Dua keluarga dan satu janji masa lalu. Ach. Valen Adiwangsa dan Milana Stefani Hardianto adalah potret anak muda sempurna; mengelola perusahaan, membangun usaha mandiri, sambil berjuang di semester akhir kuliah mereka. Namun, harmoni yang mereka bangun lewat denting unik Gitar Piano terancam pecah saat sebuah perjodohan direncanakan secara sepihak oleh orang tua mereka.
Segalanya menjadi rumit ketika Oma Soimah, pemegang kekuasaan tertinggi keluarga Hardianto, pulang dengan sejuta prinsip dan penolakan. Baginya, cinta tidak bisa didikte oleh janji dua sahabat lama. Di tengah tekanan skripsi dan ambisi keluarga, Valen harus membuktikan bahwa dirinya lebih dari sekadar "pilihan orang tua".
Mampukah nada-nada yang ia petik meluluhkan hati sang Oma yang tak mengenal kata kompromi?
Ataukah perjodohan ini justru menjadi akhir dari melodi yang baru saja dimulai?
Yuk kisah cinta Mila dan Valen🥰❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Awan Tulis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 35 - Treatment
Matahari baru saja naik, namun Mila sudah diusir secara halus dari rumah oleh Bunda Selfi, Tante Dewi dan Tante Wika. Alasannya? Hadiah kelulusan berupa paket Full Body Spa & Treatment seharian penuh.
"Mila, kamu itu calon pengan— eh maksud Bunda calon tunangan! Harus glowing. Zahra sama Mutia sudah siap di mobil, sana berangkat!" perintah Bunda Selfi tanpa tapi.
Di dalam mobil, Zahra dan Mutia tampak sangat bersemangat. Mila yang masih setengah mengantuk merasa ada yang aneh. "Ra, Mut... kalian nggak ngerasa aneh ya? Cuma tunangan keluarga inti tapi aku disuruh treatment dari ujung rambut sampai ujung kaki?"
Zahra tertawa gugup sambil mengoleskan lip gloss. "Aduh, Mila sayang... Kamu itu cucu keluarga Hardianto! Mau tunangan kek, mau syukuran kek, penampilan itu nomor satu. Udah, nikmati aja dipijat-pijat. Anggap saja ini hari tenang sebelum kamu resmi jadi milik Kak Valen."
Saat Mila sedang berendam bunga di tempat spa, kediaman Hardianto berubah menjadi zona tempur. Truk bunga mawar putih dan melati segar berdatangan. Arbil dan Robi bertugas di bagian luar, memastikan tenda transparan terpasang sempurna.
Di dalam ruang tengah, sebuah meja panjang dengan taplak sutra putih sudah disiapkan. Di depannya, ada dua kursi kayu ukir yang sangat cantik. Papa Fildan datang membawa kotak kado besar yang dijaga ketat oleh ajudannya.
"Ini berkas dari KUA, Faul. Penghulu akan datang jam tujuh malam," bisik Papa Fildan pada Ayah Faul.
Arbil yang lewat sambil membawa kotak katering tak sengaja mendengar, matanya membelalak. "Hah? Penghulu? Jadi ini beneran langsung nikah, Yah?"
Ayah Faul langsung menarik kerah baju Arbil pelan. "Sst! Arbil, jaga mulutmu! Kalau sampai Mila atau Valen tahu sebelum waktunya, Oma bakal kirim kamu balik ke asrama!"
Arbil langsung menutup mulutnya rapat-rapat, namun senyum tengilnya muncul. "Wah... Bang Valen beneran dapet kejutan maut nih."
Pukul 17.00 tepat, Mila kembali ke rumah bersama Zahra, sementara Mutia sudah diantarkan kembali ke rumahnya.
Mila tampak mematung kaget karena seluruh akses ke ruang tamu ditutup kain beludru tinggi. Ia langsung digiring masuk lewat pintu samping menuju kamarnya di lantai dua.
"Kok ditutup-tutup sih, Bun?" tanya Mila heran.
"Kejutan buat kamu, Mila sayang! Udah, sekarang mandi, terus di kamar kamu sudah ada tim MUA yang nunggu," jawab Bunda Selfi cepat.
Setelahnya bunda Selfi duduk di kasur kamar Mila untuk mengawasi anak gadisnya itu.
Tak lama setelah selesai make up, Mila pun dipakaikan sebuah kebaya putih tulang yang sangat mewah. Kebaya itu memiliki ekor panjang dan payet berlian berkilau. Saat cermin diputar, Mila hampir tidak mengenali dirinya sendiri.
"I-ini.... Ini Mila?" selorohnya.
"Ra, ini bukan kebaya tunangan kan? Ini mah baju akad nikah," bisik Mila dengan suara bergetar.
Zahra yang sedang memegang botol parfum hanya bisa tersenyum getir menahan rahasia. "Ya ampun, Sepupu gue! Mila, cantik banget... Udah, jangan banyak tanya dulu deh lo ya."
Hingga malam pun tiba, ruang tengah kediaman Hardianto yang biasanya hangat berubah menjadi ruangan yang sangat megah sekaligus menegangkan. Mila sudah diminta untuk keluar kamar, diapit oleh Tante Dewi di sisi kanan dan Tante Wika di sisi kiri. Mila yang masih memegang buket bunga mawar putih, terpaku di anak tangga terakhir.
Mata Mila tampak menyapu ruangan, terdapat ada meja akad, ada pria berpeci yang memegang buku besar, dan ada Valen yang tampak begitu tegang namun gagah dalam balutan beskap putih.
"Ayah... ini bukan tunangan, kan?" suara Mila bergetar. Tubuhnya mulai limbung. "Kenapa ada penghulu? Kenapa ada mas kawinnya... Kak Valen, kamu bohongin aku?"
Mila melangkah mundur, napasnya mulai memburu. Dia merasa dikhianati oleh semua orang. Rasa syok yang luar biasa membuatnya merasa dunia berputar. Zahra dan Mutia yang berdiri di belakang Mila tampak panik.
"Mila, tenang dulu, Sayang..." Bunda Selfi mencoba mendekat, namun Mila menggeleng kuat.
"Enggak, Bunda! Ini terlalu cepat! Mila belum siap... Mila pikir ini cuma tunangan!" Mila mulai menangis sesenggukan, ia hampir saja berbalik arah untuk lari kembali ke kamarnya jika sebuah suara berwibawa tidak menghentikannya.
_______
Ditunggu part selanjutnya ya Guys
Love you All ❤️