NovelToon NovelToon
CINTA KEDUA DI RUMAH MEWAH

CINTA KEDUA DI RUMAH MEWAH

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Fantasi Wanita
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: Cumi kecil

Di balik dinding rumah mewah yang megah dan sunyi, seorang pelayan perempuan menjalani hari-harinya dengan setia dan penuh kesederhanaan. Ia tak pernah menyangka, kehadirannya yang hangat justru menjadi pelipur lara bagi sang majikan. seorang pria mapan yang terjebak dalam kesepian pernikahan.

Sang majikan memiliki istri cantik dan sukses, seorang model terkenal yang lebih banyak menghabiskan waktu di luar negeri demi karier gemilangnya. Rumah megah itu pun berubah menjadi tempat yang dingin, tanpa cinta dan kehangatan.

Dari percakapan singkat hingga perhatian kecil yang tulus, benih-benih perasaan terlarang tumbuh tanpa disadari. Di antara kesepian, status, dan batasan moral, cinta kedua itu hadir menguji kesetiaan, nurani, dan pilihan hidup yang tak lagi sederhana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cumi kecil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23 TELPON DARI IBU.

Ammar melangkah mendekat, lalu duduk di kursi dekat ranjang. “Queen,” katanya lembut, “habis ini kamu ke bawah dulu ya. Papah mau bicara sebentar dengan Kak Sari.”

Queen mengerutkan kening. “Kenapa nggak di sini aja?”

“Sebentar saja,” jawab Ammar.

Queen berpikir sejenak, lalu mengangguk. “Baik. Tapi Kak Sari jangan ditinggal ya.”

Ammar mengangguk. “Papah jaga.”

Queen tersenyum puas, lalu turun dari ranjang. Ia memeluk Sari tiba-tiba.

“Kak Sari jangan sakit lagi,” bisiknya.

Pelukan kecil itu membuat mata Sari berkaca-kaca.

“Iya, Nona… Kakak usahakan.”

Queen kemudian berjalan keluar kamar dengan langkah riang. Begitu pintu tertutup, suasana berubah.

Sari langsung menegang. Ammar berdiri, mendekat satu langkah.

“Bagaimana badanmu?” tanyanya pelan.

“Sudah lebih baik, Tuan,” jawab Sari singkat, masih menunduk.

Ammar memperhatikan wajah pucat itu. Ada rasa bersalah yang kembali menggerogoti dadanya.

“Kalau masih sakit, kamu istirahat saja. Tidak perlu bekerja dulu.”

“Terima kasih, Tuan,” ucap Sari sopan, menjaga jarak dengan kata-katanya.

Keheningan kembali jatuh. Ammar ingin mengatakan banyak hal meminta maaf lagi, menjelaskan, berjanji namun semuanya terasa berat.

Sari memecah keheningan itu lebih dulu.

“Terima kasih sudah mengizinkan Nona Queen menjenguk saya,” katanya lirih. “Itu membuat saya… merasa lebih kuat.”

Ammar mengangguk. “Queen menyayangimu.”

Sari tersenyum tipis. “Saya juga menyayangi Nona Queen.”

Kalimat itu tulus. Ammar memandang Sari lama, lalu berkata pelan, “Aku tidak ingin Queen kehilangan sosok yang membuatnya merasa aman.”

Sari terdiam. Ia mengerti maksud kalimat itu, namun hatinya bergetar. “Saya hanya menjalankan tugas saya, Tuan,” jawabnya hati-hati.

Ammar tidak membantah. Ia hanya mengangguk, lalu melangkah mundur. “Istirahatlah. Kalau butuh apa pun, bilang pada pelayan.”

Sari mengangguk. “Baik, Tuan.”

Ammar meliriknya sekali lagi sebelum keluar kamar.

Begitu pintu tertutup, Sari menghembuskan napas panjang.

Senyum yang tadi ia pakai perlahan memudar. Ia memeluk lututnya, menatap kosong ke depan.

Di satu sisi, ada Queen anak kecil yang tulus dan penuh kasih.

Di sisi lain, ada Ammar pria yang membuat hatinya takut sekaligus bingung. Dan di tengah-tengah itu semua… ada dirinya.

Seorang gadis desa yang hanya ingin bekerja dengan jujur, namun kini terjebak dalam pusaran perasaan dan konflik yang jauh lebih besar dari dirinya.

...----------------...

Sari duduk diam beberapa saat, menatap ponselnya yang tergeletak di atas meja kecil. Jantungnya masih berdebar, bukan karena kehadiran Ammar, melainkan karena semua perasaan yang saling bertabrakan di dadanya. Tiba-tiba...

Drrtt…

Drrtt…

Ponselnya bergetar. Nama Ibu tertera di layar.

Sari tercekat.

Perasaannya langsung campur aduk. Rindu, khawatir, dan rasa bersalah menyatu begitu saja. Dengan jari sedikit gemetar, Sari mengangkat panggilan itu.

“Iya, Bu…” suaranya dibuat setenang mungkin.

Di seberang sana, suara seorang wanita paruh baya terdengar lirih namun penuh kekhawatiran.

“Ndok… kamu baik-baik saja, Nak?”

Nada itu membuat dada Sari menghangat sekaligus perih.

“Ibu kenapa tanya begitu?” Sari tersenyum kecil, meski matanya mulai berkaca-kaca. “Sari baik-baik saja, Bu.”

Ibu terdiam sejenak.

“Entah kenapa,” ucap ibunya pelan, “beberapa hari ini ibu nggak enak hati. Tidur ibu nggak nyenyak. Rasanya kayak ada yang salah sama kamu.”

