Pramahita sering menganggap dirinya sebagai gadis yang tak beruntung. Selain sebagai anak tiri yang 'tidak diinginkan', Pramahita juga sering mendapatkan perlakuan semena-mena dari ibu tiri dan kakak tirinya—Loria.
Harapan Pramahita yang selalu ia panjatkan pada sang kuasa hanya satu—agar ia mendapatkan suami yang kelak bisa membuatnya merasa dicintai dan mampu merasakan bagaimana rasanya dihargai kelak oleh belahan jiwanya. Namun alih-alih mendapatkan kebahagiaan dari kesabaran yang ia tabur, Pramahita malah menikah dengan sosok yang bertolak belakang dari apa yang selalu ia harapkan.
Loria, kakak tirinya itu melarikan diri tepat sehari sebelum pernikahan, meninggalkan calon suaminya yang menahan amarah dan juga rasa malu dengan perlakuan yang tidak pantas ia dapatkan. Dengan ancaman serius yang dilontarkan oleh sosok yang seharusnya menjadi kakak iparnya kepada keluarga, Ayah Pramahita memutuskan untuk memilihnya sebagai pengantin pengganti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liaramanstra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Titik terang
"Aku tau kau adalah dalang dibalik kaburnya Loria."
Delapan kata itu terlontar dari bibir Baskara, menjalar masuk ke telinga si bungsu Martadinata yang langsung terdiam di tempat. Mematung. Tak bisa berkutik sedikitpun.
Baskara tau itu, ia sudah tau semua yang gadis itu lakukan sekarang. Awalnya ia tak menyangka, tapi pada kenyataannya tak ada yang bisa mengenali seseorang selain diri mereka sendiri. Entah berapa lama sudah mengenalnya, kita tak akan mengenal mereka sepenuhnya.
"Kenapa? Bibirmu tiba-tiba tidak bisa terbuka, hm?" Baskara berbisik, tangannya melingkari pinggang kecil Lian, memberikan remasan ringan di sana. "Atau mungkin kau sedang tercengang karena aku tau semua ini? Membuktikan bahwa kau masih sedikit ceroboh dalam permainanmu?"
"Kau tidak memiliki bukti." Lian bergerak tak nyaman akan kedekatan mencekamnya dengan Baskara. Laki-laki itu kemari untuk mengungkap kebusukannya, bukan hanya 'iseng' seperti yang pada awalnya diakui. Itu jelas membuatnya kesal.
"Tidak memiliki bukti?" tawa rendah Baskara mengalun, membuat Lian merinding setengah mati. "Aku memang tidak memiliki bukti langsung yang bisa aku tunjukkan padamu, tapi aku memiliki logika untuk mengenali sumber masalah, Lian."
Lian semakin merasa tercekik saat lengan Baskara mengerat di pinggangnya, menekannya tanpa celah sementara dagu laki-laki itu menyentuh pundaknya. Napas hangat menerpa kulitnya, terasa menggelikan sekaligus menegangkan.
"Wisnu sudah menunjukan padaku video rekaman kamera pengawas yang memberikan petunjuk keberadaan Loria," bisik laki-laki itu. "Dan kau tau apa yang aneh?"
Lian semakin menegang.
"Laki-laki berambut pirang yang ternyata bukanlah orang asing. Seseorang yang aku anggap begitu familiar."
Baskara mengamati reaksi Lian, mendengus geli begitu melihat sosok cerewet yang tak bisa menutup mulut kini diam tanpa diminta. Kali ini, Baskara menang telak.
"Aku tau dia," lanjutnya. "Dia adalah mantan kekasihmu. Bajingan yang berselingkuh darimu."
Dengan sengaja laki-laki itu membenamkan wajah di ceruk leher yang masih basah, menghirup aroma manis sabun yang melekat pada tubuh yang bersih. Lian yang membeku hanya membuat kepercayaan dirinya tumbuh.
Saat enam puluh detik pertama berlalu, Baskara tau gadis itu melewatkan kesempatan untuk bicara, oleh karena itu ia kembali membuka suara.
