NovelToon NovelToon
MAFIA'S OBSESSION

MAFIA'S OBSESSION

Status: tamat
Genre:Obsesi / Mafia / Tamat
Popularitas:15.4k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Kisah dewasa (mohon berhati-hati dalam membaca)
Areta dipaksa menjadi budak nafsu oleh mafia kejam dan dingin bernama Vincent untuk melunasi utang ayahnya yang menumpuk. Setelah sempat melarikan diri, Areta kembali tertangkap oleh Vincent, yang kemudian memaksanya menikah. Kehidupan pernikahan Areta jauh dari kata bahagia; ia harus menghadapi berbagai hinaan dan perlakuan buruk dari ibu serta adik Vincent.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31

Vincent mengambil tablet dari tangan Jonas, namun hanya mendengarkan beberapa detik pertama makian ibunya yang penuh kebencian terhadap Areta.

Rahangnya mengeras hingga urat-urat di lehernya menonjol.

Tanpa sepatah kata pun, ia mengembalikan tablet itu dan langsung berjalan cepat menuju mobilnya.

Hatinya sudah lebih dari panas; itu adalah amarah dingin yang paling mematikan.

Sesampainya di kediaman mewah ibunya, suasana langsung mencekam.

Pintu besar itu terbuka kasar saat Vincent melangkah masuk.

Nyonya Helena berdiri di tengah ruangan dengan wajah murka, tidak menunjukkan rasa bersalah sedikit pun.

"Vincent! Beraninya kau datang kemari setelah apa yang kau lakukan!" teriak ibunya dengan suara melengking.

"Kamu mengunci Clara di ruang bawah tanah? Dia adikmu! Dia mencintaimu lebih dari siapapun, dan kau menghukumnya hanya demi wanita rendahan itu?!"

Vincent berhenti tepat di depan ibunya. Sorot matanya kosong, seolah wanita di depannya ini bukanlah orang yang telah melahirkannya, melainkan musuh paling berbahaya.

"Clara membantumu merencanakan pembunuhan istri dan calon anakku," ucap Vincent dengan suara rendah yang menggetarkan ruangan.

"Cinta yang kamu maksud adalah obsesi gila yang hampir menghancurkan hidupku."

"Dia yang terbaik untukmu! Bukan Areta!" bela ibunya lagi.

Vincent tersenyum pahit, sebuah senyum yang menandakan akhir dari segalanya. "Kalau begitu, nikmatilah sisa hidupmu dengan 'pilihan terbaikmu' itu tanpa aku."

Vincent berbalik arah, lalu berhenti sejenak tanpa menoleh. "Mulai sekarang, jangan pernah anggap aku anakmu lagi. Hubungan darah kita berakhir detik ini."

"Apa maksudmu, Vincent?!"

"Jonas," panggil Vincent dengan nada tegas. "Cabut semua fasilitas. Blokir seluruh rekening, tarik semua aset atas namanya, dan sita rumah ini besok pagi. Jangan sisakan satu sen pun dari harta De Luca untuk wanita yang mencoba membunuh penerus De Luca."

"Kamu tidak bisa melakukan ini padaku! Aku ibumu!" teriak Nyonya Helena histeris, namun Vincent terus melangkah pergi tanpa sekalipun menoleh ke belakang.

Baginya, wanita itu sudah mati bersama dengan rasa hormat yang pernah ia miliki.

Ia masuk ke dalam mobil dan kembali ke rumah sakit.

Vincent mempercepat langkahnya saat menuju ruang rawat, namun ia terkejut saat melihat Areta tidak ada di ranjangnya.

Kepanikan sempat melanda hatinya sebelum Jonas memberitahu bahwa Areta berada di kantin rumah sakit dengan penjagaan super ketat.

Saat Vincent tiba di kantin, ia melihat Areta duduk dengan tenang di sebuah meja sudut, dikelilingi oleh empat anak buah berpakaian hitam yang berdiri siaga.

Areta yang sedang menyesap jus jeruk langsung tersenyum saat melihat suaminya datang.

"Anak buahmu mengatakan kalau kamu ada urusan penting, jadi mereka yang menemaniku ke sini," ucap Areta dengan nada yang jauh lebih ceria dari sebelumnya.

"Maaf aku keluar kamar tanpa izin, tapi aku benar-benar lapar, Vin. Anak kita sepertinya lapar terus, dia tidak mau menunggu sampai kamu kembali."

