NovelToon NovelToon
Sumpah Di Atas Luka

Sumpah Di Atas Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Dijodohkan Orang Tua / Slice of Life / Teen Angst / Penyesalan Suami / KDRT (Kekerasan dalam rumah tangga) / Romantis
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Peachy

Bagi Brixton, pernikahan ini bukanlah awal dari sebuah kebahagiaan, melainkan lonceng kematian bagi kebebasannya. Di bawah sumpah yang dipaksakan oleh ambisi keluarga, ia harus merelakan wanita yang ia cintai menjadi kenangan pahit, demi bersanding dengan seseorang yang dianggapnya sebagai kutukan hidup: dirimu. Brixton tidak pernah mencoba menyembunyikan kebenciannya. Baginya, setiap inci wajahmu adalah pengingat akan masa depan yang dirampas darinya. Di dalam rumah yang seharusnya menjadi surga, ia membangun tembok tinggi yang terbuat dari hinaan, penolakan, dan tatapan tajam yang menusuk. Puncaknya terjadi saat Brixton jatuh sakit dalam kesendiriannya. Di tengah demam yang membakar tubuh dan harga dirinya, ia tetap memilih untuk menderita daripada menerima uluran tanganmu. Baginya, sentuhanmu lebih panas dari demamnya, dan perhatianmu lebih menjijikkan daripada kematian itu sendiri. "Aku lebih baik merangkak menuju kematian daripada disentuh olehmu." Di antara benci yang mendarah daging dan luka yang tak kunjung kering, akankah sumpah di atas altar itu tetap menjadi penjara? Ataukah di balik rintihan sakitnya, tersimpan sebuah rahasia yang bahkan Brixton sendiri takut untuk mengakuinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Peachy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Janji yang terlupakan

Kesempurnaan terkadang menjadi musuh bagi kewaspadaan. Selama lima belas tahun, Brixton Vance telah membangun reputasi sebagai suami dan ayah teladan. Namun, sifat dasarnya sebagai seorang penguasa bisnis yang ambisius terkadang masih bersembunyi di balik lapisan kasih sayangnya. Keberhasilan besar perusahaannya di kancah internasional belakangan ini menuntut waktu dan perhatian yang luar biasa, membuat ritme hidupnya perlahan-lahan kembali terseret ke dalam pusaran ego profesional.

Hari itu adalah hari Jumat yang seharusnya menjadi hari istimewa. Sudah berminggu-minggu Leo dan Aurelia menagih janji sang Papa untuk mengunjungi "The Grand Winter Fair"—sebuah pasar malam raksasa musiman yang hanya buka satu kali dalam setahun di London. Aurelia bahkan sudah menandai kalender di kamarnya dengan gambar bintang-bintang besar, sementara Leo sudah menyiapkan kamera untuk memotret momen kebersamaan mereka.

"Papa janji ya, sore ini jam lima kita berangkat?" ucap Aurelia pagi itu sebelum berangkat sekolah, sambil memeluk leher Brixton erat.

"Tentu saja, Putri Kecil. Papa akan pulang lebih awal. Aku sudah mengosongkan jadwal sore ini khusus untuk kalian," jawab Brixton dengan senyum meyakinkan, mencium kening putrinya dan memberikan kedipan mata pada Alana.

Namun, dunia bisnis memiliki cara yang kejam untuk menguji integritas seseorang. Di kantor pusat Vance International, sebuah kesepakatan raksasa dengan investor dari Timur Tengah mendadak mencapai titik puncaknya. Kesepakatan ini bernilai puluhan triliun rupiah dan merupakan proyek prestisius yang sudah dikerjakan Brixton selama dua tahun terakhir.

Pukul empat sore, saat Brixton bersiap untuk membereskan meja kerjanya, pintu ruangannya terbuka. Sekelompok rekan bisnis senior dan investor utama masuk dengan wajah penuh kegembiraan.

"Brixton! Kontraknya sudah ditandatangani! Ini kemenangan terbesar kita dekade ini!" seru Tuan Richard, rekan bisnis tertuanya. "Kami sudah memesan restoran pribadi di pusat kota. Semua orang menunggu. Kau tidak mungkin absen di pesta kemenanganmu sendiri, kan?"

Brixton melirik jam tangannya. Pukul 16:15. Jika ia pergi sekarang, ia bisa sampai di rumah tepat waktu. Namun, tekanan sosial dari para pria berjas mahal ini mulai menjepitnya.

"Aku punya janji keluarga sore ini, Richard," jawab Brixton, meski nada suaranya mulai goyah.