"Aku menertawakanmu saat kau mengatakan si tidak tau diri itu telah berselingkuh, meninggalkanmu setelahnya seperti hal yang tidak berguna." Ibu jarinya bergerak semakin tinggi, tepat di bawah gundukan di balik handuk. "Padahal semua orang tau bahwa kau adalah kesayangan Martadinata, putri bungsu dan anak perempuan satu-satunya. Semua orang ingin mendapatkanmu, termasuk juga aku."
"Tapi tak pernah terpikirkan olehku sebelumnya bahwa bahwa selingkuhan dari mantan kekasihmu itu adalah... Loria." Kata-kata itu menggantung di udara. "Calon kakak iparmu. Perempuan yang begitu dipuja oleh kakakmu."
Tangan Lian mengepal saat mendengar ucapan Baskara. Laki-laki itu pintar dan bodoh di waktu bersamaan, itu membuat Lian cukup kewalahan. Terang-terangan pula Baskara mengungkapkan bahwa dia menginginkannya.
"Lalu apa tujuanmu mengatakan semua ini padaku?" Tak gentar, Lian menatap langsung laki-laki itu sangat dekat, nyaris tak berjarak. "Kenapa kau menuduhku sebagai dalang di balik semua ini? Apakah hanya karena Loria dan mantan kekasihku yang tak tau diri itu berselingkuh? Tidak masuk akal jika kau menuduhku—"
"Tentu saja bukan 'hanya' karena itu." Begitu lembut laki-laki itu menyela. "Aku tau kenyataan bahwa vidio yang Wisnu tunjukan padaku bukanlah didapat dari hasil pencarian orang-orang Dirga dan Arseno, tapi dikirim oleh nomor tidak dikenal."
Ada jeda pendek di sana.
"Semua jejak Loria seakan-akan menghilang, membuatnya seperti ditelan bumi. Bahkan orang-orang hebat kepercayaan keluarga Martadinata dan Wijaya tidak bisa menemukan sedikitpun celah tentang keberadaannya. Yang melakukan ini pastilah bukan... orang sembarangan," lanjutnya.
"Aku menyadap ponsel Wisnu." pengakuan itu membuat Lian terbelalak. "Aku membaca seluruh pesan sosok misterius yang mengancam akan membunuh Loria jika Wisnu berani mengatakan bahwa video itu dikirimkan olehnya. Itu upaya menutupi identitas. Hebat, itulah yang aku pikirkan."
Lian berusaha menekan getaran pada suaranya. "Dan apa yang membuatmu begitu yakin bahwa itu adalah aku?"
"Karena Loria sendiri yang mengatakannya."
...****************...
"Saya tau bahwa semuanya akan berjalan dengan lancar. Tetap jaga kualitas makanan, kalau perlu harus ditingkatkan. Kinerja kalian minggu ini tidak mengecewakan."
Sekitar sepuluh orang yang berada di dalam ruangan rapat itu mengangguk, saling bertukar pandang penuh tekad dan semangat saat rapat operasional harian kali ini berjalan dengan lancar. Mahargabhi Minggu ini tidak mendapatkan keluhan dari pelanggan. Itu membuat bos mereka merasa puas kali ini.
Saat rapat ditutup tanpa adanya gertakan dari Dirga, para karyawan bisa keluar dari ruangan dengan senyum merekah. Ini benar-benar jarang terjadi, karena biasanya mereka lebih banyak dimarahi, atau tidak dikatai tak mengerjakan pekerjaan sepenuh hati saat melakukan kesalahan.
Drttt... Drttt...
Dirga baru saja bangkit dari tempat duduknya saat ponselnya bergetar di atas meja kaca. Dia langsung meraih benda pipih mahal itu dan menempelkannya pada telinga, sementara tangannya bergerak menutup laptop.
"Ada apa, Ma?" Dia langsung bicara saat sambungan terhubung.
"Dirga." Suara Nadia terdengar. "Mama ingin minta tolong, apakah kamu sibuk sekarang?"
"Tidak."
"Bagus, kalau begitu bantu Mama."
"Bantu apa?"
"Begini, ini Mama lupa dimana menaruh dompet. Mama yakin sekali menaruhnya di atas meja ruang tamu tadi. Baru Mama cek sudah tidak ada. Bisa bantu Mama cek CCTV, nak? Takutnya Mama meletakkannya di sembarang tempat."
