namanya Mahesa Kalandra, seorang duda yang bangkrut hingga istrinya membuangnya dengar seorang anak gadis yang masih berumur lima tahun, istrinya lari dengan boss nya dan lebih nelangsanya lagi ketika orang tuanya menfitnah dengan meminjam uang di suatu pinjaman online dengan mengatas namakan identitasnya, kini dia lari di kejar rentenir hingga hidupnya nyaris berakhir, mampukah dia bangun dari keterpurukan ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Cun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Devan murka
Saya pernah ingat kata kata seorang teman dari Aussie saat itu, from good to be better not from bad to be worse, mungkin kurang lebih artinya jadilah manusia yang dari baik menjadi lebih baik bukan dari jelek menjadi lebih buruk, semua hidup manusia ada aturannya jika kita mengenal ilmu, maka ada pepatah mengatakan carilah ilmu meskipun sampai ke negeri China, maksudnya kita tidak harus mencarinya ke negara China tetapi cari lah ilmu sebanyak mungkin untuk bekalmu di hari tua, dan semua ini tentunya harus ada yang mengarahkan yaitu peran orang tua, we must to be a smart parents
Begitu juga dengan Mahendra,dia boleh gagal dalam rumah tangganya tapi sebisa mungkin jangan sampai dia sampai gagal menjadi seorang ayah, kasih sayang dari orang tuanya sudah tak pernah iya dapatkan bahkan sampai dia menjadi sarjana, peran orang tua sama sekali tak ada bahkan dia rela pontang panting bekerja keras demi menghidupi dirinya dan menyekolahkan mantan istrinya yang tak tahu diri itu.
si bocil yang baru saja pulang dari ngaji mendapati ketiga orang dewasa yang lagi diskusi entah itu apa topiknya dan di depannya ada paket sebuah kue donat beraneka toping, checill yang memang sangat menyukai donat merengek minta ayahnya untuk membuka bungkusan itu tetapi Tante Karin mencegahnya.
"Checil sayang, ini kiriman kue yang ngirimin orang jahat, nanti hari Minggu kalau kita libur Tante ajak Checil ke mall dan beli kue apapun yang Checil mau ya?" bujuk Karina.
" Tante janji?" tanya si bocil sambil mengusap air matanya dan Karina mengangguk.
"Nanti sama ayah juga ya?" Checil minta izin dan sekali lagi Karina mengangguk.
"Sekarang Checil mandi dulu ,Tante Karin dan kak Kia mau pulang, biar ayah buang ini kue". Hendra dengan lembut menyuruh putrinya sambil mengusap kepala Checilia yang tertutup hijab warna pink itu dengan penuh kasih sayang, dan mereka semua langsung membubarkan diri tak lupa Karin membawa sebuah donat dalam plastik rencananya akan di teliti di lap salah satu kawan dokternya, kandungan apa yang ada di dalam donat tersebut.
Malam hari sebelum tidur Mahendra memberi nasehat pada putrinya, supaya jangan menerima makanan dari siapapun selain ayah nya, dan si gen A tersebut masih juga menyeletuk,
"Termasuk dari ustadzah Zahira juga nggak boleh yah?" tanya si gen A.
"Untuk saat ini iya nak, bahkan ayah akan menjemputmu sendiri ketika kamu pulang sekolah dan mengantarmu ngaji juga jadi nanti kalau ayah belum datang Checil jangan mau di jemput siapapun dengan alasan apapun ya?" nasehat Mahendra yang merasa sangat kwatir kejadian buruk akan menimpa keluarga tak lengkap mereka.
Si bocil mengangguk entah faham atau tidak karena sekian detik kemudian dengkuran halus sudah terdengar di telinga Mahendra, dengkuran laksana nyanyian dari syurga, setelah menidurkan anaknya Mahendra kembali ke kamarnya, dia sudah membiasakan tidur terpisah dengan anaknya dari kecil bahkan ketika bayi dulu Checil tidur di box nya sendiri dan ketika menjelang usia dua tahun istrinya mulai gila pergaulan, Mbak Imah selalu membawa Checil pulang untuk tidur di rumah wanita sederhana dan baik hati itu sementara Hendra harus pontang panting siang malam mencari kerja sampingan agar istrinya terpenuhi kebutuhannya, kebutuhan belanja dan menghamburkan uang.
