NovelToon NovelToon
Aji Toba

Aji Toba

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Misteri / Epik Petualangan / Horror Thriller-Horror / TimeTravel / Penyeberangan Dunia Lain
Popularitas:312
Nilai: 5
Nama Author: IG @nuellubis

Masih kelanjutan dari PETUALANGAN AJI DI MASA DEPAN.

Petualangan Aji kali ini lebih kelam. Tidak ada Pretty, dkk. Hanya dirinya, Sari (adiknya), bidadari nyentrik bernama Nawang Wulan, Tumijan, Wijaya, dan beberapa teman barunya seperti Bonar dan Batubara.

Petualangan yang lebih kelam. Agak-agak horor. Penuh unsur thriller. Sungguh tak bisa ditebak.

Bagaimanakah dengan nasib Pretty, dkk? Oh, tenang, mereka masih memiliki porsi di serial ini!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IG @nuellubis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perang di Tanah Melayu

Fajar di Tanah Melayu datang dengan warna kelabu. Kabut tipis menggantung rendah, seolah menahan napas bersama ribuan orang yang bersiap menumpahkan keberanian mereka. Aji berdiri di barisan tengah, menggenggam lembing dengan telapak yang lembap oleh keringat. Di kejauhan, derap kaki dan denting besi terdengar. Ada dua irama yang sebentar lagi akan bertabrakan.

Terompet perang ditiup. Suaranya panjang, berat, dan mengguncang dada. Gajah Mada berada di depan, punggungnya tegak, suaranya tegas saat memberi aba-aba. Pasukan Majapahit bergerak serempak, membentuk gelombang yang teratur. Aji mengikuti, langkahnya diselaraskan dengan napas. Ia mengingat pesan Jaka Kerub untuk tidak membiarkan pikiran pecah. Hanya membiarkan tubuh yang bekerja.

Benturan pertama terjadi cepat. Pasukan lawan muncul dari balik pepohonan dan bangunan kayu pelabuhan. Beberapa prajurit lokal yang bersekutu dengan kekuatan asing, juga unit-unit Chola yang bergerak rapi. Teriakan pecah. Lembing dilempar. Perisai saling beradu. Aji merasakan getaran ketika ujung lembingnya menghantam perisai lawan; bukan rasa menang yang datang, melainkan kesadaran bahwa hidup dan mati kini berjarak satu gerak saja.

Di kiri dan kanannya, Gema dan Tomo bertempur dengan fokus. Gema menangkis tebasan, lalu mendorong lawan mundur. Tomo berteriak memberi peringatan ketika barisan kanan mulai terdesak. Aji mengikuti arus perintah, maju setapak, berhenti, lalu bergeser. Latihan-latihan panjang itu menemukan maknanya sekarang. Itu bukan untuk gagah, melainkan untuk bertahan.

Asap mulai naik ketika beberapa bangunan terbakar. Angin membawa bau kayu hangus dan keringat. Aji melihat seorang prajurit Majapahit terjatuh karena kelelahan, bukan oleh senjata. Tanpa berpikir panjang, ia menariknya ke belakang barisan, menekan pundaknya, memeriksa napasnya. Ia merobek kain, membasahi dengan air, dan menyuruhnya minum.

“Bangun perlahan,” kata Aji. “Bernapaslah secara teratur. Usaha!"

Di medan seperti ini, hidup sering diselamatkan oleh hal-hal sederhana.

Tiba-tiba teriakan datang dari depan. Barisan musuh memecah formasi, mencoba menerobos pusat. Gajah Mada memberi aba-aba baru. Pasukan Majapahit merapat, perisai disatukan, membentuk dinding. Aji ikut menahan, lututnya menekuk, bahunya menahan tekanan. Benturan itu keras, tetapi singkat. Lawan mundur, meninggalkan jeda yang diisi sorak tertahan.

Di sela jeda itu, Aji merasa waktu melambat. Ia teringat Sari yang keselamatan hidup adiknya belum begitu pasti. Terbayang pula akan Tumijan, Wijaya, dan Nawang Wulan di hutan yang jauh. Pikirannya nyaris pecah, namun ia menutupnya rapat-rapat.

