Mira tiba-tiba terjebak di dalam kamar hotel bersama dengan Angga—bosnya yang dingin, arogan, dan cuek. Tak disangka, setelah kejadian malam itu, hidup Mira benar-benar terbawa oleh arus drama rumah tangga yang berkepanjangan dan melelahkan.
Mira bahkan mengandung benih dari bosnya itu. Tapi, cinta tak pernah hadir di antara mereka. Namun, Mira tetap berusaha menjadi istri yang baik meskipun cintanya bertepuk sebelah tangan. Hingga suatu waktu, Mira memilih untuk mundur dan menyudahi perjuangannya untuk mendapatkan hati Angga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Rey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CARLA JUGA INGIN HAMIL
PLAKKKK ...!
Mira langsung menampar pria itu dengan sekuat tenaga.
"Pergi dari hadapan sekarang juga! Dasar pria brengsek!" teriaknya dengan bibir bergetar.
"Sssstttttt."
Angga meringis bukan main, meskipun hanya tamparan dari seorang wanita, tapi itu rasanya juga ngilu.
"Lhaah? Kok jadi marah? Ya aku gak salah dong, aku kan cuma bertanya," sungutnya.
"Minimal kasih jawaban yang logis dan jelasin dengan slow. Gak usah tantrum!" Pria itu mendesis.
"Minimal bertanyalah dengan kalimat yang baik dan tidak menyakiti wanita yang kau hamili!" Mira masih terengah-engah, nafasnya memburu karena dia merasa sangat kesal.
"Oke, kita lihat saja nanti, apakah itu anakku atau bukan!" Angga masih berkeras kepala.
"Tidak usah dilihat! Aku tidak butuh pengakuanmu!" Wanita itu pun mendengkus.
"Pulanglah, aku malas melihat wajahmu!" tegasnya.
"Ok, kalau itu yang kamu mau! Jangan menyesal lho yaa atas apa yang kamu putuskan!" Pria itu menyeringai.
"Kalau anak yang ada di dalam kandunganmu itu memang anakku, kita bisa membicarakannya baik-baik di masa depan. Tapi ... jika bukan ... kau akan berurusan dengan hukum! Cam kan itu!" tegasnya.
"Anakmu atau bukan ... sekarang bukan urusanmu lagi!" Mira tersenyum getir.
"Aku tidak akan capek-capek menjelaskan kepadamu!" sahutnya dengan penuh penekanan.
"Terserah ...!" Angga pun mendengkus lalu meninggalkan istrinya dengan dada bergemuruh.
Setelah Angga pergi, Mira barulah meneteskan air mata. Air mata yang sedari tadi ia tahan. Semua rasa kecewa dan sakit hati di dalam dadanya, mengurai bersama air mata yang membasahi pipinya.
"Tidak, aku tidak boleh cengeng!" Dia pun mengusap air mata itu dengan cepat.
Kini ia mengambil gawainya, ia potret gambar testpack dan ia kirimkan kepada Bu Ice.
"Mira hamil, Ma. Tapi Pak Angga tidak mau mengakui anak ini. Dia meragukannya. Tak apa, Mira tidak akan memaksanya menerima anak ini," tulisnya.
"Sesuai kesepakatan awal, tolong selesaikan pernikahan tidak jelas ini sekarang juga, Ma. Bukankah kalian orang berduit? Mira rasa ... kehamilan Mira tidak akan berpengaruhi terhadap proses perceraian nanti. Tidak perlu menunggu Mira melahirkan, Mira sudah tidak kuat." Wanita itu menuliskan lagi.
"Mama bilang, semuanya akan berakhir setelah tiga bulan, dan jika Mira tidak hamil. Tapi ... Mira mohon, akhiri sekarang juga, Mira akan mengurus anak ini sendiri. Akhiri saja meskipun Mira hamil. Saya sudah tidak kuat," lanjutnya.
Satu menit, dua menit, tiga menit, hingga lima menit, Bu Ice belum membaca pesan dari menantunya.
Hingga menit ke-sepuluh, pesan yang Mira kirimkan, kini bercentang biru.
"Jangan gegabah! Besok pagi Mama akan ke rumah kalian, malam ini Mama baru kembali ke Jakarta," balas wanita paruh baya itu.
"Jangan dengarkan apa kata Angga! Jangan kemana-mana, please ..., dan jangan digugurkan! Dosa!" tegasnya.
"Jangan karena kamu sakit hati kepada suamimu, lalu kamu gelap mata. Jangan menyakiti janin di dalam perutmu. Please ..., Mama percaya kok kepada kamu, Mir," Ketikan pesan Bu Ice terlihat begitu khawatir.