"Ayolah, Brix! Istrimu pasti mengerti. Ini momen bersejarah bagi perusahaan. Hanya beberapa jam untuk makan malam dan merayakannya. Kau adalah bintang utamanya. Jangan merusak suasana perayaan ini hanya untuk pergi ke pasar malam yang bisa kau datangi kapan saja," bujuk rekan lainnya sambil menepuk bahu Brixton.

Di dalam kepala Brixton, terjadi peperangan batin. Sisi emosionalnya mengingatkannya pada wajah antusias Aurelia dan Leo. Namun, sisi egonya sebagai seorang "Pemenang" berbisik bahwa satu kali absen tidak akan menghancurkan segalanya. Ia merasa haus akan pengakuan dari rekan-rekannya setelah kerja keras yang melelahkan.

"Hanya makan malam singkat?" tanya Brixton meyakinkan diri sendiri.

"Hanya makan malam. Pukul tujuh kau sudah bisa pulang," jawab Richard meyakinkan.

Brixton pun menyerah. Ia mengambil ponselnya, bermaksud menghubungi Alana. Namun, tepat saat itu, rentetan pesan masuk dari sekretarisnya mengenai detail perayaan membuat fokusnya teralih. Ia berpikir, ah, nanti saja aku hubungi saat di perjalanan ke restoran.

Namun, saat pesta dimulai di sebuah restoran mewah yang eksklusif, alkohol mulai mengalir, dan pujian-pujian selangit terus ditujukan padanya, Brixton benar-benar terhanyut. Ponselnya ia letakkan di dalam saku jas yang kemudian ia gantungkan di kursi. Suasana yang riuh, musik jazz yang mengalun, dan obrolan bisnis yang memabukkan membuat janji pada anak-anaknya perlahan mengabur, terkubur di bawah tumpukan ego dan rasa bangga sebagai pengusaha sukses.

Sementara itu, di mansion Vance, suasana sangat berbeda.

Aurelia sudah mengenakan jaket bulu berwarna pink favoritnya dan sepatu bot yang serasi. Leo sudah siap dengan jaket parka hitamnya, duduk di ruang tamu sambil memeriksa baterai kameranya berulang kali. Alana tampil cantik dengan syal pemberian Brixton, sesekali melirik jam di dinding.

Pukul 17:30. Brixton belum datang.

"Mama, mungkin Papa terjebak macet ya?" tanya Aurelia, mulai merasa gelisah.

"Mungkin saja, Sayang. Papa pasti sedang di jalan," jawab Alana, meski hatinya mulai merasa tidak enak. Ia mencoba menghubungi ponsel Brixton, namun hanya nada sambung yang terdengar.

Pukul 18:30. Langit London sudah gelap sepenuhnya. Suhu di luar turun drastis. Leo mulai meletakkan kameranya di meja. Wajahnya yang biasanya tegang kini tampak kecewa. Ia mulai mengerti apa yang terjadi. Ia sudah cukup besar untuk tahu bahwa bagi ayahnya, terkadang "bisnis" adalah kompetisi yang tak ingin ia tinggalkan.

"Dia tidak akan datang, Ma," ucap Leo datar.

"Leo, jangan bicara begitu. Papa sudah janji," bela Alana, meski suaranya mulai bergetar. Ia kembali menelepon, kali ini puluhan kali. Tak ada jawaban.

Aurelia mulai terisak kecil. "Tapi Papa bilang hari ini spesial... Papa bilang dia sudah mengosongkan jadwal..."

Melihat air mata putrinya, Alana merasakan kemarahan yang sudah lama tidak ia rasakan mulai mendidih di dadanya. Ini bukan sekadar tentang pasar malam. Ini tentang pengkhianatan terhadap kepercayaan anak-anak yang begitu memuja ayahnya. Ini tentang kembalinya sosok Brixton yang egois, yang menganggap bahwa uang dan kesuksesan bisa menggantikan kehadiran.

Pukul 20:00. Aurelia akhirnya tertidur di sofa dengan air mata yang mengering di pipinya, masih mengenakan jaket dan sepatunya. Leo sudah naik ke kamar tanpa sepatah kata pun, meninggalkan kameranya tergeletak begitu saja—sebuah simbol bahwa ia tidak lagi tertarik mengabadikan momen bersama ayahnya malam itu.

Pukul 22:30. Sebuah mobil sedan hitam berhenti di depan mansion. Brixton turun dengan langkah yang sedikit tidak stabil karena pengaruh alkohol, meski ia tidak mabuk sepenuhnya. Ia berjalan masuk ke dalam rumah dengan senyum kemenangan yang masih tersisa di wajahnya, sama sekali lupa dengan kepanikannya di pagi hari.

Namun, begitu ia melangkah masuk ke ruang tamu, senyum itu lenyap.

