Sepuluh tahun yang lalu, sebuah ledakan di tepi Sungai Adige menghancurkan kejayaan keluarga Moretti dan meninggalkan Elena Moretti sebagai satu-satunya pewaris yang menanggung noda pengkhianatan. Kini, Elena kembali ke Verona bukan untuk menuntut warisan, melainkan untuk mengubur masa lalunya selamanya.
Namun, Verona tidak pernah melupakan.
Langkah Elena terhenti oleh Matteo Valenti, pria yang kini merajai langit Verona. Matteo bukan lagi pemuda yang dulu pernah memberikan mawar di balkon rumahnya; ia telah berubah menjadi sosok berdarah dingin yang memimpin bisnis gelap di balik kemegahan kota kuno itu. Bagi Matteo, kembalinya Elena adalah kesempatan untuk menuntaskan dendam keluarganya.
Elena dipaksa masuk ke dalam kehidupan Matteo—sebuah dunia yang penuh dengan aturan tanpa ampun, pertemuan rahasia di gedung opera, dan darah yang tumpah di atas batu jalanan yang licin. Namun, saat "gema" dari masa lalu mulai mengungkap kebenaran yang berbeda tentang kematian orang tua mereka,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SHEENA My, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjamuan Para Pengkhianat
Aula utama rumah sakit tua Poveglia telah disulap menjadi ruang pertemuan yang memuakkan—perpaduan antara kemewahan modern yang dingin dengan reruntuhan dinding yang lembap. Lampu halogen yang terang benderang menerangi meja kayu ek panjang tempat tujuh pria paling berkuasa di bayang-bayang Italia duduk. Di tengah hiruk-pikuk alarm yang dipicu oleh pengalihan Matteo di sayap barat, ruangan itu sejenak sunyi dari penjaga. Para menteri dan pengusaha itu tidak menyadari bahwa maut baru saja merangkak keluar dari lubang ventilasi di belakang mereka.
Elena Moretti berdiri tegak, senjatanya terarah dengan presisi yang mengerikan ke arah pria yang duduk di kepala meja: Menteri Kehakiman, Sergio Donati. Wajah Elena kotor oleh lumpur saluran pembuangan, kontras dengan gaun hitam taktisnya yang pas di tubuh, namun matanya memancarkan api yang jauh lebih murni daripada lampu di ruangan itu.
"Jangan bergerak," suara Elena tajam, memotong kepanikan yang mulai merayap di wajah para pria berjas mahal tersebut. "Satu inci saja tanganmu menyentuh tombol darurat di bawah meja itu, Sergio, dan Verona akan memiliki satu menteri yang kurang besok pagi."
Sergio Donati, pria dengan rambut abu-abu yang disisir rapi dan cincin elang di jari manisnya, perlahan mengangkat kedua tangannya. Senyum tipis yang merendahkan muncul di sudut bibirnya. "Elena Moretti. Putri dari seorang pria yang terlalu idealis untuk dunianya sendiri. Kau jauh lebih cantik daripada yang digambarkan dalam laporan intelijen kami."
"Tutup mulutmu," desis Elena. Ia melangkah maju, sepatunya tidak menimbulkan suara di atas karpet merah yang tebal. Matanya melirik ke arah koper perak yang terbuka di tengah meja. Di sana, sebuah drive keras eksternal dengan lampu biru yang berkedip sedang mentransfer data. "Kalian sedang membagi-bagi apa malam ini? Jalur perdagangan narkoba? Atau sistem pengawasan baru yang kalian curi dari anggaran negara?"
"Kami sedang membangun masa depan, Nak," sahut pria lain di ujung meja, seorang bankir ternama yang wajahnya sering muncul di surat kabar keuangan. "Sesuatu yang ayahmu tidak mengerti. Dunia ini tidak digerakkan oleh kehormatan, tapi oleh kontrol."
"Maksud dari kontrol kalian adalah darah keluarga Moretti," Elena kini berdiri hanya satu meter dari koper itu. "Dan maksud dari kedatanganku adalah memastikan kontrol itu berakhir malam ini."
Tiba-tiba, suara tembakan terdengar dari koridor luar, diikuti oleh ledakan granat asap yang kedua. Matteo sedang bekerja keras di luar sana, namun Elena tahu waktunya tidak banyak. Ia harus mengambil data itu sekarang.
"Ambil saja mainan itu, Elena," Sergio berkata dengan nada santai yang mencurigakan. "Tapi kau harus tahu satu hal. Isabella tidak mengkhianati ayahmu hanya karena kekuasaan. Dia melakukannya karena ayahmu sudah lebih dulu mengkhianati keluarga Valenti. Dia bekerja sama dengan intelijen Roma untuk menghancurkan ayah Matteo. Ayahmu bukan pahlawan yang kau kira."
Langkah Elena terhenti sejenak. Keraguan adalah peluru yang paling mematikan, dan Sergio baru saja menembakkannya tepat ke mental Elena. Namun, Elena segera menguasai diri. Ia tahu ini adalah taktik manipulasi klasik Dewan Tujuh.
"Kau pikir aku akan percaya pada pria yang menjual negaranya sendiri?" Elena menarik napas panjang, ia meraih koper perak itu dengan satu tangan sementara tangan lainnya tetap mengarahkan senjata ke kepala Sergio.
Tepat saat jarinya menyentuh koper, pintu ganda aula itu hancur berantakan. Namun yang masuk bukan pasukan penjaga, melainkan Isabella Valenti.
Isabella berdiri di sana dengan mantel panjang yang berkibar, memegang senapan mesin ringan dengan keanggunan seorang ratu yang haus darah. Di belakangnya, dua pria bersenjata lengkap mengikuti.
