Ninda adalah Mahasiswi asal Indonesia yang berkuliah di Tu Delft Belanda. Pada hari itu untuk pertama kalinya Ninda harus pergi keluar negri naik pesawat seorang diri, saat akan melakukukan check in Ninda mengalami kecelakkan yang di akibatkan oleh kelalayannya sendiri, saat itu lah dia bertemu dengan seorang pria bernama Noah, pertemuan itu meninggalkan kesan, namun Ninda tak berfikir akan beretemu lagi dengan pria itu, sampai akhirnya di pertemuan keluarga yang di adakan di kediaman Tonny Ayah Tiri Ninda dia bertemu lagi dengan Noah yang ternyata adalah adik sepupu Tonny ayah Tiri Ninda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rita Sri Rosita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ulang Tahun Yang ke 19
"Terima kasih untuk semuanya," ucap Ninda, suaranya sedikit bergetar.
"Gaun, sepatu, makan malam..."
Ninda menggantungkan kalimatnya, menatap Noah dengan tatapan menyelidik.
"Ada masalah, Ninda?" tanya Noah, nadanya lembut dan penuh perhatian.
"Kamu tidak suka hadiahnya? Atau ada yang membuatmu tidak nyaman?"
"Bukan begitu, Uncle," jawab Ninda, menggelengkan kepalanya pelan.
"Hanya saja... semua ini terlalu mewah untuk ku."
"Aku bisa membelinya kapan pu kalau Ninda mau?" Jawab Noah sedikit bercanda.
"Aku bukan siapa-siapa, hanya seorang gadis biasa yang beruntung bisa tinggal di apartemenmu."
Ninda menunduk, menyembunyikan rona merah yang mulai menjalar di pipinya.
Noah mengulurkan tangan, menggenggam tangan Ninda dengan lembut.
"Ninda, dengar," ucap Noah, suaranya penuh ketulusan. "
Aku memberikan semua ini karena aku ingin kamu bahagia."
Ninda mengangkat wajahnya, menatap Noah dalam-dalam.
"Uncle," bisik Ninda, suaranya nyaris tak terdengar.
"Iya,:
"Kau membiarkan aku tinggal di apartemenmu gratis,"
"kau mengirimiku pesan setiap malam, kau memperlakukan aku sangat manis..."
"Itu bukan masalah besar tidak usah di pikirkan," Noah masih mencoba terlihat santai.
Ninda menarik napas dalam,
"Aku takut salah paham... mengartikan perhatianmu. Aku takut aku jatuh cinta padamu,"
Noah terdiam sejenak, dia tidak menyangka Ninda akan mengatakan hal itu.
Noah sangat menikmati kebersamaannya dengan Ninda tanpa memikirkan perasaannya.
Ya Tuhan, apa yang sudah kulakukan? batin Noah, merasa bersalah. Aku tidak boleh egois. Aku harus menjaga perasaannya.
"Apa aku salah, Ninda?" tanya Noah, nadanya penuh penyesalan.
"Apakah aku sudah membuatmu tidak nyaman? Apakah aku sudah memberikan harapan palsu?"
"Tidak, Uncle," jawab Ninda, menggelengkan kepalanya pelan.
"Aku hanya memperingatkanmu... aku sudah dewasa. Aku perempuan. Aku punya perasaan, dan aku tidak ingin terluka."
Noah tersentak. Ia sadar, Ninda bukan anak kecil yang bisa ia perlakukan semaunya. Dia adalah seorang wanita dewasa yang memiliki hati dan perasaan.
"Ah, Ninda..." ucap Noah, suaranya sedikit bergetar.
"Aku hanya ingin menyenangkan dan memberi hadiah kepada keponakanku." Noah berusaha terlihat tenang.
Tidak lebih. Aku tidak pernah berniat memberikan harapan palsu atau membuatmu jatuh cinta padaku."
"Sekarang aku merasa lega Uncle sudah mengatakan itu," ucap Ninda, suaranya lebih tenang dari sebelumnya.
"Aku senang kalau kamu merasa lebih baik," sahut Noah, suaranya pelan dan hambar.
"Uncle," ucap Ninda, suaranya menggoda.
"Kau sangat tampan, manis, gentleman. Gadis muda seperti aku tentu akan sangat mudah jatuh cinta padamu."
Noah menelan ludah, merasa jantungnya berdebar semakin kencang.
"Aku... minta maaf," ucap Noah, suaranya nyaris tak terdengar.
"Tidak perlu minta maaf, Uncle," jawab Ninda, mengangkat bahunya acuh tak acuh.
"Aku hanya tidak ingin ada kesalahpahaman di antara kita. Sekarang semuanya sudah jelas, kan?"
"Iya, aku mengerti," sahut Noah, suaranya pelan.
Setelah percakapan yang menegangkan itu, suasana di antara mereka menjadi sedikit canggung.
Mereka memutuskan untuk segera menyelesaikan makan malam dan kembali ke rumah.
Noah keluar dari mobil, diikuti oleh Ninda. Mereka berjalan menuju dan pintu terbuka.
