Rani, seorang pembalap motor berjiwa bebas, menentang keras perjodohan yang diatur ayahnya dengan seorang ustadz tampan bernama Yudiz. Meskipun penolakan itu tak digubris, pernikahan pun terjadi. Dalam rumah tangga, Rani sengaja bersikap membangkang dan sering membuat Yudiz kewalahan. Diam-diam, Rani tetap melakoni hobinya balapan motor tanpa sepengetahuan suaminya. Merasa usahanya sia-sia, Yudiz akhirnya mulai mencari cara cerdik untuk melunakkan hati istrinya dan membimbing Rani ke jalan yang benar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Rani segera menjauh dengan wajah yang masih terasa panas.
Ia buru-buru berdiri dari sajadah, mencoba menetralisir rasa canggung yang meledak di dadanya.
"Sudah! Sudah! Aku lapar! Belajar tajwid ternyata lebih bikin haus daripada keliling sirkuit sepuluh putaran!" seru Rani sambil melangkah cepat keluar dari musholla, hampir saja tersandung ujung sajadahnya sendiri.
Ia menuju ke dapur yang tampak mengkilap dengan desain minimalis serba hitam dan kayu. Namun, saat membuka lemari kabinet dan kulkas dua pintu yang besar itu, bahunya seketika merosot.
"Abi! Kosong! Di sini cuma ada air putih sama es batu. Kita mau makan apa? Makan desain interior?" teriak Rani dari arah dapur.
Yudiz menyusul perlahan sambil merapikan sarungnya, ia tertawa kecil mendengar gerutuan istrinya.
"Maaf, aku baru sempat mengisi furniturnya, belum isinya. Ayo, kita belanja sekarang."
"Naik trail?!" mata Rani langsung berbinar.
"Naik mobil, Sayang. Kita mau belanja bulanan, bukan mau freestyle di jalan raya," jawab Yudiz sambil mengambil kunci mobilnya.
Sesampainya di supermarket besar di pusat kota, Rani langsung beraksi.
Ia menyambar troli belanja dan mendorongnya dengan kecepatan tinggi, menyalip ibu-ibu yang sedang memilih sabun.
"Rani, pelan-pelan! Ini supermarket, bukan lintasan balap!" tegur Yudiz yang berjalan tenang di belakangnya.
Rani berhenti tepat di lorong mie instan dan dengan gerakan cekatan, ia mulai memasukkan berbungkus-bungkus mie berbagai rasa ke dalam troli. Satu kardus, dua kardus...
"Rani, berhenti," ucap Yudiz sambil menahan tangan Rani yang hendak mengambil bungkus ke-20.
"Kita sudah pindah rumah untuk memulai hidup sehat, bukan untuk mengawetkan perutmu dengan mie instan."
"Tapi ini penyelamat di tanggal tua, Abi! Dan aku cuma bisa masak air!" protes Rani.
"Tidak ada tanggal tua untukmu sekarang. Ambil beras, daging, ayam, dan sayur, Sayang," ujar Yudiz lembut namun tak terbantahkan.
Ia mengeluarkan kembali tumpukan mie itu dan hanya menyisakan beberapa bungkus saja.
"Hih, pelit!" gumam Rani, meski ia tetap mengikuti langkah Yudiz.
Yudiz kemudian mengarahkan troli ke area buah dan sayur segar.
Ia tampak sangat pemilih, memeriksa kesegaran apel dan jeruk dengan teliti.
Sementara itu Rani hanya memperhatikan suaminya dengan tatapan heran.
"Kamu beneran bisa masak, Abi?" tanya Rani sambil memasukkan satu pack stroberi ke troli.
"Lihat saja nanti malam. Aku tidak mau istriku sakit maag karena kebanyakan makan bumbu mie," jawab Yudiz sambil menoleh dan tersenyum.
Rani segera memindahkan sayur sawi ke dalam troli, namun karena pikirannya masih melayang antara bayangan daging steak dan tumpukan mie instan yang gagal ia beli, ia tidak memperhatikan arah jalan.
BRAKK!
Troli Rani menghantam troli milik seseorang dari arah berlawanan.
"Aduh! Maaf saya nggak sengaja," ucap Rani panik sambil menunduk merapikan tatanan belanjaannya.
"Nggak apa-apa, santai aja," jawab suara pria itu.
