Shabiya seharusnya tidak memiliki harapan bisa memenangkan hati suaminya, ketika pernikahan mereka saja terjadi atas keinginan satu pihak. Wanita itu seharusnya mengubur semua impian tentang keluarga cemara yang selalu didambakan olehnya setiap malam.
Apalagi, ketika ia sudah mengetahui bahwa kehadirannya di hidup suaminya hanya untuk menggantikan posisi seseorang. Dan ketika Shabiya ingin menyerah, tidak ada celah untuknya melarikan diri. Dia sudah terperangkap. Pria tersebut tidak akan membiarkannya pergi dengan mudah.
Akankah semesta membantunya untuk lepas dari pria yang berstatus sebagai suaminya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rafa Fitriaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Konfrontasi Pertama
Suhu di dalam mansion Gemilar terasa lebih mencekam daripada badai yang mengamuk di luar. Di ruang makan yang luas, cahaya lilin memantul di atas peralatan makan perak yang ditata dengan presisi milimeter. Galen duduk di ujung meja, memotong steak dengan gerakan yang lambat dan ritmis, sementara Shabiya duduk di hadapannya, mengenakan gaun sutra berwarna biru pucat. Gaun yang pernah dipakai Thana saat merayakan ulang tahun ke-25.
Selama tiga puluh menit, hanya suara denting pisau dan garpu yang terdengar. Galen sesekali menatap Shabiya, memberikan instruksi kecil tentang bagaimana cara memegang gelas kristalnya. Namun, di balik wajah datar Shabiya, ada kemarahan yang sudah mencapai titik didih. Foto dirinya yang penuh noda cat yang ia temukan di perpustakaan tadi sore terasa seperti bara api yang membakar kulitnya.
"Kau tidak menyentuh sup asparagusmu, Thana," suara Galen tenang, namun mengandung nada teguran.
Shabiya meletakkan sendoknya. Ia mendongak, matanya berkilat tajam. "Namaku Shabiya, Galen. Berhenti memanggilku dengan nama wanita yanb telah mati."
Tangan Galen yang sedang memegang pisau berhenti di udara. Ia perlahan meletakkan pisaunya, lalu mengelap bibirnya dengan serbet sutra. Suasana di ruangan itu mendadak menjadi sangat dingin.
"Kita sudah melewati fase ini, Sayang. Jangan merusak suasana makan malam yang indah ini dengan drama yang tidak perlu," ucap Galen, suaranya tetap rendah namun penuh ancaman.
"Suasana yang indah?" Shabiya tertawa miris, suara tawanya terdengar sumbang di ruangan yang sunyi itu. "Bagimu ini indah karena kau sedang bermain rumah-rumahan dengan boneka mayatmu! Tapi bagiku, ini adalah neraka! Aku muak memakai baju-baju ini! Aku muak dengan parfum melati yang baunya seperti bunga kuburan ini! Aku muak berpura-pura menjadi kidal hanya untuk memuaskan fantasimu yang sakit!"
Galen mendadak berdiri. Kursi mahoninya terdorong ke belakang dengan suara derit yang memekakkan telinga. Ia berjalan mengitari meja panjang itu, langkahnya berat dan berwibawa, seperti predator yang sedang mendekati mangsa yang mulai melawan.
"Kau tidak tahu apa yang kau bicarakan," Galen berdiri di belakang kursi Shabiya, tangannya mencengkeram bahu gadis itu hingga Shabiya meringis. "Aku memberikanmu segalanya. Aku menyelamatkan keluargamu. Aku memberikanmu nama yang paling dihormati di negeri ini. Yang aku minta hanyalah sedikit rasa hormat terhadap memorinya."
"Rasa hormat?" Shabiya berdiri, memutar tubuhnya untuk menghadap Galen. "Kau tidak menghormatinya, Galen! Kau menghapusnya dan mencoba membangunnya kembali padaku karena kau tidak bisa menerima kenyataan bahwa kau gagal menyelamatkannya! Kau seorang pengecut yang bersembunyi di balik kekuasaan dan saham untuk menutupi rasa bersalahmu!"
PLAK!
Suara tamparan itu bergema di aula utama. Galen tidak memukul wajah Shabiya, melainkan menghantamkan tangannya ke meja di samping Shabiya hingga gelas wiski terguling dan isinya membasahi lantai. Wajah Galen memerah, otot-otot di rahangnya menonjol, dan matanya memancarkan kegilaan yang murni.
"CUKUP!" Galen membentak, suaranya menggelegar hingga langit-langit mansion. "Kau tidak punya hak untuk menghakimi perasaanku! Kau adalah milikku! Aku yang menciptakanmu menjadi seperti sekarang! Tanpa aku, kau bukan siapa-siapa!"
"Aku lebih baik menjadi bukan siapa-siapa daripada menjadi bayangan di rumah ini!" teriak Shabiya, air mata mulai mengalir di pipinya. "Aku membencimu, Galen! Aku membenci setiap sentuhanmu karena aku tahu itu bukan untukku!"
