"Maaf Nan, gue enggak bisa."
Devi Zaruna menggeleng dengan pelan yang berhasil membuat Agnan Frendo kehilangan kata-kata yang dari tadi sudah dia siapkan.
Keheningan menyelimuti kedua insan yang saling mencintai itu, ini bukan permasalahan cinta beda agama atau cinta yang tidak direstui.
"Bukankah cinta tidak harus memiliki?"
Devi Zaruna, wanita cantik pekerja keras dengan rahang tegas serta tatapan tajam layaknya wanita pertama dengan beban di pundak yang harus dia pikul. Jatuh cinta merupakan kebahagiaan untuknya tetapi apa yang terjadi jika dia harus berkoban untuk cintanya itu demi ibunya?
"Kebahagiaan ibu paling penting."
Devi dan Agnan sudah menjalin hubungan selama tiga tahun tetapi hubungan itu harus kandas ketika ibunya juga menjalin hubungan dengan ayah Agnan.
Bagaimana kelanjutan kisah cinta Devi serta hubungannya dengan Agnan? apakah ibu Devi akan menikah dengan ayah Agnan atau malah Devi yang menikah dengan Agnan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lujuu Banget, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Manusia yang Saling Mencintai
"Wow," takjub Deri menatap rumah megah yang sekarang akan menjadi tempat tinggal mereka. Terasa seperti mimpi, dua jam yang lalu dia masih ada di rumah gubuk yang sudah lama dia tinggali tetapi sekarang, mereka berdiri di rumah mewah ini.
"Ayo masuk!" ajak Ferdi sambil menepuk pundak Deri, pria itu mengangguk antusias, melangkah takjub dengan semua yang ada, apakah ini mimpi?
Deri mengikuti langkah kaki Ferdi yang membawa ke sebuah kamar, cukup besar malah tidak pernah ada di benaknya akan tinggal di rumah sebesar ini.
"Ini kamarmu," ucap Ferdi.
"Terima kasih bang."
Ferdi mengangguk, dia kembali menepuk pundak Deri dan meminta anak itu untuk merapikan barang yang dia bawa, pria itu pamit undur diri pergi dari sana meninggalkan Deri. Sedangkan Devi, wanita itu mengikuti langkah kaki Vina yang membawa Yogi ke kamarnya, sebuah kamar dengan dekorasi khusus anak-anak berhasil membuat Yogi terhipnotis.
"Ini kamar Yogi," ujar Vina sambil tersenyum.
"Kamu juga ikut pindah ke sini? Kalo iya biar aku ...."
"Enggak usah kak, aku tetap tinggal di kost aja," potong Devi yang diangguki oleh Vina.
Rumah mewah itu akan menjadi rumah keluarga Devi, untuk rumah di kampung akan dihuni oleh ayahnya. Devi membereskan pakaian Yogi ke lemari, dia masih belum menyangka jika kehidupan akan menjadi seperti ini, berubah drastis bahkan hidupnya juga.
"Kak, aku mau tanya sesuatu," ucap Devi saat Vina tengah duduk di ruang keluarga, wanita itu adik memainkan ponsel.
"Tidak masalah keluarga kami tinggal di sini? Kakak sendiri tau bagaimana keluarga kami. Kami hanya keluarga miskin yang ...," ucap Devi, dia merasa rendah diri karena perbedaan ini, apalagi ibunya yang tiba-tiba pindah ke sini membuatnya takut jika keberadaan keluarganya mendapat tatapan buruk dari keluarga Agnan.
"Untukku atau Ferdi tidak masalah, kami sudah punya keluarga sendiri dan sudah punya kehidupan sendiri. Malahan kami senang papa ada yang menemani, hanya saja ... hubunganmu dan Agnan ...."
Devi tersenyum tipis, dia akan mengurus hal itu belakangan yang penting sekarang keluarga ini menerima ibu dan adiknya dengan baik. Banyak kasus orang kaya yang memperlakukan orang miskin dengan kejam bahkan memandang sebelah mata.
"Sekarang kita keluarga, jangan berpikir yang tidak-tidak." Vina menepuk pundak Devi yang dibalas anggukan oleh wanita itu.
"Pa, aku harus pulang, anakku sudah mencari. Pamit dulu ya, Ma," ucap Vina menyalami Tomi dan Lastri, dia berpamitan untuk pulang dan diangguki oleh Tomi.