Rani membeku. Ia merasa sangat mengenali suara bariton yang terdengar santai tersebut.
Saat ia mendongak, matanya membelalak sempurna.
"Rani?" pria itu bertanya dengan nada tidak percaya.
"G-Galang?" Rani terbata.
Pria di depannya adalah Galang, sahabat lamanya di dunia balap, sekaligus laki-laki yang dulu paling kencang dijodoh-jodohkan oleh teman-teman sirkuit dengannya.
Galang tampil kasual dengan kaos oversized dan kunci motor yang tergantung di saku celananya.
"Ya ampun, ini beneran Rani! Ke mana aja kamu? Di sirkuit katanya kamu hilang ditelan bumi setelah acara kemarin itu," ucap Galang antusias.
Ia melangkah mendekat, hendak menepuk bahu Rani seperti kebiasaan mereka dulu.
Rani refleks mundur selangkah, melirik Yudiz yang berdiri hanya dua meter di belakangnya. Keringat dingin mulai menetes di pelipis Rani.
Ia belum siap menjelaskan statusnya pada dunia balap, apalagi pada Galang.
"Aku lagi sibuk, Lang. Biasalah, urusan keluarga," jawab Rani kikuk.
"Sibuk apa sampai nomor HP nggak aktif? Anak-anak kangen tuh. Motor trail kamu juga kayaknya sudah jamuran di garasi," Galang tertawa, lalu matanya beralih ke sosok pria jangkung di belakang Rani.
"Eh, sori. Kamu nggak sendirian?"
Yudiz melangkah maju dengan ekspresinya tenang, namun tatapannya sangat tajam dan penuh wibawa.
Ia berdiri tepat di samping Rani, tangannya perlahan memegang gagang troli Rani, sebuah isyarat kepemilikan yang halus namun jelas.
"Ran, siapa dia?" tanya Yudiz datar namun menuntut jawaban.
Rani merasa tenggorokannya kering. Ia menoleh ke arah Yudiz yang rapi dengan kemejanya, lalu ke Galang yang tampak seperti anak motor sejati.
Otak Rani berputar cepat untuk mencari jawaban yang tepat.
Jika ia jujur, Galang pasti akan heboh dan rahasianya sebagai istri "Gus" akan terbongkar ke seluruh komunitas balap.
"Galang, kenalin dia sepupu aku dari luar kota! Namanya Yudiz," ucap Rani cepat, suaranya sedikit meninggi karena gugup.
Yudiz sedikit menaikkan alisnya. Sepupu?
Galang langsung tersenyum lebar dan mengulurkan tangan.
"Oh, sepupu! Pantesan mukanya beda jauh, yang ini rapi banget kayak bos-bos. Kenalin, gue Galang, sahabat paling deket Rani di sirkuit."
Yudiz terdiam sesaat, matanya melirik Rani yang sedang memberi tatapan memohon "tolong-ikuti-saja-dulu".
Dengan sikap ksatria yang dingin, Yudiz menjabat tangan Galang.
"Yudiz," ucapnya singkat.
Genggaman tangan Yudiz terasa sangat kuat, membuat Galang sedikit meringis.
"Sepupu ya? Bagus deh kalau Rani ada yang jagain. Soalnya dia ini bandel banget, Mas Yudiz. Kalau sudah di sirkuit, lupa nyawa," lapor Galang tanpa dosa.
Rani tertawa paksa saat mendengar perkataan dari Galang.
"Hehe.... sudah, sudah! Lang, kita buru-buru ya. Mas Yudis eh, sepupuku mau masak. Bye!"
Rani langsung mendorong trolinya sekuat tenaga meninggalkan Galang yang masih melambai.
Yudiz mengikuti dari belakang dengan langkah tenang, namun aura di sekitarnya terasa mendingin secara drastis.
Sesampainya di lorong yang lebih sepi, Yudiz menarik troli itu hingga berhenti mendadak. Ia menatap Rani lekat-lekat.
"Sepupu?" tanya Yudiz dengan nada rendah yang membuat bulu kuduk Rani berdiri.
Rani menggigit bibir bawahnya, menatap ujung sepatunya dengan gelisah.
Ia tidak berani menatap mata Yudiz yang biasanya teduh, namun kini terasa seperti sedang menginterogasinya tanpa suara.