Serangan kedua datang dari sisi sungai. Anak panah melesat. Perisai terangkat. Aji merunduk, merasakan angin anak panah lewat di atas kepalanya. Ia melihat seorang perwira Majapahit memberi isyarat mengepung. Pasukan bergerak memutar, memaksa lawan ke tanah berlumpur. Kaki-kaki terpeleset. Terjadi kekacauan singkat. Yang cukup untuk memukul mundur mereka.

Matahari naik, kabut menipis. Keringat mengalir. Di tengah kekacauan, Aji mendengar teriakan minta tolong. Ia menoleh dan melihat seorang prajurit lawan terjepit di bawah perisai yang patah, terengah-engah. Sejenak Aji ragu. Lalu ia mengangkat perisai itu, memberi ruang agar prajurit itu bisa merangkak pergi. Tak ada kata diucap. Medan perang tidak selalu memberi waktu untuk menjelaskan pilihan.

Pertempuran berlangsung berjam-jam, bergerak seperti pasang surut. Ada saat Majapahit unggul, ada saat terdesak. Ketika siang menjelang sore, terompet kembali ditiup, ada aba-aba mundur teratur. Bukan kekalahan, melainkan penahanan. Gajah Mada memilih menarik pasukan ke posisi yang lebih aman, menutup jalur suplai, dan mengunci pelabuhan kecil di sisi timur.

Di barak sementara, Aji kembali menjadi tabib dadakan. Ia membersihkan luka, membalut, memberi minum. Gema duduk di dekatnya, napasnya berat.

“Kau lihat?” kata Gema lirih. “Ini bukan Temasek.”

Aji mengangguk. “Tanah ini tidak mau cepat tunduk, ternyata.”

Malam turun. Api unggun menyala. Dari kejauhan, terlihat cahaya perkemahan lawan yang pelan-pelan mendekat, namun terpisah oleh garis tak kasatmata. Aji duduk memandangi tangannya yang bergetar ringan. Ia tidak merasa sebagai pahlawan. Ia merasa sebagai bagian kecil dari mesin besar yang bergerak dengan kehendak banyak orang.

*****

Hari berikutnya, bentrokan kecil terjadi lagi. Ada pengintaian, pun sergapan singkat yang datang pelan-pelan. Tidak ada penentuan tunggal. Hanya kelelahan yang menumpuk. Aji belajar membaca tanda-tanda: suara langkah di tanah basah, perubahan arah angin, jeda yang terlalu hening. Ia membantu menyusun jalur evakuasi kecil untuk yang terluka, memanfaatkan bangunan tua dan parit.

Pada suatu senja, ketika hujan turun tiba-tiba, Gajah Mada mengumpulkan perwira. Keputusan diambil. Bahwa mereka harus menahan posisi, menunggu perkembangan, serta tidak memaksakan kemenangan cepat. Aji mendengar kabar itu dari Gema dan merasakan kelegaan bercampur gelisah. Perang belum selesai, tapi setidaknya darah tidak perlu ditumpahkan lebih banyak hari itu.

Di tengah hujan, Aji berdiri sendirian, menengadah. Air membasahi wajahnya, mencampur keringat dan debu. Ia berdoa dalam diam. Itu bukan untuk kemenangan, melainkan untuk pulang dengan utuh, dan untuk kabar tentang Sari. Semoga adiknya baik-baik saja.

Di Tanah Melayu ini pun, ia belajar bahwa perang bukan garis lurus dari berangkat ke menang. Ia adalah simpang-simpang pilihan, tempat manusia diuji bukan hanya oleh lawan, tetapi oleh dirinya sendiri.

Ketika malam menutup hari itu, suara pertempuran mereda. Hanya hujan dan napas orang-orang yang tersisa. Aji kembali ke barak, merebahkan diri, memeluk lembingnya seperti jangkar. Di kejauhan, laut bergemuruh pelan. Terdengar sebagai sebuah pengingat bahwa sejarah terus bergerak, dan mereka hanyalah penumpang yang mencoba bertahan di atas gelombangnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!