"Mbak, aku mau beli mainan, boleeeh?"
Seorang pria dewasa yang ditemukannya terbangun dan tiba-tiba merengek sepeti seorang anak kecil. Luaticia atau Lulu sungguh bingung dibuatnya.
Selama sebulan merawat pria itu, akhirnya dia mendapat informasi bahwa sebuah keluarga mencari keberadaan putra mereka yang ciri-ciri nya sama persis dengan pria yang dia temukan.
"Ngaak mau, aku nggak mau di sini. Aku mau pulang sama Mbak aja!" pekik pria itu lantang sambil menggenggam erat baju Lulu.
"Nak, maafkan kami. Tapi Nak, kami mohon, jadilah pengasuhnya."
Jeeeeng
Sampai kapan Lulu akan mengasuh tuan muda tersebut?
Akankah sang Tuan Muda segera kembali normal dan apa misteri dibalik hilang ingatan sang Tuan Muda?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Didit PInter 31
Ditrian kembali terkejut melihat tampilan Luaticia. Meski gadis itu berpenampilan seperti kemarin, entah mengapa Ditrian merasa bahwa Luaticia begitu cantik. Namun Ditrian tidak akan mengeluarkan kalimat pujian. Ia akan canggung sendiri jika itu dilakukannya.
Sarapan kali ini mereka hanya bertiga yakni Ditrian, Luaticia dan Vindra. Semua berkas yang sudah berhasil diperiksa oleh Drake, Dhea dan juga Virya sudah selesai dan tertumpuk rapi di ujung meja makan.
Dan inilah sebab mereka tidak ikut makan pagi. Dhea, Drake dan Virya baru selesai memeriksa semua laporan itu tadi pukul 04.00. Alhasil saat ini mereka tengan tertidur pulas.
"Dit, inget ya. Pokoknya kamu harus kayak kemarin aktingnya,"ucap Vindra memeringatkan. Saat ini mereka sudah ada di dalam mobil dan siap untuk berangkat.
"Iya Vindra. Tahu, aku tahu. Jangan bawel deh,"sahut Ditrian dengan wajah yang kesal. Dia diperingatkan bak seorang anak kecil. Itu sebenarnya hal yang harus dimaklumi olehnya karena belum ada yang tahu tentang ingatan yang sudah kembali kecuali Nek Asih.
"Bagus, tenang kalau sukses aku akan bakalan beliin mobil remote control buat kamu. Yang paling bagus,"ucap Vindra.
Ditrian menarik satu sudut bibirnya. Dia memiliki sebuah ide. Tentunya ide itu untuk mengerjai sang keponakan yang usianya hanya terpaut dua tahun saja darinya itu.
"Beneran ya. Harus beliin. Tapi aku nggak mau mobil remote. Aku maunya robot yang kayak gini,"ucap Ditrian sambil menunjukkan mainan yang dimaksud kepada Vindra.
"Buset, 20 juta itu. Muahal amat Dit mintanya. Lu tahu amat sih barang bagus,"tukas Vindra ketika melihat gambar yang ditunjukkan oleh Ditrian.
Robot yang dimaksud adalah sebuah robot yang bisa bergerak otomatis dengan sebuah perintah. Robot itu berasal dari sebuah film yang memiliki beberapa sekuel. Dan memang sangat terkenal diantara para penggemarnya.
Vindra ingat Ditrian memang suka dengan robot-robot yang berubah dari sebuah mobil itu. Tapi dia tidak menyangka bahwa pamannya akan meminta nya sebagai bayaran sekarang.
"Dit, jangan-jangan kamu udah inget ya terus mau ngerjain aku,"ucap Vindra sambil menunjukka sorot mata curiga.
"Inget apa? Inget kalau Didit harus akting?Ya inget lah, ya kan Mbak Lulu. Tugas Didit sekarang kan akting dengan baik, ya kan?" ucap Didit. Dia mengalikan padangannya dari Vindra kepada Luaticia. Bukan hanya itu, dia bahkan secara reflek bergelayut manja pada lengan Luaticia.
"Iya bener. Didit harus akting sekarang. Pinter banget sih Didit,"puji Luaticia.
Vindra memutar bola matanya dengan malas mendengar pujian Luaticia dan sikap manja Ditrian terhadap gadis itu. Rasanya ia ingin Ditrian segera mengingat kembali dan dia ingin meledek pamannya itu habis-habisan nantinya.
"Lu, kamu ini terlalu manjain dia,"ucap Vindra.
"Diih napa, biarin aja. Sewot banget Vindra. Iri ya sama Didit," ledek Ditrian.
Vindra hanya membuang nafasnya kasar. Ingin sekali dia memukul kepala Ditrian saat ini juga. Tapi dia menahannya dengan sangat baik. Entah mengapa Vindra merasakan adanya Ditrian di sini. Dia ingat betul bahwa dulu setiap mereka bersama, selalu saja Ditrian membuatnya kesal.