"Maaf, Abi. Maaf banget," bisik Rani, suaranya nyaris hilang di antara bising speaker supermarket yang memutar lagu pop.
"Aku refleks. Galang itu mulutnya ember banget. Kalau dia tahu aku sudah nikah, apalagi sama kamu, besok pagi satu sirkuit bakal heboh. Aku belum siap jadi bahan gosip sebagai 'Pembalap yang pensiun jadi Ibu Nyai'."
Yudiz masih diam, tangannya masih kokoh memegang gagang troli, menghalangi jalan Rani.
"Tolong, Abi, kali ini saja. Aku mohon, sembunyikan dulu pernikahan kita untuk sementara waktu. Biar aku yang cari waktu yang tepat buat jujur ke mereka," lanjut Rani dengan tatapan memohon yang paling tulus yang pernah ia tunjukkan.
Yudiz mengernyitkan keningnya dalam-dalam. Dahinya berkerut, menunjukkan ketidaksenangan yang nyata.
"Menyembunyikan pernikahan?" Yudiz mengulang kalimat itu dengan nada sangsi.
"Rani, pernikahan itu adalah kabar gembira, sebuah ibadah yang harus disyukuri, bukan sesuatu yang memalukan sampai harus ditutup-tutupi seperti sebuah kesalahan."
"Bukan malu, Abi! Tapi, situasinya sulit. Mereka itu dunia bebas, sementara duniamu? Kamu tahu sendiri kan?"
Yudiz menarik napas panjang, mencoba menahan rasa kecewa yang mulai merayap di hatinya.
"Jadi, di depan teman-temanmu, aku hanya seorang 'sepupu' yang kebetulan sedang menemanimu belanja? Begitu?"
Rani meringis, merasa sangat bersalah melihat ekspresi Yudiz.
"Hanya untuk sementara, janji! Nanti kalau aku sudah hafal lima juz, eh, maksudku kalau suasananya sudah pas, aku bakal jujur."
Yudiz melepaskan pegangannya pada troli. Ia memalingkan wajah, menatap deretan botol saus di rak seolah itu adalah hal paling menarik di dunia.
Ada hening yang canggung di antara mereka selama beberapa detik.
"Aku tidak suka berbohong, Rani. Dan aku lebih tidak suka lagi jika keberadaanku sebagai suamimu dianggap sebagai beban bagi reputasimu," ucap Yudiz dingin.
Ia mulai melangkah mendahului Rani menuju kasir.
"Selesaikan belanjamu. Aku tunggu di mobil."
"Abi! Tunggu!" Rani mencoba mengejar, namun langkah Yudiz sangat cepat.
Rani menghentakkan kakinya ke lantai dan sedikit mengerucutkan bibirnya.
Ia tahu ia baru saja melakukan kesalahan besar, yaitu menyakiti harga diri seorang laki-laki seperti suaminya yang telah memberikan segalanya untuk melindunginya adalah hal terakhir yang ingin ia lakukan.
Sepanjang perjalanan pulang, kabin mobil mewah itu terasa seperti kulkas raksasa.
Tak ada suara musik, tak ada candaan, bahkan deru mesin pun nyaris tak terdengar.
Yudiz fokus ke jalan raya dengan wajah datar, sementara Rani sibuk meremas ujung hoodie-nya.
Sesampainya di rumah, Yudiz langsung menurunkan barang belanjaan tanpa sepatah kata pun.
Ia membawanya ke dapur, meletakkannya di atas meja marmer, lalu berbalik menuju kamarnya.
"Abi, nggak jadi masak?" tanya Rani pelan, berdiri di ambang pintu dapur.
Yudiz menghentikan langkahnya tanpa menoleh ke arah istrinya.
"Makanlah apa yang ingin kamu makan, Rani. Mie instanmu masih ada di kantong belanja. Aku mau istirahat."
Klik!
Pintu kamar tertutup dengan bunyi 'klik' yang pelan namun terasa sangat menyakitkan di telinga Rani.
Rani berdiri mematung di dapur yang mewah itu, menatap kantong belanjaan yang penuh dengan bahan makanan sehat yang tadi dipilihkan Yudiz.
Tiba-tiba, keinginan Rani untuk makan mie instan hilang total.
Hatinya terasa jauh lebih kosong daripada kulkas mereka.