NovelToon NovelToon
Nafkah 500 Ribu Yang Selalu Diungkit

Nafkah 500 Ribu Yang Selalu Diungkit

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:353
Nilai: 5
Nama Author: Anjay22

Ayu wulandari yang berusia dua puluh empat tahun ,ia sudah menikah dengan Aris seorang meneger disebuah perusahaan ,setiap bulan ia hanya mendapatkan nafkah 500 ribu untuk kebutuhan rumah tangganya dan itupun selalu Diungkit oleh suami dan mertuanya ,bagaimana Ayu berjuang untuk keluarganya ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Semangat yang tak pernah padam

Pagi di ruko kecil itu selalu dimulai dengan suara yang sama: mendesis kompor gas, derit pintu kayu yang dibuka Gio, dan aroma bawang goreng yang pelan-pelan merayap ke setiap sudut.

Jam menunjukkan pukul 03.45 ketika Kirana membuka mata. Bukan karena alarm, tapi karena tubuhnya sudah terlatih. Tiga puluh detik kemudian, dia sudah duduk di pinggir tikar, mengucek wajah, lalu langsung ke dapur.

“Pagi, kompor kesayangan,” gumamnya sambil menyalakan api. Kompor besar yang sekarang ada dua biji itu seperti sahabat setia. Satu untuk tumis bumbu, satu lagi untuk goreng ayam. Hari ini menu: nasi box ayam kecap pedas manis, telur dadar iris, sayur kol tumis, dan sambal terasi. Pesanan 110 porsi—rekor baru minggu ini.

Gio muncul di ambang pintu dapur, rambut masih acak-acakan, mata setengah terpejam. “Ma… masih gelap,” rengeknya sambil menggosok mata.

Kirana nyengir tanpa menoleh. “Iya, Nak. Tapi Mama harus cepet. Kamu mau bantu potong bawang lagi? Atau tidur dulu sama bantal?”

Gio langsung loncat kecil. “Bantu! Aku potong bawang sekarang!” Dia ambil talenan kecil yang sudah disiapkan khusus buat dia—ukurannya pas untuk tangan kecilnya, pisau plastik tumpul yang aman.

Kirana kasih dia segenggam bawang merah, “Potong tipis-tipis ya, Chef Gio. Jangan sampe jadi dadu.”

Mereka bekerja dalam ritme yang sudah terbentuk. Kirana lumuri ayam dengan bumbu, Gio potong bawang sambil sesekali nyanyi lagu anak-anak versi ngawur: “Ayam kecap, ayam kecap, enak sekali dimakan… ayam kecap, ayam kecap, Gio mau tambah nasi!” Kirana ketawa kecil, “Jangan tambah nasi dulu, Nak. Nanti kurang buat pelanggan.”

Jam lima pagi, Siska ,Mbak Sari dan Mbak Yuni datang. Pintu ruko dibuka lebar, angin pagi masuk membawa bau tanah basah. Mbak Sari langsung ke kompor kedua, mulai goreng telur. Mbak Yuni ke meja packing, susun kotak styrofoam yang sekarang sudah punya logo sederhana: “Dapur Kirana” dengan gambar spatula dan hati kecil.

“Bu Kir, pesanan hari ini tambah lagi dari klinik dokter gigi deket pasar,” kata Mbak Sari sambil mengaduk wajan. “Katanya pasien pada suka banget ayam kecap kemarin, minta rutin tiap Rabu.”

Kirana mengangguk sambil cicip kuah.

“Alhamdulillah. Besok kita tambah menu baru, mungkin ayam bakar madu. Biar nggak bosen.”

Jam setengah enam, Gio sudah mandi dan sarapan nasi hangat dengan telur ceplok sisa gorengan. Dia duduk di kursi kecil, kakinya bergoyang-goyang. “Ma, hari ini aku ikut ke kantor Tante Anita lagi nggak?”

Kirana usap kepala anaknya. “Iya, Nak. Nanti Mbok Tini anterin jam delapan. Kamu main sama temen-temen di ruang kecil itu ya. Jangan rebutan crayon lagi kayak kemarin.”

Gio nyengir lebar. “Aku janji! Aku gambar mobil balap buat Mama.”

Setelah semua kotak terisi, Kirana hitung cepat. Seratus sepuluh porsi, plus sepuluh cadangan. Dia ambil kardus besar, susun rapi. Siska ,Mbak Sari dan Mbak Yuni bantu angkat ke depan ruko. Sopir ojek online yang sudah langganan,Pak Dedi standby sudah nunggu dengan motor bak belakang yang dimodifikasi khusus buat angkut kotak makanan.

“Pagi, Bu Kir! Wah, hari ini banyak banget ya,” sapa Pak Dedi sambil angkat jempol.

“Pagi, Pak. Hati-hati di jalan, jangan sampe tumpah,” pesan Kirana sambil bantu ikat kardus.

Pak Dedi nyengir. “Tenang, Bu. Ini sudah kayak bawa anak sendiri. Pelan-pelan, tapi pasti sampai.”