"Elena, kau selalu terlalu emosional," Isabella berkata, suaranya tenang namun mengandung ancaman yang nyata. "Kau pikir Matteo adalah pelindungmu? Dia hanya pion yang kugunakan untuk membawamu ke sini. Dewan membutuhkan sidik jari dan otentikasi biometrik terakhir dari pewaris Moretti untuk membuka brankas digital ayahmu di Roma. Dan kau... kau baru saja memberikannya pada kami saat kau menyentuh koper itu."
Elena menatap koper di tangannya. Benar saja, lampu di koper itu berubah menjadi hijau, dan sebuah pesan muncul di layar: Otentikasi Pewaris Diterima.
Elena merasa seperti terjatuh ke dalam lubang yang tidak ada dasarnya. Seluruh penyusupan ini, seluruh perjuangan mereka dari Verona hingga Venesia, ternyata telah diantisipasi oleh Isabella. Mereka tidak sedang menyergap Dewan; mereka sedang diumpan untuk membuka kunci terakhir.
"Di mana Matteo?" Elena berteriak, suaranya bergetar karena amarah dan rasa takut akan pengkhianatan yang mungkin terjadi.
"Matteo?" Isabella tertawa kecil, sebuah suara yang dingin dan hampa. "Dia sedang sibuk mencoba bertahan hidup dari tim pembersihan yang kukirim. Dia terlalu mencintaimu, Elena. Itulah kelemahannya yang paling fatal. Dan kau... kau terlalu mempercayainya."
Isabella mengangkat senjatanya. "Maksud dari perjamuan ini bukan untuk berbagi kekuasaan denganku, Elena. Maksudnya adalah untuk melenyapkanmu setelah kau berguna."
Dalam sepersekian detik, Elena membuat keputusan. Ia tidak lari. Ia melempar koper itu ke arah lampu gantung kristal yang besar di atas meja, lalu melepaskan tembakan ke arah rantai penyangganya.
Pranggg!
Lampu raksasa itu jatuh, menghantam meja kayu ek dan menciptakan ledakan kaca serta kegelapan mendadak saat sirkuit listrik pendek. Elena berguling ke balik pilar batu, sementara ruangan itu dipenuhi oleh rentetan tembakan buta dari anak buah Isabella.
Di tengah kekacauan itu, sebuah tangan kuat menarik bahu Elena. Ia nyaris melepaskan tembakan ke arah orang itu sebelum ia mengenali aroma kayu cendana dan bau mesiu yang akrab. Matteo.
Wajah Matteo bersimbah darah dari luka di pelipisnya, pakaiannya compang-camping, namun matanya tetap menyala dengan tekad yang sama. "Jangan dengarkan dia, Elena! Aku tidak pernah mengkhianatimu!"
"Matteo! Kau terluka!" Elena memegang wajah Matteo, mengabaikan peluru yang berseliweran di sekitar mereka.
"Hanya goresan," Matteo menarik napas pendek, menekan luka di perutnya yang kembali terbuka. "Kita harus keluar dari sini. Isabella membawa seluruh pasukan cadangan dari daratan. Poveglia sudah dikepung."
"Koper itu... aku sudah mengaktifkannya untuk mereka," Elena berbisik penuh penyesalan.
"Tidak, kau tidak mengaktifkannya," Matteo tersenyum tipis, sebuah senyum yang penuh rahasia. "Aku sudah meretas sistem biometrik itu di brankas bawah air tadi malam. Apa yang kau sentuh tadi bukan pembukaan brankas Roma, melainkan virus yang akan menghapus seluruh data Dewan Tujuh dalam tiga menit. Kau baru saja menghancurkan mereka semua, Elena."
Isabella berteriak histeris saat melihat layar di koper perak itu mulai menampilkan kode penghapusan permanen. "TIDAK! Hentikan itu!"
"Ayo!" Matteo menarik Elena menuju balkon yang menghadap langsung ke laguna.
Di belakang mereka, para anggota Dewan Tujuh panik, mencoba menyelamatkan data mereka yang mulai menguap. Isabella menembak secara membabi buta ke arah Elena dan Matteo. Satu peluru menggores bahu Matteo, membuatnya terjatuh di ambang balkon.
Elena menangkap tubuh Matteo, menahannya agar tidak jatuh ke tebing batu di bawah. Mereka berada di titik tertinggi pulau, dengan air laguna yang gelap dan bergejolak menanti di bawah sana.
"Lompat, Elena!" perintah Matteo. "Luca sudah menunggu di bawah dengan perahu!"
"Kita lompat bersama!" Elena memegang tangan Matteo erat-at-erat, mengunci jari-jari mereka.
Di belakang mereka, Isabella berlari mendekat, wajahnya yang cantik kini berubah menjadi topeng kemarahan yang mengerikan. "Kalian tidak akan pernah sampai ke Verona hidup-hidup!"
Elena menatap Matteo untuk terakhir kalinya sebelum mereka melompat. Di mata Matteo, ia tidak melihat ketakutan. Ia melihat kebebasan. Mereka melompat ke dalam kegelapan, meninggalkan ledakan data dan reruntuhan kekuasaan Dewan Tujuh di belakang mereka.
Air dingin Laguna Venesia menyambut mereka dengan hantaman keras, namun di bawah permukaan yang gelap itu, tangan mereka tetap tertaut. Persatuan Moretti dan Valenti bukan lagi sekadar sejarah yang dipaksakan, melainkan sebuah kekuatan baru yang baru saja menghapus peta kejahatan Italia dalam satu malam.
Pertempuran di Poveglia berakhir, namun perang sesungguhnya di Roma baru saja mengibarkan benderanya. Dan kali ini, mereka tidak lagi berlari sebagai korban, melainkan sebagai pemburu yang memiliki senjata paling berbahaya di dunia: kebenaran yang tak terbantahkan.