Di pesantren Queen Al-Falah, Abigail, seorang Ning yang dingin dan penuh talenta, lebih memilih kopi dan kesibukan pondok daripada cinta. Ia adalah permata yang tersembunyi di balik sikap judes dan penampilannya yang sederhana. Namun, takdir berkata lain ketika sang kakek menjodohkannya dengan seorang Gus Abdi Ndalem, partnernya dalam tim multimedia dan hadroh. Di antara jadwal padat, sholawat, dan misteri masa lalu, Abigail harus membuka hatinya untuk cinta yang tak pernah ia duga. Mampukah ia menemukan kehangatan di balik dinginnya ndalem dan kerasnya hatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blue_era, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bandara, Korea, dan Rindu yang Membuncah
[Gus Arya melakukan perjalanan menuju bandara karena istrinya mau ke Korea, ia akan LDR (Long Distance Relationship) entah berapa hari atau berapa minggu. Istrinya ke Korea untuk menyelesaikan pekerjaan. Sampai di bandara, Bijel dengan wajah sedih dan agak manja, Arya sampai heran karena istrinya nggak seperti biasanya, istrinya seperti manja sekali dengannya hari ini.]
(Di Bandara)
Ning Bijel: (dengan nada sedih dan manja) "Sayang... Aku berat banget mau ninggalin kamu."
Gus Arya: (tersenyum lembut) "Aku juga berat, Sayang. Tapi, ini kan demi pekerjaan kamu. Semangat ya!"
Ning Bijel: "Tapi, aku takut kangen kamu di sana. Nggak ada yang manjain aku."
Gus Arya: "Nanti aku sering-sering video call deh. Biar kamu nggak terlalu kangen."
[Istrinya manggil Arya dengan sebutan sayang, dia sebenarnya berat kalau harus LDR apalagi suaminya tidak bisa ikut ke Korea karena tanggung jawab pesantren yang tidak bisa ditinggalkan, kalaupun ada yang mau menggantikan sementara Alhamdulillah, tapi ini nggak ada, padahal rencana mereka akan dititipkan sementara, Bijel akan menyelesaikan pekerjaannya, setelah selesai pekerjaannya, sekalian mereka mau liburan di Korea.]
(Sebelum Masuk Pesawat)
Ning Bijel: "Sebenarnya aku pengen banget kamu ikut ke Korea, Sayang. Biar kita bisa kerja sambil liburan."
Gus Arya: "Aku juga pengen banget ikut, Sayang. Tapi, kamu tahu sendiri kan, aku nggak bisa ninggalin pesantren."
Ning Bijel: "Iya, aku ngerti kok. Ya udah deh, yang penting kamu selalu ada di hatiku."
Gus Arya: "Aku juga akan selalu ada di hatimu, Sayang. Kamu hati-hati ya di sana. Jangan lupa jaga kesehatan dan selalu kabarin aku."
Ning Bijel: "Siap, Sayang! Aku janji akan selalu kabarin kamu."
(Ning Bijel memeluk Gus Arya dengan erat dan mencium pipinya dengan lembut.)
[Arya menunggu istrinya sampai istrinya masuk ke pesawat, setelah pesawat terbang ia kembali ke pesantren. Sebelum pulang ia tadi pesan sama istrinya kalau harus sering beri kabar agar ia di Indonesia tidak khawatir dengannya. Setelah perjalanan lama dari Indonesia menuju ke Korea, akhirnya Bijel sampai. Setelah sampai ia langsung mencari hotel, setelah sampai hotel ia istirahat, ia juga mengabari suaminya melalui WA, ia foto di kaca almari yang ada di kamar hotelnya, dengan caption "Sampai di kamar hotel sayangku 🤍🥰".]
(Via WhatsApp)
(Bijel mengirim foto dirinya di depan kaca lemari hotel kepada Arya melalui WhatsApp.)
(Chat WhatsApp)
Ning Bijel: (mengirim foto) "Sampai di kamar hotel sayangku 🤍🥰"
Gus Arya: "Alhamdulillah, sayangku sudah sampai dengan selamat. Kamu istirahat ya, jangan langsung kerja. Aku khawatir kamu kecapean."
Ning Bijel: "Iya, sayang. Aku mau istirahat dulu sebentar. Nanti kalau udah segeran, aku kabarin lagi ya."
Gus Arya: "Oke, sayang. Aku tunggu kabarmu. Jaga diri baik-baik ya di sana."
Ning Bijel: "Siap, sayangku. Love you so much! 😘"
Gus Arya: "Love you more, sayang! 😘"
[Setelah bertukar pesan dengan suaminya, Bijel merasa sedikit lega. Ia merasa senang karena suaminya selalu perhatian dan mendukungnya. Ia berjanji akan selalu menjaga diri dan memberikan kabar kepada suaminya agar ia tidak khawatir.]
[Bijel kemudian beristirahat sejenak di kamar hotelnya. Ia merebahkan diri di tempat tidur dan memejamkan mata. Ia membayangkan wajah suaminya dan merasa rindu yang mendalam. Ia berharap bisa segera menyelesaikan pekerjaannya di Korea dan kembali ke pelukan suaminya.]