Setelah Pak Dedi berangkat, Kirana tidak langsung istirahat. Dia langsung ke meja kecil di pojok dapur, buka buku catatan. Tulis pengeluaran pagi ini: ayam 45 kg, beras 20 kg, bumbu, minyak, gas, upah ,Sisca,Mbak Sari dan Mbak Yuni. Lalu catat pemasukan yang sudah masuk dari transfer pagi tadi. Sisanya dihitung: untung lumayan. Cukup buat memenuhi kebutuhan sehari -hari ,beli baju dan sepatu baru buat anaknya, dan sisihkan buat tabungan “rumah kecil”.

Kirana menatap angka-angka itu lama. Enam bulan lalu, dia cuma punya segenggam beras dan tas plastik berisi mainan Gio. Sekarang? Dia punya tim kecil, pelanggan tetap, bahkan mulai ada yang pesan lewat Instagram—akun @dapurkiranabandung yang dibuat Bu Anita tiga bulan lalu.

Jam delapan, Mbok Tini datang. Wanita paruh baya yang ramah itu langsung ambil alih Gio. “Ayo, Nak, kita ke kantor Bu Anita. Nanti main puzzle sama temen-temen.”

Gio peluk Kirana dulu. “Mama jangan capek ya. Nanti pulang bawa cerita lucu!”

Kirana cium kening anaknya. “Pasti, Nak. Mama janji.”

Setelah Gio pergi, Kirana lanjut kerja. Cuci wajan, bersihkan kompor, potong sayur buat pesanan sore,kali ini catering arisan ibu-ibu komplek, 40 porsi soto ayam spesial. Sambil bekerja, pikirannya melayang ke kejadian kemarin pagi di kawasan industri. Tatapan pemuda itu. Masih terngiang. Tapi dia cepat-cepat menggeleng. “Fokus, Kir. Jangan melamun. Nanti wajan gosong lagi.”

Siang hari, setelah soto selesai dimasak, Kirana duduk sebentar di kursi plastik depan ruko. Minum teh hangat, liat lalu lalang orang. Tetangga sebelah lewat, nyapa, “Bu Kir, besok bisa pesen 5 porsi buat anak kos? Ayam kecapnya enak banget!”

Kirana tersenyum. “Bisa dong, Bu. Besok pagi saya antar.”

Sore menjelang, Gio pulang diantar Mbok Tini. Anak itu langsung lari ke pelukan Kirana, bawa gambar mobil balap berwarna-warni. “Ini buat Mama! Biar Mama nggak capek, gambar mobil cepet ini bisa bawa Mama ke mana-mana!”

Kirana peluk Gio erat. “Makasih, Sayang. Ini gambar paling bagus yang pernah Mama punya.”

Malam hari, setelah Gio tidur, Kirana duduk lagi di meja kecil. Buka laptop second yang dibeli bulan lalu—alat penting buat catat pesanan dan balas chat pelanggan. Ada pesan baru dari Bu Anita:

“Kir, besok ada pesanan wedding lunch dari temenku. 150 porsi. Menu bebas, tapi mereka minta ada ayam goreng mentega. Bisa nggak? Aku bantu cari tenaga tambahan.”

Kirana tersenyum lebar. 150 porsi. Itu artinya besok dapur bakal full team, mungkin butuh satu orang lagi. Dia balas: “Bisa, Bu. Besok pagi jam 2 saya mulai. Terima kasih banyak.”

Dia menutup laptop, berdiri, lalu ke kamar kecil tempat Gio tidur. Anak itu meringkuk dengan selimut tipis, tangannya memeluk boneka beruang lusuh. Kirana menarik selimut lebih rapat, lalu berbisik, “Mama janji, Nak. Kita bakal punya rumah yang lebih besar. Tempatnya hangat, ada kamar buat kamu, ada dapur besar, dan kamu bisa punya sepeda sendiri.”

Dia mencium kening Gio, lalu kembali ke dapur. Masih ada satu wajan yang perlu dicuci, satu talenan yang harus dikeringkan. Rutinitas kecil yang membuatnya merasa hidup.

Kirana duduk di lantai, bersandar ke dinding. Matanya menatap langit-langit ruko yang sudah mulai ada bintik-bintik jamur kecil. “Satu hari lagi,” gumamnya. “Satu hari lagi, kita selangkah lebih dekat.”

Jam menunjukkan pukul 22.30. Tubuhnya capek, tapi hatinya penuh. Besok pagi jam dua, dia akan bangun lagi. Akan menggoreng ayam, menumis bumbu, menyuapi Gio, menjawab chat pelanggan, menghitung untung, dan mungkin,hanya bertemu lagi dengan tatapan hangat itu di kawasan industri.

Tapi untuk sekarang, yang penting adalah ritme ini. Ritme yang membuatnya bangun setiap pagi dengan alasan. Ritme yang membuat Gio tersenyum. Ritme yang membuat Dapur Kirana tetap hidup.

Kirana mematikan lampu dapur, meninggalkan satu lampu kecil menyala di pojok. Lalu dia berbaring di samping Gio, menarik napas panjang.

“Besok lagi, ya,” bisiknya pada dirinya sendiri.

Dan seperti biasa, besok akan datang dengan aroma bawang goreng, tawa Gio, dan harapan yang tak pernah habis.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!