NovelToon NovelToon
TRAPPED: Menjadi Istri Sang Antagonis

TRAPPED: Menjadi Istri Sang Antagonis

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Mafia / Cinta Seiring Waktu / Reinkarnasi / Berbaikan
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: raintara

Tidak pernah terbayangkan dalam benak Alissa bahwa dia akan terjebak di dalam sebuah novel.

Menjadi istri pajangan dari antagonis yang mecintai adik kandungnya sendiri.

Istri antagonis yang akan mati di tangan suaminya sendiri, karena dicap sebagai penghalang antara sang antagonis dan adik kandung yang dicintainya.

"Aku ingin cerai!!" teriak Alissa lantang, tak menghiraukan tatapan tajam dari sang suami.

Sean terkekeh dingin. "Cerai? ingat ini Alissa, aku tidak akan pernah melepaskanmu bahkan jika kematian yang menjemput."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon raintara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

15. Sudah Terlambat

"Payah! Kau memang payah Alissa!"

Semalaman Alissa mencaci maki dirinya sendiri. Menjambak rambutnya kesal dengan raut frustasi yang begitu ketara.

"Setelah mendapatkan surat itu susah payah, kau malah menjatuhkannya! Di mana otakmu itu Alissa!"

Rasa-rasanya Alissa ingin menangis saja. Pembaca menjadi saksinya, betapa sulitnya dia menemukan akta nikah itu. Setelah berhasil dan selangkah lagi menuju kebebasan, dengan cerobohnya dia malah menjatuhkan surat itu.

Alissa melirik pada jam weker yang menunjukan pukul satu dini hari. Sean...pasti sudah tidur kan. Ini tengah malam, dengan kondisinya yang Alissa lihat terakhir kali, pasti laki-laki itu sudah tertidur lelap.

Alissa menghembuskan nafas panjang. Mau bagaimana lagi. Tidak ada pilihan lain. Alissa harus kembali ke zona terlarang itu.

"Semoga saja, dia memang sudah tertidur." gumam Alissa berharap cemas sembari beranjak pergi.

Sampai...di sinilah dia berada. Di depan kamar Sean. Menengguk salivanya gugup, Alissa tarik tuas pintu dengan gerakan sepelan mungkin.

Gelap langsung menyambutnya. Lampu utama telah dimatikan. Hal itu membuat Alissa sedikit bernafas lega. Sepertinya Sean memang sudah benar-benar tertidur.

Tanpa menoleh pada ranjang, Alissa langkahkan kakinya agar masuk lebih dalam. Bermodalkan senter ponsel, ia teliti lantai guna mencari akta nikah yang tadi dia jatuhkan.

"Lho, kok sudah tidak ada ya?" bingung perempuan itu kala tidak menemukan apapun.

"Aku yakin sekali, tadi aku berdiri di sini saat Sean mengagetkanku."

"Seharusnya suratnya jatuh di sini."

Tidak pantang menyerah, Alissa berjongkok. Menelusup pada kolong ranjang. Siapa tahu surat itu terbang ke sana. Namun sekali lagi, nihil. Surat itu tidak ada di sana.

"Ck, Di mana sih!" decak istri Sean itu dengan suara tertahan.

Saat hendak berdiri, Alissa lupa jika dia berada di bawah ranjang. Perempuan itu langsung saja berdiri hingga---

Dugh.

"Aduh!"

kepalanya tidak sengaja terbentur ranjang. Menyadari jika seruannya terlalu keras, buru-buru ia menutup mulutnya panik.

Apakah Sean mendengar teriakanku?

Menetralkan rasa gugupnya, pelan-pelan Alissa keluar dari sana. Kepalanya mendongak memastikan. Tapi ranjang besar itu tetap anteng. Seakan pemiliknya pun tidak terusik dengan apa yang baru saja terjadi.

"Huft...untunglah..." lirih Alissa lega.

"Mungkin saja, Sean sudah menemukan surat itu terlebih dahulu. Dia menyimpannya lagi di brangkas?" Alissa beransumsi di dalam hatinya.

Merangkak, perempuan itu mendekati brangkas kecil yang posisinya masih berada di sudut ruangan. Menekan nomor sandi, perempuan itu gegas memeriksa isi dalamnya.

"Juga tidak ada?!" geram. Geram sekali rasanya. Ingin sekali Alissa mengamuk.

Belum selesai sampai di sana. Ruangan yang semula gelap itu tiba-tiba berubah terang. Rasa geram Alissa pudar. Berganti kaget dengan panik yang mendominasi.

"Kau mencari ini?" itu suara Sean. Dengan dada berdebar kencang, Alissa menoleh ke belakang.

Di depan jendela balkon, Sean berdiri menjulang dengan senyum miringnya. Jangan lupakan kondisi laki-laki itu yang shirtless. Menunjukan otot-otot perutnya yang...lupakan. kenapa pikiran Alissa malah ke sana?!

Istri Sean itu menggeleng ribut. Mengenyahkan pikiran me-sumnya yang tiba-tiba saja datang. Alissa lirik tangan Sean yang tengah membawa sesuatu. Pasti itu adalah yang sedari tadi Alissa cari.