Kemarahan Galen mencapai puncaknya. Ia tidak lagi mencoba bersikap manis. Ia menyambar pergelangan tangan Shabiya dan menariknya dengan kasar menuju tangga. Shabiya meronta, mencoba melepaskan diri, namun tenaga Galen seperti baja yang tak tergoyahkan.
"Lepaskan aku! Galen, kau menyakitiku!"
Pria itu mengabaikan teriakan Shabiya. Ia menyeret istrinya menaiki tangga menuju lantai dua, melewati Arsen yang berdiri mematung di dekat pintu perpustakaan. Arsen tampak ingin bergerak, namun tatapan tajam Galen segera menghentikannya.
Galen membuka pintu kamar utama dengan satu sentakan keras dan mendorong Shabiya masuk ke dalamnya. Shabiya terjatuh di atas karpet tebal, gaun sutra birunya kusut dan sobek di bagian bahu.
"Kau ingin menjadi Shabiya?" Galen berdiri di ambang pintu, napasnya memburu. Sosoknya yang tinggi besar menghalangi cahaya dari koridor, menciptakan bayangan raksasa yang menelan ruangan itu. "Baiklah. Jadilah Shabiya di dalam kamar ini. Sendirian. Tanpa aku, tanpa duniaku, tanpa cahaya."
"Kau tidak bisa mengurungku!" Shabiya mencoba bangkit dan berlari menuju pintu.
Namun Galen bergerak lebih cepat. Ia menutup pintu itu tepat di depan wajah Shabiya.
BRAK!
Suara kunci yang diputar dua kali dan bunyi sistem pengamanan elektronik yang aktif terdengar seperti vonis mati. Shabiya menggedor-gedor pintu kayu itu dengan seluruh kekuatannya.
"BUKA PINTUNYA, GALEN! BUKA!"
"Kau akan tetap di sana sampai kau belajar bagaimana cara menghargai posisimu!" suara Galen terdengar dingin dari balik pintu. "Mulai besok, tidak ada pelayan yang masuk kecuali untuk mengantarkan makanan. Tidak ada buku, tidak ada cat lukis, tidak ada musik. Hanya kau dan kesunyianmu, sampai kau merindukan suara Thana keluar dari bibirmu sendiri."
Shabiya merosot di balik pintu, terisak dalam kegelapan. Ia mendengar langkah kaki Galen yang menjauh, diikuti oleh instruksi tajam kepada Arsen untuk menggandakan penjagaan di depan kamarnya.
Kamar yang luas dan mewah itu kini benar-benar menjadi sel penjara. Shabiya melihat ke arah cermin besar di sudut ruangan. Dalam keremangan, ia masih melihat sosok wanita bergaun biru yang mirip Thana. Dengan amarah yang meluap, ia mengambil lampu meja dan melemparnya ke arah cermin itu.
PRANG!
Cermin itu hancur berkeping-keping. Shabiya melihat pantulannya terpecah menjadi ribuan bagian—sama seperti identitasnya yang kini hancur lebur. Ia mengambil salah satu pecahan kaca, menatapnya tajam. Di tengah rasa takut dan keputusasaan, sebuah pikiran nekat mulai muncul.
Galen mengira ia bisa menghancurkan jiwanya dengan isolasi. Galen mengira Shabiya akan menyerah dan memohon untuk menjadi Thana kembali demi mendapatkan kebebasan. Namun, Galen salah akan satu hal, Shabiya Sena Cantara adalah putri seorang pengusaha logistik yang terbiasa bertahan hidup di kerasnya pelabuhan. Ia memiliki ketangguhan yang tidak dimiliki oleh Thana yang rapuh.
"Kau ingin aku menjadi dia bukan, Galen?" bisik Shabiya pada pecahan kaca di tangannya. "Maka aku akan menjadi hantu yang akan menghancurkanmu dari dalam."
Malam itu, di dalam kamar yang terkunci, Shabiya tidak lagi menangis. Ia mulai mengamati setiap sudut kamarnya, mencari celah, mencari kelemahan di dalam benteng yang dibangun sang penguasa. Konfrontasi pertama ini memang berakhir dengan kekalahannya secara fisik, namun secara mental, Shabiya baru saja mendeklarasikan perang terbuka.
Sedangkan di lantai bawah, Galen duduk di ruang kerjanya, menatap foto Thana dengan tangan yang masih gemetar. Ia telah mengunci Shabiya, namun ia merasa lebih kesepian daripada sebelumnya. Ia menyadari bahwa meski ia bisa mengunci tubuh Shabiya, ia tidak bisa mengunci kebencian yang kini terpancar dari mata istrinya, sebuah tatapan yang tidak pernah diberikan Thana kepadanya.
Sang pemilik kegelapan telah menutup sangkarnya, namun ia lupa bahwa seekor burung yang terlalu lama dikurung dan disakiti tidak akan lagi bernyanyi. Burung itu akan belajar bagaimana cara mematuk mata pemiliknya saat sangkar itu terbuka kembali.
👊nggo galen🤭
baru mulai... ky'a seru