Dirga menghela napas, ibunya itu sering sekali kehilangan Dompet. Pernah waktu itu satu rumah heboh karena tas berharga jutaannya itu menghilang, padahal sudah dia letakkan kembali di lemari kaca koleksinya.
Jangan-jangan saja dia kali ini sudah meletakkannya di dalam tas.
"Biar aku cek sebentar." Dirga mengangguk pelan, kembali membuka laptopnya dan duduk pada kursi putar. "Nanti Dirga kabari jika ketemu."
"Iya, terimakasih ya nak."
Dirga kembali meletakkan ponselnya di atas meja, matanya kembali terfokus pada layar yang menyala. Sekilas ia menaikan pandangan hanya untuk melihat jam, mengira-ngira berapa lama lagi ia harus membuat istrinya menunggu di dalam ruangan yang ia kunci.
Membiarkan Pramahita dibebaskan di kantornya ini bukanlah ide yang bagus, oleh karena itu ia kunci saja perempuan itu untuk sementara waktu.
Bunyi klik mouse terdengar dalam ruangan yang sunyi, Dirga membuka akses CCTV rumah seperti saat itu ia membantu Mama mencari dompet. Atau memantau Hita dan Lia**n.
Ting!
Suara notifikasi itu membuat Dirga sedikit teralihkan, tangannya tanpa sadar mengklik mouse sekali lagi saat memilih rekaman, membuat salah satu rekaman terputar sementara ia membaca notifikasi dari sang Mama.
"Kak stop!"
Dirga membeku, tangannya melayang di atas layar handphone saat ia mendengar suara dari laptopnya. Memutar rekaman acak tanpa sengaja.
Sialnya, itu suara istrinya—Pramahita.
Dirga menoleh cepat, notifikasi dari Mamanya langsung terabaikan.
"Kak! Kak Stop! Sakit!"
Tiga detik penuh Dirga tak sedikitpun bergerak saat mendengarkan suara istrinya yang menjerit kesakitan. Layar terlihat gelap, namun penerangan remang dari arah dapur menampakkan bayangan yang cukup jelas.
Itu dia. Dia.
Dirga berada di sana dan melakukan hal yang tak pernah ia sadari sedikit bahkan jika itu adalah mimpi. Ia tak pernah membayangkan hal seperti ini. Tidak pernah sekalipun ia bayangkan. Tidak pernah.
Sedikit gemetar tangan itu saat menggenggam mouse, benjolan tiba-tiba terasa di tenggorokan dan membuat Dirga tak bisa bernapas.
Apa-apaan ini?
Raungan Hita yang memohon dan menangis berputar-putar di kepala, sementara mata menatap kekejaman yang tak pernah Dirga pikir bisa dia lakukan. Bagaimana mungkin... Bagaimana mungkin ia melakukan hal seperti ini... dan kenapa Hita tak berniat memberitahunya? Kenapa perempuan itu hanya diam saja dan tidak berusaha mengatakan apapun?
Apakah sikap Hita yang saat itu berubah tiba-tiba karena hal ini? Apakah memar di pergelangan tangan itu... Itu dibuat olehnya? Dan goresan-goresan di punggungnya...
Dirga mengepalkan tangan, buku-buku jarinya memutih, rahangnya terkatup rapat. Apa yang sebenarnya perempuan bodoh itu pikiran dengan tidak memberitahunya tentang hal ini? Apa yang membuatnya hanya diam tenang seperti itu?
Apa yang sedang dia rencanakan? Menjatuhkannya? Menjebaknya?
Sedikit gemetar tangan Dirga menutup laptop, memandang kosong ke depan dengan pikiran yang kalut. Atau bahkan tak bisa digunakan untuk berpikir lagi.
Pramahita. Ia harus segera bicara dengan istrinya itu.
Bersambung...
aku ko ga rela dia sama Dirga ending nya kata" itu loh menjijikan
Hita kalau udah pergi atau dekat sama orang lain baru terasa ,,Bram boleh juga Thor biar panas
suka cerita nya biarpun Dirga kasar banget sih rada nyesek
i give coffee 4 u
baru baca novel sperti ini CEO ledhoooooooooo ga ketulungan mulutnya pedes luar biasa macam ibu komplek dihhh najis tralala deh kamu Dirga