NovelToon NovelToon
Membawa Kabur Benih Sang Presdir

Membawa Kabur Benih Sang Presdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / Lari Saat Hamil / Slice of Life / Anak Genius
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Rima Andriyani

Elena hanya seorang peneliti biasa di kota London, hingga sebuah tawaran rahasia mengubah segalanya. Ia setuju menjadi bagian dari program donor untuk pria yang tak ingin cinta, tak butuh istri, hanya menginginkan pewaris sempurna.

Lima tahun berlalu, Elena hidup dalam bayang-bayang kontrak yang melarangnya membuka jati diri. Tapi saat anak yang ia lahirkan tumbuh jenius melampaui usianya, masa lalu pun mengetuk pintu.

Dan pria itu... kini berdiri di hadapannya, tanpa tahu bahwa bocah itu adalah darah dagingnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rima Andriyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16

Pagi itu, cahaya matahari menembus tirai tipis jendela apartemen. Elena sudah terjaga lebih awal, menyiapkan sarapan sederhana untuk Leon. Namun, pikirannya masih diliputi keresahan tentang kejadian semalam.

Suara pintu kamar terbuka pelan membuatnya menoleh. Leon keluar dengan seragam sekolah, masih mengucek mata.

“Selamat pagi, Mama,” ucap Leon sambil tersenyum kecil.

“Selamat pagi, Sayang,” balas Elena, berusaha terdengar ceria. “Ayo, duduk. Sarapan dulu sebelum berangkat.”

Leon duduk, lalu menatap mamanya dengan polos. “Mama… Paman itu… apakah ia akan datang lagi?”

Elena terdiam, sendok di tangannya berhenti bergerak. “Mengapa Leon menanyakan itu?”

“Entah kenapa… aku merasa Paman itu berbeda. Ia membuatku… nyaman.” Leon menatap mamanya sungguh-sungguh. “Seperti… sudah mengenalnya lama.”

Elena menunduk, jantungnya berdegup lebih cepat. “Sayang… jangan terlalu berharap pada sesuatu yang tidak pasti. Paman itu hanyalah atasan Mama. Tidak lebih.”

Leon mengangguk pelan, meski ekspresi wajahnya jelas menunjukkan kekecewaan.

Sebelum Elena sempat menambahkan sesuatu, ponselnya berbunyi di meja. Ia menatap layar, tubuhnya menegang. Nama Alexander Thorne terpampang jelas.

Dengan ragu, Elena mengangkat panggilan itu.

“Halo?” suaranya bergetar.

“Elena,” suara berat Alexander terdengar tenang namun penuh wibawa. “Aku menunggumu di bawah. Jangan terlambat.”

Elena terperangah. “Apa maksud Anda? Ini masih pagi sekali—”

“Bukankah aku sudah mengingatkanmu semalam?” potong Alexander datar. “Bawa dokumen laporan itu, dan turunlah sekarang.”

Klik. Panggilan terputus tanpa memberi kesempatan Elena membalas.

Leon menatap ibunya bingung. “Mama… apakah itu Paman?”

Elena menarik napas panjang, lalu memaksakan senyum. “Ya, Sayang. Mama harus berangkat lebih awal hari ini.” Ia mengusap rambut putranya. “Nanti setelah pulang sekolah, Mama akan menjemputmu.”

Leon menggenggam tangan Elena erat-erat. “Mama… jangan takut, ya.”

Elena tersentak. Ia menatap mata anaknya yang polos namun penuh keyakinan itu. Hatinya bergetar, namun ia hanya mampu mengangguk. “Mama akan baik-baik saja.”

---

Beberapa menit kemudian, Elena turun ke lantai bawah apartemen dengan langkah ragu. Sebuah mobil hitam mewah sudah terparkir di depan, dengan Alexander duduk di kursi belakang.

Sopir membukakan pintu, dan Elena masuk dengan hati-hati. Suasana di dalam mobil terasa menekan.

Alexander menoleh sekilas, menatap Elena dengan tatapan tajam namun penuh misteri. “Tidurmu nyenyak?” tanyanya, nada suaranya terdengar seperti sindiran.