Tidak beberapa lama Ferdi juga berpamitan pulang meninggalkan Devi, Lastri, dan Tomi di ruang keluarga. Jujur untuk saat ini Devi sendiri tidak tau akan berekspresi seperti apa. Dia hilang akal.
"Bu, Pak. Ini ...."
"Maaf Devi, saya yang salah karena semua terjadi seperti ini. Saya minta maaf kepadamu."
Devi menggeleng, ini bukan kesalahan Tomi atau kesalahan siapapun, semua sudah terjadi dan ini semua murni karena kecelakaan.
"Devi cuma minta tolong untuk memperlakukan keluarga Devi dengan baik, kami tau kami orang yang tidak mampu. Devi juga mau berpamitan kembali ke kost," ucap Devi.
Tomi mengangguk, walau terdengar sedikit canggung tetapi ini semua harus diucapkan, dia tidak mau hidup ibunya kembali menderita.
"Biar supir yang antarkan," ucap Tomi.
Devi mengangguk, setelah menyalami Tomi dan Lastri, kaki wanita itu melangkah pergi meninggalkan rumah mewah itu, rumah yang awalnya hanya akan dijadikan sebagai rumah mertua tetapi siapa sangka ini menjadi rumah ayah tirinya.
Sepanjang jalan wanita itu menghubungi Agnan yang sama sekali tidak ada kabar, Devi juga memberitahu Yaya akan kabar itu dan bisa ditebak wanita itu sangat terkejut akan berita yang mendadak dan tidak disangka itu, apalagi pertunangannya batal H-2. Masa depan memang tidak bisa diprediksi.
"Terus jadinya bagaimana? Sumpah Dev, hidup Lo udah kayak drama aja," ucap Yaya mengelus bahu Devi.
Devi menggeleng, otaknya buntu. Air matanya sudah dari tadi mengalir menceritakan semuanya kepada Yaya. Hidupnya terasa hancur tetapi ... bukankah ini juga lebih baik?
"Nangis aja enggak apa-apa. Pasti sakit banget."
"Hubungan orang ujiannya cinta beda agama, enggak direstui, tetapi hubungan Lo malah kayak gini," lanjut Yaya.
Yaya memeluk Devi dengan erat, dia merasa kasihan dengan sahabatnya satu ini, tidak ada yang bisa dia katakan karena semua ini sudah terjadi. Devi masih menangis tersedu-sedu.
"Ya, temani gue cari Agnan," ucap Devi setelah emosinya stabil.
Yaya tersadar, benar ... Mereka harus mencari keberadaan Agnan, otak pria itu kalo soal cinta suka nekat apalagi keadaan sekarang.
"Ayo tapi ke mana?"
Devi mengeluarkan ponsel, dia mengirim beberapa pesan kepada teman-teman Agnan yang untung saja tidak membutuhkan waktu lama pesan location Devi dapatkan.
"Lo yakin mau ngobrol sama Agnan? Tu anak pasti lagi mabuk," ucap Yaya saat melihat lokasi Agnan saat ini.
Yaya benar, Agnan pasti dalam keadaan mabuk tetapi mereka harus berbicara ditambah Devi juga ingin sedikit minum menghilangkan rasa sakit yang terasa semakin menusuk.
Kedua wanita itu sepakat untuk pergi ke bar tempat Agnan berada sekarang, sesampainya di sana, tidak membutuhkan waktu yang lama Devi berhasil menemukan Agnan yang duduk meja bar.
"Nan," ucap Devi dengan keras sambil menyentuh bahu pria itu.
Agnan yang sudah mabuk mengalihkan pandangan menatap Devi, pria itu langsung memeluk Devi dengan erat, tangisannya pecah membuat Devi hanya bisa mengelus rambut pria itu.
"Dev, sakit. Kenapa semuanya jadi begini?"
Tidak ada suara dari Devi, tangan wanita itu masih setia mengelus rambut Agnan, jangan ditanya bagaimana Devi, air mata wanita itu kembali mengalir, hatinya ikut merasakan sakit.
Yaya sendiri menatap dua orang itu, mereka saling mencintai, mereka saling membutuhkan tetapi kenapa takdir mempermainkan mereka?
"Dev, gue ...."
Hancur, tidak ada yang bisa Agnan katakan. Dirinya hancur, bukankah harusnya beberapa hari lagi mereka berbahagia?
"Nan, gue minta maaf."
...***...