Di tempatnya, Sean tersenyum pongah. Merasa puas melihat raut Alissa yang pias. Dalam hati dia tertawa, Alissa pikir, dirinya benar-benar mabuk?

Cih, tentu saja tidak. Dia hanya ingin mengerjai perempuan yang berstatus sebagai istrinya itu. Saat Sean hendak masuk ke kamar, laki-laki itu mengernyitkan kening saat melihat pintu kamarnya yang sedikit terbuka. Saat itulah dia melihat Alissa tengah mengobrak-abrik kamarnya.

Melihat Alissa yang berteriak kegirangan saat menemukan sesuatu yang selama ini ia sembunyikan, Sean terdiam. Jadi Alissa benar-benar ingin berpisah darinya. Entah mengapa itu membuat sesuatu dalam diri Sean memberontak tak terima.

"Jadi kau benar-benar ingin bercerai ya?" suara bariton Sean mengalun pelan. Menatap surat di genggamannya seakan meneliti.

"Kau setuju?" Alissa berdiri. Memberanikan diri untuk balas menatap mata elang milik Sean.

"Hm, bagaimana ya? Bagaimana jika kita membuat kesepakatan." tawar Sean.

"Kesepakatan apa?"

Sean menyunggingkan satu sudut bibirnya. "Tidur denganku malam ini, dan kau akan mendapatkan surat ini."

Sontak saja wajah Alissa berubah geram. "Dasar ca-bul!"

"Kita belum memulainya Alissa. Darimana kata ca-bul itu?" kata Sean dengan dua alisnya yang terangkat.

"Lagipula, apa salahnya jika ca-bul pada istri sendiri?" tambah laki-laki itu santai.

"Tentu saja salah, karena kau tidak menganggapku sebagai istri!" bantah Alissa.

"Kapan aku mengatakan hal seperti itu?" dan Sean tidak mau kalah.

"Kau selalu mengatakan jika aku pela-curmu! Bukan istrimu!" Alissa berteriak lantang. Tiba-tiba amarah itu hadir kembali mengusai hati.

"Aku muak dengan semua ini. Jadi, tolong. Bebaskan aku."

Sean tersenyum miring. Ia mendekat pada istrinya. Alissa yang melihat itu seketika panik. Perempuan itu berjalan mundur hingga punggungnya membentur dinding.

"Berhenti Sean!"

Sean tidak menggubris. Sampai akhirnya ia mengurung Alissa di antara lengannya. Ia pandangi wajah perempuan yang telah mengambil alih pikiranya selama beberapa hari ini.

"Jika aku...mencabut kata-kata itu, apakah kau tetap mau bercerai?"

"Apa maksudmu?" meski panik dan takut, Alissa harus terlihat tetap tegar. Jangan sampai Sean menganggap dirinya lemah.

Sean belai pipi Alissa dengan jari telunjuknya. "Kau bukan pela-curku. Kau istriku."

"Bukankah itu yang ingin kau dengar?"

Mata Alissa berkedip satu kali. Ia alihkan perhatiannya dari suaminya. "Terlambat Sean."

"Kenapa?"

Karena aku, bukanlah Alissa yang dulu. Aku bukan Alissa yang tergila-gila padamu. Aku bukan Alissa yang bodoh karena cintanya kepadamu.

"Karena aku sudah tidak mecintai--

"Shuttt."

Alissa membatu ketika Sean menempelkan jari telunjuknya pada bibirnya. Selepas itu, Sean cengkram dagu Alissa. Tidak keras sampai membuat Alissa kesakitan.

"Jangan katakan omong kosong itu padaku."

Entah mengapa, tiba-tiba mata Alissa memanas. Tanpa bisa dicegah air mata luruh membasahi pipinya. Ia tatap Sean dengan tatapan penuh ironi.

"Kenapa baru sekarang?" lirih perempuan itu.

Sean diam. Memberi kesempatan Alissa untuk kembali melanjutkan kalimatnya.

"Kenapa baru sekarang kau mengatakannya? Kau...kau terlambat."

"Semua itu tidak ada gunanya lagi." karena dia yang benar mecintaimu telah pergi.

"Kenapa tidak ada gunanya?" jempol Sean terangkat untuk menghapus air mata Alissa di pipi.

"Karena---" nafas Alissa tercekat. Dia tidak mungkin mengatakan kebenarannya.

"Karena aku sudah tidak mecintaimu. Aku sudah muak dengan hubungan ini. Aku...aku ingin bebas dari hubungan yang menyakitkan ini."

"Maka beri aku kesempatan. Aku akan mengembalikan cinta itu."

Alissa diam. Ia singkirkan tangan Sean dari wajahnya.

"Menyingkirlah. Aku ingin tidur." mungkin karena hormon kehamilan, suasana hatinya mudah sekali berubah.

"Mulai sekarang, kita akan tidur bersama." Sean hendak menarik lengan Alissa, namun langsung ditepis oleh empunya.

"Tidak mau."

"Apapun yang kau lakukan, sudah tidak ada gunanya. Semuanya sudah benar-benar terlambat Sean."

1
Ahrarara17
Nanti dikabulin panik sendiri kamu, Alissa
Ahrarara17
Dih, gombal banget Sean
Ahrarara17
Wajar aja denial. Takut Sean bohong
Ahrarara17
Semangat nulisnya kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!