Elena menahan napas. “Cukup, Tuan. Terima kasih sudah menjemput, tapi sebenarnya tidak perlu repot.”

Alexander menyunggingkan senyum tipis. “Aku tidak merasa repot. Lagipula, kita akan melewati jalan yang sama.”

Elena mengalihkan pandangan ke luar jendela, mencoba menghindari sorot matanya. Namun Alexander tidak berhenti.

“Elena,” panggilnya lagi. “Jawab jujur padaku. Siapa ayah dari anak itu?”

Tubuh Elena menegang seketika. “Tuan…” suaranya bergetar, “saya sudah mengatakan, saya tidak ingin membicarakan hal itu.”

Alexander mencondongkan tubuhnya sedikit, wajahnya semakin dekat. “Mengapa kau begitu takut menjawab pertanyaan itu? Apakah karena kau menyembunyikan sesuatu dariku?”

Elena menggertakkan giginya, menahan diri agar tidak terpancing. “Leon adalah urusan saya. Tidak ada sangkut pautnya dengan Anda.”

Alexander terkekeh pelan, namun matanya berkilat tajam. “Kita lihat saja nanti, Elena. Cepat atau lambat, kebenaran akan terungkap. Dan saat itu terjadi…” ia berhenti sejenak, suaranya menurun, penuh tekanan. “…kau tidak akan bisa lari dariku.”

Elena menunduk, jemarinya mengepal di atas pangkuan. Dalam hati ia berdoa agar rahasia itu tidak pernah terbongkar. Namun tatapan Alexander yang penuh tekad membuatnya semakin yakin, pria itu tidak akan berhenti sampai menemukan jawaban.

Mobil melaju mulus menembus lalu lintas pagi. Suasana di dalam kabin terasa berat, hanya diisi suara mesin yang berdengung halus. Elena berusaha menenangkan diri dengan menatap jalanan di luar, namun sorot mata Alexander yang sesekali jatuh ke arahnya membuatnya semakin gelisah.

Setelah beberapa menit dalam keheningan, Alexander membuka mulut lagi.

“Elena,” panggilnya pelan tapi tegas.

Elena menoleh singkat, lalu kembali menunduk. “Ya, Tuan?”

“Apa kau selalu menutupi sesuatu dengan senyum? Sejak kemarin, aku melihatmu sering berusaha terlihat tenang padahal jelas-jelas kau sedang gugup.”

Elena terdiam. Ucapannya menusuk, membuat jantungnya berdegup semakin kencang.

“Saya… hanya berusaha profesional, Tuan.”

Alexander mendengus kecil. “Profesional?” Ia mendekat sedikit, sorot matanya tajam. “Profesional tidak berarti berbohong.”

Elena menggigit bibir bawahnya, enggan menanggapi.

Mobil akhirnya berhenti di depan gedung tinggi kantor Thorne tower. Sopir segera turun untuk membukakan pintu. Elena ikut keluar, berusaha menjaga wibawa meski lututnya terasa lemas.

Begitu mereka masuk ke lobi, karyawan yang sudah hadir lebih awal langsung memberi salam hormat pada Alexander. Aura dingin pria itu membuat semua orang menunduk sopan. Elena berjalan setengah langkah di belakangnya, mencoba menyembunyikan wajahnya yang masih sedikit pucat.

Saat sampai di lift pribadi, Alexander menekan tombol. Pintu terbuka, dan hanya mereka berdua yang masuk. Suasana kembali sunyi, hanya suara pintu lift yang menutup.

Alexander melipat tangan di dada, menatap lurus ke depan. Namun ketika lift mulai bergerak naik, ia kembali berbicara.

“Elena.”

Suara itu membuat Elena refleks menoleh. “Ya, Tuan?”

Alexander menggeser pandangannya, menatap tepat ke mata Elena. “Aku tidak suka menunggu jawaban terlalu lama. Jangan buat aku kehilangan kesabaran.”

Elena menelan ludah, tangannya mengepal di sisi tubuhnya. “Saya… mohon, Tuan. Jangan paksakan saya untuk menjawab sesuatu yang tidak bisa saya katakan.”

Mata Alexander berkilat tajam, namun kali ini senyumnya samar. “Kau benar-benar wanita keras kepala.”

