Melina Lamthana tak pernah merencanakan untuk jatuh cinta ditahun pertamanya kuliah. Ia hanya seorang mahasiswi biasa yang mencoba banyak hal baru dikampus. Mulai mengenali lingkungan kampus yang baru, beradaptasi kepada teman baru dan dosen. Gadis ini berasal dari SMA Chaya jurusan IPA dan Ia memilih jurusan biologi murni sebagai program studi perkuliahannya dikarenakan juga dirinya menyatu dengan alam.
Sosok Melina selalu diperhatikan oleh Erick Frag seorang dosen biologi muda yang dikenal dingin, cerdas, dan nyaris tak tersentuh gosip. Mahasiswi berbondong-bondong ingin mendapatkan hati sang dosen termasuk dosen perempuan muda. Namun, dihati Erick hanya terpikat oleh mahasiswi baru itu. Apakah mereka akan bersama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Greta Ela, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Cahaya matahari masuk melalui celah jendela diapartemen. Kepala Melina tidak lagi berdenyut, Ia merasa sudah membaik.
Ia duduk di tepi ranjang, melihat Bunga yang mulai membereskan barang-barangnya.
Rasanya ingin sekali Melina pulang juga. Menemui kakek dan neneknya, Ia juga rindu dengan wajah yang telah merawatnya sampai saat ini.
Terkadang, Melina juga merasa iri dengan Bunga yang disambut pulang oleh orang tuanya.
Bahkan sampai sekarang, Melina tidak tahu siapa anak perempuan yang diadopsi orang tuanya setelah mereka membuang Melina kepada kakek neneknya.
"Mel, kamu kenapa? Kok baru bangun langsung melamun?" tanya Bunga khawatir.
"Enggak apa-apa, Bunga. Aku hanya masih mengantuk sedikit." ucapnya sebagai alasan.
Bunga berdiri di depan koper besarnya, memeriksa sekali lagi isi tas kecil yang akan dibawanya ke kabin. Rambutnya sudah diikat rapi, wajahnya segar, tapi matanya tidak sepenuhnya tenang.
"Kamu yakin nggak mau aku nambah sehari lagi?" tanyanya untuk ketiga kali pagi itu.
Melina tersenyum kecil. Kali ini senyum yang tidak dibuat-buat.
"Yakin. Aku udah sehat. Kalau kamu terus nunda, tiketmu malah hangus."
Bunga mendengus pelan.
"Kamu selalu begitu, Mel"
"Justru karena kamu ada, aku bisa sembuh," jawab Melina jujur.
Bunga berhenti merapikan koper. Ia menoleh, menatap Melina cukup lama, lalu mendekat dan memeluknya erat. Tidak ada kata-kata besar, tidak ada tangis dramatis. Hanya pelukan yang penuh rasa rindu, seperti dua orang yang tahu satu sama lain sudah melewati sesuatu yang tidak mudah.
"Bunga, aku mau ikut antar kamu ke bandara. Gakpapa aku pakai ongkosku sendiri" ujarnya
"Ya udah kalau itu mau kamu." Bunga setuju
Melina turun dari ranjangnya lalu bersiap-siap sembari Bunga memesan taksi. Setengah jam, taksi lalu datang. Melina membantu Bunga mengangkat kopernya kedalam bagasi mobil lalu mereka masuk.
"Kalau kamu kenapa-kenapa, kamu telpon aku. Jam berapa pun," ujar Bunga pelan.
"Iya."
"Jangan sok kuat."
"Iya."
Bunga tersenyum kecut.
"Jawaban kamu itu-itu aja."
Melina tertawa kecil.
"Karena kamu benar."
Didalam mobil, tidak ada percakapan yang panjang. Hanya menunggu pak supir mengantarkan mereka hingga ke bandara.
Sesekali, pak supir memutar lagu supaya suasana mobil tidak sepi.
"Non, ini tujuannya ke bandara kan?" tanya supir memastikan.
"Iya, pak benar." jawab Bunga
"Pak, nanti boleh tunggu sebentar ga? Soalnya teman saya sekalian mau pulang lagi dari bandara ke apartemen. Bapak bisa?" tanya Bunga
"Bisa, Non. Aman"
...****************...
Ketika sampai dibandara, Melina membantu mengeluarkan koper Bunga dari bagasi mobil. Hanya ada satu koper dan satu tas ransel.
Bandara terasa terlalu ramai untuk perpisahan sesingkat itu.
"Mel, makasih udah mau menemani aku sampai bandara. Kamu baik-baik ya disana. Ingat, makan teratur, jangan begadang dan kalau ada apa-apa langsung telepon aku."
Bunga lalu memeluk sahabatnya itu sekali lagi.
"Iya, Bunga." jawabnya
Bunga menoleh beberapa kali sebelum benar-benar masuk ke antrean. Melina berdiri di balik garis pembatas, melambaikan tangan sampai sosok sahabatnya menghilang di antara orang-orang.
Saat Bunga benar-benar tidak terlihat, Melina baru kalau Ia pulang sendirian.