"Kejutan!" teriak Noah, semangat.
Namun, ruangan itu kosong. Hanya ada meja yang sudah ditata untuk sebuah acara, dengan makanan yang masih rapih tak tersentuh sama sekali. Dekorasi pun sudah terpasang sempurna dengan tulisan.
"Selamat Ulang Tahun, Ninda!"
Tiba-tiba, ponsel Noah bergetar. Ia mengangkat telepon dengan wajah bingung.
"Iya, aku sudah di rumah bersama Ninda..." ucap Noah, suaranya sedikit kesal.
"Apa? Bagaimana keadaannya?" Kali ini, nada suara Noah terdengar panik.
"Iya, aku akan menjaganya," katanya sambil menutup telepon.
Ninda menatap Noah dengan tatapan penuh tanya.
"Ada apa, Uncle?" tanyanya, merasa khawatir.
"Ninda," ucap Noah, menarik napas dalam. "Orang tuamu dan Asta pergi ke Den Haag. Omahmu masuk rumah sakit."
Ninda terkejut mendengar berita itu. Air mata mulai membasahi pipinya.
"Keluargamu ingin merayakan pesta ulang tahunmu, tapi..."
"Seharusnya mereka meneleponku dan mengajakku pergi ke Den Haag!" seru Ninda, suaranya emosional.
Noah memeluk Ninda erat, mencoba menenangkannya.
"Tadi di telepon, mereka menyuruhku menyiapkan kue dan merayakannya bersamamu."
Ninda mendongak, menatap Noah dengan tatapan penuh haru.
"Hey," ucap Noah, menghapus air mata Ninda dengan lembut.
"Ini hari ulang tahunmu. Mereka ingin kamu gembira, jangan menangis."
"Bagaimana dengan makanannya?" tanya Ninda.
"Soal itu, jangan khawatir," jawab Noah, tersenyum misterius.
Dis meraih ponselnya dan menelepon seseorang.
"Gerald, bisa kau bantu aku?" ucap Noah di telepon. "Akan kukirimkan alamatnya."
"Semua makanan ini tidak akan terbuang," kata Noah kepada Ninda, mengedipkan sebelah matanya.
Lima belas menit kemudian.
Ting... Tong...
Noah membuka pintu, menyambut kedatangan para pemuda itu.
"Bro, terima kasih," ucap Noah, menjabat tangan salah satu pemuda itu.
"Bawa saja semuanya," jawab Noah, menunjuk ke arah meja makan. "Kecuali kue ulang tahun."
Setelah membersihkan meja, ketiga pemuda itu pergi.
Noah menarik tangan Ninda dan menyuruhnya duduk di kursi. Ia menyiapkan kue ulang tahun dengan lilin yang menyala pada angka 19 tahun.
"Selamat ulang tahun, Ninda," ucap Noah, menatap Ninda dengan tatapan penuh kasih sayang.
"Terima kasih, Uncle," bisiknya, merasa bahagia.
"Ucapkan permintaanmu," kata Noah, menyodorkan kue itu ke hadapan Ninda.
Di ulang tahunnya yang ke-19 ini, ia bisa menemukan kebahagiaan dan cinta sejati.
Setelah beberapa saat, Ninda membuka matanya dan meniup lilin.
"Apa permintaanmu?" tanya Noah, penasaran.
"Aku tidak mau memberi tahumu, Uncle," jawab Ninda, tersenyum misterius.
"Sepertinya sangat rahasia," goda Noah, mencolek hidung Ninda dengan krim kue.
"Kau ingin memakan kuenya?" tanya Noah, mengoleskan krim ke muka Ninda.
Ninda melotot, membalas perbuatan Noah. Mereka tertawa dan saling kejar-kejaran.
Ninda berlari ke atas, menaiki tangga. Noah terus mengejarnya, tidak ingin kalah.
"Uncle, berhenti!" teriak Ninda, berusaha menghindar. "Kau bisa mengotori bajuku!"
Noah tidak peduli. Ia terus berlari dan menangkap Ninda.
"Kau sangat cantik kalau berlumur krim," ucap Noah, mengoleskan krim ke seluruh wajah Ninda.
Ninda sedikit goyah dan terjungkal ke belakang. Noah meraih pinggangnya, namun akhirnya ikut terjatuh.
"Ninda, kamu tidak apa-apa?" tanya Noah, merasa khawatir.
Posisi Noah sekarang ada di atas Ninda, Malam itu Noah tak bisa mengendalikan diri, berlahan wajahnya mendekat ke wajah Ninda.
Ninda tak bisa bergerak dia terhipnotis mata Noah yang tajam.
Noah mencium Ninda berlahan, bibir Ninda terasa lembut, Noah menciumnya lagi, Lagi, dan lagi.
Tubuh Noah memanas hampir kehilangan kendali. Ninda segera mendorong Noah.Noah segera bangkit.
"Uncle, aku kotor sekali," ucap Ninda, memecah keheningan. "Aku mau mandi."
"Em, iya," sahut Noah, merasa salah tingkah.