Tak terasa karena perdebatan kecil mereka itu, akhirnya sampai juga di perusahaan. Masing-masing mereka langsung mengambil sikap menjadi lebih serius.
"Vin, kamu kembali aja ke bagian mu. Awasi kalau-kalau ada penjahatnya di sana,"perintah Ditrian kepa Vindra yang membuat Vindra terkejut.
"Tapi, kamu gimana nanti?" bisik Vindra di telinga Ditrian.
"Aman, kan ada Mbak Lulu. Mbak Lulu kan udah belajar juga. Kalau kamu terus di deket aku, takutnya ada yang curiga,"sahut Ditrian.
Vindra memahami apa yang dikatakan Ditrian. Dan itu memang benar adanya. Jika Vindra terus berada di sisi Ditrian, lama kelamaan akan ada yang curiga.
"Lu, kalau gitu aku nitip Ditrian ya. Pokonya jangan sampai ada celah,"ucap Vindra kepada Luaticia. Saat ini dia hanya bisa memercayakan semuanya kepada Luaticia.
"Iya Kak, aman. Semoga semuanya baik-baik aja dan nggak ada masalah,"sahut Luaticia tenang dan yakin. Padahal dalam hati gadis itu saat ini juga tengah penuh kekhawatiran. Dia takut tidak bisa menjalankan tugasnya.
Greet
Ditrian meraih tangan Luaticia. Dia bisa melihat wajah Luaticia yang tidak baik itu. Dan Ditrian paham bahwa saat ini Luaticia sedang cemas. Lalu entah mengapa dia tidak suka melihat Luaticia cemas begini.
"KIta pasti bisa kan, Mbak Lulu. KIta akan melakukan yang terbaik, kan kita udah belajar,"ucap Ditrian dengan gaya Didit.
"Ya bener, kita pasti bisa. Kita pasti bisa melakukannya. Ayo semangat!" jawab Luaticia sambil mengangkat tangannya yang digenggam oleh Ditrian. Saat ini mereka tengah ada di dalam lift menuju lantai atas tempat ruangan CEO berada. Dan tidak ada yang melihat sehingga Luaticia berani bicara demikian.
Tring
Suara tanda lift sudah sampai pada lantai yang dimaksud pun berunyi. Ditria melangkah keluat dengan gaya dirinya. Semua orang yang melihat membungkung memberi hormat.
Oland yang sudah lama menunggu pun nampak senang melihat kedatangan Ditrian. Dia juga langsung megambil alih semua berkas yang dibawa Ditrian dan Luaticia.
"Selamat pagi, Bos. Agenda hari ini~"
"Kumpulkan semua kepala divisi. Rapat akan dimulai dalam 10 menit. Jika tidak datang dalam waktu itu, maka mereka akan menerima hukuman dariku." Ditrian langsung memotong ucapan Oland yang bahkan belum selesai. Dan itu cukup membuat Oland terkejut bukan main. Namun dia langsung mengerti. Sang pimpinan sudah kembali, dan ya memang seperti ini Ditrian. Rapat dadakan tanpa pemberitahuan lebih dulu merupakan salah satu kekhasan dia.
"Siap laksanan, Bos,"ucap Olan. Dia segera berlalu untuk memberi pengumuman ke semua orang.
Sedangkan Luaticia, dia menarik tangan Ditrian dan masuk ke sebuah ruangan yang tidak lain dan tidak bukan adalah ruangan milik Ditrian. Beruntung dia sudah diberitahu oleh Vindra terkait ruangan Ditrian sebagai CEO GoodFood Factory.
Blak
"Dit, apa nggak masalah begini? Apa kamu ngerti? Kalau mereka nanya-nanya gimana?" tanya Luaticia penuh dengan kekhawatiran.
"Mba Lulu tenang aja. Didit kan pinter kata Mbak. Didit juga udah belajar kok. Semalam Didit lihat lagi gimana Didit yang dulu dari video. Pasti Didit bisa ngelakuinnya. Kalau di film yang Didit tonton, Didit harus cepet ngelakuin ini biar orang nggak curiga," jawab Ditrian.
Entah mengapa ucapan Ditrian yang baru saja itu terdengar tengah menenagkan kecemasan bagi Luaticia.
"Oke, tapi kita nggak boleh ngelakuin yang aneh-aneh ya,"sahut Luaticia cepat.
"Iya, Mbak Lulu nggak perlu kahwatir. Serahin semua ke Didit. Sekali lagi, Didit kan pinter,"ucap Ditrian dengan begitu yakin.
TBC
mual aku dgn ucapan manis Steven ke Daria 🤢
masakan calon menantu enakan Mama Dhea dan Papa Drake 😁