Sari menutup matanya. Tangannya mencengkeram selimut erat. “Ah, ibu ini,” katanya ringan, berpura-pura tertawa kecil. “Ibu kebanyakan mikir. Di sini Sari kerja enak, Bu. Majikannya baik, anak yang Sari asuh juga manis.” Ia berbohong.

Namun kebohongan itu bukan untuk menipu melainkan untuk melindungi.

“Kamu yakin, Ndok?” tanya ibu lagi. “Jangan sampai kamu diperlakukan nggak baik. Kalau capek, pulang saja. Ibu masih bisa cari cara.”

Sari menggeleng, meski tahu ibunya tak bisa melihat.

“Jangan begitu, Bu,” katanya cepat. “Sari betah di sini. Lingkungannya bagus, kerjaannya juga ringan. Ibu jangan khawatir.”

Di seberang sana terdengar batuk kecil.

Sari langsung menegang. “Ibu batuk?”

“Ah, cuma masuk angin,” jawab ibunya seolah sepele. “Sudah tua, wajar.”

Hati Sari mencelos. Ia ingat jelas pesan terakhir dari tetangga desa bahwa ibunya sedang tidak terlalu sehat, sering pusing dan batuk-batuk, tapi memaksa tetap bekerja di rumah.

Justru karena itulah Sari tak boleh terlihat lemah.

“Ibu harus jaga kesehatan,” ucap Sari lembut namun tegas. “Minum obat teratur. Jangan terlalu capek.”

“Iya… iya,” jawab ibunya pelan. “Kamu juga jaga diri, Nak. Ibu cuma punya kamu.”

Kalimat itu hampir membuat air mata Sari jatuh.

Ia menutup mulutnya, menahan isak.

“Ibu juga segalanya buat Sari,” katanya lirih. “Makanya ibu harus sehat. Biar nanti kalau Sari pulang, ibu masih bisa marahin Sari seperti dulu.”

Ibunya tertawa kecil. “Anak ini…”

Beberapa detik mereka terdiam, hanya diisi suara napas masing-masing.

“Ya sudah,” ucap ibunya akhirnya. “Ibu nggak mau ganggu kamu kerja. Ibu tenang dengar suara kamu.”

“Terima kasih, Bu,” jawab Sari cepat. “Ibu istirahat yang banyak ya.”

" Dah ibu "

Tut...

Panggilan terputus.

Sari menurunkan ponselnya perlahan. Begitu layar mati, pertahanannya runtuh. Air mata jatuh satu per satu, membasahi pipinya. Ia memeluk lututnya, membungkuk, bahunya bergetar pelan.

“Aku bohong, Bu…” bisiknya lirih. “Tapi Sari nggak mau ibu tambah sakit…”

Sari mengusap wajahnya kasar. Di desa, ada seorang ibu yang menggantungkan harapan padanya.

Di rumah mewah ini, ada seorang anak kecil yang membutuhkan kehadirannya. Dan di antara semua itu, Sari harus menelan lukanya sendiri sendirian. Ia mengangkat wajahnya, menarik napas panjang, memaksa diri untuk kembali tegar.

1
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
nah gitu dong Ammar..tegas jadi laki
Reni Anjarwani
lanjut thor doubel up
ollyooliver🍌🥒🍆
ibunya adalah pelaku utama dan benalu sesungguhnya, tapi putrinya juga malah ngedukung😌
ollyooliver🍌🥒🍆
ammar bahkan lebih kaya secara ekonomi dlm karirnya😏
ollyooliver🍌🥒🍆
sebentar lagi hujan nih🙂
Felycia R. Fernandez
Ternyata tak direstui orang tua...
pantesan ...
Felycia R. Fernandez
Biarkan aja Mar...
type istri mu adalah yang bener2 wanita berkeluarga.bukan wanita hanya mementingkan karier.aku juga kerja,tapi begitu pulang anak terutama ku peluk,ku suapkan makan,ku Nina bobokan ketika tidur, walaupun umur nya sudah 4 tahun,cowok lagi.tapi karena aku ingin berdekatan dengan anak,ingin mempererat jalinan bathin kami berdua.
Felycia R. Fernandez
jangan hanya ngomong aja
Felycia R. Fernandez
selalu gtu,ntar ketemu Sabrina beda lagi.ngadon lagi.gak mikirin gimana nasib Sari yang udah ditidurin
Reni Anjarwani
terlalu bodoh ammarrt
Felycia R. Fernandez
Makanya jadi laki laki itu yang tegas,bukan hanya nafsu doank.di ajak hiha hiho langsung melempem.gak ingat apa yang udah terjadi ma Sari.bukannya cepat2 dinikahi.
ollyooliver🍌🥒🍆
gak usah peduliin, nanti ammar malah kesenangan..merasa direbutkan dua wanita😒
Felycia R. Fernandez: setuju
total 1 replies
ollyooliver🍌🥒🍆
ibu SETAN!
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
kamu kenap gak tegas sebagai kepala keluarga Ammar,masa istri durhaka begitu masih dipelihara..
Nurminah
wanita tidak tahu diri plus tidak bersyukur
Felycia R. Fernandez
ya sakit donk... karena Ammar juga sudah memperkosa mu
Apriana Suci
bagus ammer kamu harus tegas💪💪
Felycia R. Fernandez
firasat seorang ibu gak akan pernah salah 🥺
Felycia R. Fernandez
Harus...Ammar harus bisa bertanggung jawab...
ceraikan Sabrina,nikahi Sari...
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
kasihan Sari🥹
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!