Lift berdenting, pintu terbuka. Alexander melangkah keluar lebih dulu, sementara Elena tertinggal sesaat, mencoba menarik napas panjang. Ia tahu… cepat atau lambat, rahasia yang ia sembunyikan bertahun-tahun akan terbongkar.

Elena melangkah keluar dari lift, mengikuti Alexander menuju ruang kerjanya yang berada di lantai paling atas. Setiap langkah terasa berat, seolah udara di sekitarnya semakin menekan.

Begitu pintu ruang kerja megah itu terbuka, Alexander masuk lebih dulu. Ia melepaskan jasnya dan meletakkannya di sandaran kursi, sementara Elena berdiri di dekat pintu dengan ragu.

“Duduk,” perintah Alexander tanpa menoleh.

Elena menghela napas pelan lalu berjalan ke kursi di depan meja kerjanya. Tangannya meremas rok kerjanya sendiri, berusaha menahan kegugupan.

Alexander duduk di kursi besar, menatap Elena dengan sorot mata tajam. “Kau membawa dokumen laporan yang kuminta?”

“Ya, Tuan.” Elena segera mengeluarkan map dari tasnya dan meletakkannya di atas meja.

Alexander membuka dokumen itu, membacanya dengan cepat. Beberapa menit hening berlalu, hanya terdengar suara kertas yang dibalik. Elena duduk diam, jantungnya terus berdegup cepat.

“Laporan ini… cukup baik,” ucap Alexander akhirnya. Namun nada suaranya dingin, seolah pujian itu tidak berarti apa-apa.

Elena menunduk. “Terima kasih, Tuan.”

Alexander menutup map itu, lalu menyandarkan tubuhnya ke kursi. Pandangannya kembali jatuh pada Elena. “Sekarang, katakan padaku… bagaimana kau bisa hidup hanya berdua dengan anakmu? Tidak pernah ada pria yang mendampingimu?”

Elena tersentak, matanya melebar. “Tuan… saya tidak merasa itu pertanyaan yang pantas diajukan.”

Alexander menyunggingkan senyum tipis, kali ini lebih menekan. “Aku tidak peduli pantas atau tidak. Aku ingin tahu.”

Elena menghela napas panjang, berusaha menenangkan dirinya. “Saya sudah pernah mengatakan… Leon adalah tanggung jawab saya. Tidak ada orang lain yang terlibat.”

Alexander mencondongkan tubuhnya ke depan, kedua siku bertumpu di meja, jemarinya saling bertaut. “Kau terlalu defensif, Elena. Itu hanya membuatku semakin curiga.”

Elena menunduk, jemarinya bergetar di pangkuannya. “Saya mohon, Tuan. Jangan bawa-bawa Leon ke dalam urusan pekerjaan.”

Alexander menatapnya dalam-dalam, seolah berusaha membaca isi hatinya. Sunyi kembali mengisi ruangan.

Beberapa detik kemudian, Alexander berdiri. Ia berjalan mengitari meja, langkah kakinya berat dan mantap hingga berhenti tepat di samping Elena.

Elena menahan napas, tubuhnya menegang. Ia bisa merasakan aura pria itu begitu dekat, begitu menekan.

Alexander menundukkan wajahnya sedikit, membisikkan kata-kata di dekat telinganya.

“Cepat atau lambat, Elena… aku akan menemukan kebenarannya. Dan saat itu terjadi, jangan menyesal karena tidak mengatakannya sejak awal.”

Elena menutup mata, berusaha menahan gejolak perasaannya. Ia tahu… semakin hari, semakin sulit baginya menjaga rahasia itu tetap tersembunyi.

1
Ayano Rosie (Rosneneng juanda)
kok tuba tiba setting London ya?
bukannya setting Belgia?🤭🤭 aku yg lompat atau bagaimana kok setelah saya urut lagi bacanya memang Belgia surat lamarannya dan Thorne juga datang ke Belgia gimana ya
tia
lanjut Thor
Wulan Sari
ibu kasih kopi ☕ buat up lagi next
Wulan Sari
salam sudah ibu kasih kopi buat semangat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!