Lampu ruang tamu redup, hanya menyisakan satu lampu sudut. Ia melihat Aurelia yang meringkuk di sofa, tertidur dengan pakaian lengkap untuk pergi keluar. Ia melihat kamera Leo yang tergeletak di meja. Dan ia melihat Alana, berdiri di dekat jendela, menatap kegelapan malam dengan bahu yang teegang.

Hening yang tercipta begitu mencekam, lebih dingin daripada salju di luar sana.

"Alana..." ucap Brixton pelan, kesadarannya mulai kembali seperti hantaman palu godam. "Aku... aku minta maaf. Tadi ada penandatanganan kontrak besar dan rekan-rekan mengajak makan malam... aku tidak bisa menolak..."

Alana berbalik. Brixton tertegun. Ia mengharapkan Alana akan berteriak atau memarahinya, namun yang ia temukan adalah tatapan yang sangat dingin dan kosong—tatapan yang mengingatkannya pada Alana lima belas tahun yang lalu, saat ia masih menjadi suaminya yang kejam.

"Kontrak besar?" tanya Alana, suaranya sangat tenang namun tajam. "Berapa triliun nilai kontrak itu, Brixton? Apakah cukup untuk membeli kembali harga diri seorang ayah di mata anak-anaknya?"

"Alana, jangan berlebihan. Ini hanya satu malam. Kita bisa pergi besok," bela Brixton, mencoba mendekati istrinya.

"Jangan mendekat," desis Alana. "Aromamu penuh dengan alkohol dan bau kemenangan yang busuk. Kau tahu apa yang dilakukan anak-anakmu malam ini? Aurelia berdiri di depan jendela selama tiga jam, setiap kali ada lampu mobil lewat, dia berteriak 'Papa datang!'. Dan Leo... dia bahkan tidak mau makan malam. Dia kecewa padamu, Brixton. Sangat kecewa."

Brixton menatap Aurelia yang tertidur pulas. Rasa bersalah mulai menggerogoti dadanya. "Aku benar-benar lupa... ponselku ada di jas..."

"Kau tidak lupa, Brixton. Kau memilih untuk melupakan," potong Alana tajam. "Kau menikmati sanjungan rekan-rekanmu. Kau menikmati menjadi 'Sang Raja' di restoran itu, sampai kau menganggap janji pada seorang anak kecil adalah hal sepele yang bisa kau tawar dengan uang. Kau kembali menjadi Brixton yang dulu, yang menganggap dunia berputar di sekitarmu."

Alana melangkah mendekati Brixton, menatap tepat ke matanya. "Kau menghancurkan sesuatu yang butuh waktu bertahun-tahun untuk kau bangun, hanya dalam satu malam demi sebotol minuman dan beberapa tanda tangan."

"Aku akan bicara pada mereka besok pagi," ucap Brixton lemah.

"Besok pagi?" Alana tertawa getir. "Besok pagi Aurelia akan bangun dengan perasaan bahwa dia bukan prioritas Papanya. Dan Leo... kau tahu Leo seperti apa. Dia tidak akan memaafkanmu dengan mudah. Kau baru saja membuktikan pada mereka bahwa semua kata-kata manismu selama ini hanyalah omong kosong saat dihadapkan pada kekuasaan."

Alana berjalan melewati Brixton tanpa menoleh lagi. "Malam ini, tidurlah di ruang kerja. Aku tidak ingin mencium bau egoisme di tempat tidurku."

Brixton berdiri sendirian di tengah ruang tamu yang luas dan sepi. Ia menatap boks kamera Leo dan sepatu pink Aurelia. Keberhasilan bisnis yang tadi ia banggakan kini terasa seperti abu yang pahit di mulutnya. Ia memenangkan kontrak triliunan, namun ia baru saja bangkrut di dalam rumahnya sendiri.

Ia berjalan perlahan menuju sofa, berlutut di samping Aurelia. Ia mencoba membelai rambut putrinya, namun ia menarik kembali tangannya saat menyadari betapa kotor dan dingin perbuatannya malam ini. Ia menyadari satu hal yang menyakitkan: ia telah menjadi pria yang sangat kaya di kantor, namun menjadi pria paling miskin dan hina di bawah atap rumahnya sendiri.

Malam itu, di mansion Vance, tidak ada tawa. Hanya ada kesunyian yang menyakitkan dan bayang-bayang masa lalu yang seolah kembali menertawakan kegagalan Brixton sebagai seorang suami dan ayah. Brixton terduduk di lantai, menundukkan kepalanya dalam kegelapan, menyadari bahwa perjalanan menebus kesalahannya kali ini mungkin akan jauh lebih sulit daripada sebelumnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!