Ketika mengingat semua itu Hendra menjadi sakit hati, kemudian dia beristigfar berkali kali sebelum matanya benar benar tertidur, "ya Allah terimakasih atas perlindunganMu untuk hari ini, Engkau mengirimkan Karina dan Kia untuk menyelamatkan kami, tak tahu bagaimana jika tadi mereka tak ada di sini dan kami makan kue itu". Mahendra berdoa sambil mencoba memejamkan kan mata, sulit memang , beribu pertanyaan ada di benaknya, siapa yang mengirimi paket misterius itu?.
Keesokan harinya sebelum Karina pergi ke kantor, dia sarapan bersama keluarganya mines sang suami karena suaminya lebih nyaman tinggal di apartemen nya yang berada di Ubud, sementara Karina memang sengaja menghindari suaminya itu dari KDRT yang sering di terimanya, dia lebih nyaman di sini bersama adik dan Daddy nya yang kini sudah benar benar sembuh dan mulai bisa berjalan tanpa tongkat meski masih harus banyak berlatih, stroke yang sudah hampir tiga tahun di deritanya bisa sembuh adalah suatu anugerah tak terhingga buat lelaki yang belum genap enam puluh tahun itu.
" Daddy, kemarin mas Hendra dapat kiriman kue misterius yang mengatas namakan aku". Lapor Karin pada ayahnya, sementara Kia melihat perubahan mimik wajah si Ririn dengan keterkejutan nya.
" Dan untungnya aku berada disana saat itu karena aku merasa tak mengirim jadi aku membantah nya". Karin sambil melirik Ririn, dan benar saja wanita itu jadi salah tingkah merasa terjebak dalam perbuatan nya sendiri.
"Terus apa ada yang serius?" tanya om Jonathan.
" Tentulah Dad, semalam aku sama Kia langsung ke lab menemui dokter Randy dan pagi tadi hasilnya sudah keluar ternyata kue donat itu mengandung sianida". Jawab Karin, membuat Ririn mukanya makin panik.
"Ada apa kamu Rin? Apa ada masalah dengan kamu?" tanya om Jo.
"Hmm tidak pak, tidak ada sesuatu yang serius, aku hanya kurang fit aja, semalam kurang tidur". Ririn memberi alasan asal asalan.
"Hmmm yang lembur menikmati hak orang, hati hati mbak Ririn gak takut kualat". Kia tak bisa menahan mulut gatal nya, sementara Ririn menahan geram amarahnya.
"kualat apaan Kia, sudah panggil Karman aku mau ke tempat Mahendra sekarang, mau lihat keadaannya". Perintah om Jo.
" Aku ikut ya Dad". rengek Kiara.
"kemarin kita sudah disana seharian, masih mau kesana lagi? Lagi pula si checill kan sekolah mau ngapain kesana? Mau ngapelin mas Hendra?" tanya judes kakaknya.
"cie cie cie ada yang cemburu ni ye?" ejek Kiara, membuat Karina tersenyum simpul, benarkah dia jatuh hati pada lelaki duda beranak satu itu?
"Ngawur saja ntar kalau Devan dengar bisa jadi masalah, sudah sana kamu Kia, cari suatu yang positif, belajarlah tentang apapun yang kamu sukai asal itu positif, kulihat akhir² ini kamu malas sekali ngapa ngapain, mau jadi apa kelak kamu kalau waktu muda kamu sia siakan?" gertak sang ayah.
"aku nggak mau jadi apa apa, bukankah penghasilan ku dari deviden perusahaan keluarga sudah cukup untuk makanku seumur hidup, aku nggak mau kerja nggak mau nikah nggak mau punya anak, aku hanya ingin seperti ini". Jawab si Kia ngasal membuat sang ayah geram saja dan kakaknya geleng-geleng kepala.
"Ririn, kalau kamu nggak enak badan nggak usah ikut aku, aku pergi dengan Karman, kamu pulanglah untuk istirahat". Ucap om Jo membuat muka Ririn langsung sumringah dan membuat kedua kakak beradik itu saling pandang lalu mencebik kan bibirnya.
"Dasar jalang". Kiara mengumpat sambil bergegas ke kamar untuk ganti baju dan ngintil Daddy nya yang mau berkunjung ke rumah Mahendra.
"Sialan, brengsek dasar anjing kurap, bisa bisanya misi kita gagal lagi". Devan mengumpat dengan segala sumpah serapahnya, ada rasa cemburu juga ketika si Karina dekat dengan Mahendra, semua yang Ririn dengar dan saksikan di meja makan pagi ini tentu saja di ceritakan pada Devan tanpa sedikitpun terlewat membuat muka Devan yang berkulit gelap itu semakin gelap, takutnya dia berubah menjadi Hulk 😁.