Vincent menghela napas lega, ketegangan di bahunya seketika luruh.

Ia melangkah mendekat, mengisyaratkan anak buahnya untuk memberi ruang, lalu duduk di samping Areta dan mengusap perutnya yang masih rata dengan lembut.

"Tidak apa-apa, Sayang. Selama kau aman, aku tidak keberatan kamu makan di mana saja," ucap Vincent dengan suara yang kembali lembut, menyembunyikan badai emosi yang baru saja ia lalui bersama ibunya.

"Makanlah sebanyak yang kau mau. Aku akan menemanimu di sini."

Areta menatap wajah Vincent, menyadari ada sesuatu yang berbeda di mata suaminya, namun ia memutuskan untuk tidak bertanya dulu.

"Kamu sudah selesai dengan urusanmu? Kamu terlihat lelah."

Vincent tersenyum tipis, menggenggam tangan Areta erat.

"Sudah selesai. Semuanya sudah selesai. Sekarang hanya ada aku, kamu, dan anak kita. Tidak akan ada lagi yang mengganggu."

Vincent tertawa pelan, rasa hangat menyelimuti hatinya melihat Areta mulai kembali ceria dan bisa bercanda.

Ia merangkul bahu istrinya dengan posesif sembari mereka berjalan pelan kembali menuju ruang rawat.

"Sayang, setelah semua ini benar-benar tenang, aku ingin kita meninggalkan tempat ini. Kita pindah ke luar negeri, mungkin ke Swiss yang tenang atau Italia, rumah leluhurku. Kita mulai hidup baru yang jauh dari bayang-bayang keluarga De Luca," tawar Vincent dengan nada serius namun penuh harap.

Areta tampak berpikir sejenak, lalu matanya berbinar.

"Aku ingin tinggal di Turki saja, Vin. Dari dulu aku sangat ingin ke sana. Pemandangannya indah dan budayanya luar biasa."

Vincent menghentikan langkahnya, matanya menyipit penuh selidik yang jenaka.

"Turki? Apa ada seseorang yang kau kenal di sana?"

"Ih!" Areta langsung mencubit lengan suaminya dengan gemas.

"Tapi benar, Vin, di sana banyak lelaki tampan. Aktor-aktornya saja sangat menawan."

Mendengar itu, raut wajah Vincent langsung berubah drastis. Senyumnya hilang, digantikan oleh ekspresi cemburu yang kaku.

"Tidak. Tidak ada Turki," tegasnya cepat.

"Kenapa? Tadi kan katanya terserah aku," protes Areta sambil menahan tawa.

"Aku berubah pikiran. Kita ke Paris saja," putus Vincent tanpa kompromi.

"Kota cinta, bukan kota 'lelaki tampan'. Di sana aku bisa memastikan kau hanya menatapku, bukan pria-pria di layar televisi atau di jalanan."

Areta tertawa lepas, sesuatu yang sangat dirindukan Vincent.

"Kamu cemburu, Vin? Padahal aku kan cuma bercanda."

"Aku tidak bercanda soal Paris," ucap Vincent sambil mengecup kening Areta dengan protektif.

"Di sana aku sudah memiliki apartemen mewah dengan pemandangan menara Eiffel. Kita akan aman, dan yang terpenting, tidak akan ada bayang-bayang ibuku atau siapapun yang bisa menyentuhmu."

Setelah selesai makan di kantin, Vincent tidak membiarkan Areta berjalan terlalu lama.

Ia dengan sigap menuntun istrinya kembali ke kamar rawat eksklusif mereka.

Begitu sampai di dalam, Vincent membantu Areta berbaring dengan sangat hati-hati di atas ranjang rumah sakit yang luas.

Dengan gerakan yang terampil, berkat seringnya ia melihat tim medis bekerja Vincent memeriksa selang infus Areta untuk memastikan alirannya lancar. Ia mengatur bantal agar istrinya merasa nyaman sebelum ia sendiri melepas sepatu dan jasnya.

Vincent kemudian naik ke atas ranjang, memposisikan dirinya di samping Areta.

Ia menarik tubuh istrinya ke dalam pelukannya yang kokoh, membiarkan kepala Areta bersandar di dada bidangnya yang hangat.

"Istirahatlah, Sayang. Aku tidak akan pergi ke mana-mana," bisik Vincent lembut sambil mengelus rambut Areta.

