Jaka Utama adalah seorang "Antagonis" profesional. Tugasnya sederhana: menjadi tunangan jahat yang menyebalkan, dipermalukan oleh sang pahlawan, lalu mati secara tragis agar cerita berakhir bahagia. Namun, di reinkarnasinya yang ke-99, sebuah kesalahan fatal terjadi. Kalimat puitis yang ia ucapkan saat sekarat justru membuat sang Heroine (pahlawan wanita) jatuh hati padanya, membantai sang jagoan utama, dan merusak seluruh alur dunia!
Kini, Jaka terbangun kembali di Joglo miliknya untuk kesempatan ke-100—kesempatan terakhirnya. Kali ini, ia dibekali sebuah sistem baru: Buku Harian Ajaib. Cukup dengan menuliskan keluh kesah dan rencana jahatnya setiap hari, ia akan mendapatkan kekuatan luar biasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wirabumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
[Aduh, rahasia masa lalu Naningsih sebenarnya jauh lebih kelam daripada ceritaku sendiri.]
[Waktu dia masih kecil, dia membangkitkan 'Raga Sukma Sejati', sebuah bakat langka dalam dunia persilatan. Bakat itu tercium oleh seorang pimpinan padepokan kecil yang haus kekuasaan. Karena ingin memanfaatkan bakat Ningsih, pimpinan itu tega membantai seluruh keluarga Ningsih secara diam-diam dan menculiknya untuk dijadikan murid sekaligus alat.]
Naningsih: “!!!”
[Pas dia umur 12 tahun dan mulai dewasa, pimpinan itu bersiap mengambil energinya secara paksa, tapi Ningsih berhasil kabur. Tak lama kemudian, dia kembali dan menghancurkan seluruh padepokan itu sendirian.]
[Setelah balas dendamnya tuntas, dia sempat mau bunuh diri karena merasa tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini.]
[Satu-satunya hal yang bikin dia tetap hidup sekarang cuma satu: tetap di sisiku untuk melihat kehancuran total Padepokan Tanpa Beban milikku, lalu akhirnya membunuhku dengan tangannya sendiri.]
Naningsih: “!”
[Alasannya juga konyol. Ternyata pimpinan padepokan jahat itu masih saudara sepupu jauh dari ayahku. Jadi, dia merasa Padepokan Tanpa Beban-ku ikut bersalah. Itulah kenapa dia mau jadi asisten pribadiku, melindungiku yang tidak berguna ini sambil menikmati pemandangan bagaimana aku perlahan menghancurkan warisan ayahku sendiri.]
Bagaimana dia bisa tahu?!
Aku tidak pernah... tidak pernah menceritakan ini pada siapapun!
Dunia Naningsih serasa runtuh. Tragedi pembantaian padepokan kecil itu, tidak ada satu jiwa pun yang tahu bahwa itu perbuatannya. Dan benar, dia memang pernah berniat mengakhiri hidup. Sekarang, menyaksikan kehancuran perlahan Padepokan Tanpa Beban memang menjadi satu-satunya tujuannya bertahan hidup.
Semua rahasia ini, secara ajaib, diketahui oleh Jaka Utama!
Mungkinkah... benar apa katanya? Kalau ini hanya... dunia fiksi? Takdirku... juga sudah diatur?
Naningsih sangat terpukul hingga tidak bisa tenang dalam waktu lama. Setengah jam kemudian, baru dia bisa mengatur napasnya kembali. Dia meletakkan buku harian itu dan pergi ke jendela joglonya, memandang awan putih dan burung-burung yang terbang di atas bukit.
Angin pegunungan membelai wajah cantiknya. Rambut dan aromanya berkibar ditiup angin, kulitnya masih merasakan sejuknya udara pegunungan. Segalanya terasa nyata. Apapun yang terjadi, tujuannya tidak akan berubah. Selain itu, sudah jelas Jaka tidak sadar kalau buku hariannya sedang diintip.
Ini sepertinya cukup... menarik?
Naningsih mulai merasa penasaran dengan buku harian Jaka. Ini adalah pertama kalinya dia merasa tertarik pada sesuatu setelah dendamnya terbalas. Ada kesenangan tersendiri dalam mengintip rahasia orang lain.
Hanya saja, ada satu hal yang mengganjal di pikirannya.
"Perawan tua, ya?"
"Lagi puber, kan?!"
Dia menunduk melihat kebaya ungu longgarnya yang besar. Lalu, dengan sekali sentakan penuh emosi, dia merobek kain longgar itu.
Malam harinya...
Sudah sehari sejak Jaka berendam, namun dia belum merasakan efek luar biasa dari ramuannya. Bukan karena ramuannya buruk—semuanya adalah kualitas terbaik dari gudang padepokan—tapi karena tubuhnya sudah diperkuat oleh 'Ajian Kebal Pukulan'.
"Rasanya badanku benar-benar siap menerima hantaman."