*****
"Apa? Perempuan itu hamil? Yakin itu anak kamu?" Carla mencebik.
"Katanya sih begitu." Angga pun memijit pelipisnya.
"Halah, pasti ngarang. Bukankah dia juga sering kelayapan tidak pulang ke rumah?" Kekasih Angga itu kian mengompori.
"Nah, benar, aku pun bertanya baik-baik begitu, eh dia malah marah." Angga pun tersenyum getir.
"Kamu ML dengan dia berapa kali?" Carla menautkan kedua alis, lalu menoleh kepada pacarnya.
"Cuma dua kali," kata Angga dengan suara parau.
"Dua kali?" Carla mendengkus.
"Berapa kali crot!" tandasnya dengan tatapan tajam.
"Awalnya cuma satu kali crot, kok. Yang kedua itu juga cuma delapan apa sembilan kali crot gitu." Angga tersenyum, dia mulai mabuk karena terbawa pengaruh alkohol.
Bertanya kepada orang yang sedang mabuk, terkadang justru bisa mendapatkan jawaban valid atas perasaannya.
"Salahmu sih, ML dengan dia, kamu jadi dimanfaatin, kan," kata Carla dengan wajah memerah.
"Heeemmn, habisnya enak sih," sahut Angga yang mulai berbicara setengah sadar.
"Sialan, perempuan itu kok bisa hamil dengan secepat ini? Ini bahaya ini." Hati Carla berbisik.
"Tidak, kalau Mira hamil, aku juga harus hamil. Ini tidak boleh dibirkan. Aku harus hamil juga ... atau aku akan tergeser dan terlempar jauh dari kehidupan Angga," gumamnya dengan dada kembang kempis.
Wanita itu pun kembali mengisi gelas Angga dengan minuman.
"Habisin minumnya terus kita pulang, yuk," ucapnya.
"Heeemmm." Angga pun meneguk minuman itu dengan cepat.
"Haaaahhh ... Mira ... Mira .... Aku juga ada rasa kepadamu, tapi aku gak tau ini rasa apa, rasa gemas saja karena kamu masuk ke dalam hidupku, hahaha." Dia mulai meracau.
"Terus rasa apa lagi ya? Rasa kesal kalau kamu dekat dengan Deva, karena Deva itu musuhku sejak dulu," bisiknya di telinga Carla.
"Udaah, ayo pulang, pulang ... kamu mabok, Sayang." Carla mendengkus sebal.
"Eh, bantuin dong, Guys! Gua kagak kuat memapah dia ke mobil, dia udah teler tuh." Wanita itu pun meminta bantuan kawan-kawan Angga untuk memapah pacarnya ke mobil.
"Kok tumben loe mau nganterin dia? Loe mau ngajakin dia ngeuwe, ya?" Dion terkekeh.
"Sotoy loe, ah!" Carla mencebik.
"Dah lah, gua cabut, daaah," tandasnya.
Carla pun mengantarkan pulang kekasihnya dengan penuh semangat. Dia terus tersenyum selama menyetir mobil Angga. Sedangkan Angga ... pria itu sudah teler dan meracau tiada henti. Dia terus memanggil nama Mira, Mira, dan Mira.
Carla mempercepat laju mobil yang ia kendarai hingga mereka lekas sampai ke tempat kediaman Angga. Setelah sampai, wanita itu segera mencari kunci di dalam tas kekasihnya, dan ketemu.
"Aku harus hamil juga, titik," bisiknya sembari memapah Angga keluar dari mobil dengan susah payah.
Setelah terseok-seok dan penuh perjuangan, Carla pun berhasil memapah kekasihnya masuk ke dalam rumah besar itu. Dia langsung memapah Angga ke lantai atas, ke kamar Angga.
"Mira ... kita dimana ini?" kata pria itu.
"Kita di kamarmu, Sayang." Carla pun mendesah.
Tak menunggu waktu lama lagi, wanita itu segera menelanjangi dirinya sendiri dan juga membuka seluruh baju Angga.
"Mira ... kok kamu telanjang? Kamu kangen ya? Kangen dengan pergumulan kita sore itu? Hehehe." Pria itu pun masih terus memanggil Mira saat dirinya dalam keadaan setengah sadar.
CUP.
Carla langsung melumat bibir kekasihnya dan terus membuat Angga on fire. Wanita itu sungguh lihai dan pro-player dalam urusan esek-esek. Carla tak bisa menunggu lama, dia menunggangi Angga dan memasukkan milik Angga ke dalam miliknya.
"Aaakhhh, sial! Rudal senikmat ini malah kamu berikan kepada Mira, ini milikku, Sayang," teriak Carla.