Areta memejamkan mata, menghirup aroma maskulin suaminya yang selalu berhasil membuatnya merasa aman.

Rasa trauma dari gudang tua itu perlahan memudar, digantikan oleh rasa kantuk yang nyaman karena pelukan Vincent.

"Janji ya, Vin. Jangan tinggalkan aku lagi," gumam Areta setengah sadar.

"Aku janji. Nyawaku adalah jaminan untuk keselamatanmu dan anak kita," jawab Vincent dengan nada tegas namun penuh cinta.

Ia terus mendekap Areta, menjaga napas mereka tetap selaras di tengah keheningan malam rumah sakit, sementara di luar sana, Jonas sedang sibuk mengurus segala persiapan keberangkatan mereka ke Paris.

Areta terbaring diam, matanya menatap langit-langit kamar yang temaram.

Pikirannya melayang jauh melintasi samudera, membayangkan kehidupan barunya di Paris.

Ia membayangkan berjalan di pinggiran sungai Seine, belanja keperluan bayi di butik-butik kecil yang estetik, dan yang terpenting: hidup tanpa rasa takut akan ancaman pembunuhan atau pengkhianatan keluarga.

Rasa antusias dan gelisah bercampur menjadi satu, membuatnya sulit memejamkan mata.

Ia ingin berbagi perasaannya, ingin bertanya lebih banyak tentang apartemen mereka di sana.

"Vin,..." bisiknya pelan.

Areta menoleh ke arah suaminya yang masih memeluknya erat. Namun, bukan jawaban lembut yang ia terima, melainkan suara dengkuran halus yang sangat teratur.

Vincent rupanya sudah terlelap saking lelahnya setelah seharian bertarung dengan emosi, kemarahan, dan rasa takut kehilangan istrinya.

Areta tersenyum tipis melihat wajah suaminya dalam keadaan tidur.

Wajah yang biasanya terlihat garang dan dingin itu kini tampak begitu damai, bahkan sedikit lucu dengan suara dengkuran tipisnya.

Ia mengerti betapa berat beban yang baru saja dilepaskan suaminya hari ini—memutus hubungan dengan ibu kandung sendiri bukanlah hal yang mudah.

Areta mengulurkan tangannya, mengelus rahang tegas Vincent dengan sangat lembut agar tidak membangunkan pria itu.

"Tidurlah yang nyenyak, pahlawanku," bisiknya lirih. Ia kemudian membetulkan posisi kepalanya di dada Vincent, mendengarkan detak jantung suaminya yang kuat sebagai musik pengantar tidurnya sendiri.

1
Alex
terimakasih Thor, sdah memberikan bacaan yg sangat bagus, menguras air mata dan mengajarkan banyak hal di dalamnya,,
semngat terus Thor, kutunggu karyamu selanjutnya 🙏🙏
my name is pho: terima kasih 🥰🥰🥰
total 1 replies
Mamta Okta Okta
Vincent kamu belum bisa bahagia masih ada satu penghalang lagi ya itu ibumu
putrie_07
. hemmm
putrie_07
cepat Thor cepat cepat cepat cepat😩😩😂💪
nyonya
semangat upnya kak
my name is pho: terima kasih kak
total 1 replies
nyonya
lanjooot thor
my name is pho: siap kak
total 1 replies
Ika
Agak aneh pas vincent bilang areta ga sependiam itu jika menyangkut perjalanan jauh, pdhal jelas2 mereka berdua sm sekali belum pernah pergi liburan bareng dengan jarak yg jauh, dan biasanya juga kalo mereka pergi berdua pasti areta nya nangis diam atau malah di bius😭
putrie_07
nanti kW mati berdiri pula nengok lakikmu bunuh org🥵
angel
pengen punya suami kayak vincent😍🥰
angel
semangat up nya thorr
angel
lanjut thorr
my name is pho: terima kasih kak
total 1 replies
angel
plis areta coba pikir" lagi jangan ambil tindakan yang bikin rumit donk,plisss kali ini aja yahh nanti kalau kau pergi bakal bagaimana vincent😭😭, SEMANGAT THORRR
putrie_07
cinta gila😆😆😆😆
lanjut Thor💪😘
اختی وحی
ikut gemeter😄
اختی وحی
semangat thor,makin seru
my name is pho: terima kasih 🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!