"Bahkan kalau aku melawan orang sekuat Naningsih, setidaknya aku masih punya mayat yang utuh kalau dia menyerang dengan kekuatan penuh."
Mengenakan pakaian pemimpin padepokan yang gagah berwarna putih gading, Jaka membuka buku hariannya.
[Aku harus melakukan akting penolakan nanti malam. Aku ahlinya.]
[Kali ini, dialog seperti apa yang harus kupakai? Ekspresi apa yang cocok? Mungkin aku harus berkata dengan sedih: “Menur, aku benar-benar mencintaimu. Aku tidak tahu bagaimana harus hidup tanpamu.”]
[Atau mungkin lebih puitis: “Jarak terjauh di dunia ini bukanlah hidup dan mati, melainkan kenyataan bahwa aku berdiri di depanmu dan kamu tidak tahu betapa besarnya cintaku.”]
[Atau yang lebih garang: “Roda kehidupan terus berputar, jangan meremehkan pemuda yang sedang di bawah!”]
[Wah, aku rasa aku sangat mendalami peran.]
Seketika, suara sistem terdengar.
[Ding! Selamat, penulisan buku harian berhasil.]
[Wibawa +1]
[Pesona Wajah +1]
"Hadiahnya lumayan juga cuma buat nulis diary," gumam Jaka.
Kota Merapi, Kediaman Bupati.
"Neng, saya benar-benar tidak melihat apa-apa di tangan Neng," ujar seorang pelayan.
"Ya sudah, kamu boleh pergi," jawab Ratna Menur.
Melihat buku harian di tangannya, Ratna merasa seperti sedang bermimpi. Buku ini hanya bisa dilihat dan disentuh olehnya! Saat dia mencoba membocorkan isinya kepada pelayan, mulutnya terkunci rapat. Bahkan saat mencoba menulisnya di kertas, tangannya kaku. Seolah ada kekuatan langit yang memblokir informasi itu.
Dan setelah membaca isinya, dia benar-benar terkejut hingga ke tulang.
"Keputusan untuk membatalkan pertunangan itu baru diputuskan ayah hari ini. Aku tidak pernah bilang siapa-siapa, bagaimana Jaka Utama bisa tahu?!"
"Jarak terjauh dalam hidup..."
"Jangan meremehkan pemuda..."
Hati Ratna Menur sedikit bergetar membaca kata-kata itu. Dia tidak menyangka Jaka yang selama ini dianggapnya pria angkuh ternyata bisa menulis kalimat sefilosofis itu. Ternyata aku yang selama ini kurang mengenalnya, pikirnya.
Tiba-tiba, tulisan di buku itu berubah lagi.
[Protagonis utamanya, Langgeng Sakti, harusnya sudah ada di kediaman Bupati sekarang.]
[Pfft... hahahaha, kalau dipikir-pikir lucu juga.]
[Ratna Menur lagi cemberut karena tidak suka dijodohkan denganku, lalu Langgeng Sakti kebetulan lewat di taman. Dia bakal menghampirinya dan berkata: “Menur, kamu itu imut kalau lagi marah, tapi kamu jauh lebih cantik kalau tersenyum.”]
[Terus, si Ratna yang polos itu bakal merasa Langgeng sangat tampan dan lembut, lalu wajahnya bakal merah padam. Sebelum Langgeng pergi, dia bakal kasih senyum nakal dan bilang: “Senyummu, biarlah aku yang menjaganya.” Hasilnya, Ratna Menur langsung baper dan jatuh cinta saat itu juga.]
[Hueek... gombal banget dan menjijikkan. Tapi ya, mungkin begitulah cinta monyet.]
Apa?!
Kamu yang polos! Kamu yang gila! Ratna Menur sangat marah. Tadi dibilang pemberontak, sekarang dibilang "polos" dan gila laki-laki? Sebagai kembang desa nomor satu di Kota Merapi, mana mungkin dia langsung baper cuma karena gombalan receh seperti itu?
Dia menendang buku harian itu (yang kemudian menghilang ke ruang hampa). Di saat yang sama, seorang pemuda berbaju hitam muncul. Wajahnya tampan, badannya tegap, langkahnya tenang, dan auranya sangat berwibawa. Matanya yang tajam seolah menyimpan rahasia besar.
Itulah Langgeng Sakti, sang pahlawan utama!
"Mas Langgeng? Ada apa ke sini?" Ratna mencoba menahan amarahnya. Sejujurnya, dia memang mengagumi sosok Langgeng yang percaya diri. Apalagi Langgeng pernah menolongnya saat tersesat di hutan dulu.
Langgeng Sakti melangkah mendekat, menatap wajah Ratna yang sedang cemberut, lalu berkata dengan suara yang sangat lembut:
"Menur, kamu itu imut kalau lagi marah, tapi kamu jauh lebih cantik kalau tersenyum."
Ratna Menur: “!!!”