Menerima laki-laki yang di kenalkan oleh sosok yang bernama Ayah itu seperti membuka pintu derita bagi Maura. Apakah Maura menderita karena perlakuan sang laki-laki atau perasaan bersalah pada keluarganya....
Yuk lanjut episode baru cerita aku....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Meitania, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tasya
Tasya di buat melongo saat dirinya di minta masuk ke dalam mobil Radit. Bahkan Maura memintanya duduk di depan di samping Kiki dan dirinya duduk di bangku penumpang belakang bersama Radit. Dengan posisi seperti itu Tasya tak bisa berkata apa-apa. Dirinya hanya diam. Namun, saat kesadarannya kembali Tasya langsung mengirimkan pesan pada Maura.
"Ini apaan maksud lu MAURA??????"
Maura hanya tersenyum melihat isi pesan Tasya. Maura menatap Radit dan Radit seolah bertanya ada apa dengan tatapannya. Maura pun menyodorkan ponselnya pada Radit. Setelah Radit membacanya Radit pun menyentuh ujung hidung Maura dengan jari telunjuknya.
"Jail banget sih." Bisik nya.
Namun, bisikan Radit membuat seluruh tubuh Maura meremang dan Maura hanya memberikan reaksi cemberut. Dan reaksi Maura membuat Radit gemas dan tanpa sadar Radit membawa Maura ke dalam pelukannya.
Kiki yang melihatnya dari kaca spion hanya menggelengkan kepalanya melihat bos nya yang bucin. Tapi Kiki merasa senang karena sekarang Radit tak sekaku dulu sebelum mengenal Maura. Radit lebih memanusiakan manusia. Walau ketegasannya masih ada.
Sampai di resto yang di tuju mereka semua keluar dari mobil. Tasya segera menarik Maura mendekatinya karena sudah tak sabar dengan banyaknya pertanyaan di kepalanya.
"Lu hutang penjelasan ya sama gw. Lu punya hubungan kan sama Pak Bos? Jujur Lu. Lu udah ngerencanain ini kan?" Pertanyaan demi pertanyaan terlontar dari mulut Tasya.
Namun hal di luar perkiraan BMKG muncul yang membuat Tasya membuka mulut dan matanya lebar-lebar. Begitu juga dengan Kiki. Namun, Kiki dengan cepat mengembalikan ekspresi nya menjadi kembali datar.
"Mas Radit, Aku di gemes sama Tasya sakit..." Adu Maura dengan manja bergelayut pada Radit.
Bukan hanya Tasya dan KikI sebenarnya yang juga kaget Radit pun sama. Tapi, rasa bahagia Radit mengalahkan keterkejutannya. Dengan santainya Radit merangkul Maura dan mengusap lengannya dengan lembut.
"Kita masuk dulu ya. Nanti di dalam kita kasih Tasya pelajaran." Ucap Radit yang membuat mata Tasya kembali terbelalak.
"Ish... Maura si alan. Awas aja ya lu. Hmm... Sekarang punya tempat ngadu ya lu. Eh, tapi gw seneng Maura... Lu pantes bahagia." Batin Tasya dengan mata berkaca-kaca.
Tasya pun berjalan mengikuti sepasang hmm sepasang apaan ya... Tasya berjalan mengikuti Radit dan Maura yang berjalan di depannya di belakangnya Kiki mengikuti. Mereka tampak seperti dua pasang sejoli.
Radit menarik kursi untuk Maura duduk kemudian Maura berterima kasih padanya. Tasya dan KikI duduk di hadapan mereka. Tatapan Tasya masih tertuju pada Maura dan yang di tatap masih acuh tak acuh membiarkan sahabatnya penasaran.
"Kenapa Tasya? Ada yang ingin di sampaikan?" Tanya Radit.
Radit bertanya dengan nada biasa namun teras menyeramkan bagi Tasya. Suasana resto berubah menjadi horor rasanya. Maura tersenyum tipis melihat Tasya yang gugup mendengar pertanyaan dari Radit.
"Mas,,, makan dulu aja ya. Nanti jam istirahat kita keburu abis." Rengek Maura manja.
Entah mengapa Maura selalu bebas mengekspresikan dirinya di hadapan Radit dan Maura merasa nyaman-nyaman saja. Dan Radit merasa senang Maura sudah mau lebih terbuka padanya. Radit sangat memanjakan Maura. Itu yang menjadikan sifat manja Maura keluar begitu saja saat bersama Radit. Walau Maura sadar status mereka mungkin hanya sekedar teman.
"Ah,,, kali ini lu penyelamat gw La. Tapi di kantor jangan harap ya Maura." Batin Tasya gemas pada kelakuan Maura.
Sabar... Lanjut ya...