"Non, jadi ke apartemen lagi?" tanya Pak Supir Taksi
"Jadi pak. Ayo berangkat."
Melina hanya diam didalam taksi. Mengingat semua kebaikan Bunga padanya apalagi saat Ia sakit. Melina jadi merasa bersalah karena pernah membentak Bunga padahal itu bukan salah Bunga melainkan pikirannya yang kacau tertekan karena Erick.
"Sampai, Non."
Melina mengeluarkan uang merah dua lembar
"Eh, udah dibayar sama mbak yang tadi, Non." jawab Pak Supir
"Oh, iya pak. Makasih ya."
Melina lalu turun dari taksi dan kembali ke apartemennya.
Padahal tadi Melina bilang kalau Ia akan membayar ongkosnya sendiri. Tapi Bunga tidak tega, Ia diam-diam membayarkan juga ongkos pulang Bunga ke apartemen.
Apartemen sudah mulai terasa sepi.
Ia berjalan ke kamar, membuka jendela, membiarkan udara masuk. Untuk pertama kalinya sejak sakit, ia benar-benar sendirian dengan pikirannya sendiri.
Dan di situlah kesadaran itu muncul perlahan, tanpa menyakiti.
Selama ini, yang merawatnya bukan Erick. Yang memastikan ia makan, minum obat, dan istirahat adalah Bunga.
Melina duduk di tepi ranjang, menunduk. Tidak ada rasa marah. Tidak juga kecewa berlebihan. Hanya penerimaan yang pelan-pelan menempati dadanya.
Ponselnya bergetar di atas meja.
Pesan masuk.
@Erick: "Kamu sudah lebih baik?"
Melina membaca pesan itu dua kali. Tidak ada emoji. Tidak ada kata manis. Tidak ada nada posesif yang dulu sering muncul.
Ia mengetik balasan, berhenti, lalu menghapus beberapa kata.
@Melinaa_: "Sudah. Aku sehat."
Beberapa detik berlalu sebelum balasan masuk.
@Erick: "Syukurlah. Jangan lupa tetap jaga kondisi."
Melina menatap layar itu lama. Dulu, pesan seperti ini akan membuatnya gelisah, menunggu lanjutan, menunggu perhatian lebih.
@Melinaa_: "Iya makasih" balasnya singkat.
Ia meletakkan ponsel dengan tenang. Hubungan mereka masih ada. Tapi rasanya berubah.
...****************...
Sore itu Melina keluar sebentar, membeli kebutuhan mingguan. Ia berjalan tanpa terburu-buru, menikmati langkahnya sendiri. Tidak ada tangan yang menggandengnya, tidak ada suara yang menuntunnya.
Melina meletakkan belanjaannya ke meja kasir.
"Totalnya Rp 250.000, kak"
"Ini uangnya." Melina memberi uang pembayaran.
Ia berjalan dari supermarket ke apartemen sendirian. Belanjaan tidak terlalu banyak. Cukup lah untuk kebutuhannya sendiri selama seminggu.
Selama kuliah, pasti Melina selalu belanja mingguan dengan Bunga. Tapi entah kenapa hari ini rasanya berbeda. Entah mungkin karena hubungannya dengan Erick terasa canggung atau ada rasa yang lain lagi.
Saat kembali ke apartemen, ia memasak untuk dirinya sendiri. Makan malam sederhana, tanpa sup. Ia makan di meja kecil, sambil menyalakan lampu dapur.
Langit gelap muncul ketika pukul tujuh malam. Melina mandi, mengenakan piyama, lalu duduk di ranjang, memainkan ponselnya.
@Bunga7: "Mel, udah makan? Btw aku udah sampai, Mel."
Pesan masuk dari Bunga.
Melina langsung membalas.
@Melinaa_: "Udah kok. Selamat liburan. Syukurlah kamu sudah sampai." balasnya
Hanya menanyakan kabar. Tidak ada chatingan panjang. Melina lalu merebahkan tubuhnya diranjangnya dan mulai scrolling.
Melihat video lucu, motivasi, dan video lainnya membuatnya terhibur sedikit.
Tak lama, ponselnya kembali bergetar.
Pesan dari Erick.
@Erick: "Besok kamu sudah bisa jalan keluar?"
Melina membalas singkat.
@Melinaa_: "Iya, bisa."
Tidak ada percakapan lanjutan. Erick hanya membaca pesan itu tanpa membalas. Berarti dalam pikirannya Melina sudah sehat dan sudah bisa kembali berkencan bersama Erick mulai besok.
Lampu kamar dimatikan, Melina berbaring telentang, menatap langit-langit yang gelap. Dadanya terasa tenang, meski ada ruang kosong kecil yang belum terisi.
Ia sadar sekarang sehat bukan berarti segalanya langsung kembali seperti dulu.
Hubungannya dengan Erick tidak rusak dan tidak juga utuh.
kemana bang Erick? lagi nangis di pojokan😭😭
Anak orang kamu bikin nangis🥲
nikahin dulu gih pak😇