pakai alasan jimat! Kayaknya dia bakal jadi penghalang besar buat Doni nih.
PrettyDuck
duhh gimana ya? kalo doni nolak pun mereka bisa tersinggung gak sih? 🥲
PrettyDuck
sedihnya 😭
boro2 mau makan bergizi. bisa makan tiap hari aja mereka udah bersyukur mungkin 🥲
PrettyDuck
kalo diduitin doni bisa jadi orang kaya sih ini 🙈
DANA SUPRIYA
luar biasa kemenangan ini
🦋⃞⃟𝓬🧸 MULIANA ѕ⍣⃝✰
lagi-lagi jin yang disalahkan /Facepalm//Facepalm/
🦋⃞⃟𝓬🧸 MULIANA ѕ⍣⃝✰
ki darmo hanya bisa mengandalkan mantra dan sesajian
🦋⃞⃟𝓬🧸 MULIANA ѕ⍣⃝✰
dia udah biasa melakukannya. tapi, dengan alat lebih lengkap 🤭
putri bungsu
perjuangan km nggk sia sia Don, lihat udah ada kemajuan
Mentariz
Kamu harus pecaya dengan kemampuanmu sendiri don, jangan pernah ragu, lakukan aja secara maksimal, hasilnya pasti akan baik-baik saja
Mentariz
Iya, sebaiknya kamu istirahat dulu, don
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!